
Di dalam sebuah mobil BMW.
"Kenapa Paman harus misahin aku dengan dia?" tanya Rena dengan kesal.
"Kalau kamu tidak cepat di pisahin mereka akan mengeluarkan kamu dari sekolah itu, Apalagi misi kita belum terlaksana kamu sudah bikin keributan di hari pertamamu." jelas pria yang di panggil paman itu.
"Tapi mereka yang slalu mancing emosi Rena dulu paman!" kesal Rena.
"Ya kamu harus bisa tahan emosi kamu Rena!"
"Udah ah! Malas berdebat sama paman." cemberut Rena dengan memonyongkan bibirnya.
"Ren! Coba kamu panggil gue dengan sebutan kak, Jangan menyebut gue paman lagi. Rasanya gue seperti ketuaan bila di panggil paman, Umur gue aja hanya terpaut 4 tahun aja sama Lo." ujarnya yang sambil menyetir dan memandang keponakannya sekilas.
"Kenapa aku harus panggil paman kak? Kan paman adik Ayahku." jelas Rena.
"Iya, Tapi kan bukan adik kandung Rena!" geram pria itu.
"Udahlah paman! Rena lebih enak manggil paman dari pada kakak! Itu udah kebiasaan Rena dari kecil gak akan bisa di ubah oleh apapun itu." ucap Rena sambil menekan kata - katanya yang terakhir.
"Emang kalau bicara sama kamu dari dulu emang gak pernah berubah ya? Tetap saja keras kepala. Hanya saja yang namanya berubah tapi sifatnya sama saja." gerutu pria itu.
"Kalau ubah nama kenapa harus ubah sifat juga? Emang aku wonder woman apa? Yang awalnya di panggil dengan sebutan nama manusia jika jadi manusia, Terus ketika berubah jadi wonder woman harus di panggil wonder woman juga gitu?"
celotehnya.
"Hadeuhhh pusing gue punya ponakan kayak dia, Apalagi cerewetnya malah bertambah bukannya berkurang." cebiknya sambil menepuk jidatnya.
"Udahlah! Mending aku diem dari pada di bikin stres ama nih bocah." kesalnya.
"Paman! Rena mau tanya deh!" ucap Rena menghadap ke arah pamannya.
"Mau tanya apa?" malas pria itu.
"Apa paman masih ingat dengan pria yang pernah Rena cintai dulu? Saat Rena berada di negara B?" tanya Rena.
"Siapa? paman gak ingat tuh!" ucapnya pura - pura lupa.
"Itu loh paman, Yang slalu manjain Rena dan sangat sayang sama Rena." ucap Rena ketika mengingat masa lalunya.
"Geer kamu, Mana ada cowok yang mau manjain kamu yang cerewet itu?" ejek pamannya.
"Ish paman! Emangnya paman yang harus manjain aku karna uang dari Ayah!" balas Rena mengejek balik pamannya.
"Udah lah! Kita udah Sampek ke tempat Ayahmu!" ucapnya yang langsung turun dari mobil ketika sudah sampai ke tempat tujuannya.
"Kenapa Paman bawa aku kesini?!!" teriak Rena memanggil pamannya yang sudah tak terlihat di balik pintu rumah yang kecil dan kumuh.
"Ish, Emang ada apa sih! Harus bawa aku kesini." kesalnya sambil ikut turun dari mobil itu.
Di dalam rumah kecil itu, Terdapat seseorang yang tengah mereka sekap dengan mengikatnya di kursi sambil membekap mulutnya dengan sebuah kain.
__ADS_1
Saat Rena masuk ke dalam rumah itu, Ia begitu terkejut melihat seseorang yang ayahnya sekap.
"Paman! Dimana Ayah?" tanya Rena saat ia sudah memasuki rumah itu.
"Itu, Ayahmu lagi telefonan dengan seseorang." jawabnya.
"Dia siapa paman?" tanya Rena lagi yang penasaran.
"Entah! Paman juga tidak tahu." jawabnya sambil mengedikkan bahunya.
"Siapa gadis ini? Apakah gadis ini adalah anak laki - laki itu?" batin seseorang yang di sekap.
Setelah Ayah Rena selesai bertelepon, Ia menghampiri putri kesayangannya.
"Ada apa Nak?" tanya sang Ayah sambil membelai lembut kepala putrinya.
"Siapa dia yah?" Rena bertanya balik pada Ayahnya.
