Friend With Benefit (FWB)

Friend With Benefit (FWB)
hurt


__ADS_3

Rey sesekali mengalihkan pandangannya pada Eris yang terdengar beberapa kali menghela nafas.


"lo udah makan? " Laki laki itu mencoba memulai pembicaraan yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Eris.


Padahal perutnya sudah berdemo ingin makan, tapi Eris sama sekali merasa tak bisa memasukan apapun kedalam mulutnya. Nafsu makannya hilang setelah melihat Leon yang malah berciuman dengan Della


didepannya.


"masih kefikiran soal tadi siang? tenang aja, maksud Della kayagitu cuma mau tenangin Leon ko. "


Tenangin Leon? apa harus berlanjut dengan ciuman tengah malem? apalagi Leon juga nyosor pegang pegang dia. astaga hati gue kenapa sih, lo ga berhak marah,heh! Batin Eris tanpa melihat kearah Rey yang melihatnya datar.


"gue gak laper." Eris akhirnya melihat kearah Rey saat laki laki itu malah berhenti disebuah rumah makan.


gruuuuk


Rey mengerutkan alisnya melihat muka Eris yang memerah dan langsung keluar mobil, membuatnya sedikit tersenyum karna sifatnya yang lumayan menarik.


Keduanya saling diam berhadapan didepan meja yang sudah tersaji makanan khas puncak, dari sate, sup dan skuteng yang mengeluarkan aroma menggiurkan.


"mas ada vodka? "


Rey menaikkann alisnya mendengar Eris meminta sesuatu yang mustahil ada ditempat itu pada pelayan yang mengantar makanan mereka.


"punten, teh. po-dka? "


"engga,engga mang. Dia baru bangun tidur, jadi nyawa nya belom kumpul semua. "


"ohiya,a. Daripada kalian kemaleman dijalan, kita ada villa deket sini a, cocok buat pasangan hehe. "


Eris melotot saat Rey malah mengangguk menanggapi penawaran pelayan didepannya.


"nanti kalo udah selsai panggil bagas aja ya a, biar saya anter. Mangga a, teh. "


"gue mau balik langsung. " Rey memperhatikan Eris yang sudah berdiri, lalu beralih sebentar pada makanan yang isi nya sudah tandas.


cewe kalo laper gercep juga ya. Batinnya.

__ADS_1


"istirahat dulu. Gue belom tidur dari kemaren."


Eris menaikkan sebelah alisnya saat Rey ikut berdiri, menyimpan beberapa lembar uang dimeja lalu mengangkat tangannya memanggil pelayan yang tadi menawarkan jasa penginapan.


"aa bisa parkir mobilnya didepan, kita jalan kaki karna villa nya gaterlalu jauh."


Rey melihat villa yang ditunjukkan bagas, lalu mengalihkan pandangannya kearah parkiran yang penuh dan memang sepertinya disediakan khusus untuk pengunjung yang bermalam.


"oke."


Eris langsung mengekor Rey yang menuju mobilnya, segera membongkar ranselnya, memindahkan satu baju ganti dan beberapa peralatannya ke tas yang lebih kecil.


"gausah mikir macem macem. Gue bisa jaga fikiran ko." Seakan tau apa yang Eris fikirkan jika bermalam dengannya, Rey menghela nafas menjawab pertanyaan Eris yang akhirnya membuat wanita itu mengangguk lalu keluar lebih dulu.


Eris memegang ujung baju Rey karna jalan yang mereka lewati cukup gelap dan kecil sebelum akhirnya hamparan kebun teh membuat Eris sedikit tersedak.


"uhuk, hm. Mang kita lewat sini? "


"Iya teh, villa nya ada diujung sana. jadi kita lewat sini yang lebih deket."


Rey mengangguk saat Bagas kembali berjalan, helaan nafas kembali terdengar dari wanita dibelakangnya. Eris terlihat ragu untuk melanjutkan, jadi Rey menarik tangannya, menuntun Eris hingga mereka berada didepan villa.


Fikiran Eris kembali membuka bayangan saat Leon membelanya lalu saat dia menghilang lama dan tiba tiba Eris melihat dengan mata kepalanya sendiri Leon bermesraan dengan Della.


Huf. Yaudahlah cukup,Ris. Itu udah cukup jadi alasan lo buat pergi. Della satu satunya alasan Leon gabisa buka hati buat orang lain. Eris sedikit tersenyum, menguatkan dirinya sendiri lalu beranjak masuk menyusul Rey yang berpapasan dengannya.


