Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
poradge


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul setengah 3 pagi. Lampu yang temaram dengan atap transparant dan tangan Leon yang setia memeluknya dari samping.


Pakaian mereka sudah sama sama lengkap sekarang, kecuali Leon yang seperti biasa bertelanjang dada. Fikiran Eris tiba tiba teringat satu hal, membuatnya mengerjapkan mata dan langsung membangunkan Leon.


"Yon, bangun."


Satu kali Eris memanggil Leon sambil menghadapkan tubuhnya yang semula membelakangi Leon.


"Leon! bangun dulu. " Eris mengguncangkan tangan Leon dan mengetuk hidungnya yang membuat Leon mengernyitkan alis sambil perlahan membuka mata.


Dengan seulas senyum, Leon mendekatkan wajahnya. Mengecup singkat bibir Eris sambil menaikkan alisnya saat melihat jam yang masih menunjukkan pukul 3 pagi.


"Kenapa, by? " Leon mengucek matanya, mengelus bibir Eris sambil sesekali mengecupnya lagi.


"Laper."


"Yaudah yu ke dapur. Mau makan apa? " Leon mengangkat tubuhnya bersandar ditempat tidur. Mencari long cardi tidurnya karna udara dingin yang merambat masuk ke celah kamar mereka melalui lubang udara.


Leon memperhatikan Eris yang masih dengan posisi tiduran menyamping memperhatikannya, lantas tersenyum hangat, menjatuhkan dirinya dikasur, lalu kembali menarik lagi selimut dan memeluk Eris. Membiarkan wanita itu menenggelamkan kepala manja di dada lebar miliknya.


"Mau bubur. "


Leon mengerutkan alis sambil mengusap lembut rambut Eris mendengar permintaan wanitanya dipagi buta seperti ini.


"Bubur? jam segini mana ada bubur."


"Ih, ada tau." Eris menjauhkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Leon. Lalu menghela nafas saat Leon akhirnya mencari ponsel sambil mengetikkan pesan.


"ngapain? "


"Pesen bubur. Gue lagi cari - cari di g*food. " Leon mengacak rambut Eris sambil men- scroll ponselnya yang justru membuat wanita disampingnya terlihat sebal.


Eris membalikkan badannya. menaikkan selimut lebih tinggi sampai menutup lehernya lalu bergerak maju saat Leon melingkarkan tangan dan menempelkan tubuhnya lebih dekat dengan Eris.


"by, why? mau bubur kan? gue cariin ini-"


"Gue maunya lo yang keluar. G*food jam segini mana ada. "


"Iya, gue yang keluar ko. Maksudnya buka aplikasi tuh, buat cari bubur yang masih buka deket sini. " Leon menghela nafas, mengeluarkan alibi lalu beranjak duduk dari posisi tidurannya.


Diliriknya Eris yang menutup setengah mukanya dengan mata yang pura pura tertidur. Leon menghela nafas, lalu turun dari kasur dan memutar kehadapan Eris. Menurunkan selimut yang menutupi wajah wanitanya lalu mengecup bibir Eris.


"Yaudah, gue cari bubur dulu. Kalo mau bobo lagi, bobo aja. Nanti gue bangunin. "

__ADS_1


Pintu kamar terdengar ditutup dari luar menandakan laki - laki itu sudah pergi. Eris membuka mata, lalu beringsut duduk di sandaran kasurnya.


Senyum kecil terlihat saat Eris melirik pintu yang sudah tertutup rapat, tangannya beralih mengusap perut. Ingatan tentang kesalahan yang tidak seharusnya diteruskan kembali memenuhi ruang fikirannya.


Sudah menjadi kebiasaannya saat sendiri, overthinking //fikiran berlebihan// soal hidup dan hubungan yang selalu menyerang. Apalagi semenjak rentetan teror yang ternyata berasal dari orang terdekatnya.


Eris mendongakkan kepala, melihat hamparan langit yang terlihat luas tanpa batas. Ingin rasa ia kembali bebas, kembali memerdeka kan fikirannya tanpa beban seperti sekarang.


Pandangan Eris beralih pada ponselnya. Dengan sedikit merunduk, Eris meraih ponsel yang ada di meja sebelah ranjangnya.


dreett.. dreett..


Satu notifikasi pesan baru muncul saat Eris baru menghidupkan ponselnya. Kerutan alis terlihat dari wajahnya melihat pengirim pesan yang membuat Eris mengerjap beberapa kali.


Rey


Belom tidur, Ris?


Rey


Barusan Leon kesini minta ditemenin beli bubur wkwkwk


Eris hanya menghela nafas, menekan opsi block tanpa berniat membalasnya lebih dulu. Kini Rey masuk kedalam list orang yang harus ia hindari agar beban fikiran dalam kepala Eris berkurang.


