
🎵 nobody say it was easy
Its such a shame for us to part..
Nobody say it was easy
No one ever said it would be so hard🎵
Coldplay - scientist
Eris menopang dagu, pandangannya menerawang melihat hamparan city light kota yang menemaninya mendengar lagu yang baru saja jadi favoritnya di playlist random Ipad.
"Lo harus ngobrol lagi sama Leon, Ris."
"Lo gatau apa apa. "
Rey menghela nafas mendengar jawaban ketus Eris. Setelah ikut duduk disamping Eris dengan masih menggunakan kemeja kantornya yang sudah berantakan.
"I know its not easy, //aku tau ini gak mudah//tapi lo harus denger pendapat dia dulu. "
Eris memicingkan mata pada Rey yang juga melihat serius kearahnya.
"Kalo lo kesini buat bahas masalah itu mending lo pergi. We'll done! Gue sama Leon udah selsai, lo gaperlu khawatir soal reputasi andromade."
"Ini belum selsai,Ris. Kalian harus ngobrol lebih serius soal masalah ini, dan pengunduran diri lo itu bukan jalan keluar masalahnya."
"kalo lo mau pergi, fikir lagi ya. " Rey beranjak menepuk pundak Eris lalu berjalan keluar atap, tersenyum pada Leon yang menghentikkan langkahnya di ambang pintu.
"sorry"
Suara Leon berhasil membuat Eris mematung. Eris benci Leon yang hanya diam menanggapi rumor miring yang beredar.
Leon mendekat, duduk disamping Eris dan mendongakkan wajahnya melihat langit yang pekat. Tersenyum getir saat Eris malah beranjak menjauhinya.
"Ris..." tangannya refleks menahan tangan Eris, memperhatikan wajah yang terlihat pucat dan gigitan bibir menahan tangis.
"Gue sayang sama lo"
Eris menaikkan sebelah alisnya. Menarik kembali tangannya, mengedarkan pandangan kemanapun asal tak bertemu mata mengintimidasi milik laki - laki didepannya.
"gue minta maaf, gue belom bisa rubah hubungan kita lebih serius."
Leon sedikit menunduk, mengusap tengkuknya karna rasa trauma berhubungan yang kembali menghantuinya.
"lo ngerti,kan? Gue sama sekali gaada maksud manfaatin benefit sebagai temen tidur doang."
Eris tersenyum sinis, perasaannya sudah tak karuan sekarang.
"Lo gaperlu khawatir soal itu. Dari awal kita udah sama - sama komitmen jalanin hubungan ini tanpa libatin perasaan." Eris berucap getir tanpa melihat kearah Leon.
__ADS_1
"temenin gue terus ya, Ris? Cuma lo yang faham rasa insecure gue, rasa trauma gue."
Kata - kata Leon terdengar sangat frustasi dan putus asa, membuat wanita didepannya memejamkan mata lalu melangkah mendekat kearah Leon. Membuang jarak dengan pelukan hangat dan senyum yang akhirnya muncul.
"perasaan itu rumit, ya. Buat kita ga kenal sama diri sendiri karna kadang kita ngelakuin hal diluar kendali kita atas dasar perasaan. "
Eris mengusap rambut Leon, membiarkan laki - laki itu menenggelamkan wajah dilekukan lehernya.
"Gue janji, Ris. Apapun yang bakal terjadi kedepannya gue bakal ada terus disamping lo. i'm promise." Leon mengangkat wajahnya, memperhatikan bibir eris yang tampak pucat lalu mendekat dan memberi ciuman hangat yang mereka rindukan.
"Dingin. Masuk, yu. "
Leon menjauhkan kembali wajahnya, mengacak rambut Eris, menuntunya berdiri lalu menariknya masuk kedalam apart.
***
"gimana Andromade? "
Eris merebahkan kepalanya di dada telanjang Leon yang bersandar di sofa.
"sementara andromade dipegang sama Rey"
"maksudnya? jadi andromade-"
Leon menggeleng. Sebelah tangannya berada dibahu Eris, sambil sesekali memainkan rambut panjangnya yang terurai.
"Gue ambil cuti lagi."
"tadi ngobrol apa aja sama Rey? "
Eris mengedikkan bahu lalu memejamkan matanya, terasa nyaman berada dipelukan laki - laki itu walaupun Leon yang terlihat cuek menghadapi rumor yang bahkan masih berputar keras dikepala Eris.