"Gue anter mang bagas dulu. Kamar lo disana"


Rey berjalan melewati Eris yang hanya mengangguk menjawabnya, setelah memastikan Eris masuk kamar yang ditunjukkannya walaupun dengan menyeret kakinya gontai, Rey menutup pintu. Mengantar Bagas sampai kedepan setelah dia berpamitan padanya.


gue tau ini gabakal mudah. tapi, bentar. Rey kan tunangannya Della kenapa dia diem aja pas Della cium Leon di taman belakang? apa gue kasih tau aja adegan didapur tadi? tapi ntar gue malah bikin mereka berantem.


Eris memejamkan mata, menggeleng keras karna bayangan itu terus berputar dikepalanya.


"astaga. stop please! kepala gue udah mau meledak bayanginnya,argh.." Eris mengacak rambutnya sambil duduk dengan cepat, membuat Rey yang baru membuka pintu kamar melihat Eris sambil menaikkan sebelah alisnya.


"ehm."

__ADS_1


"lo! ngapain diri disitu, hah?! jangan bilang lo mau tidur dikamar ini juga? " Eris berteriak pada Rey yang malah masuk kamar, mendekat kearahnya, semakin dekat membuat Eris beringsut keujung kasur dengan siaga karna laki - laki itu tak menjawabnya.


"gue cuma mau ambil selimut. Minggir."


Eris segera berdiri, membiarkan Rey mengambil selimut yang tadi di duduki nya. Tanpa bicara atau melihat lagi kearah Eris, Rey pergi keluar, mengambil satu selimut tipis dan menyisakan selimut tebal yang sepertinya untuk Eris.


cewe aneh. Beda sama Della yang jaga banget imagenya. Btw, Della lagi ngapain ya? pasti dia seneng karna bisa ngabisin waktu sama Leon, i know. Dia ngajak gue tunangan cuma buat narik Leon balik, and i dont care //dan gue gaperduli//.


Rey mematikan lampu. Membiarkan Tv didepannya menyala, fikirannya sudah terisi dengan kisah cinta klise dengan Della.


Dia tau Della tak benar - benar tertarik padanya, diapun begitu. Mereka punya alasan tersendiri kenapa mereka melangsungkan pertunangan padahal saling tak ada rasa.


tujuan tersirat Della mengajak Rey bertunangan kontrak hanya untuk menarik Leon kembali, begitupun Rey yang hanya ingin membuat mantannya menyesal karna berselingkuh.


***


Cahaya matahari masuk kecelah kamar Eris, membuatnya mengerjapkan mata karna cahayanya pas mengenai mata.


Eris berjalan membuka jendela, melihat matahari yang beranjak naik diujung hamparan kebun teh. Setidaknya hal ini membuatnya merasa lebih baik.


Setelah cukup lama bersandar di pinggir jendela sambil memperhatikan luar, Eris beranjak mencari ponselnya. Paniknya bertambah saat ia tak menemukan ponsel itu dimanapun. Buru - buru Eris berjalan keluar hendak mencari Rey tapi aroma dari dapur membuatnya mengikuti naluri perutnya untuk sarapan.


"Rey? "


Laki - laki yang dipanggilnya hanya melihat singkat, kembali bergulat dengan bumbu dan alat tempur dapur yang di pegangnya.


Rey menuangkan nasi yang sudah digorengnya ke atas piris, membawanya ke meja lalu duduk dan mengambil sendok, bersiap menyendokkan makanan ke mulutnya.


"lo bisa ambil sendiri kan? "


Eris mengerjapkan mata, mengangguk lalu berjalan melewatinya, mengambil piring dan menuangkan nasi goreng yang telah dibuat Rey.


"aaaa enak." Eris sedikit berteriak saat menyicip langsung makanannya dengan berdiri membuat Rey menaikkan sebelah alisnya dan melihat aneh kearah Eris yang langsung melahap makanan sambil berdiri.


"duduk. Abis makan kita balik ke villa Dion dulu."


"uhuk. Gue mau balik ke Jakarta." Eris langsung menghentikan makannya, menyimpan piring dengan agak keras setelah melihat nya nanar,perutnya sudah marah marah karna Eris tak menghabiskan makanan seenak itu.

__ADS_1


Eris langsung pergi dengan langkah kaki yang sedikit dihentak nya. Menutup pintu kamar dengan keras lalu segera mengambil handuk yang tersampir di ujung kasur.


__ADS_2