Tapi seulas senyum kembali muncul saat Eris melihat kelangit kamarnya. Leon yang cerewet, ceroboh, dan semua kekacauan yang dibuatnya. Lalu Rey yang cuek tapi menaruh perhatian lebih besar dengan kehati - hatiannya dalam bertindak.


Eris kembali menangkupkan ponsel sambil memejamkan mata. Tapi getaran tanda telfon masuk kembali muncul, membuat wanita itu menghela nafas dan akhirnya menerima telfon dengan mulut yang sudah siap memaki karna ke kesalannya diganggu sepagi ini.


"Siapa sih! ganggu banget tau ga-"


"Gue kira lo tidur karna gabales chat." Kekehan orang disebrang telfon dan suara yang familiar membuat Eris mengerjapkan matanya.


"Rey? kenapa? "


"Gapapa. Buka deh jendela nya bentar. "


Eris mengerutkan alis mendengar permitaan Rey yang - tiba, lalu melirik kaca jendela dan pintu kamar karna Leon yang belum juga pulang.


"Ris?"


"Ha? oh, oke. " Eris memejamkan mata sebentar sebelum turun dari ranjang nyamannya. Menahan langkah saat sudah ada didepan jendela karna menyadari pakaiannya yang sangat tipis dan terbuka.


Buru - buru Eris mengambil long cardi tidurnya, lalu mengintip dibalik jendela. Mendapati Rey yang sedang bersandar dipinggir mobil miliknya.

__ADS_1


Telfon Eris kembali berdering dengan no yang sama, Eris akhirnya membuka jendela dengan sebelah tangan didepan dada untuk menahan long cardi nya, sebelah lagi memegang telfon yang ditempelkan ke telinganya saat menerima panggilan.


Rey mendongakkan kepala nya, melambaikan tangan lalu tersenyum pada Eris.


"Leon belom balik Ris? "


"lo ngapain disini? satpam depan kemana?" Eris balik bertanya, melirik pos satpam yang tak jauh dari tempat Rey memarkirkan mobilnya.


"Pak Mar masih sama anak - anak di bungalow."


"Balik gih. Bentar lagi Leon pasti pulang. " Perasaan tak nyaman mulai menghinggapi Eris karna merespon Rey.


Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Eris membalikkan badan, menutup kembali jendela, lalu berjalan menuju sofa besar dan merebahkan badan diatasnya.


Suara mobil terdengar menjauh, menandakan laki - laki itu sudah pergi. Disusul suara motor yang Eris yakin adalah suara motor Pak Mar.


Tak lama, terdengar suara gerbang yang dibuka dan mobil Leon. Eris menekan dahinya dan memejamkan mata, bersyukur karna Rey tidak sebebal Leon yang keras kepala.


Selang beberapa menit. Pintu kamarnya terbuka. Leon menutup kembali pintunya, lalu melangkah kearah sofa sambil tersenyum manis.


"Sayang, papa udah beli bubur." Leon terkekeh sambil mengusap perut Eris. Lalu mengacak rambut wanitanya dan mencium singkat bibir Eris.


"Beli dimana?"


"Depan komplek. "


Eris mengangguk. Menahan dirinya agar tidak bercerita soal kedatangan Rey barusan karna pasti akan menimbulkan keributan nantinya.


"Aaaa, makan yang banyak ya, Hubby. " Leon tersenyum sambil membukakan sterofom lalu menyuapi Eris yang terkekeh dan membuka mulutnya, menerima suapan Leon.


"ko gapedes?" Eris mengerutkan alis setelah menyicipi bubur yang Leon suapi.


"Masih pagi. Gaboleh pake pedes."


"Ish. Yaudah, makan sendiri! gue mau tidur. " Setelah menjawab sedikit ketus, Eris meneguk minum yang ada dimeja lalu beranjak ke tempat tidurnya.


"ko gitu? Kasian kalo dipedesin ntar dede nya ikut kepedesan. Sekarang kan berdua, gaboleh egois dih. "


Leon menghampiri Eris. Mengelus lengannya yang langsung ditepis, membuat laki - laki itu tersenyum gemas karna tingkah lucu wanitanya saat ngidam.


"Yaudah kalo gamau. Gue abisin ya. " Leon tersenyum geli, mengambil bubur yang ada dimeja lalu menuangkan sambal yang langsung membuat Eris membalikan badannya.


"Mauuu. "

__ADS_1


Eris merebut bubur yang ada ditangan Leon lalu memakannya dengan lahap, membuat laki - laki disebelahnya tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Pelan - pelan makannya,by." Leon mengelus kepala Eris tersenyum karna perasaan hangat saat berada didekat wanitanya.


__ADS_2