
Keesokan paginya, Para keluarga Hakim prasetyo ingin kembali ke Negaranya. Bukannya ia tidak betah tinggal di apartemen, Tapi karena ia harus mengurus ternak ayamnya dan juga bengkelnya yang berada di Negara B. Juga sekolah anak - anak yang sudah ambil libur selama satu minggu.
Tapi, Gardira tidak akan ikut ke Negara B lagi, Karena ia akan tinggal dan pindah sekolah di Negara J bersama keluarganya.
Walaupun ia juga harus melupakan sahabatnya Aurel yang masih berada di Negara B itu yang sudah lama menjalin hubungan sebagai sahabatnya selama 5 tahun lamanya.
Saat ini Hakim, Shafira dan Gardira sedang mengantar keluarga Hakim ke bandara. Dengan tak terimanya Diki merengek kepada kakak sepupunya agar tidak tinggal di Negara J ini.
"Dira sayang! Kamu jaga diri kamu baik - baik ya disini?" pesan Mutia kepada keponakannya sambil menciumi wajahnya bertubi - tubi.
"Iya Bi! Bibi juga, Jaga kesehatan Bibi dan semuanya ya?." jawab Dira sambil tersenyum simpul kearah mereka.
"Kak! Kakak kenapa sih harus tinggal disini? Kenapa tidak tinggal bersama kami lagi?" rengek Diki kepada kakak sepupunya.
"Diki, Kalau kamu kangen sama kakak! Nanti kamu sering - seringlah kesini sama kak Nabila juga." saran Dira kepada Diki.
"Hey! Seharusnya kamu yang sering - sering kesana! Bukan kami yang sering - sering kesini tau." decak Nabila sambil merangkul pundak adik sepupunya itu.
"Iya kak, Dira juga akan sering - sering kesana." balas Dira.
"Kak! Diki tidak ingin jauh - jauh dari kakak lagi! Terus nanti yang akan ngajarin Diki belajar lagi, Tiap malam siapa dong!?" rengek Diki lagi.
"Kan ada kak Nabila." jawab Dira lembut.
"Heleh... Dasar! Badan udah gede! Tapi kelakuannya kayak bocah!" sindir Nabila kepada adiknya.
"Iri bilang bosss! Weeekkk." sinis Diki mengejek kakaknya sambil menjulurkan lidahnya.
"Apa? Aku iri? Aku tuh--"
"Sudah, Sudah! Dik, Kamu itu udah remaja, Udah duduk di bangku SMP, Masak masih merengek kayak anak kecil gitu. Nabila kamu juga! Harusnya kamu tenangin adik kamu dong! Bukannya malah saling mengejek gitu." cerocos Mutia menyela ucapan putri sulungnya dengan menasehati keduanya.
"Sudahlah! Mas, Kalau begitu, Kami pamit pulang ya?" ucap Hakim kepada Hikman kakaknya sembari melerai perdebatan mereka.
"Iya, Hati - hatilah kalian disana."
"Baik Mas! Assalamualaikum!" jawab Mutia dan Hakim bersamaan.
"Waalaikumsalam!" balas mereka bertiga.
Setelah melihat keberangkatan adiknya, Hikman kemudian merangkul pundak istri dan putri sulungnya menuju mobil.
Saat di dalam mobil.
Shafira melihat putrinya yang terus melamun ke arah jendela, Bertanya." Dira! Kenapa kamu melamun sayang?"
Tapi yang sedang di tanyai masih asik dengan lamunannya.
"Dira!" panggil Shafira lagi.
"Sudahlah Ma, Palingan dia capek." ujar Hikman kepada istrinya.
Shafira menghembuskan nafasnya dengan pelan."Iya Pa."
Setelah itu mereka tak bicara sepatah kata pun lagi sampai mobil mereka sampai di kediaman.
"Ma sebentar ya? Papa mau ke belakang, Angkat telfon dulu." pamit Hikman pada istrinya saat sebuah panggilan masuk di ponselnya, Kemudian ia turun dari mobilnya.
"Iya Pa." sahut Shafira sambil melihat ke arah putrinya yang masih tak bergeming.
"Dira sayang! Kita sudah sampai nak!" panggil Shafira sedikit berteriak.
"Hah, Iya Ma! Maaf Dira lagi melamun Ma!" kaget Dira saat mendengar panggilan Mamanya.
"Kamu lagi lamunin apa sih?" tanya Shafira lembut sambil membelai kepala putrinya setelah turun dari mobil.
"Dira gak ngelamunin apa - apa kok Ma. Dira hanya liat pemandangan jalanan kota." elak Dira.
__ADS_1
"Ya sudah, Kalau begitu kamu istirahat dulu ya? Nanti Mama bilangin bi Maya suruh buatin kamu teh jahe." ucap Shafira tak memperpanjang pertanyaannya.
"Iya Ma. Tapi--" Dira menggantungkan ucapannya.
"Kenapa sayang?" tanya Shafira lembut.