"Mmm dia adalah ibu angkatmu." pria itu menjawab pertanyaan putrinya.
"Ibu angkat? Maksud Ayah! Ayah akan menikah lagi dengannya?" tanya Rena dengan tidak percaya.
"Iya putriku, Dia adalah wanita yang pertama Ayah cintai sebelum ibumu. Awalnya Ayah sudah menikah dengannya dan juga mempunyai anak perempuan yang sama cantiknya denganmu, Tapi keadaan ekonomi yang mendesak membuat Ayah harus pergi meninggalkannya dan kemudian Ayah bertemu dengan ibumu yang menjadi atasan Ayah selama bekerja. Sehingga Ayah menikah dengan ibumu dan pindah ke Negara J. Tapi saat Ayah ingin menjelaskan semua pada istri pertama Ayah, Kabar darinya yang di kabarkan meninggal atas kecelakaan membuat Ayah menjadi terpuruk dan juga merasa bersalah telah meninggalkan istri pertama Ayah itu. Ternyata berita itu palsu, Karna Ayah telah menemukan saudara kandungmu di saat Ayah ke negara B. " jelas pria itu.
"Ini tidak mungkin! Ayah pasti mengarang cerita kan?" ucap Rena dengan masih tidak percaya.
"Sayang! Percayalah, Ayah tidak pernah berbohong sama kamu. Ayah sangat sayang sama kamu. Kamu harus menerimanya kalau kamu mempunyai saudara kandung. Dan Ayah akan tetap memanjakan kamu sampai kapan pun itu." jelas sang Ayah menenangkan putrinya.
"Bukan begitu Rena sayang, Awalnya Ayah mau cerita pada saat kamu sadar. Tapi Ayah melihat kondisi kamu yang masih lemah Ayah tidak tega, Takut kamu akan drop lagi dengan keadaan kamu saat itu." ucap sang Ayah menjelaskan.
"Baiklah! Aku akan menerima ibu angkatku dan juga saudara kandungku.Tapi ijinkan aku untuk tidak tinggal bersama Ayah lagi." ucapnya memberi sebuah pilihan.
Pria itu yang mendengar kata - kata putrinya menjadi terkejut saat putrinya bilang tidak akan tinggal bersamanya lagi.
"Tapi kamu akan tinggal dimana Rena? Kenapa kamu tidak akan tinggal bersama Ayah lagi? Apa kamu marah sama Ayah karna sudah menyembunyikan hal kecil seperti ini?" tanya pria itu bertuntun.
"Apa Ayah bilang? Hal kecil? Hal kecil seperti apa yang Ayah maksud? Selama bertahun - tahun Ayah menyembunyikan semua ini dari aku dan ibu, Ayah bilang itu masih hal kecil? Aku gak bisa bayangkan gimana sakit hatinya ibu di saat dia tahu suaminya mempunyai istri lagi." jelas Rena sambil tertawa miris.
"Ibumu sudah tau Rena, Kalau Ayah sudah mempunyai istri sebelumnya. Dan ibumu juga biasa - biasa saja saat itu." bantah Pria itu.
"Hehe... Aku tahu sifat ibu dari luar, Ibu memang begitu slalu menyembunyikan rasa sakit hatinya dengan senyuman palsu. Tapi ketika ibu berusaha tersenyum Rena tau kalau ibu memendam perasaanya sendiri. Asal Ayah tau? Waktu Ibu dan Rena kecelakaan Ibu slalu melamun di jalan. Karna itu pasti perbuatan Ayah! Dan ini juga bukan salah penabrak itu. Tapi semuanya salah Ayah!" teriak Rena dengan marah di depan wajah sang Ayah.
"Beruntung aku sudah mau menerima mereka untuk kembali dengan Ayah! Tapi jangan suruh aku untuk tinggal bersama Ayah lagi." pekik Rena dengan kesal dan berlari keluar dari rumah kumuh itu yang di susul oleh pria yang ia anggap pamannya.
"Mmmpphhhh....mpphhh..." Wanita yang di sekap itu terus memberontak minta di lepaskan.
Pria itu menghampiri Wanita itu yang sebentar lagi akan menjadi istrinya kembali, Ia melepaskan kain yang membekap mulutnya dan ikat tali di tangan dan juga kakinya.
