Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 23


__ADS_3

Di tempat ruangan gelap dan juga pengap seorang gadis duduk di kursi kayu sambil memandang kosong ke arah depan.


Di luar ruangan.


"Bagaimana? Apa dia sudah tidak menangis lagi?" tanya seorang pria yang baru datang kepada bawahannya.


"Dia sudah diam, Saat ku suntikan obat penenang." ucap bawahannya.


"Bagus! Sekarang kau siapkan alat - alat yang ku bawa, Juga tempatnya." perintah pria itu.


"Baik tuan." ucap bawahannya sambil membungkukkan badannya.


Pria itu menghampiri gadis yang masih tak bergeming dan menatap kosong ke arahnya.


"Hay gadis manis, Apa kabar?" tanya pria itu sambil membelai rahangnya.


"Kau tau gadis manis? Sekarang kau telah menjadi sasaranku. Karna kenapa? Karna kau telah menjadi salah satu bagian dari mereka. Gara - gara mereka aku kehilangan putriku. Kau tahu itu!?" pria itu membentak gadis itu di akhir kalimatnya saat mengingat putrinya.


"Hiks..hiks..hiks... Tolong lepaskan aku paman. Apa salahku?" tangis gadis itu pecah.


"Diam kau! Kamu memang tidak salah apa - apa. Tapi aku sangat membenci orang yang menjadi bagiannya!" sentak pria itu marah.


"Hiks..hiks.. Tolong lepaskan aku paman!!" teriak gadis itu dengan isak tangisnya.


"Aku bilang diam!" bentak pria itu lagi.


"Aku tidak akan diam! Sebelum paman lepaskan aku!!"


"Ku bilang diam!! Atau tidak ku gores lehermu!!" sentak pria itu yang sudah tersulut emosi sambil mengambil pisau kesayangannya di atas meja.


"Dasar! Psykopat!!" teriak gadis itu di depan wajahnya.


Plak....Plak


Pria itu menampar kedua pipinya dengan keras hingga sampai mengeluarkan darah di sudut bibirnya.


"Ini balasanmu karna kau tidak menuruti perkataanku."


"Hiks...hiks...hiks... Sakit. Ibu, Dira Tolong aku." lirih gadis itu memanggil ibu dan sahabatnya.


Iya, Gadis tersebut adalah Aurel. Saat ingin pulang kerja, Ia telah di hipnotis oleh seseorang dan kemudian di sekap di gudang kosong tempat pembantaian sasaran dari pria itu.


"Bagaimana? Apa sudah kau siapkan semuanya?" tanyanya kepada bawahannya.


"Sudah tuan."


"Sekarang kau baringkan dia disana." perintah pria itu.


"Baik tuan."


"Ya tuhan, Selamatkanlah aku dari pria ini. Aku tidak mau mati dulu, Karna aku belum merasakan yang namanya menikah dan jadi seorang ibu. Tapi jika takdirku berkata lain, Berilah aku jodoh di surgamu saja." batin Aurel merenungi nasibnya.


Mereka akan mengambil organ dalam dari gadis itu yang tak lain adalah Aurel. Saat mereka akan memulainya.


Kling...Kling...Kling...


"Ck, Ganggu saja. Ponsel siapa itu?" decak pria itu kesal.


"Sepertinya, Ponsel gadis ini tuan." jawab bawahannya.


"Cepat kau ambilkan!" perintahnya.


"Ini tuan!" ucap bawahannya memberikan sebuah tas.


"Kenapa kau berikan aku tasnya?" tanya pria itu kesal.


"Karna ponselnya berada di dalam tuan."


"Ck..Sini tasnya!" pria itu mengambil tas Aurel dengan paksa yang di pegang bawahannya.


Pria itu menuang semua isi tas tersebut untuk mengambil ponselnya. Tapi pria itu malah menemukan sesuatu yang tak di duganya.


"Apa ini? Gelang?" gumam pria itu kaget ketika menemukan sebuah gelang.


"Hey! Dari mana kau dapat gelang ini?" tanya pria itu kepada Aurel.


Aurel menggeleng sambil menangis sesegukan.

__ADS_1


"Jawab!!" bentak pria itu ketika pertanyaannya tak kunjung terjawab.


"Hiks..hiks...hiks.. Gelang itu hiks.. Dari ibuku. Ia memberinya di saat ulang tahunku yang ke lima tahun hiks.." jawab Aurel dengan segukannya.


