
"gue disuruh Dion ke villa nya juga. "
Eris mengangguk, berjalan duluan sambil bersiap membuka pintu apart nya lalu diam sebentar diambang pintu, berbalik menatap Leon yang baru saja akan melangkah.
"gue mau- mulai sekarang kita jaga jarak, minimal 1 meter. "
"kenapa, Ris?"
baru saja Leon berjalan mendekat, Eris langsung membuka pintu sedikit berlari yang membuat Leon menghela nafas dan akhirnya menuruti Eris mengekor dengan jarak 1 meter dibelakangnya.
Bahkan saat mereka sampai di basement Eris langsung loncat ke jok belakang saat Leon menghentikan mobilnya.
"gue bukan supir. Pindah " Leon menghela nafas, melihat Eris dari kaca yang dibalas tatapan tajam oleh Eris.
"lo lupa gue kan bilang minimal jarak kita 1 meter! "
"Ris, astaga. Gue gabakal terkam lo kali, pindah, buruan! "
Eris menggeleng, merapatkan jaketnya karna sadar arah pandang laki - laki itu.
"huf, ok. Gue harap lo juga ga lupa kita pernah saling terkam di mobil. " Leon menghela nafas, melajukan perlahan mobilnya menembus jalanan yang masih cukup sepi dan gelap.
Eris menangkap senyum usil Leon dari kaca di depannya, apalagi Leon meregangkan leher membuat Eris refleks memukul kursi belakang kemudi yang membuat Leon mengaduh.
"kenapa sih? akhir akhir ini sensi banget kaya nya sama gue, Ris. "
"lo yang kenapa! regang - regangin leher segala."
"lah? gue ma pegel, lo fikir gue regangin leher karna mau mancing lo? lo kangen? sini sini, hubby"
Baru saja Leon menekan tombol auto kemudi dan membalikkan badannya, Eris segera loncat kearah depan. mengambil bantal yang memang Leon sediakan khusus untuk Eris lalu memeluknya dan menatap sinis Leon yang tertawa sambil melihat kearahnya.
"apa liat liat? nyetir yang bener! "
"galak banget sih, by. "
20 menit setelah pertengkaran kecil itu, Leon menangkap Eris melalui sudut matanya yang terlihat sudah mulai tertidur, senyumnya muncul saat beberapa anak rambut menutupi kening wanita disebelahnya.
Pandangannya kembali fokus kejalan walaupun sesekali ia alihkan kearah Eris yang terlihat nyaman menyandarkan kepalanya dibantal yang ditempelkan ke jendela mobil.
tangannya terangkat untuk merapikan rambut Eris, satu usapan yang membuat wanita disampingnya bergerak membuat Leon buru - buru mengangkat tangannya, kembali memfokuskan diri kejalan yang semakin mengecil dan dikelilingi dengan pohon besar dipinggir kiri dan kanannya.
Eris meregangkan badan membuat Leon berdehem karna kaos crop yang dipakai Eris terbilang pendek. Setelah mengerjapkan mata sebentar, wanita itu memperhatikan sekitarnya. Walaupun matahari sudah mulai naik tapi hanya mobil mereka yang lewat.
__ADS_1
"lo mau bawa gue kemana?!! "
"kita kan mau ke villa. " Leon menutup telinga saat Eris berteriak didekatnya.
"gausah alibi. puter balik! "
"puter balik kemana, Ris? ini satu satu nya jalan ke villa."
"adik gue tau sikon,ko. Gabakal minta jatah sembarangan. " Leon menepuk pelan adiknya lalu melirik Eris yang melotot kearahnya.
"hish, bodo! "
Eris menggeleng, memilih lebih waras dengan tak ikut kedalam jokes dewasa Leon.
Setelah lama saling diam, mobil Leon berhenti disebuah rumah kayu cukup besar.Leon tersenyum pada Eris lalu keluar lebih dulu dan membuka kan pintu, merangkul pinggang Eris sebelum wanita itu bergegas menjauhi nya.
Leon melangkah, mengetuk pintu beberapa kali tapi tak juga dibuka padahal ia lihat mobil Dion sudah terparkir rapi diluar. Setelah melihat arloji nya menunjukkan pukul 7.20 yang berarti sudah 10 menit mereka diluar ditambah dengan Eris yang terlihat mulai kedinginan, Leon membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
Eris menahan lengannya saat Leon membawanya masuk dengan dalih tidak sopan walaupun pintu tidak dikunci. Sebuah suara membuat Eris semakin menahan lengannya sebelum menaiki tangga, lalu melihat Leon dengan pipi yang agak memerah.
ya, tak salah lagi. Suara seperti desahan itu berasal dari sebuah kamar yang terletak tak jauh dari tangga. Buru - buru Eris menarik Leon karna takut menganggu.