"Mmmm Dira boleh minta ayam goreng sambal rica plus sambal pete nggk Ma." pinta Dira ragu.
"Apa yang kamu inginkan, Pasti Mama berikan sayang, Bentar ya? Mama pesenin dulu." ucap Shafira sembari mengeluarkan ponselnya dari tasnya.
"Mmmm Ma."
"Apa lagi hmm..?"
"Dira mau Mama yang buatin, Boleh?" pinta Dira.
"Tapi sayang--"
"Please ya Ma!" mohon Dira sambil mengatupkan kedua tangannya.
Sebenernya Shafira ingin menolaknya, Karna ia tak bisa memasak. Tapi ia tak tega melihat putrinya yang slalu memohon ingin memakan makanan itu. Sehingga ia mengiyakan kemauan putrinya.
"Ya sudah! Tapi biar Mama suruh Nenek saja yang buatin ya? Karna Mama gak bisa masak sayang." bujuk Shafira dengan jujur.
"Mmmm Gak papa deh Ma! Yang penting Dira bisa makan itu." sahut Dira dengan berbinar.
"Ya sudah, Kamu istirahatlah dulu. Nanti Mama telfon Nenek ya? Suruh kesini."
"Baik Ma!"
Kemudian Dira berlalu menuju kamarnya.
Di tempat lain.
Seorang pria tampan tengah mengutak - atik komputernya dengan lincah untuk mencari keberadaan seseorang yang slalu menjadi bayangannya.
"Benar El, Gue rasa dia bukan dari keluarga biasa! Kalau dia dari kalangan biasa informasinya tidak akan sesulit ini." sambung Azar.
"Tidak! Gue harus mencarinya sampai ketemu." jawab El dengan keras kepalanya.
"Bagaimana, Tidak kita tanyakan saja sama temannya yang slalu menempel kayak perangko itu?" celetuk Rehan.
"Benar kata lo, Kenapa kita tidak kepikiran sama cewek bar - bar itu ya?" imbuh Aldo.
"Cewek bar - bar tapi suka kan?" sindir Azar.
Cewek bar - bar yang di maksud mereka adalah Aurel.
"Iyain aja deh." Aldo memutar bola matanya malas ketika slalu di sindir dengan para temannya.
"Mau kemana lo?" tanya Aldo ketika melihat sepupunya yang beranjak sambil mengambil jaketnya di sofa.
"Mau cari cewek itu!" ucap El datar.
"Mau lo cari kemana? Emang lo tahu rumahnya?" cerca Aldo.
El tak menggubris pertanyaan sepupunya, Ia terus berjalan menuju motor sportnya. Tiba - tiba seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"King! Tunggu!" panggil Ergan kepada El dengan nama panggilan dari mafianya sambil setengah berlari.
"King! Aku sudah menemukan keberadaannya!" lapor Ergan sembari mengatur pernafasannya setelah berlari.
"Dimana dia?" tanya El tanpa basa - basi.
"King, Ikutlah dulu. King akan tau semuanya." ujar Ergan.
Mereka semua menuju ke tempat peretasan system. Dimana tempat Ergan mencari informasi tentang Dira.
__ADS_1
"King, Dia berada di Negara J tapi--"
El merebut posisi Ergan dengan paksa." Sial! Ternyata ada mafia lain yang melindunginya, Tapi siapa?" decak El.
"Mungkin mereka menculik Dira." terka Rehan.
"Kalau ngomong jangan ngaco' lo! Mana ada penculik melindungi informasi identitasnya. Yang ada pasti ia langsung di sekap." protes Azar.
"Ya mungkin saja ia mau menyembunyikannya." balas Rehan tak mau kalah.
"Sudah, sudah! Jika kalian berdebat terus, Tambah pusing kepala gue!" stres El.
"King! Kau harus menembus system mereka dengan cepat! Sebelum mereka memergoki kita." panik Ergan.
"Ergan! Lo tolongin gue disini! Aldo cepat kau cari gadis itu. Sedangkan kalian berdua berjaga - jaga di depan." perintah El.
"Untuk apa?" tanya Aldo bingung.
"Lakukanlah saja apa yang gue minta!!" gertak El kepada mereka semua, Sambil menatap tajam ke arah mereka.
"Baik!!" ucap mereka serempak saat melirik tatapan tajam El yang menusuk penglihatannya, Sehingga sulit untuk menatapnya balik.
Kemudian mereka menjalankan tugas mereka masing - masing.
Sejak El di tinggal oleh Dira, Ia menjadi tambah dingin, datar, dan kejam.
***
Pengenalan tokoh.
Gardira Kanaya Anggara.
Aurel Rosdiana.
Elvaro Raka Rafardhan.
Revaldo Raditya Bisman.
Azar Satya Zahran.
Abimana Rehan Dasriel.
Garendra Raja Anggara.
Gardana Dewa Anggara.
Gardara Dewi Anggara.
Maaf ya? Kalau visualnya I-DOL KPOP semua...
__ADS_1
Karna mereka para fans Author....