Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 11


__ADS_3

"Kalian tenang saja. Masalah gaun, Nanti kami kirim ke rumah kalian masing - masing."jawab Aldo menengahi perdebatan mereka berdua.


"Ya sudah, Berikan alamat kalian masing - masing. Biar ku kirimkan sekarang gaunnya."Ucapnya lagi.


"Tapi, Kami gk punya no hp kalian."jawab Aurel.


"Nih! Catat disini saja! Gak usah no hp."ketusnya.


"Modus amat jadi cewek!"gumamnya.


"Heh! Gue denger!, Siapa yg modus? Gue minta no hp kalian tuh bukan untuk chat kalian yg gk penting ini!! Tapi, buat ngirim alamat doang! Habis itu bakal gue hapus no kalian itu." cerocos Aurel yg tak terima di katainya.


"Udah! no debat! Tinggal tulis saja, Apa susahnya sih?" kata Aldo mengakhiri perdebatannya.


Aurel menerima kertas dan juga penanya dengan kesal. Ia menulis alamatnya dengan tulisan tk beraturan, Sebab ia sangat kesal dengan cowok sok cakep di depannya ini.


"Udah."singkatnya.


"Kamu!"ucap Aldo beralih ke Dira.


"Bukannya udah tau ya? Alamat rumahku?" tanya Dira kepada cowok di depannya itu, Yaitu El.


"Tulis saja, Lebih jelas! Gue malas bicara!"jawab El ketus.


"Malas bicara katanya? Itu tadi apa? Ngupil!"cibirnya pelan agar tk terdengar oleh orang yg di cibirnya.


Dira mengambil kertas yg di pegang Aurel dengan malas dan kesal, Lalu ia menulis Alamatnya juga.


"Udah! Puas kalian!"ucap Dira kesal.


"Udah! Kita mau pergi!" sambungnya.


"Tunggu! Kalian belum tau nama kami kan?"tanya Azar yg sejak tadi diam, Dan hanya menyimak perdebatan mereka.


"Udah tau!"kompaknya.


"Dari mana?" tanyanya lagi.


"Ya ampun! Kalian sekolah dimana sih? Kok bodohnya tingkat dewa?"Ejek Dira yg mengatai mereka bodoh.


"Emang di baju sekolah kalian gk da name tagnya apa? Kan tiap hari kita slalu ketemu di sekolah! Dan tiap gue ketemu kalian! Gue slalu baca name tag kalian di saku atas kalian! Paham!!"sambungnya lagi seraya menggeram kesal dengan pertanyaan satu cowok ini.


"Apa!! Lo? Ngatain kita bodoh?"seru Rehan.


"Kalok iya, Kenapa?" sewotnya.


"Bodohlah!! Gue mau pergi! Ayo Rel."ucapnya lagi, Lalu mengajak Aurel pergi meninggalkan mereka yg masih berdiam diri mencerna perkataan Dira.


Setelah kepergian Dira dan Aurel, Barulah mereka berkutik lagi.


"Baru kali ini, Gue menemukan cewek yg gk tertarik sama kita dan juga berani ngatain kita bodoh."heran Azar.


"Iya, Gue kagum ama tuh cewek! Udah cantik, Gk ada takutnya lagi."balas Rehan menimpali perkataan Azar.

__ADS_1


"Tadi aja, Marah - marah sama orangnya, Lah Sekarang? Malah memujinya." sewot Azar sinis.


"Biarlah!! Andai saja gue belum punya cewek, Udah gue sikat tuh! Dua duanya."sambungnya lagi, Sambil berangan - angan membayangkan mereka.


"Dari pada lo sikatin mereka? Mending lo sikatin tuh wc di belakang." sela Azar membuyarkan angan - angannya.


"Kumat lagi!! Emang siapa yg mau sama cowok kadal kayak lo?" timpal Aldo pedas.


"Berani lo gangguin mereka? Gue setrika muka lo, Biar gosong!!" Ancam El ke Rehan.


