
Beberapa petugas rumah sakit langsung bergegas saat Leon menggendong Eris, ia memaksa masuk untuk menemani Eris tapi
aturan medis memaksa nya tetap diluar.
Raut cemas sekaligus bingung nampak jelas dari muka Leon, ia terlihat berdiri lalu berjalan mondar mandir tak bisa diam.
Leon melihat jam tangannya, sudah hampir 30 menit Eris didalam, sampai akhirnya salah satu petugas membuka pintu, meminta Leon masuk menemui dokter yang berdiri disamping Eris.
"Bapak tenang saja. Ibu Eris mengalami pendarahan, dan itu lazim terjadi di usia kandungan yang masih muda."
Dokter dengan nametag Zee itu tersenyum bergantian pada Rey dan Eris yang nampak terkejut. Eris langsung duduk dan mengerutkan alisnya, meyakinkan kembali apa yang barusaja di dengarnya.
"kandungan? maksud dokter saya? "
Dr. Zee tersenyum mengangguk lalu mengusap bahu Eris yang menatapnya tak percaya.
"Kamu jangan terlalu banyak fikiran ya, kurangi minum alkohol nya. Sekarang kan ibu Eris berdua jadi harus makan yang sehat dan perbanyak minum air putih."
"Bapak juga kerjasama sama istrinya, jangan sampe bu Eris stress dan kecapean. Saya tinggal dulu, ya. "
Eris memalingkan wajahnya saat Leon mendekat, mencoba kembali mencerna apa yang dikatakan dokter sambil mengusap perutnya.
"engga, engga. Gamungkin." Eris menggeleng, memejamkan matanya saat rasa nyeri mulai terasa walaupun sedikit berkurang kadarnya.
"Ris-"
"keluar."
"gue bakal tanggung jawab. Lo, gue nikahin. " Leon mendekat, memegang tangan Eris yang langsung ditepisnya.
Raut wajah yang tak bisa diartikan terpancar dari muka Eris saat melihat Leon.
"huh? nikah? lo aja gabisa kasih kejelasan, lo fikir nikah itu gampang?"
"hubby"
Eris menarik nafas dan membuangnya kasar, menyilang kedua tangan didepan dada agar laki laki itu tak bisa menyentuh tangannya.
"Yon, mending lo keluar. Gue gamau teriak teriak di UGD."
Leon mengangguk,mengecup puncak rambut Eris walaupun wanita itu menunjukkan raut tak suka.
"Yaudah. Lo istirahat ya, gue beli makanan dulu. "
Setelah keluar dari UGD Leon bergegas menuju petugas medis, dan berbicara beberapa hal.
"mbak,Saya mau Ny.Eris pindah ke ruang vvip,secepatnya."
"baik, pak. Saya cek dulu kelasnya. "
melihat seseorang yang seperti dikenalnya, Rey mengerutkan alis, mendekat kearah Leon yang raut wajahnya terlihat berantakan.
__ADS_1
"lo ngapain disini? "
Leon langsung mendongakkan wajahnya melihat Rey yang tiba - tiba muncul mengerutkan alis.
"pak, kebetulan ada ruangan kosong. Jadi ibu Eris bisa segera pindah kamar."
perawat didepan mereka mengangguk sopan terutama saat melihat Rey yang masih menenteng jas putihnya.
"Eris? dia sakit?"
Leon mengangguk. Berjalan duluan melewati Rey karna beberapa perawat keluar membawa Eris pindah ke ruangan barunya.
***
Eris menatap langit langit ruang kamar untuk menghindari tatapan laki - laki yang terus berada disampingnya.
Leon selalu sigap bahkan saat Eris sedikit meringis, wajah laki laki itu langsung terlihat cemas dan buru buru mendekat kearahnya.
"Gue belom siap jadi ibu." Eris menghela nafas, memejamkan matanya menahan tangisan yang memaksa keluar.
