Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 17


__ADS_3

Keesokan paginya, Dira terbangun dari tidurnya karna terpaan sinar mentari yang menyilaukan matanya melalui celah jendela.


"Aahhkkk....Kenapa sakit sekali! Apa yang terjadi semalam?"


Dira memekik, Ketika ingin bangun dari tidurnya, Karna dirasa sangat sakit di area selangkangannya.


Ia memegang kepalanya yang terasa berat, Kemudian ia mengingat - ngingat memori yang semalam saat ia meminum sebuah alkohol milik El.


Dimana di saat dirinya mandi di toilet menggunakan dressnya setelah itu ia tak ingat apa - apa lagi.


Kemudian ia kaget saat melihat pria yang terlelap di sampingnya yang telah bertelanjang tanpa sehelai benang pun. Ia juga melihat dirinya sendiri yang juga sama telanjangnya dengan pria di sampingnya itu.


"Apa aku melakukan--"


"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" Dira menggelengkan kepalanya tidak mau menerima kenyataan yang telah terjadi.


"Kenapa semua ini harus terjadi padaku. Papa maafin Dira hiks...hiks..." tangis Dira pecah.


Ia masih tidak menyangka mahkotanya yang telah ia jaga selama ini di ambil oleh orang yang baru saja tak lama ia kenal.


Dira refleks mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya, Lalu turun dari ranjang secara perlahan dan memunguti semua pakaiannya yang berserakan dan menuju kamar mandi.


Setelah selesai memakai pakaiannya, Dira berjalan perlahan dengan terseok - seok sambil menahan sakit di area intimnya, Menuju ke pintu kamarnya dan meninggalkan pria yang masih terlelap di ranjang tersebut.


Sebelum pergi dari kamar itu, Dira tak lupa meninggalkan sepucuk surat yang ia taruh di atas nakas untuk pria tersebut.


Setelahnya ia pulang menuju rumahnya menggunakan ojek yang ada di area hotel tersebut.


***


Setelah sampai di rumah Pamannya, Dira berpapasan dengan Papanya dan Bibinya yang sedang berkemas memasukkan barang - barangnya ke dalam mobil yang akan di bawanya ke Negara J.


"Dira! Dari mana saja kamu? Kenapa tidak pulang semalam." tanya Hikman kepada putrinya.


"Mmmm Dira....Nginep di rumah Aurel Pa." bohongnya.


"Oh, Tapi kenapa kamu seperti habis menangis?" tanya Hikman lagi.


"Mmm mana? Gak mungkinlah Dira nangis. Ini tadi Dira naik ojek dan terkena debu, Terus kayak orang nangis deh Heheh..." elaknya sambil tertawa palsu.


"Terus gimana keadaan Ibu Aurel?" sambung Bibi.


"Ibu Aurel? Memang kenapa Bi?" tanya Dira bingung.


"Kenapa kamu tidak tau? Katanya kamu nginep di rumah Aurel, Ibu Aurel kan kecelakaan tadi malam." jelas Bibi.


Dira kaget saat mendengar ucapan Bibinya tentang Ibu Aurel." A..apa! Mmm... Maksud Dira, Ibu Aurel baik - baik saja kok Bi." jawab Dira dengan sdikit gugup, Karna ia tidak tau apa - apa dan menjawabnya dengan asal.


"Ish kamu itu! Bibi kira kamu tidak tau."


"Hehehe...Gak mungkinlah Dira tidak tau."


"Ya sudah, Masuk sana! Istirahat dulu, Papa sudah kemasin semua barang - barang kamu, Setelah ini Papa mau pergi ke tempat teman Papa dan nanti sore kita akan berangkat."


"Oke. Siap Pa!" jawab Dira sambil memberikan hormat layaknya seorang komandan.


Dira bergegas masuk ke dalam rumahnya dengan sedikit berlari, Agar Papa dan Bibinya tidak bertanya yang tidak - tidak lagi.


"Papa tau, Kamu berbohong sama Papa Dira. Walaupun Papa tidak selalu bersamamu tapi Papa ngerti semua dari raut wajah kamu." gumam Hikman.


