Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 25


__ADS_3

Di Mansion Keluarga Rafardhan.


"Pa, Ada apa ini pa? Kenapa makananya banyak sekali?" tanya Alana anak kembar tertuanya.


"Kita akan ke datangan tamu Istimewa sayang." jawab Mario.


"Emang siapa tamunya Pa? Istimewa banget ya? Sampai Papa segitunya menyiapkan semuanya?" tanya Alana lagi yang penasaran.


"Iya, Sangat Istimewa! Karna ia adalah teman bisnis Papa. Sekaligus teman masa kecil Papa." jawab Mario.


Alana hanya manggut - manggut sambil ber oh ria saja dan berlalu membantu Mamanya yang sedang menyiapkan hidangan di meja makan bersama para maidnya.


"Ma! Emang siapa sih tamunya Papa?" tanya Alana yang sangat penasaran beralih ke Mamanya.


"Itu tuh! Sahabat Papa yang berada di Negara J, Waktu kita tinggal di Negara J dulu." sahut Renita menjawab pertanyaan anaknya.


"Oh! Om yang suka ngajari Alana main pistol kan dulu?" ingat Alana dengan teman Papanya di masa lalu.


"Iya sayang, Itu kamu inget. Sudah sana! Kamu dandan yang cantik dan suruh adikmu dandan juga." perintah Renita.


"Yah!! Kalau Alara mana mau ia suruh dandan."


"Kalau begitu kamu saja yang dandan, Biar Alara apa adanya saja."


"Oke. Ma!"


***


Sebuah mobil mewah dari arah luar memasuki halaman mansion Rafardhan.


Tin..tin....


"Ma! Suruh anak - anak cepetan turun tamu kita sudah datang!!" teriak Mario dari ruang tamu.


"Iya Pa!!" balas Renita teriak juga, Kemudian menuju keatas untuk memanggil anak kembarnya di kamarnya.


"Alana! Alara!! Cepat turun! Tamu Papa sudang datang sayang!!" teriak dari arah luar.


"Iya Ma! Sebentar lagi!" teriak Alana dari dalam.


"Kalau sudah selesai keluar ya? Mama turun dulu." ujar Renita.


"Siap Ma!!" sahut Alara.


***


Saat ini para maid sedang membukakan pintu untuk menyambut tamu istimewanya itu, Sedangkan Mario menyambutnya di ruang tamu kemudian menghampiri tamunya.


"Hey! Apa kabar sobat? Sudah lama kita tidak bertemu." ucap Mario sambil memeluk teman lamanya dan menepuk punggungnya


"Hey! Baru satu minggu saja kau bilang lama? Ck..ck..ck.. Pasti kamu sangat merindukanku ya?" tanyanya sambil bercanda.


"Kok tau." jawab Mario yang bercanda juga sembari merangkul pundak temannya.


"Ayo! Kita masuk dulu. Dimana istrimu?" tanya Mario menoleh kekanan dan kekiri.


"Dia masih di mobil, Katanya mau membenarkan lipstiknya dulu. Hehe..." sahutnya sambil tertawa kecil.


"Oh, Biasa kalau perempuan emang begitu. Istriku juga begitu, Baidowe aku mau minta maaf ya? Soal ulang tahun anak kembarmu, Aku tidak bisa datang karna ada kepentingan keluarga." balas Mario meminta maaf kepada teman lamanya.


"Tidak papa, Aku mengerti."


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam yang juga di ikuti istri temannya dari belakang yaitu Shafira. Iya, Mereka adalah Hikman dan Shafira yang sedang berkunjung ke rumah teman lamanya Mario.


Mereka sudah berteman sejak lama. Walaupun mereka jarang bertemu Tapi mereka masih ingat dengan satu sama lain.

__ADS_1


Setelah mereka semua sudah berkumpul di ruang makan, Mereka masih menunggu satu orang lagi yaitu anak sulung Mario dan Renita yang bernama Elvaro Raka Rafardhan.