"Ibu? Hari ulang tahun yang ke lima tahun?" gumam pria itu mengulangnya dengan ke bingungan.


"Siapa nama ibumu?" tanya pria itu dengan nada rendah.


"Ibuku adalah Asmirah. Ia seorang tukang jahit di rumah." jelas Aurel yang sudah berhenti menangis.


"Apakah nama panjangnya Asmirah Daniyanti?" tebak pria itu.


Aurel keliatan bingung kenapa pria ini tau nama panjang ibunya, fikirnya.


"Kenapa paman bisa tau nama panjang ibuku?" tanya Aurel heran.


"Berarti benar kan?" tanya pria itu memastikan.


Aurel hanya mengangguk memberikan jawabannya.


"Kau! Berarti kau adalah anakku?" ucap pria itu ragu.


"Anak? Maaf paman! Ayahku sudah meninggal saat aku masih kecil dan dia meninggal karna sebuah kecelakaan." sanggah Aurel tak percaya.


Aurel sangat kaget ketika ia mendengar perkataan pria di depannya ini, Tapi ia berusaha terlihat biasa saja dan menyanggah ucapannya.


"Apa kau pernah melihat foto ayahmu?" tanya orang itu.


"Jangankan melihat fotonya, Punya saja tidak." jawab Aurel dengan ketus.


"Siapa yang bilang kalau ayahmu meninggal karna kecelakaan?" tanya pria itu dingin.


"Ibu dan Nenek." singkat Aurel.


"Ck, Aku akan menemuimu Dania! Aku akan minta penjelasan darimu." batin pria itu.


Pria itu sungguh frustasi ketika dirinya di bilang meninggal karna kecelakaan oleh mantan istrinya dan juga mantan mertuanya. Ia juga bingung harus menjalankan misinya atau membebaskannya yang notabenya ia belum tau kalau gadis di depannya ini adalah anaknya atau bukan.


"Ragil!!" panggil pria itu kepada bawahannya.


"Kau bebaskan saja gadis ini! Aku akan cari lagi penggantinya." perintah pria itu kepada bawahannya yang bernama Ragil.


"Baik tuan. Tapi gadis ini mau ku kembalikan kemana?" tanyanya polos.


"Dasar bodoh!! Kau bebaskan saja dia! Biar dia pergi kemana pun yang dia mau!" kesal pria itu.


"Baik tuan." ucap Ragil sembari membungkukkan badannya.


Di dalam perjalanan dua orang pemuda sedang mengendarai motor sportnya masing - masing menuju ke sebuah tempat. Yaitu sebuah gudang yang sudah kotor, bau dan pengap.


"El, Apa bener penculiknya itu membawanya kesini." tanya Aldo dengan tak percaya.


"Iya, Seperti dalam tablet ini." jawab El.


"Ya sudah, Kalau begitu kita masuk saja. Gue takut terjadi apa - apa dengannya." panik Aldo.


"Lo tenang saja. Jangan terburu - buru gue takut disini ada jebakannya."


"Terus bagaimana?" bingung Aldo.


"Lo ikuti arahan gue, Setelah kita lolos dari sini kita akan memasuki gudang itu." saran El.


"Baiklah! Tapi bagaimana caranya?"


"Lo pegang alat ini. Alat ini bisa menemukan jebakan - jebakan yang tersembunyi jika alat ini berbunyi. Karna gue telah menemukan data orang ini yang bukanlah orang biasa, Orang ini akan memasang jebakan di setiap tempat persembunyiannya." ujar El sembari memberikan alat pendeteksi jebakan.


"Baiklah! Ayo!!"


"Lo duluan saja Al! Biar gue yang mengawasi mereka dulu dari sini." sahut El sambil menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri.


"Baik! Kalau begitu gue duluan." ucap Aldo sembari melangkahkan kakinya menuju gudang dengan hati - hati.


Sedangkan El sedang mengawasi para penjaga pria itu dari luar yang sedang berkeliaran untuk berjaga - jaga, Dan ketika netra matanya melihat seseorang yang di kenalnya tengah berlari ke arah jalanan.


"Itu kan?" Ia berlari mengejar orang itu. Karna ia ingin memastikan penglihatannya tidak salah.


Setelah hampir sampai di dekat orang itu, Kemudian ia memanggilnya. Lalu orang itu berhenti dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya.

