
Satu minggu telah berlalu, