Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
stayaway


__ADS_3

sudah 1 minggu lebih Eris menjauh dari Leon, laki laki itupun tampak tak kembali mengusiknya. Bahkan Eris tak pernah melihat Leon berkunjung ke apartement nya atau sekedar menelfon.


ko gue ngerasa ada yang kurang ya? Eris menghela nafas, mengedikkan bahu lalu beranjak dari sofanya menuju pantry.


Bayangan Leon lagi lagi muncul karna dia selalu menerkam Eris di hampir seluruh ruang apartement nya.


Eris meringis saat kram perut kembali menyerangnya, ini sudah ke 4x dalam seminggu Eris merasa tidak bersahabat dengan perutnya. Tapi ia tetap meminum alko saat tak bisa tidur, memuat perutnya semakin terasa begah.


Suara bel depan membuatnya sedikit terlonjak kaget, Eris berjalan sedikit cepat, memegang benda apapun karna rasa nyeri perutnya semakin terasa.


klek


laki - laki didepannya membuat Eris mematung, Ryan datang dengan bunga ditangannya dan pakaian santai. Tanpa meminta izin dan menghiraukan Eris, Ryan berjalan masuk, melihat apartement Eris yang masih terlihat sama saat terakhir dia berkunjung.


"lo- lo ngapain kesini! " Eris terlihat menjaga jarak, bahkan tetap berdiri saat Ryan sudah duduk dengan santai di sofa.


"kangen."


"lo sakit? aah, bener. Ternyata pacar baru lo gapandai buat rawat lo ya, bisa nya make doang. " Ryan sedikit tersenyum, menghiraukan Eris yang sudah melotot kearahnya.


"jaga mulut lo! mending lo keluar sekarang sebelum gue teriak."


Eris melihat sinis kearah Ryan yang tersenyum smirk kearahnya. Rasa sakit perutnya semakin nyeri, tapi karna sikap laki laki didepannya yang sudah berdiri, membuat Eris siaga dan terus berjalan mundur hingga Ryan menariknya dan membenturkan ke tembok agar wanita itu tetap dibawah kendalinya.


"gue gak pernah nerima keputusan lo. So, gue masih anggap kita gapernah putus. "


"aww. Lepas, yan! " Eris meringis saat Ryan mencekal erat tangannya.


"gue gabakal pernah ngebiarin lo lepas lagi. "


Muka Eris sudah memerah memanahan tangis, apalagi rasa nyeri perutnya yang tidak mengerti situasi dan malah semakin terasa, juga Ryan yang membuatnya terpojok.


Ingatannya hanya satu, Leon. Eris mencari ponselnya dan melihat kedalam kamarnya yang terbuka. Sial, fikirnya. Eris meninggalkan ponselnya didalam kamar.


Karna Ryan yang terus membuatnya terpojok, Eris memberanikan diri menatap tajam Ryan yang langsung menaikkan alisnya dan menahan dagu Eris.


"huh? udah berani liat mata gue ternyata."


"uumh, um," Eris menahan nafasnya saat Ryan menautkan bibirnya dengan kasar, membuat air mata sempurna jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


Sekuat tenaga Eris menjauhkan tubuh Ryan, tapi ia kalah tenanga apalagi dengan kondisi nyeri di perutnya. Hingga Ryan melepas sendiri ciumannya karna telfon rumah Eris berbunyi dengan nyaring.


"ck, ganggu orang pacaran aja, sih." Ryan tersenyum kearah Eris, lalu berjalan kearah telfon yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Eris segera berlari kearah kamar saat Ryan berjalan memunggunginya.


Buru buru Ryan mengalihkan perhatian, mengejar Eris dan mengetuk pintu dengan keras agar wanita itu keluar.


"Eris! buka pintu lo, atau gue dobrak. Gue gapernah main main! buka pintu nya! "


Tangisnya semakin tak bisa ditahan, kepanikan pun mulai menyerang Eris, Ryan adalah tipe yang akan melakukan segalanya agar keinginannya bisa terpenuhi, dia juga tak segan kasar pada wanita.