Di dalam kamarnya, Dira mengunci pintu, jendela dan juga menutup tirai jendelanya dengan rapat, Sehingga menjadi gelap tanpa sinar matahari.

__ADS_1


Ia menangis di dalam kamarnya, Menumpahkan semua rasa penyesalan yang telah ia lakukan bersama pria itu tadi malam.


Jika nasi sudah menjadi bubur tak akan ada yang bisa kita lakukan.


"Hiks..hiks...Kenapa semua ini terjadi padaku, Kenapa?"


"Hiks..hiks..Aku tidak menyangka, Kehormatanku yang selama ini ku jaga untuk suamiku kelak telah hilang."


"Aku sekarang telah menjadi wanita kotor!."


"Aku benci dengan pria itu, Aku benci!!"


"Kenapa aku harus kenal dengannya, Kenapa!!?"


Dira terus berceloteh tidak jelas dan juga menangisi nasibnya yang kehilangan mahkota berharganya yang di ambil oleh pria itu yang tak lain adalah kakak kelas di sekolahnya, Yaitu Elvaro.


Setelah lama ia menangis, Ia pun terlelap dengan sendirinnya matanya terlihat


membengkak akibat kelamaan menangis.


Di tempat lain.


Tepatnya di kamar hotel no. 205.


Seorang pria telah terbangun dari tidurnya yang indah dan meraba tempat tidur di sampingnya, Yang sudah tidak ada siapa - siapa.


"Kemana gadis itu?" tanyanya dengan diri sendiri.


Kemudian ia bangkit dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai, Pria itu memakai pakaiannya kembali yang berserakan di lantai.


"Ck...Kemana dia pergi?" decaknya.


Lalu saat akan mengambil ponselnya di meja nakas, Ia tak sengaja melihat sepucuk surat yang berada di samping ponselnya.


"Apa ini?"


Kemudian ia membaca isi dari surat itu.


***


Maaf, Aku tidak bisa bersamamu, Karna aku tidak bisa menikah dengan seorang yang tidak kucintai sama sekali dan seorang yang masih mencintai orang lain. Aku tau kau masih mencintai cinta pertamamu itu, Maka dari itu aku tidak bisa menikah denganmu tanpa di dasari rasa cinta atau hanya karna keterpaksaan. Anggap saja kita tidak pernah bertemu, Dan untuk kejadian semalam lupakan saja. Anggap saja, Itu adalah hadiah keberuntunganmu.


By Dira.


***


"Aaakkhhh....Aku tidak akan melupakanmu Dira! Aku akan tetap mencarimu sampai ke ujung dunia pun!!" pekik El frustasi sembari mengacak - acak rambutnya dengan kasar.


Ia sudah menyangka hal ini akan terjadi, Karna ia tahu dengan sifat Dira yang keras kepala dan tidak percayaan kepada orang lain. Walaupun dirinya belum lama mengenalnya.


Kemudian ia meremas surat itu dan membuangnya ke sembarang arah. Ia berlalu dari hotel itu menuju ke markasnya, Menemui teman - temannya untuk mencari Dira.


***


Hari telah sore. Di kediaman Prasetyo, Semua orang di sana telah bersiap - siap untuk berangkat ke Negara J.


Nabila yang ingin masuk ke kamarnya, Tak sengaja melihat Dira yang tengah melamun ke arah jendela. Lalu ia menghampirinya.


"Dira! Kamu kenapa? dari tadi bengong mulu'." ujar Nabila kakak sepupunya sambil menepuk bahunya.

__ADS_1


"Nggk kok kak! Dira sedih aja, Karna Aurel gak jadi ikut." jawab Dira sambil tersenyum masam dan melihat ke arah kakaknya.


"Oh, Kenapa harus sedih walaupun Aurel gak jadi ikut? Kan masih ada kakak." balas Nabila sambil tersenyum.


"Mmm Iya kak! Boleh aku peluk kakak sebentar?" ragunya sambil membalas senyuman kakak sepupunya.


"Tumben, Mau meluk kakak?" heran Nabila.


"Tidak papa kalau kakak tidak bersedia." kecewa Dira.


