
"Mau persen apa nih? Biar gue yang pesenin mumpung mood gue lagi baik." ucap Rehan pada yang lainnya setelah mereka duduk di kantin.
"Tumben Lo ceria sekarang? Biasanya murung muluk setelah di putusin tuh cewek?" ejek Aldo.
"Biasa udah bisa move on dienya." sambung Azar.
"Cepet banget kak move onnya? Kalau Er sih bakalan guling - guling di kasur." timpal Ergan juga mengejek.
"Heh! Emang gue elo apa? Yang harus guling - guling di kasur kayak anak kecil." balas Rehan tak terima.
"Ya Er bilang kan kalau itu Er kak, Bukan kak Reh." sanggah Ergan.
"Enak aja bilang gue Reh! Gue Rehan R E H A N." balas Rehan tak terima sambil mengeja namanya.
"Sama aja." cuek Ergan.
"Ck, Awas Lo ya? Gue tembak mata Lo nanti." ancam Rehan.
"Yah ilang mata Er dong, Silahkan kalau berani, Wleekkk!" tantang Ergan sambil menjulurkan lidahnya.
"Hei! Ngomong muluk katanya mau persen nih! Cepetan gue lagi laper!" sentak Dira ke Rehan.
"Gak jadi deh, Mood gue anjlok lagi gara - gara tuh bocah." ucap Rehan menunjuk Ergan.
"Yah! Tuh lihat temenmu." manja Dira ke suaminya.
"Yee katanya masih marahan, Tapi kenapa jadi manja gitu?" ledek Aurel.
"Udah ilang marahnya." sahut Dira ketus sambil melengos.
"Jalan atau mau gue gantung lo di tiang listrik?" ancam El pada sahabatnya.
Glek
Rehan yang sudah di tatap tajam oleh ketuanya sekaligus sahabatnya meneguk salivanya dengan kasar.
"Iya iya, Gue jalan." ucapnya dengan takut sambil menggeret tangan Azar untuk ikut dengannya.
"Hei! Ngapain Lo ajak gue?" ucap Azar ketika di geret paksa.
"Ikut saja, Emang siapa yang mau bawain pesenan semuanya?"
"Ya elo lah, Siapa lagi?"
"Woh! Tangan gue cuma dua, Bukan sepuluh." sewot Rehan.
"Yang bilang sepuluh siapa? Apa susahnya sih bolak balik kesana?" balas Azar.
"Emang lo pikir gue robot apa yang harus bolak balik ke kantin?" protes Rehan tak terima.
"Sudahlah! Lagi malas debat ama orang yang lagi patah hati." ejek Azar sambil meninggalkan Rehan ke tempat pemesanan.
"Woy!! Gue udah move on asal Lo tau!!" teriak Rehan sambil menyusul temannya.
Setelah mereka berdua sampai di tempat pemesanan makanan.
"Han, Mereka mau pesen apa tadi?" ucap Azar bingung.
"Mana gue tau, Tanya aja sendiri noh." kesal Rehan.
"Heh! Kenapa harus gue yang nanyak? Kan Lo tadi yang di suruh pesen? Harusnya Lo yang tanyak." balas Azar ikut kesal.
"Aahhh....Harus balik kesana lagi deh." ucap Rehan frustasi sambil mengacak - acak rambutnya.
"Cuma mau kesana doang ribet amat sih." sahut Azar.
"Jauh tau! Gak seperti sekolah yang dulu." sewot Rehan.
"Udah, Sana cepetan! Jangan kebanyakan tingkah Lo!" ledek Azar.
"Iya iya." sahut Rehan kesal.
Rehan kemudian balik ke meja para temannya untuk menanyakan pesanan mereka semua.
"Huuhh... Punya teman bodohnya tingkat dewa. Kenapa gak telfon aja sih!" kesal Azar.
"Ahaa... Gue kerjain aja nih." ide Azar.
Azar kemudian menelfon temannya yaitu Aldo. Setelah menelfon kemudian ia memesan makanan yang mereka pesan kepada pemilik kantin.
__ADS_1
Saat ini Rehan sudah kembali ke tempat Azar di tempat pemesanan.
"Gimana? Pesen apa mereka?" tanya Azar basa - basi.
Rehan hanya menatap temannya sinis tanpa menjawabnya.
"Kenapa gak jawab? Gue kelamaan nunggu dari tadi." ucap Azar bertanya lagi.
"Kalau Lo bukan temen gue, Udah gue gedek - gedek pala Lo sampek pecah." geram Rehan saat dia tahu telah dikerjainya.
