Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 31


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana mereka masuki sekolah barunya.


Aurel beserta yang lainnya juga ikut pindah sekolah di Negara J ini.


"Yah! Bunda mau ke kamar Aurel dulu, Biar kita berangkat barengan nanti." ucap Dira yang sudah rapi sambil memasukkan bukunya ke tas.


"Iya Bun, Sarapan Ayah jangan lupa bawakan ya? Karna Ayah mau sarapan di sekolah saja." kata El sambil teriak di kamar mandi.


"Iya Yah! Udah siap semua kok! Tinggal bawa aja." sahut Dira.


Kemudian Dira keluar dari kamar untuk menemui sahabatnya Aurel yang berada di lantai bawah.


Tok tok


Ceklek


"Gimana udah siap sekolah?" tanya Dira setelah sahabatnya membukakan pintu.


"Siap dong!!" semangat Aurel.


"Kita tunggu di meja makan dulu yuk, Yang lain masih belum kelar." ajak Dira.


"Oke."


Saat ini di ruang makan telah ada para orang tua yang sedang menunggu anak - anaknya turun.


"Pagi Pa, Ma, Bibi, Paman Semuanya!" sapa Dira saat melihat mereka sudah stay di ruang makan.


"Pagi sayang!!" jawab mereka bersamaan.


"Sudah mau berangkat?" tanya Bibi.


"Iya Bi." jawab Dira.


"Oh ya? Bibi dan Paman kapan yang akan kembali ke Negara B?" tanya Dira basa - basi sambil mendudukan bokongnya di kursi.


"Nanti sore." jawab Paman.


"Yaah!! Kok cepet sih? Dira masih kangen loh sama kalian." melas Dira.


"Kita kan bisa ketemu lagi lain kali, Diki dan kakakmu Nabila kan harus meneruskan sekolahnya di Negara J." jawab Bibi.


"Kenapa mereka gak sekolah disini saja Bi seperti yang lainnya?" rengek Dira.


"Tidak bisa sayang! Jangan paksakan Paman dan Bibimu gitu dong, Kasian Paman dan Bibimu mereka jadi bingung nanti." sambung Shafira.


"Iya, Memang apa kurangnya keluarga kita? Mereka semua kan sudah kumpul lagi." imbuh Hikman.


"Mmm iya deh!" sahut Dira mengalah.


"Sudah makan dulu sarapan kamu, Setelah itu kemaskan bekal untuk suamimu." ucap Shafira.


"Udah kok!" ketusnya.


Mereka semua menyantap makanannya masing - masing kecuali si kembar karna mereka sudah berabgkat pagi - pagi sekali.


"Kenapa bau makanan ini buat aku mual ya?" gumam Dira yang mau melahap nasinya di sendok tapi tak jadi.


"Kenapa sayang? Makanannya gak enak ya?" tanya Shafira yang melihat putrinya tak jadi melahapnya.


"Bukan Ma, Tapi rasa makanan ini baunya aneh." sahut Dira.


"Aneh? Nggk kok biasa aja." jawab Shafira sambil mencium makanannya juga.

__ADS_1


"Ya sudah Ma Dira mau sarapan di sekolah saja." ucap Dira menghentikan sarapannya.


"Lah! Kok gitu?"


"Habisnya nyium makanan ini baunya saja Dira mau mual."


"Ya sudah tidak papa, Tapi jangan lupa setelah sampai kamu harus sarapan di sekolah." perintah Hikman.


"Baik Pa."


"Ayo kita berangkat!" ucap El yang sudah berada di belakang Dira.


"Astaga Ayah!! Ngagetin tau gak!" kesal Dira.


"Maaf."


"Mau berangkat tidak?" tanya El yang melihat istrinya masih duduk.


"Ya iyalah! Tapi gendong." rengek Dira manja.


"Hey! Malu tahu diliatin semuanya." tolak El dengan berbisik.


"Gak mau tau! Pokoknya gendong!" ngambek Dira.


El menarik nafasnya panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar."Ya sudah Ayah gendong, Tapi saat di luar ya?" tawar El.


"Nggk!! Harus disini sampai mobil! Kalau Ayah gak gendong Bunda gak mau nyapa Ayah sampai setahun." ancamnya.


"Kalau gak nyapa sih gak papa, Asal jangan potong jatah!" elak El.


"Ishh bukan hanya potong, Tapi gak ada jatah sama sekali." kesal Dira.


"Ya nggk papa juga, Tinggal cari yang lain apa susahnya?" jawab El enteng.


"Kalian sampai kapan akan berdebat? Ini sudah hampir siang loh! Apalagi ini hari pertama kalian masuk sekolah." ucap Shafira melerai perdebatan suami istri itu.


Tanpa menghiraukan mereka semua Dira langsung beranjak dari duduknya dan berlari ke arah gerbang.


"Dir! Tungguin!!" teriak Aurel yang melihat sahabtnya berlari keemudian menyusulnya dengan berlari juga.


Sedangkan El belum sadar kalau istrinya tengah berlari setelah teriakan Mamanya yang membuatnya sadar.


"Dira!! Jangan lari - lari!! Nanti jatuh!!" peringat Shafira dengan teriak.


