
untuk membuat author lebih ngebut update nya, jangan lupa like + vote ya❤ Kritik saran juga dipersilahkan. Selamat membaca❤❤
Rasa pusing masih menjalar dikepalanya saat Leon beringsut duduk dan menyandarkan tubuh ke ujung kasur.
Mata nya mengerjap melihat ruang yang sedikit asing, apalagi saat seseorang keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk pendek.
"astaga. Della! lo ngapain ada dikamar gue?! keluar! "
Leon langsung memalingkan wajahnya, berteriak pada Della yang tersenyum manis. Wanita itu beranjak keatas kasur. Mendekat kearah Leon lalu menyandarkan kepala nya dilengan Leon yang langsung ditepis.
Tapi Della tampak tak menyerah,ia malah menuntun tangan Leon menyusuri tubuhnya tanpa tau malu, membuat Leon langsung berdiri dan melepas kasar tangan Della.
"Lo! apa apaan sih, hah? pake anduk lo! " Leon melotot dan langsung membalikkan badannya melihat Della yang sudah polos tanpa sehelai kain penutup.
astaga, sepagi ini gue harus nerima cobaan. Kalo Eris yang goda gamasalah mau semaleman juga ga gentar gue. Leon berjalan sebal sambil memegang kepala nya yang masih terasa pusing.
Setelah membanting pintu dengan keras. Leon buru buru naik keatas, telinganya sudah siap otaknya juga sudah siap dengan alasan kenapa ia tak cepat kembali ke kamar Eris semalam.
Senyuman tercetak dibibir Leon saat pintu kamar masih tertutup. Wanita nya memang paling susah bangun pagi, apalagi saat bersamanya, Eris bisa dibuat tak bisa beranjak dari tempat tidur seharian.
Leon terkikik memikirkan fikiran liar nya dipagi hari. Dengan tak sabar Leon menekan knop yang ternyata tak dikunci.
Leon mengerutkan alisnya saat melihat tak ada Eris ditempat tidur. Buru - buru Leon sedikit berlari ke balkon, lalu ke kamar mandi, ke mini bar dan ruangan gym di dekat ruang kamar mereka, tapi tak sama sekali ada tanda Eris disana.
Leon memastikannya lagi, menghampiri ujung kasur dan tak menemukan tas ransel Eris yang seingatnya ada disamping ransel miliknya. Ia membuka lemari, bawah meja, dan mengelilingi ruangan mencari tas yang sialnya juga tak ada.
"argh!"
"hp gue? " Leon buru buru menuruni anak tangga, mencari ponselnya di ruang tv tapi malah menemukan Siska dan Dion yang bertautan bibir.
"astaga! pagi - pagi. " Leon memalingkan muka nya sambil mencibir, membuat Dion menatapnya sebal apalagi saat Leon menyuruh dia dan Siska yang sedang dalam posisi enak untuk berdiri.
"ck. apaan sih lo? nyari apa? "
"hp gue mana? "
Leon berlari kearah pantry saat mendengar teriakan Dion yang diiringi tawa.
"dikamar Della kali, lo kan tadi keluar dari kamarnya."
"Eris.. please angkat telfonnya. Halo? -"
__ADS_1
"nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi. "
tut.. tuutt.. tut..
"argh. sial! tapi tunggu, semalem gue ngapain ya? gue cuma minum terus ketiduran di pantry,Eris juga semalem kan temenin gue cium cium gue. ko?-"
Leon berbicara dengan dirinya sendiri, mengingat kejadian semalam, lalu insiden tadi pagi, ia malah bangung bersama Della.
Fikirannya baru terbuka. Leon mengepalkan lengannya lalu sedikit berlari mengetuk keras kamar Della yang dikunci tanpa menghiraukan Dion dan Siska yang sudah menghilang.
"kenapa sih, yon? aku baru selsai pake baju, kamu gak sabar banget kayanya. "
Della membuka pintu, baju ketat dan celana hotpants nya sama sekali tak meredam amarah Leon.
Buru - buru Leon menariknya masuk, menutup pintu dengan keras lalu menjatuhkan kasar Della ke sofa.
