
Eris menyeret malas kakinya masuk kedalam mobil. Disusul Mak im dan El yang masuk ke kursi belakang.
Leon melirik Eris yang sepanjang jalan tampak memikirkan sesuatu,begitupun El yang sama diamnya. Hanya Mak im dan Leon yang terdengar bersahutan mengeluarkan jokes atau bahasa sunda yang membuat Eris menahan senyum saat Leon mencoba berbicara dengan bahasa itu.
" ulah ditahan atuh erek seri mah. // jangan ditahan kalo mau senyum// " Logat sunda yang menjadi aneh saat diucapkan Leon membuat Eris tersenyum singkat sambil mengerutkan alis saat laki - laki itu menyentuh singkat tangannya.
"Le, Mama mau cari apart deket sini aja. Gaterlalu jauh dari Eris. " El tersenyum pada Eris, beberapa kali meminta berhenti saat melihat apart yang cukup dekat dengan tempat Eris.
"Ma, apart udah Leon beresin. Sayang kalo ga ditempatin."
Leon mencoba memberi pengertian agar El tetap mengisi Apartementnya.
"Ngurus apart sekarang ribet,Ma. Apart Leon tinggal tempatin aja, gausah urus persyaratan persyaratan lagi." Leon melihat singkat kaca didepannya lalu tersenyum pada El yang menghela nafas.
Setelah perdebatan panjang soal apartement El, mobil Leon memasuki basement apartementnya. Leon memarkirkan mobil lalu turun, memandu El dan Mak im yang baru pertama kali menginjakkan kaki ditempat itu.
Pandangannya sesekali melirik Eris yang masih diam tak bersemangat.
"Kalian duluan aja, Leon ambil berkas dulu di lobby. Ris, anterin ya ke room gue. " Leon mengusap pundak Eris, lalu tersenyum dan mengangguk pada dua wanita paruh baya didepannya.
Eris mengangguk. Berjalan dididepan El dan Mak im yang mengekor. Pandangannya lurus tanpa sedikitpun memperdulikan El yang beberapa kali mencoba membuka obrolan dengan tersenyum.
Lift terbuka, ruangan ruangan koridor yang sangat luas dan mewah membuat El dan Mak im mengerjapkan mata sambil sesekali saling lihat. Dikepalanya, fikiran perihal sewa apartement disini pasti harga nya selangit.
Tak sampai berapa menit, Eris membuka kata sandi apartement Leon, lalu masuk duluan disusul Mak im dan El yang kembali mengedarkan pandangannya saat memasuki ruang apartement Leon yang sangat luas. Senyumnya sedikit tertahan melihat Eris yang malah sibuk dengan ponselnya.
"Apartnya gede banget ya, Ris. Sewa perbulannya berapa ya?"
"Mama cari apart deket kamu aja,gimana? Disini agak jauh, mama juga kan belum terlalu kenal daerah sini." El menghampiri Eris yang hanya mengedikkan bahu nya.
Suara singkat alarm tanda pintu kembali terbuka membuat Eris tersenyum. Perkataan mama nya soal pernikahan sebenarnya cukup membuat fikirannya bercabang dan menjadi canggung.
"Maaf ya Leon lama. Mama liat - liat dulu aja."
"Le, Mama mau cari apart deket Eris aja,ya." El mengeluarkan senyum hangat, melirik Mak im yang mengangguk menanggapinya.
Leon menggeleng, tetap memaksa El agar tinggal di apartementnya.
"Gue mau ngomong." Eris berbicara singkat pada Leon sambil beranjak menuju balkon, diikuti Leon yang memberi kode agar Mak im dan El melihat lihat sambil menunggu mereka.
"Hari ini gue mau ketemu sama orang-"
__ADS_1
"ketemu siapa? cowo? ngapain sih? " Leon memberondong Eris dengan berbagai pertanyaan, membuat wanita didepannya mengerutkan alis.
drett..drett ..
Getaran ponsel Eris ikut membuat Leon menaikkan sebelah alisnya.
"halo pak?"
"oh udah di loby? oke sebentar-"
"Gajadi pak. Maaf cewe saya kalo ngambek suka gajelas." Leon menjauhkan tangannya saat Eris coba mengambil balik ponselnya dengan wajah sebal.
"apa apaansih?"