"Dimana anak laki - lakimu itu?" tanya Hikman ayah Dira.


"Sabar dulu, Bentar lagi pasti datang kok!" sahut Renita istri Mario.


Tin...Tin....


Suara klakson mobil dari luar mansion.


"Itu kakak sudah datang!" seru Alana.


"Aldo, Dimana Varo?" tanya Mario ketika hanya melihat keponakannya yang masuk.


"Masih di mobil om, Bentar lagi mau nyusul katanya." jawab Aldo yang langsung duduk di kursinya dekat si kembar.


Mario hanya menganggukkan kepalanya, Kemudian datanglah pemuda tampan yang memakai lengkap baju ala kantorannya sambil berjalan angkuh dan beribawa sedang memasuki kediamannya.


"Itu dia anak sulungku." ucap Mario sambil menunjuk anaknya yang sedang menuju ke arahnya.


"Varo! Kenalkan, Ini teman Papa yang berada di Negara J, Namanya om Hikman. Kamu tidak akan tahu karna kamu dari dulu slalu di sini."


Uhuk..uhuk..uhukk...


Aldo kaget dan tersedak minuman yang baru di minumnya saat mendengar nama Hikman dari omnya.


"Aldo kamu tidak papa?" khawatir Renita tantenya.


"Tidak papa Tan, Aldo hanya sedikit tersedak." jawab Aldo.


"Makanya kalau minum itu di mulut kak, Jangan di hidung." sewot Alana.


"Alana!!" Mario menatap tajam putri kembarnya.


"Salam kenal om." sapa El sambil mengulurkan tangannya.


"Iya, Salam kenal juga." balas Hikman yang menerima uluran tangannya.


"Mario! Ternyata anak sulungmu sudah besar dan juga sangat tampan, Sama seperti putri sulungku yang kini sudah besar juga." ucap Hikman sambil memuji anak teman lamanya.


"Hah!! Hikman? Apa gue salah denger ya? Kalau benar yang di depanku ini adalah Hikman Anggara ayah Dira, Bisa gawat nih! Memang ada apa mereka kesini? Apa mereka sudah tau tentang putrinya saat 2 minggu yang lalu? Biar ku simak dulu deh pembicaraan mereka agar gue tau apa maksud dia kesini." batin Aldo sambil terus menatap ayah Dira yang sedang berbincang bincang dengan omnya.


"Katanya putri sulungmu sudah kau publikasikan saat di ulang tahun si kembar?" tanya Mario.


"Iya."


"Sekarang dia kemana? Kok tidak ikut?" sambung Renita.


"Dia tidak ikut mbk, Katanya dia lagi gak enak badan. Jadi aku suruh di rumah saja bersama si kembar tiga." Sahut Safhira.


"Oh, Semoga lekas sembuh ya?" prihatin Renita.


"Iya mbk Terimakasih." balas Shafira sambil tersenyum


"Aldo!!" seru El sambil berbisik.


"Eh iya kenapa?" kaget Aldo ketika namanya di panggil.


"Kenapa lo mandangin om itu terus? Emang lo kenal dengan om itu?" tanya El sambil berbisik.


"Mm nggk.. Gak ada kok.!" elak Aldo.


Setelah mereka berbicang cukup lama di ruang tamu, Kemudian mereka menuju ruang makan untuk makan malam bersama.


Mereka memakan makanannya dengan tenang dan keheningan meneyelimuti mereka tanpa ada yang bersuara kecuali dentingan sendok yang saling beradu dengan piring.

__ADS_1


"Hikman, Bagaimana kalau kita jodohkan anak sulung kita?" ucap Mario memecahkan keheningan di antara mereka setelah selesai makan.


Uhuk...uhukk...uhukk...


Aldo tersedak lagi ketika mendengar ucapan omnya.


"Kamu kenapa sih kak? Doyan banget keseleknya." cibir Alana.


"Bukan keselek Lan, Tapi tersedak." jawab Aldo membenarkan.