"Maksud Lo apa, Gue gak ngerti." ucap Azar menjahili temannya.
"Anjjiiirrtt.... Azar kampreettt.......Lama - lama gue panggang Lo ya di pemanggangan." geram Rehan dengan kesal.
"Hahahaha....Makanya punya otak itu di pakek! Jangan pikirin cewek muluk!!" balas Azar sambil tertawa melihat kekesalan temannya setelah di kerjainya.
"Awas Lo, Gue balas kelakuan Lo nanti." ucap Rehan mengancam.
"Ya elah, Di kerjain gitu aja udah marah. Gimana kalau nanti gue cariin cewek cakep buat jadi pengganti mantan Lo itu" ucap Azar menawarkan.
"Beneran Lo!" sahut Rehan yang langsung berbinar ketika mendengar nama cewek.
"Iya, Kapan gue pernah bohong sama Lo?" ucap Azar meyakinkan.
"Sering," jawab Rehan singkat.
Setelah itu mereka tak lagi berbicara saat pesanannya sudah selesai.
"Emang tadi mereka bilang apa saat Lo tanya pesanannya?" tanya Azar saat berjalan membawa nampan menuju meja para temannya.
"Mereka bilang Lo udah tanya lewat telfon. Makanya gue kesal ama Lo." jawab Rehan malas ketika mengingat tadi.
"Hahaha... Emang gue sengaja mau ngerjain Lo." sahut Azar sambil tertawa lepas.
"Sialan Lo jadi temen." kesal Rehan.
"Hello epribadeh! Pesanan dari cowok tampan dan seksi Dateng nih!" seru Rehan setelah sampai di mejanya.
"Cowok tampan dari mana? Yang ada cowok oon." cibir Dara pelan.
"Siapa yang ngomong barusan." ucap Rehan ketika mendengar cibiran seseorang.
"Gak papa kok, Abang cuman mau mastiin siapa yang ngomong." ucap Rehan yang takut melihat tatapan tajam Dara.
"Ternyata serem juga ya tatapannya, Seperti Mak lampir." batin Rehan mengejek.
"Udah, Mana pesenan gue? Laper nih!" ucap Dira tak sabaran.
"Bentar sayang nih lagi aku adukin baksonya." ucap El suaminya.
"Kasih cabenya yang banyak ya. Pasti enak." ucap Dira sambil memeletkan lidahnya keluar.
"Gak boleh! Nanti dia kepanasan." ucap El melarang.
"Tapi ini juga keinginannya Yah!" ucap Dira merajuk.
"Jangan kasih El, Itu sih bukan keinginannya tapi keinginan lidahnya. Dulu ia juga begitu makan bakso sampai - sampai cabenya 10 sendok." sambar Aurel mengompori.
"Heh! Diem kamu Rel!" bantah Dira.
"Aku gak bakal diem, Kalau itu menyangkut bayi kamu!" ucap Aurel keceplosan.
"Uupss... Sorry." Aurel segera menutup mulutnya menggunakan tangannya karena ia sudah keceplosan di depan teman El yang belum tahu kehamilan Dira
"Aurel!!" geram Dira ketika temannya berbicara tanpa di rem.
"Dira, Emang kamu hamil?" tanya Rehan ketika mendengar ucapan Aurel.
"Nggak! Kata siapa? Aurel tadi cuma salah ngomong ya gak Rel?" elak Dira sambil menginjak kaki Aurel dan melototinya.
Aurel yang meringis kesakitan hanya menganggukkan kepalanya memberi jawabannya.
"Iya bener kata Dira, Gue barusan salah ngomong." ucap Aurel ikut mengelak.
"Gue kira bener tuh!" ucap Rehan yang langsung percaya.
Sementara Azar, Ia tidak percaya malah curiga dengan gerak - gerik para temannya itu yang berusaha ingin menyembunyikan sesuatu darinya dan Rehan.
Azar terus menatap mereka satu persatu dengan mengintimidasinya.
__ADS_1
El yang melihat tatapan Azar yang tak biasanya bertanya."Kenapa Lo natap kita kayak gitu?"
"Apa yang sedang kalian sembunyikan dari kita berdua." ucap Azar serius.
"Memang apa yang kita sembunyikan?" jawab El yang belum ngerti.
"Tentang kehamilan Dira." jawab Azar to the poin.
"Emang Lo udah tau?" tanya Aldo memastikan.
