
Eris berdiri didepan loby dengan senyum sumringah setelah Rey pamit. Meninggalkan ia dan seorang laki - laki disebelah nya yang memandang meminta penjelasan.
"btw kamu sakit? atau siapa yang sakit? kenapa sharelock nya kesini?" tanya laki - laki di depannya. Menelusur tubuh Eris dari atas sampai bawah, membalikkan tubuh nya ke kiri dan ke kanan untuk memastikan wanita itu baik - baik saja.
"I'm ok, Kevin. Aku abis jenguk temen." Dalih Eris tertawa.
Kevin langsung menarik Eris menaiki mobil nya. Tersenyum sumringah setelah memeluk wanita itu sekali lagi.
"Pake parfum apa sih? wangi banget." Kevin Kembali berujar yang dibalas tawa dan cubitan Eris yang kembali menghantam lengannya.
"Yang biasa."
"Buset. Dari dulu ga ganti ganti tuh parfum." Tawa Kevin merebak, diikuti Eris yang juga sesekali tertawa kecil menimpali obrolan mereka.
"Apart kamu atau apart aku?"
Mam*us. Apart gue kan udah kosong. Batin Eris menggigit bibirnya. Mengingat ia sudah pindah dan tinggal bersama Leon.
"Emang kamu ada apart disini?" Tawa kecil Eris terdengar disamping Kevin yang terlihat fokus mengemudi.
"Ada dong. Karna ini first day aku setelah mengudara berbulan - bulan, kamu harus jadi tour guide aku." Goda Kevin mengacak rambut Eris yang langsung ditepis nya.
Mobil Kevin masuk ke kawasan apartemen Pasific Place. Deretan apartemen mewah berjejer disamping kiri dan kanan mereka tepat setelah satpam menunduk sopan dan membuka pembatas jalan.
Tak jauh dari pos, mobil Kevin melaju sedikit naik melewati kawasan apartemen yang lebih sepi dari jejeran apartemen yang padat sebelumnya.
"Istirahat dulu. Abis itu langsung cabut. Gapapa,kan?" tanya Kevin yang dibalas anggukan kepala.
Setelah mobil yang di kendarai Kevin terparkir rapi di basement, laki - laki itu keluar, merangkul Eris sambil sesekali menghindar saat wanita itu dengan gemas tertawa sambil mencubit hidung atau perutnya.
"enaknya kemana,Ris?"
"enaknya?mandi dulu. Lo bau!" Eris mendorong saat pintu ruang apartement Kevin terbuka. Lalu segera berlari menghindari Kevin yang siap mengelitik nya.
__ADS_1
"jadi lo gue ya sekarang." Kevin sedikit berteriak karna jarak nya dan Eris bersebrangan cukup jauh, terhalang kursi.
"Keceplosan. Udah sana ih." Balas Eris menahan tawa nya melihat ekspresi tak suka yang ditunjukkan Kevin.
"Ok,ok. Awas aja kalo pake panggilan gitu lagi."
Kevin berbalik, masuk kedalam salah satu ruang meninggalkan Eris yang terlihat memutari kursi dan menduduki nya.
Layar ponsel wanita itu sama sekali tak menunjukkan notifikasi. Hanya pemberitahuan panggilan Leon yang tak terjawabnya sore tadi.
Eris mengalihkan pandangannya ke luar jendela yang berada tak jauh dari tempat ia duduk. Langit sore yang mulai berubah kehitaman dan perasaan yang tiba - tiba tak enak membuatnya menelfon kembali Leon.
Beberapa kali Eris menelfon tapi hanya terdengar jawaban operator di sebrangnya. Bahkan panggilan terakhir dengan pemberitahuan bahwa nomor Leon tak aktif membuat wanita itu akhirnya hanya menghela nafas.
Sekejap Eris memejamkan mata, buru - buru Eris mencari no Sam dan langsung menelfon nya, memastikan keadaan dan keberadaan suami nya itu.
"Halo,Sam. Leon masih meeting?"
"Udah selsai daritadi,Ris. Dari sejam yang lalu." Jawaban Sam membuat perasaan tak enaknya bertambah. Apalagi Leon meminta dia menunggu segera setelah laki - laki itu menyelsaikan meeting nya sore tadi.
Setelah mematikan sambungan telfon, Eris sedikit mengerjap saat Kevin sudah berdiri di depannya dengan kaos polo pendek berwarna putih yang kontras dengan kulit bersih laki - laki itu, dipadukan dengan jeans pendek yang terkesan santai.
"Udah terkesima nya? aku emang ganteng dari dulu,Ris." Kevin terkekeh, lalu menghempas diri nya duduk disamping Eris dengan tangan merangkul pundak wanita itu.
