
Puluhan balon LED diterbangkan menghiasi langit yang pekat sebagai tanda berakhirnya acara.
Eris menatap langit diatasnya, memejamkan mata saat tangan Leon memegang hangat tangannya. Pandangan Eris beralih pada Rey yang datang dengan beberapa botol minuman dipelukannya, disusul Rio-teman dekat Leon yang baru Eris kenal terlihat sebal sambil membawa box cukup besar berisi loki.
Kelakuan Della yang kini berbalik memusuhi nya membuat Eris ikut tak nyaman berada dekat dengan Rey. Leon yang faham senyum tak nyaman yang ditunjukkan wanita itu lantas mengalihkan tangannya merangkul pinggang Eris lebih dekat, Melirik sebentar kearah gerombolan teman temannya yang kini sudah berkumpul.
"Berat banget astaga. Si Rey bener bener ya, baru ketemu lagi udah nyiksa. " Rio menyimpan nampan di meja bulat dekat mereka, lalu duduk lesehan dengan alas rumput alami sambil menghela nafasnya.
"Gue mau campcer ah //camping ceria// disini" Sam muncul sambil membawa peralatan camping, membuat Leon dan teman temannya yang lain saling tatap.
"lo ngapa mau camping disini *****? mau ngewasitin penganten baru?" Rio berdiri sambil mengambil satu loki yang sudah terisi dan meminumnya.
"Lah? rumah pengantennya disono kita camping disini, kaga bakal kedenger begi. Kecuali, kalo gue ikut masuk baru dah tuh."
Rio mengambil cemilan, melempar nya pada Sam yang memberi jokes ngeres disusul teman temannya yang juga ikut bersorak meneriaki Sam.
"Yee si anj"
"Yaudah,yaudah. Kalo mau campcer disini. Gue sama Eris balik dulu. hfun" Leon tertawa, lalu ber high-five dengan gerombolannya dan segera memasuki mobil setelah membukakan pintu untuk Eris.
Setelah melewati jembatan, mobil Leon masuk kedalam basement luas dengan atap transparant. Eris membuka pintu saat mobil mereka berhenti, lalu segera turun dan mendongakkan wajahnya keatas.
Seulas senyum muncul dibibirnya yang masih terlihat merah segar. Leon menghampiri Eris, memeluknya dari belakang dan menenggelamkan kepalanya di bahu wanita itu dengan nyaman.
"Mulai sekarang, lo gaperlu lagi khawatir soal apapun. Gue bakal selalu ada buat lo, dan gue gabakal sedikitpun biarin lo luka."
Eris tersenyum ditengah perkataan Leon yang memeluknya. Memejamkan mata untuk mulai mengusir fikiran fikiran dan prasangka buruk soal hubungan mereka kedepannya.
"Lo gaperlu ragu." Leon melepas pelukannya. Membalikkan Eris dan mendongakkan wajah wanita itu. Tersenyum singkat lalu mendekatkan wajah. Mencium bibirnya perlahan dan sangat lembut.
Tak lama mereka bertautan. Leon mengangkat kepalanya, menyudahi ciuman mereka lalu membawa Eris kedalam pelukannya.
"Masuk,yu. Udah mulai dingin."
Eris mengangguk, mengekor Leon yang memegang tangannya. Pemandangan rumah dengan tema Scandinavian dan ornament - ornament kayu disekitarnya membuat Eris menghentikan langkah, yang refleks membuat Leon ikut berhenti.
"Yon, ini kan? "
"Yap. your dream home // Iya, rumah impian lo, kan.//" Leon beralih merangkul Eris sambil tersenyum dan mengangguk perlahan.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ini baru sebagian kecil,hubby. Tapi kita mulai darisini ya. Kita mulai mimpi dan harapan - harapan baru kita dirumah ini."
Eris tersenyum lalu melangkah duluan sambil melihat sekitarnya. Ruangan yang pertama kali dilihatnya saat keluar dari basement adalah lantai 2, ruangan keluarga yang terlihat sudah terang oleh lampu gantung mewah. Hana dan Adrian juga terlihat sedang mengobrol sambil melakukan kegiatan masing masing.
Hana menghentikan obrolannya saat melihat Eris dan Leon yang baru masuk. Senyuman hangat sebagai penyambut kedatangan mereka tercetak di bibir Hana. Eris menghampiri mereka, menyambut pelukan hangat mertuanya dan mengangguk pada Adrian.
"Kalian belum tidur? udah jam 10." Eris melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, lalu mengalihkan kembali pandangannya pada Hana.
"Belum. Acaranya udah selsai? " Hana balik bertanya dengan lengan yang masih merangkul pinggang Eris disebelahnya.
"Udah. " Leon menjawab Hana singkat, lalu menarik tangan Eris, merangkulnya berbalik yang langsung dilepas oleh Eris karna perasaan tak enak nya pada Hana yang menyambut mereka sangat ramah.
"Ma-" Eris melirik Hana yang lagi lagi dibalas senyum hangat.
"Gapapa,sayang. Kalian bersih - bersih dulu. Istirahat ya. "
Eris mengangguk, tersenyum tak enak lalu berjalan melewati Leon. Tapi tak lama, ia langsung membalikkan badan saat mengingat kebodohannya.