"gue bilang juga apa! jangan asal masuk. " Eris berbisik pada Leon yang justru cengengesan sambil mengusap tengkuknya.
"ehm,hm. waw, gue kira kalian bakal dateng sore atau maleman. " Dion keluar dari kamar sambil merapikan baju nya. Membuat Eris dan Leon yang membelakangi kamar mereka langsung berbalik.
Eris mengerjapkan mata, buru - buru dia menutupkan pintu kamar lalu lari menyusul Leon yang sudah duduk di sebrang Dion.
"haha. santai aja kali, bebas ko disini." Dion mengeluarkan rokok nya, melirik baju Eris yang sedikit menyingkap karna wanita itu sesekali melihat kearah kamar.
Sadar arah pandang Dion, Leon menarik Eris lebih dekat, membetulkan bajunya yang sedikit memperlihatkan bagian perut langsing Eris.
"ok, to the point aja. lo udah dapet kan hasil tracking //pencarian// orang yang neror Eris." Leon memulai pertanyaan yang dijawab anggukan Dion.
walaupun terlihat acuh Leon dapat melihat mata Dion yang masih mencuri lihat kearah Eris.
"siapa? " Eris ikut masuk dalam pembicaraan, melirik Leon yang masih setia menanggalkan tangannya di pinggang Eris.
"gue gabisa kasih tau secara spesifik. Tapi dia deket sama kalian."
"deketnya tuh gimana?" Leon terlihat tak sabar.
"ya deket. dia masih disekitar circle kalian. "
__ADS_1
"ck."
"Yon." Eris menahan lengan Leon.
"udahlah gapapa, dia udah gaada neror gue ko. Udah ya biarin aja" Eris menepuk tangan Leon yang akhirnya hanya membuat laki laki itu menarik nafas.
"Ris, kita udah jauh jauh kesini."
"gapapa, kebetulan gue lagi pengen refreshing juga." Eris beranjak, tersenyum pada Leon lalu mengalihkan pandangannya pada Dion.
"gue boleh liat liat sekitar sini ga? "
Dion mengangkat sebelah alis, lalu mengangguk dan ikut beranjak.
"oke, h-fun."
***
Eris meregangkan badan di luar balkon atas, membuat Leon tersenyum memperhatikan Eris dari dibelakang.
Senyum simpul terlihat dari bibir Eris. wanita itu terlihat lebih santai, membuat Leon memberanikan diri mendekat kearah Eris, mengingat adiknya sudah satu minggu lebih berpuasa.
"hubby. "
Leon menempelkan dagu nya di leher Eris. sedikit berbisik yang membuat wanita itu memejamkan mata.
" kita lewatin ini bareng ya, Ris. sorry bikin lo kena banyak masalah."
Eris tersenyum membalikkan badannya lalu balas memeluk Leon.
"gue gapapa ko. lo fokus aja sama andromade,ya."
Leon mengecup puncak rambut Eris, mengangguk. Lalu mengendongnya masuk menuju sebuah sofa cukup besar diujung ruang.
Tangan Eris bergerak menyusuri hidung dan mata Leon yang berada diatasnya. senyumnya masih terbit saat Leon menundukkan wajah, mengecup pelan bibir merahnya.
perlahan tangan Leon membuka kancing baju yang dipakai Eris, tangannya mulai menyusuri leher dan sedikit melepas bra yang dikenakan wanita itu.
"guys, sara-" Dion membalikkan badan, melihat Leon yang menunduk menyusuri leher Eris dengan sebelah tangan yang sudah berseluncur bebas ditiap inci tubuh wanita itu. Eris buru - buru menjauhkan Leon, membetulkan kancingnya yang membuat Leon lagi lagi menghela nafas dan menatap tajam Dion yang tiba - tiba datang.
"sorry sorry. gue gatau kalian main disini. "
"kenapa? " Leon menyandarkan tubuhnya. Mengacak rambut Eris yang sudah selsai merapikan bajunya.
__ADS_1
"ehm sarapan,Yon. Kebawah. " Dion turun duluan, meninggalkan Eris yang terlihat menutup wajahnya karna malu.
"gapapa,Ris. Dion udah biasa liat kaya gini" Leon tertawa, beranjak duluan sambil menarik tangan Eris.