Eris menggigit bibir bawahnya menekan perutnya sambil sebelah tangan lain memegang telfon, mencoba menelfon Leon yang malah terdengar suara operator.


nomer yang anda tuju sedang berada dipanggilan lain,cobalah beberapa saat lagi.


"yon, please. Gue butuh lo"


Suara telfon rumah kembali berbunyi nyaring, terdengar Ryan berteriak dan melempar telfon, membuat Eris memejamkan mata semakin beringsut mundur dan memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya dilutut.


dreettt.. dreet...


incoming call


Leon


" yon, hiks. " Eris hanya terdengar menangis,, tak bisa melanjutkan perkataannya dengan panjang lebar.


brakk..brak... brak..


"heh, j*lang buka pintu nya! gue itung sampe 5 kalo lo gakeluar gue bakal bener bener dobrak pintunya. 1..."


"Ris, lo dimana? lo sama siapa? " Suara Leon terdengar panik mendengar Eris yang menangis dengan back sound keributan.


"ke apart gue, yon-" brak


Leon buru buru mematikan telfon, berlari mengambil kunci mobilnya dan segera menuju apartement Eris.


Jalanan jakarta cukup ramai lancar karna sudah masuk jam kerja.


Setelah memarkirkan mobilnya, Leon kembali berlari menaiki lift dengan tak sabar, mengerutkan alis mendengar suara keributan dari dalam apartement Eris yang tertutup.

__ADS_1


Nafasnya semakin memburu saat Eris terlihat menangis dengan seorang pria yang berada diatasnya.


"ba*gsat. Lo apain cewe gue! "


bruk


Leon langsung menarik Ryan, memukulnya tanpa kontrol sampai bibir laki laki itu mengeluarkan darah.


Mendapat serangan tiba tiba, Ryan memukul balik Leon pas mengenai tulang hidungnya. Leon sedikit tersungkur saat hantaman kedua yang mengenai perutnya.


"Ryan! stop."


"astaga. " Eris yang hanya bisa menyaksikan, berlari mengambil ponselnya yang terjatuh dilantai, menelfon security yang tak berapa lama datang melerai.


Kedua laki laki itu terlihat sama sama babak belur. Eris meminta keamanan segera membawa Ryan keluar, lalu pandangannya fokus pada Leon yang masih sempat tersenyum.


"Gue ambil kotak p3k dulu. "


Leon meringis saat Eris mulai membersihkan luka nya, senyuman kecil muncul saat wanita itu memakaikan plester lalu duduk disamping Leon, ikut menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Ris, lo masih marah sama gue? "


Eris tersenyum kecil, bahkan ia sudah melupakan kejadian malam itu, walaupun setiap dia tak bisa tidur atau sedang menghayal, setiap mengigat Leon, pasti kejadian tempo hari itu juga ikut melintas di bayangan kepalanya.


" lo mau tau ga kejadian sebenernya?-


malem itu gue minum banyak, dan dia tiba tiba nyamperin gue pake baju tidur yang sama persis kaya lo, makanya gue berani cium cium dia karna gue kira itu lo. "


"Yauda lah,gausah dibahas. Gue gaberhak buat marah soal itu. "


"ehiya, tadi dia cium cium lo? gue ga rela ada orang yang sentuh lo sedikit pun. "


Leon menggeleng, memiringkan tubuhnya melihat Eris yang bersandar di sofa mendongakan wajah, memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.


"Ris? lo sakit? "


"ha? engga ko. Lo ngomong apa tadi? " Eris menegakkan tubuhnya sejajar dengan Leon.


Rasa kram perutnya bertambah nyeri, apalagi Eris merasa sudah tak enak dengan pakaiannya, kepalanya terasa sedikit berat.

__ADS_1


Eris melihat pakaian bawahnya yang sudah basah karna darah mulai mengalir. Pandangannya semakin kabur hingga ia merasa gelap dan pengap. Suara Leon yang memanggilnya pun perlahan tak terdengar.


__ADS_2