"Dasar! Bajingan!! Memang siapa yang mau kembali denganmu!!" teriak wanita itu setelah dilepaskannya.
"Apa kamu tidak ingin menikah lagi denganku? Bagaimana dengan anak kita yang menginginkan seorang Ayah?" tanya pria itu dengan nada sombong.
__ADS_1
"Ayah? Heehm... Dia tidak akan pernah membutuhkan Ayahnya, Baginya Ayahnya sudah mati." ucap Wanita itu dengan sinis.
"Apa maksudmu bilang aku sudah tiada?" tanya pria itu dengan nada sedikit emosi.
"Untuk apa mengingatmu di saat dirimu tidak memperdulikan kami? Kami bahkan hidup menderita dengan lontang lanting hanya untuk mencari makan sesuap nasi saja dengan susah payah! Untung saja ada seseorang yang slalu menolong kami, Apalagi dia sudah menganggap kami sebagai keluarganya. Kalau tidak kami tidak akan hidup tanpa bantuan darinya." jelas Wanita itu.
"Nia kenapa kamu tidak mempercayaiku? Aku ingin memulai hidup baru lagi denganmu seperti dulu." pinta Pria itu memelas.
"Sudahlah Bima! Aku tidak percaya lagi dengan sandiwaramu itu."
"Kau tahu? Dari dulu aku hanya mencintai kamu Nia! Tidak ada orang lain selain kamu di hati aku." rayu pria itu yang bernama Bima.
"Omong kosong!! Terus untuk apa kamu menikahi atasan kamu kalau bukan karena cinta?" tanya wanita itu dengan tatapan tajamnya.
"Bukan!! Aku menikahinya karna ingin mengambil hartanya saja. Tapi di saat aku ingin kembali padamu, Kamu di kabarkan mati kecelakaan dengan anak kita. Maka dari itu aku kembali ke dia lagi." jelas Bima.
"Aku sengaja untuk memberi kabar palsu itu kepadamu, Karna aku tidak sanggup untuk hidup dengan pria brengsek sepertimu!!" marahnya.
"Aku menikah lagi karna hanya ingin hartanya saja, Kamu ingat itu! Kalau tidak menikahinya bagaimana aku bisa mendapatkan uang banyak dan menafkahimu? Seandainya saja kamu tidak mengabarkan berita seperti itu, Mungkin aku udah bahagia sama kamu dan menceraiakan wanita itu."
"Sudahlah sekarang lepaskan aku, Aku tidak mau bertemu denganmu lagi." final wanita itu yang sudah capek berdebat.
"Aku akan melepaskanmu jika kamu mau menikah denganku lagi." ucapnya memberi pilihan.
"Maaf, Aku tetap tidak bisa." tolak wanita itu dengan halus.
"Harus pakai cara apalagi untuk kamu bisa mempercayaiku lagi Nia!" geram pria itu.
"Baiklah! Aku mau, Tapi dengan 3 syarat." ucap wanita itu memberi syarat.
"3 syarat? Memang apa syaratnya?" tanya Bima dengan tidak sabar.
"Setelah kita menikah, Syarat yang pertama, kamu tidak boleh menyentuhku selama 6 bulan. Yang kedua jangan pernah menemui putriku selama 6 bulan juga. Dan yang ketiga---" wanita itu menjeda ucapannya.
"Yang ketiga apa?" tanya Bima dengan penasaran.
"Yang ketiga, Jangan pernah membalas dendam lagi atas kematian istrimu itu." ucapnya dengan penuh penekanan.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Bima tak percaya dengan syarat yang di dengarnya.
"Karna ini demi anakmu itu."
"Aku ingin membalas dendam bukan karna itu, Tapi ada hal lain yang harus kami selesaikan dari masa lalu kita berdua."
"Hal lain apa,?" tanya wanita itu.
"Kamu tidak perlu tahu, Karna dia akan menjadi urusanku nanti. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya untuk memulai hidup baru kita lagi." ucapnya sambil memegang tangan wanita itu dan berlutut di hadapannya.
"Apa kamu menyetujui persyaratan ku?" tanya wanita itu.
"Iya aku setuju, Asal aku sudah kembali denganmu lagi." jawab pria itu merasa senang.
__ADS_1
"Kalau begini caranya, Aku akan lebih mudah untuk membalaskan dendamku padanya dengan sebagai tameng menggunakan dirimu." ucap pria itu dalam hati sambil tersenyum miring.