"Iya, Gue udah tau saat mendengar pembicaraan kalian kemarin." ucap Azar yang langsung paham.
"Kalau kalian udah tau semua tentang kehamilan Dira, Gue minta sama kalian jangan pernah memberi tahu para keluarga untuk sementara ini. Cukup kita yang tahu dulu." jelas El dengan tegas pada mereka.
"Oke king!" jawab mereka serempak kecuali Dara dan Dira.
Setelah mereka makan, Mereka belum masuk kelas tapi malah duduk santai di tempat duduk yang sama.
Dan datanglah segerombolan tiga cewek cantik yang juga murid dari sekolah ini menghampiri mereka dengan berjalan berlengak lenggok layaknya seperti model pasaran.
"Hay, Boleh gabung gak?" tanya salah satu cewek itu yang bernama Tesa.
"Boleh! saat" jawab Dira langsung.
"Kak! Ngapain sih ngajak mereka gabung disini? Mereka itu cewek ganjen yang slalu goda para cowok ganteng disini. Apalagi dengan kak El yang gantenganya gak ketulungan." bisik Dara ke kakaknya sambil memuji kakak iparnya.
"Masak sih?" tanya Aurel ikut nimbruk ketika mendengar bisikan Dara.
"Kalau kalian gak percaya, Liat aja tuh lirikan matanya yang terus menatap kak El yang sedang main ponsel." bisik Dara lagi.
"Gak bisa di biarin ini. Aku harus lindungi suamiku dari wanita ganjen itu." ucap Dira yang langsung emosi, Kemuadian beranjak dan menggebrak meja yang membuat semuanya kaget dengan kelakuannya terutama dengan El yang sedang asik memainkan ponselnya.
"Ya ampun Dira!! Kalau mau gebrak meja bilang - bilang dong! Bikin orang jantungan aja Lo." protes Rehan.
El mendongak menatap istrinya."Kenapa?" tanya El heran.
"Yang! Kita ke kelas yuk? Aku kepanasan nih disini." kata Dira sambil bergelayut manja di tangan kekar suaminya untuk memanas manasi ketiga gadis itu.
"Kok bisa? Bukannya adem disini?" tanya El yang masih heran dengan kelakuan istrinya.
"Iya, Tadinya adem sih. Tapi kelamaan jadi panas." kata Dira yang masih bergelayut manja.
Ketiga cewek itu menjadi kesal, Saat Dira menyindir mereka.
"Kalau panas mending masuk ke box es tuh adem." salah satu cewek itu menyahuti ucapan Dira yaitu Eka.
"Heh! Apa urusannya sama Lo? Nyuruh - nyuruh kakak gue masuk di box es?" balas Dara tak terima ketika kakaknya di katainya.
"Katanya panas? Ya disanalah! Wong disini adem dan sejuk kok, Ya kan kak!" ucap Tesa sambil memegang tangan Aldo yang berada di sampingnya.
Aurel yang melihat tangan Aldo yang di pegangnya menjadi marah, Tapi ia berusaha untuk menahan amarahnya. Karena tidak enak jika ia bikin keributan di kantin.
Aldo yang tak sengaja melihat Aurel yang mukanya memerah, Ia tahu kalau ceweknya itu sedang menahan amarahnya dan malah memanfaatkan situasi itu untuk membuatnya cemburu.
"Iya." balas Aldo sambil tersenyum ke arah Tesa, Tapi matanya melirik ke arah ceweknya Aurel.
"Makasih kak!" ucap Tesa senang saat pertanyaannya di jawab.
Aurel yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, Menggebrak meja dan meninggalkan mereka semua ke halaman belakang sekolah yang juga disusul oleh Dara dan Dira.
"Yang, Aku kesana dulu ya? Ngejar Aurel." pamit Dira yang langsung berlalu tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
"Iya hati - hati!!" teriak El prihatin.
"Aldo! Lo ikut gue!" ucap El langsung menyeret tangan Aldo.
"Iya kemana?" tanya Aldo.
"Ikutlah dulu, Dan kalian bertiga juga ikut!" kata El pada ketiganya
"Baik!!" jawab ketiganya.
"Kalian mau kemana?" tanya Tesa bingung ketika semuanya ingin meninggalkannya.
"Maaf kami ada urusan." jawab Azar datar.
Setelah kepergian semuanya, Mereka bertiga menggeram kesal dan menghentak - hentakan kakinya dengan keras.
"Aakhhh....Brengsek!!" ucap ketiganya sambil meninggalkan tempat itu.
__ADS_1