"Sungguh nasib! Punya sahabat yg kayak mereka, Bukannya mendukung malah menghina. Emak, Opo anakmu iki... Iseh kurang tampan, Opo kurang semok toh maakkk!!" teriaknya sambil menyanyi lebay.


"Berisik!! Lo!!"ucap ketiganya kompak dan malah pergi meninggalkan Rehan yg frustasi.


Di jalan.


"Rel nginep di rumah aku ya? Please." pinta Dira yg memohon sambil menyetir motornya


"Boleh, Tapi aku mau di kasih apa?" targetnya.


"Mmmm gue traktir siomays deh besok! Satu mangkok, Gimana?"tawarnya.


"Boleh juga, Lumayan uang jajan ngirit..Hehehe.."balas Aurel cengeesan.


"Huuu...Kalok udah soal makanan, Gak bakal nolak kan kamu!" cibir Dira.


"Kalok makanan mah! Mana nolak aku, Ntar mubazir gk kemakan, Ya kan?" sewot Aurel.


"Udahlah!! Gk kerasa kita udah nyampek!."ucap Dira yg langsung turun dan memarkirkan motornya.


"Bentar! Kamu duluan saja, Aku mau telfon ibu dulu, Mau bilang kalok aku mau nginep rumah kamu!" sahut Aurel yg merogoh tasnya mencari ponselnya.


"Oke. Habis itu nyusul ya?" ucap Dira lalu masuk ke dalam rumahnya.


Ceklek.


Dira membuka pintu rumahnya dengan pelan. Ia terkejut, Kenapa di dalam gelap?Apa lampunya mati? Atau Paman dan Bibinya sudah tidur? Tidak mungkin!. Paman dan Bibinya akan tidur kalau ia sudah datang. Tapi kenapa gelap? Hingga Dira di kejutkan lagi dengan suara berat laki - laki yang memanggil dirinya. Kemudian lampunya tiba - tiba hidup, Dan memperlihatkan seseorang Pria paruh baya yang tengah duduk dengan santainya sambil bersedekap dada.


"Dari mana saja kamu?" tanya pria paruh baya itu dengan suara beratnya.


Dira tk menjawab pertanyaan dari pria paruh baya tersebut juga masih tk bergeming dari tempatnya, Ia masih syok atas kedatangan orang yg selama ini ia rindukan. Siapa lagi kalau bukan Hikman Anggara Ayah kandungnya. Ya? Pria paruh baya itu adalah Hikman, Ayahnya yg selama ini yg sangat ia rindukan. Selama 15 tahun ini ia ditinggalkan olehnya, Dan hanya bisa melihat wajahnya saja saat Bervideo Callan.


"Papa?"lirihnya.


"Ini papa kan?" tanya Dira menghampiri papanya dengan langkah demi langkah, Dan juga matanya yg berkaca - kaca.


"Iya sayang! Ini papa!" ia berdiri dari duduknya sambil tersenyum dan merentangkan tangannya agar putrinya leluasa memeluknya.


"Papa!!" teriaknya dan langsung berlari memeluk papanya.


"Dira kangen sama papa!" peluk Dira dengan isak tangisnya yg pecah.


"Surpriesse."ucap penghuni rumah kompak melihat keharmonisan Anak dan Papanya.

__ADS_1


Aurel yg sudah masuk dari tadi ikut menyorakinya. Karna ia sudah tau, Kalau bokapnya Dira sudah datang. Dan yg memberitahunya adalah Nabila kakak sepupunya, Ia di kabarkan Nabila lewat WA untuk membuat kejutan ke Dira soal Papanya yg datang. Lalu ia menyetujuinya agar tidak membertahu Dira soal Papanya itu.


Dira kaget saat penghuni rumah itu menyorakinya dan melepaskan pelukan Papanya itu, Lalu menatap semua orang. Termasuk Aurel juga Dan ia menatap tajam ke arah Aurel.


"Jadi kamu sudah tau hal ini?" tanyanya mengintimidasi Aurel.