"Hey! Lihatlah kakak! Bukannya kakak tidak bersedia, Malah kakak senang kamu peluk. Tapi kakak heran aja sama kamu, Kamu lagi ada masalah ya?." ucap Nabila sambil menarik wajah Dira ke arahnya.


"Nggk kok kak! Gak ada." balas Dira sambil tersenyum kecut.


"Ya sudah Sini, Peluk kakak." Nabila mengangguk sambil merentangkan tangannya, Tanpa babibu lagi Dira langsung memeluk kakaknya dengan erat dan menangis dalam diam dipelukan kakaknya.


Nabila mengelus punggung adik sepupunya dengan lembut.


"(Dira kakak tau, Kamu menangis dalam diam di pelukan kakak, Kamu pasti sedang dalam masalah. Tapi apa yang membuat kamu jadi begini. Sebelumnya kamu tidak pernah sesedih ini, Kamu adalah gadis yang slalu ceria dan manja kepada kita semua. Tapi kenapa kakak merasakan air matamu ini sepertinya bukan masalah kecil.)" Batin Nabila.


Setelah Dira melepas pelukannya. Dira segera menghapus air matanya dengan cepat dan menoleh ke arah samping agar kakaknya tidak tau kalau ia habis menangis.


"Ya sudah, Mari kita berangkat, Semua orang telah menunggu kita di luar." ucap Nabila setelah Dira melepaskan pelukannya.


"Tapi, Hapus dulu air matamu dan ingusmu itu." ucapnya lagi.


"Kakak tau kalau aku menangis?" tanya Dira terkejut sambil menoleh ke arah kakaknya lagi.


"Gimana kakak gak tau? Nih! liat! baju kakak basah semua gara - gara air mata dan ingusmu." kesal Nabila sambil bercanda.


Dira hanya mengangguk sambil tersenyum dan mengusap air matanya yang terus saja mengalir.


Kemudian mereka keluar dari kamar Dira.


"Oh ya Ampun! Kakak jadi lupa tadi mau ambil tas di kamar, Malah nyasar ke kamar kamu." ujar Nabila sambil menepuk jidatnya dan berlari ke arah kamarnya.


Sedangkan Dira langsung menuju ke luar rumah menemui para orang tua.


"Sudah siap semua!" seru Paman saat ingin menutup bagasi.


"Sudah!" jawab Bibi dan Diki serempak.


"Loh, Kakakmu kemana Dir?" tanya Bibi setelah melihat keponakannya keluar.


"Sedang ambil tas Bi di kamarnya." jawab Dira.


"Astagaa...Anak itu, Dari tadi ambil tas saja lama banget." gerutu Bibi.


"Dik! Cepat kamu panggil kakak kamu!" perintah Bibi.


"Siap. Bu." jawab Diki sambil memberi hormat.


"Udah! Gak usah di panggil, Akunya udah keluar kok!" sambung Dira saat mendengar ibunya menyuruh Diki untuk memanggilnya.


"Kalau begitu kita berangkat, Paman kamu sudah nunggu dari tadi tuh, Di mobil." sela paman.


Kemudian mereka semua masuk ke dalam mobil, Berangkat menuju bandara menaiki pesawat untuk sampai ke negara J.


Dira duduk di kursi depan bersama Papanya, Sedangkan yang lain di kursi belakang. Di bagian kursi belakang Mutia, Hakim dan Diki terus membicarakan tentang jalanan yang mereka lewati. Mereka sangat antusias saat menaiki mobil apalagi nanti saat naik pesawat untuk ke Negara J.


Hikman yang fokus menyetir mobilnya sesekali memandang ke arah putrinya yang sedang melamun ke arah jendela mobil. Itu pun juga tak luput dari penglihatan Nabila yang melihat sepupunya terus melamun ke arah jendela tanpa berbicara sepatah kata pun.

__ADS_1


Ia menjadi kepo kepada sepupunya itu, Mulai dari kemarin ia terus melamun. Karna di saat bersama seperti ini, Ialah yang sering berceloteh dan menghibur semua orang. Tapi sekarang ia jadi pendiam dan slalu melamun. Entah apa yang telah di alaminya, Sampai ia jadi seperti ini? pikir Nabila.


__ADS_2