"Astaga!! Dira!!" kaget El setelah sadar kalau istrinya sedang hamil dan ingin menyusulnya.


"Eh El tunggu!! Kalau sudah sampai sekolah, Suruh istrimu makan ya? Karna tadi dia gak makan sesuap pun katanya bau makanannya aneh." ucap Shafira kepada menantunya.


"Baik Ma!" sahut El sambil melangkahkan kakinya keluar menyusul istrinya.


"Sudahlah Ma, Dira bukan anak kecil lagi." sahut Hikman.


"Iya Pa, Mama tau. Papa kan tau sendiri kalau Diranya slalu keras kepala." ujar Shafira.


Dira dan Aurel sudah berangkat dulu tanpa menunggu para laki - laki dengan memakai mobil lain yang di supiri oleh supir pribadi dari papanya yaitu pak Diman.


Di tengah jalan mang Diman memberhentikan mobilnya karna tengah terjadi kemacetan panjang di jalan tersebut.


"Ada apa mang Diman? Kok berhenti?" tanya Dira pada supirnya.


"Ini non, Sepertinya ada kecelakaan." sahut mang Diman supirnya.


Dira yang penasaran membuka pintu mobilnya ingin turun.

__ADS_1


"Eh non! Non mau kemana?" tanya Mang Diman saat melihat putri majikannya ingin keluar.


"Mau lihat kecelakaan itu mang." sahutnya.


"Tidak usah non, Mereka sudah di evakuasi oleh petugas keamanan."


"Iya Dir, Mending kita nunggu aja sampai mereka selesai." sambung Aurel.


"Tapi aku penasaran Rel." ucap Dira dengan keras kepalanya.


"Ya sudah, Kalau gitu aku temani ya?" tawar Aurel.


"Oke. Ayo!!" semangat Dira.


Mereka berdua turun munuju tempat kecelakaan yang berada di antrian paling depan.


Di dalam mobil lain seseorang tengah menatap mereka berdua dengan rindu dan dendam.


"Nak! Lihatlah! Dia adalah anak dari pembunuh ibumu." ucap pria yang sedang berada di kursi pengemudi juga korban dari antrian panjang tersebut.


"Mana Yah?" tanya sang anak dengan antusias.


"Itu yang sedang berjalan di pinggir trotoar." ujarnya.


"Bagaimana kalau kita tabrak aja Yah! Biar impas kan?"


"Jangan dulu, Kita selidiki dulu gerak geriknya, Baru kita akan merencanakan semuanya dengan matang. Karna Ayah sudah menyuruh paman dan kakak tirimu untuk melakukan semuanya." ucapnya.


"Baiklah! Tapi besok aku mau sekolah bersamanya dengan satu kelas! Apakah bisa?" tanya sang anak memberi ide.


"Kalau itu soal gampang bagi Ayah, Apapun yang kamu mau pasti akan Ayah kabulkan semuanya."


"Terimakasih Ayah! Rena sayang Ayah!" jawab sang anak yang bernama Rena memeluk Ayahnya dengan senang.


"Sudah! Hari ini kamu selesaikan dulu chek up kamu ke dokter Erza, Baru kita akan memulai semuanya dari awal." saran sang Ayah.


Sang anak yang bernama Rena mengangguk dengan antusias sambil tersenyum. Ia sudah membayangkan rencana yang di buatnya sendiri tanpa sepengetahuan Ayahnya.


Di tempat Aurel dan Dira.


"Rel! Kembali saja yuk ke mobil, Aku mual nih bau asap mobil disini, Bikin kepalaku pusing juga." keluh Dira setelah hampir sampai di tempat kejadian.


"Kamu sih! Di bilangin dari tadi keras kepala banget!" omel Aurel.


"Udah jangan ngoceh mulu! Aku mau muntah!"


Hueekkk... Hueekkk...


Dira memuntahkan semua isi perutnya yang hanya cairan bening yang keluar.


"Udah dong! Aku kasian liat kamu gini Dir. Kamu kenapa sih sebenernya? Kalau kamu sakit bilang saja, Biar kita putar balik untuk pulang." prihatin Aurel tak tega melihat sahabatnya yang terus muntah.


"Udah kok! Aku gak papa palingan cuma masuk angin saja." jawab Dira yang masih belum tahu keluhan ibu hamil.


"Mau pulang atau lanjut nih?" tanya Aurel yang sedang memijat tengkuk Dira.


"Lanjut saja, Inikan hari pertama kita sekolah! Masak kita udah mau bolos?" ucap Dira menolak untuk pulang.


"Ya sudah! Kalau itu mau kamu, Nanti setelah sampai sekolah kamu harus isi perut kamu! Liat tuh muntahan kamu cuma cairan bening doang gak ada sisa makanan sedikit pun." cerocos Aurel dengan tegas.


"Iya iya nyonya bawel!" sahut Dira malas.


"Di bilangin ngeyel!" cibir Aurel.

__ADS_1


Mereka berdua memasuki mobilnya kembali dan melanjutkan perjalanannya ke sekolah di saat semuanya sudah di perbaiki dengan bersih.


__ADS_2