"Gue bakal nemenin lo, nemenin baby. "
Leon beranjak mengelus perut Eris, tersenyum membayangkan perut wanitanya membesar nanti.
"Ris, gue bakal temuin orang tua lo. Kita nikah, ya. "
"kenapa bisa Yon? kita udah sering tapi kenapa sekarang bisa lewat? Gue belom siap. "
tok.. tok.. tok..
Eris menghela nafasnya malas saat petugas rumah sakit kembali membawa obat dan nampan berisi makanan kedalam kamarnya.
Rasa mual tiba tiba menyerangnya apalagi mengingat makanan rumah sakit yang terasa
hambar.
"Yon, gue mau-hue" Eris menahan mulutnya, mencubit Leon agar segera membawa nya ke kamar mandi setelah Leon menyimpan nampan keatas nakas.
"Ehiya, iya. Hayu buruan. "
"huek,hue"
Eris memegang perutnya dengan Leon yang memijatkan tengkuk sambil sebelah tangan memegang infusannya.
"udah, Yon. Gendong ya gue lemes."
Leon mengangguk, memberikan infusan yang dibawanya pada Eris lalu segera menggendong wanita itu yang terasa lebih berat.
"Makan ya, lo juga harus minum obat biar ga pendarahan lagi. "
Sekali lagi Leon menghela nafas saat Eris menggeleng, menutup rapat mulutnya dan membelakangi Leon. Bahkan saat Leon memutar agar Eris melihatnya, wanita itu malah mendengus sebal sambil mencari posisi yang enak untuk tidur.
__ADS_1
"Yon, pijitin"
"hah?"
"Yon"
"Gue gabisa mijit, Ris. "
Eris mengeluarkan binar memohon yang akhirnya membuat Leon mengalah. Membuka ponselnya mencari tutorial memijat di YouTube.
" Sebelah sini? " Leon mengangkat celana Eris sedikit keatas kemudian memijit betisnya, membuat wanita itu sedikit mengernyit.
"ish pelan pelan. Lo fikir kaki gue keyboard? di pencet pencet keras sama cepet. " Eris mulai mengomel membuat Leon mengernyitkan alisnya karna kebawelan wanita didepannya jadi bertambah.
" Gue mau diurut sama Mak im. "
Sambil memejamkan mata, Eris berkata pelan yang masih sedikit terdengar oleh Leon.
"Mak im siapa?"
"Tukang pijit."
Leon menurunkan kembali celana Eris, menaikkan selimut lalu segera beranjak yang langsung membuat Eris mengerutkan alisnya.
"Leon! lo mau kemana ih? "
" Jemput Mak im. Lo mau dipijit kan? "
"Dia dibandung,Leon. Gue keburu gamau dipijitnya. Uda ah gue mau tidur."
Leon mengusap tengkuknya, memutar kembali kemudian duduk di tempat tidur samping Eris, mengusapkan punggungnya sampai wanita itu tertidur.
Getaran ponsel disaku celana membuat Leon beranjak perlahan agar tak membangunkan Eris. Membuka pintu lalu keluar melihat caller id penelfon.
incoming call
wyllie's dady
Tanpa berniat mengangkatnya, Leon hanya menaikkan alis, membuat mode ponselnya silent, lalu kembali masuk.
Fikirannya kembali berkelana, ia akan jadi seorang ayah karna keteledorannya.
Leon memegang tangan Eris, wanita itu terlihat tenang saat memejamkan mata. Membuat rasa bersalah Leon semakin menumpuk.
" sorry, gue bikin lo kena banyak masalah."
Tangannya terulur mengusap rambut Eris yang terurai. Hati Leon juga tak berhenti memarahinya karna bisa sampai kebobolan.
"Gue bakal bikin lo seneng, Ris. i'm promise"
Leon mendongakkan kepalanya. Beranjak keluar dan berjalan gontai kearah parkir, berdiam di mobilnya sambil berusaha menerima kenyataan yang ada dihadapannya.
__ADS_1