Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
go back 2


__ADS_3

Setelah helikopter yang di tumpangi mereka lepas landas, Eris melihat kearah luar jendela, sedangkan Leon sudah tertidur di paha nya.


Wanita itu mengalihkan pandangan kearah Leon. Hari ini, untuk pertama kali nya ia melihat Leon benar - benar lepas kendali, pandangan Eris teralih pada pergelangan tangannya dengan bekas merah, Eris tersenyum kecil, memejamkan mata mencoba mengerti sikap Leon yang berubah lebih tempramen sejak mereka sampai ditempat ini.


yaudah lah, ini salah gue juga ngajak dia ke sarang masalalu nya. Batin Eris sambil perlahan ikut memejamkan mata.


Perjalanan Maldives - Jakarta cukup membuatnya pegal, apalagi dengan Leon yang terus menempel. Bahkan saat mereka sampai kerumah, Leon langsung menarik nya ketempat tidur. Tak mengizinkan Eris untuk sekedar mandi.


"aw." Eris meringis pelan, memejamkan mata saat merasa nyeri dibagian perutnya. Membuat Leon yang masih memejamkan mata, langsung duduk dan memegang tangan wanita itu.


"kenapa,by? apanya yang sakit?"


"perut? astaga." Melihat tangan Eris yang memegang perut, Leon langsung beranjak, megambil ponsel dan segera menelfon dokter zee.


15 menit berlalu, Leon mondar - mandir didepan kasur dengan Eris yang masih meringkuk diatasnya. Sesekali wanita itu meringis, atau menggelengkan kepala nya ke kiri dan ke kanan, bahkan gerakan kecil pun membuat Leon langsung mendekat dan memegang tangan atau dahi Eris. Memastikan dia baik - baik saja.


Suara pintu terdengar diketuk, Leon melesat kearah pintu lalu membukanya dan langsung menyuruh Zee segera memeriksa istrinya.


"dia kan lagi sakit perut, kenapa malah lo tepuk tepuk perutnya?" Leon tak berhenti bertanya, mengintrupsi Zee dengan ini dan itu, membuat dokter itu langsung berbalik melihat horor kearah Leon yang mengerutkan kedua alisnya.


"disini yang dokter nya itu gue atau lo?"


Leon tak menjawab hanya melihat malas kearah Zee dan langsung mendekati Eris saat wanita itu meringis.


Tangan Leon beralih memegang dahinya. Beberapa detik kemudian, Leon langsung mengangkat kembali tangannya saat merasa panas yang amat di dahi Eris.


"Ini kenapa panas banget?"


"Demam biasa. Cuma kecapean." Zee memberi kode agar Leon mengikuti nya ke balkon setelah memberi kompres pada Eris.


"Sistem imun Eris itu lemah jadi dia gampang sakit-"


"kenapa bisa lemah? penyebab nya apa? ini ke kandungannya gak ngaruh kan?"


Leon memberondong Zee dengan banyak pertanyaan, membuat dokter yang kini menjadi temannya itu menghela nafas.


"Sistem imun lemah selama kehamilan wajar,ko. Apalagi Eris hamil muda-" Zee menjeda kalimatnya, mengalihkan pandangan sebentar kearah Eris lalu lanjut menjelaskan pada leon yang terlihat tak sabar.


"Selama hamil, sistem kekebalan tubuh bekerja lebih keras karna harus mendukung atau melindungi dua orang -ibu dan janinnya. Tugas sebagai orang luar ya jangan bikin dia stress atau khawatir berlebihan, itu akan sangat berpengaruh ke janinnya juga. Karna fikiran - fikiran berlebihan yang dibawa ibu nya."

__ADS_1


Zee menjelaskan panjang lebar yang hanya dijawab anggukkan Leon. Pandangan Leon terus memperhatikan gerakan Eris.


"Minggu depan USG sama cek kehamilannya dia. Lo jangan lupa temenin."


Leon mengangguk, berjalan mengekor Zee yang kali ini hanya me resep kan dua jenis obat.


"Ini obat pereda panas sama anti biotik. Jangan lupa rabu depan Eris mulai USG." Jelas Zee pada Leon, lalu berpamitan tanpa diantar.