"lo yang apa apaan? ngapain ada gue kalo lo pergi masih pesen g.jek" Leon bicara sinis, lalu memasukkan ponsel Eris kedalam saku celananya yang membuat wanita itu semakin sebal.
"Yakin mau anterin?"
Leon mengangguk yakin,lalu mengikuti Eris yang berjalan duluan.
"Mak im,Eris keluar dulu ya. Kalian istirahat dulu aja." Eris menghampiri Mak im yang berdiri dijendela,mengamati hamparan gedung yang menjulang disekitar apartement.
"Ohiya neng. Neng sama aa teh pulang na kapan?"
"Ma,Leon sama Eris keluar dulu ya. Kalian istirahat disini." Leon membelokkan langkahnya untuk bersalaman pada El saat Eris berjalan lurus tanpa berkata sepatah katapun pada El.
***
Jalanan macet ibukota kembali menyambut saat mobil Leon keluar dari basement.
"jadi,kita mau kemana?"
"Ikutin maps aja ya."
Eris menyimpan ponselnya di phone holder lalu melirik Leon yang menautkan alisnya.
"mau ketempat apasih? lo gahafal tempatnya dimana?" Leon kembali memfokuskan pandangan ke kemudi saat mobil didepannya berjalan.
"udaah ikutin aja. Gausah bawel dulu "
Leon menghela nafas. Sesekali melirik Eris yang lebih pendiam. Ibu hamil gini amat mood nya, kemaren garang, sekarang diem. Kudu banyak sabar. Fikirannya kembali mengajak berdialog karna wanita disebelahnya hanya diam.
__ADS_1
"Ohiya,yon. Lo yakin udah siap?"
Eris mulai berbicara degan nada serius yang terdengar sedikit kaku.
"Yakin. kenapa? tiba tiba bahas itu lagi."
"Gue fikir, apa ga sebaiknya kita tunda sampe kita sama sama siap?"
"Bentar bentar. Maksud lo apa sih?"
Leon menepikan mobilnya, melihat Eris lebih serius yang membuat wanita itu memejamkan mata dan menghela nafas.
"Yon,gue tau lo belom siap buat mulai hubungan,apalagi buat rumah tangga. Nikah tuh bukan perkara main main."
"lo fikir gue masih main - main? Gue udah yakin sama lo. Bukan cuma karna benih yang udah gue tanam,tapi karna diri lo Ris. Gue sayang sama lo,faham kan?"
Nada suara Leon mulai naik satu oktaf. Pandangannya beralih pada ponsel Eris yang masih menyala,lalu mengambilnya. Melihat nama tempat yang akan mereka tuju.
"Bidan Erni? lo ngapain ke bidan? pendarahan lagi? atau kenapa? kita langsung kerumah sakit kemarin aja." Raut wajah Leon berubah panik, buru buru Leon menyalakan kembali mobilnya yang langsung Eris tahan.
"Yon."
Leon menautkan alis,menunggu tak sabar suara Eris yang terlihat menahan tangisnya.
"gue mau aborsi."
"hah?" Ucapan Eris yang tiba - tiba berhasil membuat fikirannya tambah kusut.
"gue mau aborsi."
Eris mengulang kembali ucapannya. Mengalihkan pandangan kemanapun untuk menghindari tatapan Leon yang masih terlihat bingung.
"Ris? gue kan udah bilang gue bakal tanggung jawab. Gue bakal nikahin lo."
"ini tuh salah,Yon. Gaseharus nya kaya gini, dari awal kita komit gausah pake perasaan atau apapun kan?"
"Ris! lo ngomong apasih? gue tau hubungan kita salah tapi gaseharusnya lo ngorbanin apa yang gasalah, lo tega bunuh anak lo sendiri?"
Perkataan Leon berhasil menohok hatinya. Eris tak pernah berfikir sampai sana apalagi saat El menceritakan kejadian yang juga menimpanya dulu.
"Gue cuma takut gabisa ngurus anak ini. Gue belom siap."
__ADS_1
"Hey, ini udah konsekuensi kita. Udah ya stay bentar lagi. Gue udah urus semuanya." Leon tersenyum menanggapi Eris lalu menariknya kedalam pelukan. Mengusap rambut wanita itu dan membiarkannya menangis.