Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
warm


__ADS_3

Cahaya matahari masuk kedalam celah kamar. Membuat Eris mengernyit saat cahaya menyilaukan matanya yang masih terpejam.


Leon tersenyum, sedikit berjongkok dan mencium pipi Eris lalu mencubit pelan pipinya agar wanita itu bangun.


"emh" Eris sedikit bergerak, menepis tangan Leon yang masih memainkan pipinya.


"by, bangun. Ayo jogging, liat ikan."


Tangan Leon masih mencubit pipi Eris yang terlihat lebih berisi, sesekali mengusap bibirnya dan mengecupnya singkat.


"Sayang." Leon melihat jam yang baru menunjukkan pukul 6 pagi. Wanitanya berubah lebih agresif dan mudah kesal sekarang, tapi justru itu yang semakin membuat Leon tertantang untuk benar benar menaklukannya.


tok..tok...tok


Leon menghela nafas, lalu beranjak membuka pintu, menaikkan alis saat Hana ada didepan pintunya dengan senyum hangat.


"Leon, ayo ajak Eris sarapan. Semuanya udah nunggu. "


Tak ada jawaban yang dikeluarkan Leon, hanya anggukan kepala lalu kembali menutup pintunya. Membuat Hana menahan senyum hangat yang selalu dia tunjukkan pada Leon.


"siapa? " Eris terlihat sudah duduk bersandar. Menyipitkan mata dan bertanya dengan suara serak khas bangun tidur yang selalu terdengar sexy.


"Bukan siapa siapa. Ayo sarapan dulu, by. " Kasur sedikit bergerak saat Leon menjatuhkan dirinya. Meletakkan kepalanya dipaha Eris yang nyaman, apalagi tangan wanita itu sudah mengelus rambutnya sekarang.


"Tadikan udah sarapan bubur." Sebelah tangan Eris mengucek matanya. Lalu melihat keluar jendela.


Eris meregangkan badan. Menghirup udara segar yang masuk kekamar mereka, rumah yang dipilih Leon masih berada dikota metropolitan, tapi udaranya se segar puncak karna banyaknya tanaman hijau disini dan tak terlalu padat penduduk.


Seulas senyum hangat terpancar dari wajah Eris saat Leon memeluknya sambil masih tidur diatas paha Eris. Laki - laki itu juga tersenyum, mereka seperti tak ada beban, seperti pasangan yang sama sama tulus menikah bukan hanya karna kecelakaan.


"Mau jalan jalan ga? lo belom liat pemandangan disini juga, kan. " Leon sesekali mengusap perut Eris, lalu menaikkan tangannya untuk mengusap pipi dan bibir wanita itu.


"Eh jangan lo. Aku kamu aja,ok by. " Setelah sedikit terdiam, Leon kembali berbicara dengan tawaran panggilan yang lebih manusiawi untuk pasangan suami istri. Karna status dan perasaan mereka sudah naik dari sekedar teman tidur.


"Yaudah, awas dulu." Eris bersiap beranjak, menaikkan kepala Leon agar segera pindah dari pahanya.


"Kemana?"

__ADS_1


"Ganti baju. Emang lo mau gue keluar pake baju gini? "


"Ya jangan lah. Enak aja, tubuh lo punya gue doang. Yaudah yu ganti. " Leon langsung mengangkat kepalanya, beranjak duluan sambil menarik tangan Eris keruang baju.


Eris tertawa mendengar nada bicara Leon yang terdengar kesal.


Setelah berganti baju dengan sesekali cekcok karna Leon yang terus memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, mereka akhirnya keluar kamar dengan pakaian yang lebih santai dan tertutup.


Eris berjalan duluan menuruni anak tangga, yang langsung disusul Leon. Langkah Eris yang tiba - tiba berhenti saat sampai ditangga terakhir membuat Leon ikut berhenti dan melihat kearah ruang makan yang sudah terisi.


"Eris, Leon. Sini nak, kita udah nunggu daritadi loh. " Hana tersenyum menyambut mereka, yang juga dibalas senyum hangat Eris.


Melihat seseorang disamping Hana, sebenarnya cukup menghilangkan nafsu makan Eris, begitupun Leon yang terlihat tak terlalu berminat untuk bergabung. Jika bukan karna Eris yang menariknya sampai mereka berada diruang makan bersama Hana, Adrian dan Rey.


"Momy El mana? " Leon bertanya dengan wajah melirik Surti -koki dapur andalannya- yang sedang menata makanan diatas meja mereka.