"Yon, kamar kita yang mana? "
"Sini. Makanya jangan sok marah, apalagi alesannya gajelas." Leon mencubit gemas hidung Eris sambil tersenyum, lalu menggenggam tangannya menuju ruangan paling ujung.
Ruangan luas dengan tempat tidur king size, atap yang sebagian transparant hingga Eris bisa melihat hamparan langit yang hitam pekat dengan taburan bintang.
"Mau mandi ga? gue siapin air nya dulu. " Leon menghampiri Eris yang masih mendongak melihat langit langit kamarnya yang transparant.
"Gausah, gue sendiri aja."
"gamau bareng?" Jokes dewasa yang dikeluarkan Leon membuat Eris menaikkan sebelah alisnya sambil mendorong laki - laki itu agar menjauh.
"Biasanya juga barengan. Kita udah sah loh sekalian jatah-"
Brak
"Ris,"
Leon menghela nafas saat Eris sudah menutup pintu kamar mandi. Tapi seulas senyum yang tak tertahan muncul,mengingat soal kemantapan hati nya berlabuh pada Eris.
Langit kamar yang transparant menemani nya mengudara. Sesekali pandangan Leon beralih pada pintu kamar mandi yang belum juga terbuka. Setidaknya sekarang, ia punya alasan untuk tetap bertahan. Karna Eris dan calon jagoan kecil nya.
__ADS_1
Eris membetulkan handuk yang melingkar diatas kepalanya, menaikkan alis saat melirik Leon yang memejamkan mata diatas kasur.
"Dasar. Bukannya buru buru mandi." Pemandangan baru didepannya membuat Eris tanpa sadar menaikkan senyum sampai berada diruang pakaiannya yang tersekat kaca dengan ruangan tidur.
Hari ini, ia sudah sah dengan laki - laki yang tak pernah terfikir sedikitpun akan menjadi suaminya. Berawal dari hubungan tabu yang bahkan tak terbesit akan menjadi seserius ini.
Eris segera mengambil baju yang sudah disediakan. Alisnya mengernyit melihat deretan baju baju tidur yang dominan hitam dan merah, tak ada satupun baju tidur panjang yang bisa dia gunakan. Dengan helaan nafas, Eris akhirnya mengambil baju tidur suspender berbahan satin.
Sejenak pandangan Eris beralih pada perutnya saat melewati kaca panjang. Senyumnya tertahan mengingat satu kesalahan paling fatal yang membawa hubungan mereka hingga tahap seserius ini.
Satu hal yang masih memenuhi otaknya tentang Leon. Laki - laki itu berani mengambil tindakan sejauh ini karna merasa bertanggung jawab atas calon anak yang dikandungnya.
"hubby" Panggilan Leon yang lembut membawa Eris kembali dari dialog dengan fikirannya sendiri. Leon terlihat sudah segar dengan handuk yang melilit pinggangnya.
"lo udah mandi? ko gakederan suara airnya? "
"Udah dong. Kamar mandi kita kedap suara, jadi gabakal kedenger lah. " Jawaban enteng Leon membuat Eris mengerutkan alisnya.
"biar apa? "
"Biar enak kalo main. Our favorite place // tempat kesukaan kita// kan? sesudah ranjang pastinya." Leon terkekeh melihat Eris yang langsung berbalik saat dia membuka handuknya.
"gimana? suka baju nya? cocok banget kan sama kamu. "
Setelah mengambil celana pendeknya, Leon mendekat kearah Eris dengan masih bertelanjang dada. Memeluk wanita itu dari belakang yang sontak membuat Eris menghindar tapi langsung ditahannya.
"Gue udah puasa nganu seminggu lebih loh, atau dua minggu. Hubby, boleh ya? main disini aja." Leon menenggelamkan wajahnya dilekukan leher Eris, sedikit bermain dengan lidahnya dileher jenjang wanita itu.
"Mh, Yon. Gue, cape. Lain kali ya, kita istirahat dulu. "
"Huf, yaudah. Yu bobo, atau mau keliling dulu ga? liat liat tempat buat main. " Dengan masih terlihat memohon, Leon ikut melihat kaca yang ada didepan mereka. Tubuh Eris yang terekspos di balik baju transparantnya membuat Leon menghela nafas.
Pandangan Leon beralih pada perut Eris, membuat Leon melepas pelukan dan sedikit berjalan kedepan Eris, menjongkokkan badan agar sejajar dengan perutnya lalu tersenyum,mengusap perut Eris dan memeluknya.
"Sayang, papa mau bikin adik buat kamu. Biar kamu ada temennya,ya." Perkataan ngawur Leon membuat Eris mengerutkan alis lalu mengacak gemas rambut laki laki didepannya.
"astaga, baru 2 minggu udah kefikiran bikin adik aja. "
Eris mendongakkan wajah Leon, tersenyum lalu mengecup singkat bibirnya. Membuat Leon langsung berdiri dengan tersenyum lebar.
"Satu ronde. Please...." Leon memeluk Eris, menenggelamkan lagi wajahnya dilekukan leher wanita itu dengan tangan yang kini melepas perlahan tali suspender yang digunakan Eris.
__ADS_1
Bibir sensual Leon yang sesekali bermain dileher Eris akhirnya membuat wanita itu mengangguk, membiarkan Leon menggendongnya ke sofa yang ada diruang khusus baju mereka.