__ADS_1


"El!? Kenapa lo bisa disini?" kaget orang itu yang tak lain adalah Aurel ketika melihat orang yang memanggilnya ternyata adalah teman sekolahnya.


"Gue kesini ingin membebaskan lo dari pria itu, Tapi kenapa lo bisa bebas?" jawab El sambil bertanya.


"Gue bebas karna gue emang di bebaskan." sahut Aurel menjawab pertanyaan teman sekolahnya.


"Kenapa bisa?" heran El.


"Ya! Karna penculik itu ngaku - ngaku kalau ia bokap gue setelah melihat gelang ini, Makanya gue di bebasin."


"Terus lo sama siapa kesini?" tanya Aurel.


"Gue sama Aldo, Dia bersih keras untuk membebaskan lo."


"Kenapa?" tanya Aurel penasaran.


"Karna dia cinta mati sama lo." jawab El tanpa basa - basi.


"Whaatt!!" Terus sekarang dia dimana?" kaget Aurel ketika mendengar jawaban El.


"Dia ke dalam gudang itu untuk nyelametin lo dari pria psycopat itu."


"Kalau gitu kita susul kesana! Sebelum dia jadi pengganti dari pria yang ngaku - ngaku bokap gue." ucap Aurel panik.


"Hmm" Kemudian mereka berdua kembali ke gudang itu untuk menyusul Aldo yang sudah masuk ke dalam gudang itu.


Di Negara J.


Gardira beserta dengan kedua adik kembarnya Garen dan Dara sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton tv dan memakan cemilannya. Sedangkan Garda ia pergi berkumpul bersama teman - temannya di luar.


"Kak! Anaknya lucu ya? Kayak Dara." ucap Dara saat melihat sinetron yang di tontonnya.


"Kamu kenapa malah lihat anaknya? Bukan memahami ceritanya. Kakak jadi sedih lihat anak dan ibunya di telantarkan oleh ayahnya.. Hiks..hiks.." tangis Dira pecah, Yang baper saat melihat sinetron dari pemeran utamanya di usir.


"Kenapa kakak malah jadi baper gitu sih? Ini cuma sinetron loh kak!." jawab Dara yang melihat kakaknya sudah menangis sesegukan.


Sedangkan Garen ia sedang mengerjakan tugas sekolahnya menggunakan ponselnya lewat Email.


"Dek Garen!" panggil Dira yang masih menangis.


"Iya ada apa kak?" jawab Garen dengan pelan netra matanya yang masih fokus ke arah ponselnya.


"Kenapa kamu fokus sekali sih!?" kesal Dira saat adiknya menjawab tapi tidak menoleh ke arahnya.


Garen menghembuskan nafasnya dengan pelan menaruh ponselnya di meja dan melihat ke arah kakaknya.


"Ada apa kak? Kenapa kakak seperti habis menangis?" tanya Garen lagi ketika melihat mata kakaknya yang sembab.


"Dia baper sama sinetron kak!" Dara menjawab pertanyaan kakaknya Garen.


"Dek! Kakak minta tolong boleh?" pinta Gardira.


"Minta tolong apa kak?" tanya Garen.


"Tolong anterin kakak beli kucing dong." pinta Gardira lagi.


"Kucing? Nggk - nggk Dara gak mau ada kucing disini!" sela Dara cepat.


"Kenapa Dar?" heran Dira.


"Iihhh kucing itu geli tau kak, Terus jorok lagi!"


"Kata siapa? Kucing itu lucu, imut, Penurut dan juga lembut bulunya." ucap Dira sambil membayangkan seekor kucing.


"Nggk!! Pokoknya Dara gak mau!" tolak Dara.


"Gak mau tau! Pokoknya kakak mau kucing!" seru Dira dengan keras kepalanya.


"Kak! Dek! Jangan bikin Garen pusing dong. Begini saja bagaimana kalau kakak habis membeli kucingnya, Terus kucing itu di taruh di rumah Nenek saja." usul Garen memberi ide.


"Ide bagus tuh!!" sambung Dara cepat.


"Ya sudah! Kali ini kakak ngalah." pasrah Dira.


"Kalau begitu ayo! Kita beli kucingnya." semangat Dira.


Mereka berdua pun menuju toko penjualan hewan yang berada tak jauh dari mansionnya.

__ADS_1


__ADS_2