"El tadi pulang duluan, ga enak katanya ninggalin Mak im sendiri. " Hana menjawab pertanyaan Leon sambil menyendokkan nasi dan lauknya untuk Adrian, lalu Rey.


Leon menggeleng saat Hana akan menyendokkan nasi untuknya. Tangan Leon beralih memegang Eris dan mengusapnya.


"Sayang."


Beberapa menit mereka saling diam, sampai Adrian menyimpan sendok dan garpunya diatas piring,pertanda ia sudah selsai makan.


"Leon. Papa sama mama punya hadiah pernikahan untuk kalian. Semoga kalian suka. " Adrian tersenyum kecil. Mengeluarkan 2 lembar kertas dan menyodorkannya pada Leon.


"Maldives?" Alis mata Leon terangkat sebelah melihat tiket yang diberikan papanya dengan tujuan Maldives.


"kenapa harus Maldives? " Lanjut Leon dengan nada yang berlipat kali lebih dingin.


"Leon, selain tempat itu cocok untuk pasutri baru, tempat itu juga punya banyak kenangan untuk kita semua. Sekarang, giliran kamu dan Eris yang membuat kenangan kenangan ditempat itu." Hana masih menyunggingkan senyum hangat yang dibalas helaan nafas Leon.


"Saya gak tanya mama." Leon berdiri menarik tangan Eris agar segera pergi tanpa memperdulikan panggilan papa nya dan tiket yang dia tinggalkan diatas meja.


Leon mengeluarkan mobil nya. Mencoba fokus dengan kemudi walaupun amarahnya menyeruak naik, bahkan ia lupa ada seseorang disebelahnya yang terkena imbas dari atmosfer dingin yang Leon keluarkan semenjak keluar dari ruang makan.


"Yon. " Eris memberanikan diri menyentuh tangan Leon yang membuat laki - laki itu langsung meliriknya dan balas mengenggam tangan Eris yang terasa hangat.

__ADS_1


"Maaf, by. "


Sedikit senyum terpancar dari wajah Leon, yang Eris tau itu adalah senyuman paling palsu yang dikeluarkan suaminya.


Leon menghentikkan mobil didepan bungalow yang masih dihuni beberapa temannya. Asap vape dan rokok yang menyambut mereka saat keluar mobil,membuat Eris mengernyit dan mengusap hidungnya.


"Matiin rokok nya." Leon berbicara dingin dibelakang mereka, membuat Rio dan beberapa teman lain langsung meliriknya dan mematikan rokok juga vape yang ada di genggaman mereka.


"Weh, sorry sorry. Kita gatau kalian bakal kesini. "


"kenapa,Yon?" Farhan -teman Leon- bertanya penasaran kedatangan Leon sepagi ini, apalagi dengan Eris disampingnya.


"Gapapa sih. Gue mau jogging. " Leon berfikir sejenak, kenapa ia malah menyapa teman temannya lalu melirik Eris yang mengedikkan bahu karna ia juga tak faham hal apa yang dilakukan Leon.


"Oh, oke lanjut." Rio mengangguk, lalu menyalakan kembali vapenya.


"ada yang bawa motor ga? gue mau jalan jalan sama bini. "


Rio mengerutkan alis, melirik kesal kearah Leon yang harus sepagi ini membuat otaknya memahami tingkah Leon yang mulai tak jelas.


"Lo tadi bilang mau jogging. Tapi pinjem motor, gimana dah? "


"Ya jogging nya di motor. "


Mendengar jawaban ngelantur yang Leon keluarkan, Agam -teman Leon- yang merupakan mahasiswa tingkat akhir jurusan Pendidikan Jasmani melirik horor kearah Leon sambil melempar bungkus rokok yang ada di depannya.


"Eh, begi. Mana ada jogging dimotor, astaga. "


"ini si Leon kebanyakan nyelup kayanya. Iya kan,Ris? " Sam tertawa, kembali mengeluarkan jokes dewasa yang langsung di beri pukulan tangan oleh Leon.


"Gam, gue pinjem motor. Mana kunci? "


Eris mencubit pelan lengan Leon, menandakan ia sudah ingin segera pergi.


"Bersyukur lu. Motor gue masih segel. Baru sekarang ditunggangin sama cowo selain gue. " Agam tertawa, melempar kuncinya pada Leon dengan jokes yang 11 12 ngeresnya dengan Sam.


"Gini amat gue punya temen. Astaga. " Leon tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Lalu merangkul Eris dan membawanya menuju parkiran dekat bungalow.

__ADS_1


__ADS_2