" semalem lo ngapain hah? Lo iya iya aja gue panggil Eris. lo ngapain gue? bilang sebelum gue bikin lo bener bener gabisa ngapa ngapain! "
Della mengerjapkan mata, tak lama senyum nya tampil, tak lupa dengan gaya centil dengan tubuh yang dikedepan kan seolah masih berfikir tubuhnya bisa membuat Leon lupa diri.
" kita udah lama bareng. Dan tinggal satu rumah selama setaun lebih, gamungkin lo gabisa bedain tubuh gue sama tubuh Eris yang baru lo tidurin beberapa bulan. "
" lo! -"
Ia bisa saja main tangan pada wanita didepannya tapi bayangan Eris membuat Leon kembali mengurungkan kekerasan yang sudah terbayang karna sikap kelewatan Della yang semakin menjadi.
" udah gila! " Leon menurunkan kembali tangannya, memilih lebih waras dengan segera pergi dari ruangan yang seperti neraka karna bersama Della.
Seingatnya, pagi ini ia juga tak menemukan Rey di villa. Leon kembali membuka ponselnya sambil naik keatas untuk mengambil ransel.
Leonardo wyllie : Lo dimana? (read)
Leon mengetuk tangannya tak sabar pada ponsel yang dia genggam. Tak lama balasan masuk dari Rey yang langsung dibukanya.
Reyhan wyllie : villa
Leonardo wyllie : villa mana? (read)
sama Eris? (read)
Rey! (read)
__ADS_1
Reyhan wyllie : ya
Leon mengepalkan tangannya, mengambil ransel lalu segera turun, menubruk Della yang menghadangnya di ujung tangga bawah, tak menghiraukan teriakan Della yang membuat Leon semakin merasa kepalanya akan meledak.
nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan
ketik 1 untuk meninggalkan pesan.
Bruk!
Leon memukul stir nya. Memelankan mobilnya sambil memperhatikan sekitar jalan,mencoba terus menelfon Eris dan Rey bergantian walaupun jawaban operator sama.
Sebuah porsche hitam yang terparkir di sebuah parkiran depan rumah makan membuat Leon langsung menghentikkan mobilnya, memarkirkannya di pinggir jalan lalu segera berlari menghampiri mobil Rey. Mengintip dibalik kaca yang sedikit gelap.
Ransel yang dibawa Eris berhasil membuat Leon semakin serba salah, apalagi ponsel yang Eris letakan sembarang di dashboard mobil.
"punten a, cari apa ya? "
"astaga! gue cari Rey pemilik mobil ini. " Leon mengusap dadanya karna terkejut dengan kedatang seseorang yang berbicara dibelakang tubuhnya.
"oh, yang semalem sama si teteh cantik ya? mereka berdua masih di villa a, katanya sih bentar lagi mau pulang-"
"berdua? di villa mana? anter gue sekarang! " Leon refleks menarik kaos oblong yang dikenakan laki - laki didepannya.
"i -itu a, punten."
"lo ngapain disini? " Rey memicingkan mata melihat Leon dan mang bagas didepan .mobilnya.
Melihat Eris yang terlihat pucat dengan mata sipit Leon buru buru menarik tangannya yang langsung Eris tepis.
"buruan masuk, Rey."
Eris berjalan melewati Leon, langsung membuka pintu saat alarm yang menandakan kunci nya sudah dibuka oleh Rey.
"Ris, dengerin gue dulu. Lo salah faham semalem. Ris! "
" Yon. " Rey melepas tangan Leon yang memegang knop pintu mobilnya,memaksa agar terbuka.
" Biarin dulu dia sendiri. Percuma lo ajak ngobrol dia di waktu yang gak kondusif kaya sekarang."
Rey menggeleng, lalu memutari mobilnya untuk duduk di kursi kemudi. Ia tak tau betul masalah semalam tapi pasti ada hubungannya dengan Della.
__ADS_1
Diliriknya Eris yang memejamkan mata dan memakai headset, tak mau tau Leon mengetuk kaca dengan keras dan terdengar memohon agar Eris mau mendengarkan.
Rey mengedikkan bahu, lalu melajukan mobilnya yang membuat Eris perlahan membuka matanya sayu.