"Sama saja, Cuma typo dikit. Dan nama aku bukan Lan! Tapi A- La- Na!" sewot Alana sambil mengeja namanya sendiri.


Aldo tak menghiraukan ucapan adik sepupunya lagi, Karna kalau di balas tak akan pernah selesai. Mending dirinya saja yang slalu harus mengalah.


"Bagaimana Hik?" tanya Mario lagi ketika usulannya tidak di jawab.


"Papa apa - apaan sih Pa!" ucap El tak terima.


"Kalau aku tergantung dari merekanya saja, Mereka mau atau tidak, Kalau mereka mau ya aku juga setuju. Karna sebuah pernikahan itu harus saling ada cinta dan tak bisa di paksakan." jawab Hikman memberi saran.


"Kalau masalah cinta. Lambat laun mereka akan saling mencintai ke depannya." sahut Mario.


"Baiklah! Nanti biar ku tanyakan dengan putriku dulu. Karena dia masih sekolah." balas Hikman.


"Putraku juga masih sekolah dan hampir lulus. Jadi, Bagaimana kalau kita ikat dengan pertunangan dulu baru setelah lulus kita nikahi saja mereka." ide Mario.


"Itu ide yang bagus." sahut Hikman.


"Jadi, Kita kapan akan bertemu lagi sambil membawa anak kita masing - masing? Dan langsung mengadakan pertunangannya?" tanya Mario yang tak sabaran.


"Tenang, Sabar dulu. Kita akan mengadakannya minggu depan di Negara J saja dan di hotelku Bagaimana?." saran Hikman.


"Bagus! Lebih cepat lebih baik." senang Mario.


"Kalau begitu aku pamit pulang, Karna masih ingin berkunjung ke rumah adikku dulu." pamit Hikman sambil beranjak dari duduknya.


"Iya, Makasih atas kunjunganmu kesini ya?"


"Iya sama - sama."


Lalu mobil yang di kendarai Hikman dan Shafira keluar dari halaman mansion Rafardhan.


Setelah mereka pergi, El memprotes keputusan Papanya yang seenaknya menjodohkannya dengan anak teman masa kecilnya yang belum ia kenal, Fikirnya.


"Pa! Memang siapa yang mau menikah?" komen El kepada Papanya.


"Ya kamulah! Masa' Adik - adikmu yang masih bau kencur ini." jawab Mario sambil mengatai anaknya.


"Kenapa Papa slalu terburu - buru ingin Varo menikah? Kalau Papa ingin Varo menikah, Varo bisa cari jodoh sendiri. Tidak harus di jodohkan begini, Apalagi dengan wanita yang tidak Varo kenal."


"Varo!! Kamu ini anak laki - laki Papa satu - satunya! Kalau kamu tidak segera menikah, Siapa yang akan menggantikan Papa nantinya untuk mengurus perusahaan?"


"Tapi Pa!--"


"Sudah Varo!! Kalau kamu tidak mau, Papa akan mencabut semua aset yang Papa berikan ke kamu." tegas Mario dengan ancamanya dan meningalkan mereka berdua.


"Ck.. Aakkhhh... Ini semua gara - gara lo!" ucap El sambil mengacak - acak rambutnya dengan kasar dan menunjuk Aldo.


"Sudahlah El, Terima saja keputusan Papa lo. Pasti itu akan jadi yang terbaik buat lo." sambung Aldo.


"Terbaik? Memang lo tahu apa yang terbaik buat gue." kesal El dengan Papanya itu, Kemudian ia beranjak meninggalkan keluarganya.


"Asal lo tahu El, Kalau wanita yang ingin di jodohkan dengan lo adalah wanita yang selama ini lo cari. Gue tidak mengatakan keberadaannya karna gue ingin membuat kejutan untuk lo dan ingin melihat reaksi lo nanti." gumam Aldo sambil tersenyum jahil saat melihat kekesalan sepupunya.


Sedangkan si kembar dan juga Mamanya Renita sudah pergi meninggalkan mereka saat keluarga Hikman telah pulang.

__ADS_1


__ADS_2