Seakan faham ketidak nyamanan Eris soal rumor yang masih terus tersebar, Leon mengeratkan pelukannya, membawa wanita itu semakin rapat tanpa jarak dipelukannya.
"Gausah difikirin masalah yang gabisa kita kontrol. Yang penting kita tetep tenang dan tunjukin ke mereka sambatan //gosip// mereka tuh ga ngaruh ke kehidupan kita. "
Eris tersenyum lalu balas memeluk Leon, memejamkan mata sebentar dengan nyaman dan tersenyum saat melihat senyum Leon yang juga sudah mengembang.
"mau pindah? atau kita tidur desek desakan di sofa? " tanya Leon sambil mengecup puncak rambut wanitanya.
"Disini aja. Gue ambil selimut dulu. " Eris tersenyum lalu beranjak mengambil selimut didalam lemari kamarnya.
teringat satu hal, Eris kembali mengambil ponsel di meja dekat Leon. Tersenyum sebentar pada laki - laki itu dan segera berlari, menyalakan kembali ponselnya yang sudah dipenuhi notifikasi. Tapi satu yang membuat Eris mematung, sebuah pesan baru yang datang dari orang tak dikenal, lagi.
*whatsapp message*
+****628*******12
kalo lo mau tau siapa yang kurang kerjaan neror lo, temuin gue besok pagi di alamat ini
__ADS_1
+628*******12
share location
+628*******12
gue bukan cuma mau kasih tau siapa yang neror lo tapi siapa sebenarnya cowo yang ada disamping lo**.
Eris mengerutkan alis, baru saja ia akan kembali mematikan ponselnya tanpa berniat membalas, nomor itu tiba tiba menelfonnya.
"gue pegang data orang yang udah teror lo"
"lo siapa? "
"lo gaperlu tau gue siapa. yang jelas ini ada hubungannya sama cowo yang ada disamping lo. Temuin gue tanpa ajak Leon, besok pagi dilokasi yang udah gue kirim. "
"gue, halo? halo? "
Eris mendengus sebal karna dimatikan secara sepihak, fikirannya kembali dibuat pening. Ia sudah tak ingin mengurusi orang yang benci atau yang meneror nya selama ini, tapi perkataan laki - laki itu yang membawa Leon membuat rasa penasarannya kembali muncul.
Leon menyembulkan kepalanya di ambang pintu kamar, senyumnya sedikit memudar melihat Eris yang terlihat lebih pucat.
"Hey, ada apa? " Buru - buru Leon menghampiri Eris yang langsung menyembunyikan ponselnya dan tersenyum pada Leon.
"Lo pulang aja,Yon. Gue mau istirahat."
Eris melepas tangan Leon dibahu nya lalu beranjak yang langsung membuat laki - laki itu ikut berdiri. menahan tangannya dan membalikkan badan Eris agar melihat matanya.
"Dia neror kamu lagi? " Eris menggeleng, lalu menepis keras tangan Leon.
"gaada apa - apa. Lo bisa pergi sekarang."
Dengan langkah cepat, Eris masuk kedalam kamar mandi dan membantingnya keras membuat Leon memejamkan mata lalu mendekat kearah pintu, mencoba mendengar sesuatu didalam tapi hanya suara kran air yang dinyalakan Eris.
"Ris, lo yakin gapapa kalo gue balik? "
Eris mengigit bibir bawahnya agar suara senggukan tak terdengar. setelah mencuci muka dan menarik nafas, Eris mengangguk sampai suara Leon dan gedoran pintu kembali terdengar.
"yaudah, gue tunggu sampe lo keluar buat ngomong, baru gue balik. " Leon bersandar didekat pintu dengan tangan yang dilipat dan mata yang terpejam menarik nafas.
Suara bel memecahkan kesunyian Leon dan Eris yang masih sama sama terdiam ditempat berbeda. Leon yang akhirnya memutuskan keluar kamar Eris, menemukan seorang wanita yang sudah ada didepannya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Della.
Wanita itu sama terkejutnya dengan Leon, apalagi setelah melihat Leon yang baru saja keluar kamar Eris dengan bertelanjang dada.
"sorry, gue ganggu. Gue diminta Eris kesini. "
Leon mengangguk mendengar jawaban Della lalu berbalik mengambil kemeja nya di sofa tanpa memperdulikan Della yang masih berdiri di belakang pintu, melirik sebentar pada wanita itu dan melangkahkan kaki kembali masuk kedalam kamar Eris sambil mengancingkan kemejanya.
__ADS_1
"Ris, gue balik ya. Kalo ada apa apa cepet kabarin gue. "