Leon beralih ke meja kerja yang ada di kamarnya setelah memastikan Eris baik - baik saja. Pandagannya fokus pada layar komputer, mengetik cepat dengan alis berkerut, mencatat beberapa hal di sticky note dan menempel nya di mading kecil khusus yang ada disampingnya.


Laki - laki itu tampak fokus dengan setumpuk pekerjaan didepannya, sesekali pandangannya teralih saat menyadari sedikit pergerakan Eris yang masih memejamkan mata.


Saat sedang fokus dengan tangan yang masih berada di atas papan ketik komputernya, ponsel Leon berdering, menampilkan Samuel sebagai penelfonnya.


"Yon, rabu meeting sama skylight corp. Mereka bakal percayain saham 40% nya kalo lo ikut meeting." Suara Sam disebrang telfon terdengar lelah karna selama ia liburan, Leon mempercayakan semua urusan kantor pada Samuel.


"Hm"


"ko hm? siap ga lo? saham kita mulai turun,Yon. Kalo ini gadiambil-"


"Ck,Iya."


Perlahan, tangan Leon mengusap lembut rambut wanita itu. Senyuman terangkat saat panas Eris turun, Bersamaan dengan mata wanita nya yang mulai membuka.


"Hey, udah enakan belom perut nya?" Tanya Leon sambil tersenyum dan mengusap perut berisi calon jagoan nya.


Eris mengangguk. Sedikit bergeser mengambil posisi duduk, membuat Leon dengan sigap membantunya.


"Gue baik - baik aja. Gausah lebay gitu." Tangan Eris menepis pelan Leon yang membantunya. Lalu sedikit tersenyum melihat Leon dengan wajah bete nya.


"Rabu depan mulai USG. Tapi gue ada meeting dulu sama skylight. Tunggu gue balik nanti gue anter,ya."


Eris mengangguk, tersenyum pada Leon dan meminta laki - laki itu agar naik ke tempat tidur sebelahnya.


"kenapa,by?"


"Gapapa." Eris menahan senyum. Merebahkan kepalanya di bahu Leon.


Leon memencet tombol di pinggirnya, meminta pengurus rumah bagian dapur nya segera mengantarkan makanan ke ruangannya.

__ADS_1


"Yon. Gue minta maaf,ya."


Laki - laki itu tersenyum sambil mengelus lembut rambut wanita nya.


"Gapapa. Gue juga salah kemarin lepas kendali."


"Lain kali, kalo gue marah, lo lari aja." Lanjut Leon sambil sedikit tertawa. Membuat Eris mengerutkan alis dan menjauhkan wajahnya dari dada Leon.


"lari gimana?"


"Sekarang lo udah tau marah nya gue gimana,kan. Gue gamau sakitin lo lagi." ucap Leon dengan lembut.


Eris tersenyum. Memeluk Leon dari samping dan segera melepas nya saat pintu terdengar diketuk.


Leon turun dari tempat tidur. Mengambil baki berisi makanan dan langsung menutup kembali pintunya.


"Makan yang banyak. Lo kan sekarang berdua." ucap Leon sambil menyimpan baki dan duduk di sebelah Eris.


"Kalo lo ada meeting, gue ke dokter sendiri aja. Cuma USG doang,kan? paling berapa menit."


"Makan dulu." Leon menyodorkan sendok yang sudah berisi nasi dan sup hangat.


"Yaudah, nanti gue suruh pak Mar anterin lo ke RS, tunggu di lobby sampe gue dateng baru periksa."


Eris mengangguk patuh, mengambil alih sendok makanan yang dijauhkan oleh Leon.


"Diem. Gue yang suapin."


Ponsel Eris berdering, membuat Leon dan Eris kompak melihat kearah nakas. Eris mengigit bibir bawahnya mengingat kontak Rey yang belum ia delete.


"ini siapa? nanyain kabar lo segala."


tuh kan. Fikir Eris sambil memejamkan mata sebentar.


"Gue- gue gatau. Lo liat kan no nya aja gak dikenal-"


"Ya kalo gak kenal kenapa ga langsung di blok? menuhin kontak aja." ujar Leon sinis.


Dengan segera, Leon menekan tombol blacklist dan melempar ponsel Eris ke kasur. Setelah menyimpan satu mangkuk sup di nakas, Leon beranjak keluar tanpa bicara lagi, membuat Eris kembali menghela nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2