"Temen - temen aku ngadain acara. Anter,ya. Aku udah lupa jalannya."
Kevin membuka kunci ponselnya. Lalu menunjukkan foto sebuah tempat yang membuat Eris mengangguk sambil sedikit menghela nafas.
Pasalnya, laki - laki yang ada disebelahnya sangat sulit untuk ditolak. Urusannya tak akan selsai jika Eris menolak bahkan permintaan kecil Kevin yang tak suka didebat atau ditolak dengan alasan apapun.
"mau ganti baju dulu?" Kevin melihat kearah Eris yang masih menggunakan kaos crop lengan panjang dengan lingkar atas berbentuk U, dan bawahan jeans panjang dengan sepatu putih.
"berangkat sekarang?" Tanya Eris yang membuat Kevin melihat jam yang bertengger manis di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Nanti. Tunggu jam 9 atau 10 aja."
***
Lama mereka larut dalam obrolan, hingga jam menunjukkan pukul 9 malam. Kevin menuntun Eris keluar apartemen nya. Merangkul nya dengan hangat menuju mobil, sesekali terlihat tawa diwajah mereka.
Kevin mengemudikan mobil nya dengan fokus. Sesekali juga mengikuti alunan lirik musik yang disetel di mobilnya, atau mengacak rambut Eris yang membuat wanita itu berdecak sebal. Apalagi saat menyadari ponselnya tertinggal di apartemen laki - laki itu dan Kevin sama sekali tak mendengarkan titahan Eris untuk kembali mengambil ponselnya.
"emang mau apa sih? ada yang harus kamu kabarin? gaada,kan. Yaudah gausah bawel gitu,Eyiiis." ucap Kevin gemas karna wanita disebelahnya terus merajuk.
Eris sama sekali tak berbicara setelah itu, malah menyetel gps di ponsel Kevin dan menempelnya di ponsel holder agar Kevin mengikuti arahnya. Sedangkan Eris hanya melihat keluar jendela dan lebih membelakangi Kevin yang terkekeh dibelakangnya.
"Sayang. mau nemplok disitu aja?gamau turun?" Kevin kembali terkekeh saat Eris berbalik dan memukulnya, lalu mengacak rambutnya dengan gemas.
Eris buru - buru keluar setelah menyadari mobil mereka sudah berhenti. Disusul Kevin yang menariknya lalu merangkul wanita itu masuk ke tempat yang dulu menjadi tempat favorit nya untuk menghabiskan waktu, terkadang juga ditemani Eris yang harus dipaksa dengan iming - iming traktir apapun kesukaan nya selama satu bulan penuh.
Pandangan Kevin mengedar saat mereka masuk kedalam. Hingar bingar musik dan orang - orang yang mulai larut mengikuti irama berdentum membuat senyum Kevin tertarik, apalagi setelah menemukan bangku yang sudah berisikan 6 orang laki - laki dengan beberapa wanita disamping mereka.
"Ayo."
Kevin menarik Eris dengan lembut, lalu beralih merangkulnya saat mereka mulai mendekati kursi itu.
"kepin? Astaga kekep, lo beneran dateng,bro? demi gue pasti nih." Ucap Joy yang seingat Eris merupakan teman dekat Kevin.
"Terharu gue astaga, lo kesini demi rayain party kecil nya si Joy yang gaada apa apa nya ini." timpal laki - laki disebelahnya yang juga seingat Eris bernama Tyo. Laki - laki itu langsung berdiri, mendului Joy yang sudah bersiap memeluk Kevin.
"e eh." Eris sontak menjauh saat Tyo menubruk Kevin yang langsung berusaha menjauhkan laki -laki itu, mengundang tawa mereka semua karna kelakuan dua laki - laki didepan mereka.
"Masih sama yang ini aja, bro kep. Gue ada kenalan cewe nih dijamin klepek klepek dah lo." Joy menarik Kevin duduk, disusul Eris yang ditarik Kevin agar berada tak jauh darinya.
"Ga, ga ga. Cewe kenalan lo b*nal semua. Gamau gue." Elak Kevin yang lagi - lagi mengundang tawa.
Padahal nada bicara Kevin terdengar cukup dingin, batin Eris. Tapi anehnya, daridulu apapun yang dilakukan atau dibicarakan Kevin jika bersama Joy dan Tyo pasti mengundang tawa yang menggelikan.
__ADS_1
Disudut lain, seseorang menajamkan matanya. Memastikan penglihatannya sekali lagi saat memperhatikan kerumunan 7 orang yang sangat menyita perhatian dengan beberapa wanita disamping mereka.
Pandangannya terkunci saat melihat satu orang yang membuatnya mengepalkan lengan.