"Hehe...Iya, Maaf ya? Ini semua rencana kak Nabila, Untuk buat surprisse ke kamu."jawab Aurel polos.


Nabila mendelik tajam ke arah Aurel. Bisa - bisanya ia memberitahu kalau ini rencananya? Yg di deliknya hanya memasang wajah tk berasalahnya dan langsung duduk memakan cemilan yg ada di mejanya.


"Bisa - bisanya ya? Dia enak - enakan makan di rumah orang. Dasar! Gadis gk ada ahklak!."gerutu Nabila kesal.


Sedangkan Dira sudah tk menghiraukan mereka semua dan malah bergelanyut manja di lengan Papanya.


"Paa..Dira tidur sama papa ya sekarang? Dira masih kangen sama papa."rengeknya.


"Boleh, Tapi teman kamu itu mau tidur sama siapa?" tanya Hikman halus sambil mengusap lembut kepala putrinya itu.


Dira menoleh ke arah Aurel. Yg di tolehnya malah memasang wajah sinisnya.


"Biarin aja ia tidur sendiri di kamarku, Atau tidur dengan Diki atau sama kak Nabila saja."jawab Dira dengan santainya.


"No..no..no.."tolak Nabila cepat.


"Jangan tidur di kamar gue, Kamar gue sempit, Terus banyak tikusnya, Terus baunya gk enak, terus.."ucapnya lagi yang langsung di potong oleh Diki.


"Terus ada tuyulnya, Ada kuntilanaknya, terus ada genderuwonya Dan terus..."sela Diki meneruskan perkataan Nabila yg malah menakutinya dan di sela lagi dengan cepat oleh sang empu yg di takutinya.


"Udah Diki! Stooppp!!!" pekik Nabila cepat. Yg mengundang perhatian semua orang yg ada di sana.


"Sudah, sudah!! Ini sudah malam! Kalian tidurlah di kamar masing2! Dira juga harus tidur di kamar sendiri sama Aurel, Besok kalian kan sekolah, Biar gk kesiangan." tegas Bibi mengakhiri perdebatan mereka.


"Tapi Bi! Dira mau tidur sama Papa." rengeknya.


"Besok kan bisa Dira! Papamu gk akan kemana2 kok, Tuhh! Kasian Aurel udah ngantuk! Udah sana tidur, Temanin Aurel." ucap Bibi menasehati.


"Hoaaammm...Tadi aja nyuruh aku nginep! Sekarang udah ada Papanya, Malah di kacangin." cebik Aurel kesal.


"Iya, Ya sudah, Dira tidur dulu ya Pa. Emuachh" pamit Dira sebelum pergi tidur mencium pipi Papanya dahulu.


"Mimpi yg indah ya?" ucap Papa, Mencium balik pipi putrinya itu dan seraya membisikkan sesuatu di telinganya.


Dira yg mendengar bisikkan Papanya itu langsung mengeluarkan keringat dingin dan sedikit gugup, Tapi ia berusaha menyembunyikan ke gugupannya itu, dan terlihat biasa saja di depan sang Papa sambil tersenyum menjawab." Oke." singkatnya.


Lalu Dira pergi ke kamarnya mengajak Aurel.


Di kamar Dira.


Di kamarnya Dira belum tidur, Ia terus membolak balikan badannya kekanan dan kekiri yang terlihat gelisah, Saat mengingat bisikan Papanya yg singkat itu, Tapi memiliki makna.


"Kenapa Papa bisa tau, Kalau aku dari sana?" pikirnya gelisah.


"Apa? Papa melihatku di jalan. Terus mengikutiku ke tempat itu?" pikirnya lagi.

__ADS_1


"Sudahlah, Mending aku tidur dulu! Urusan Papa mah, Gampang!! Nanti aku rayu Papa agar luluh." gumamnya menyemangati diri sendiri.


Lalu Dira tidur memasuki alam bawah sadarnya. Menyusul sahabatnya yg sudah sedari tadi mendengkur halus begitu lelap di sampingnya.


__ADS_2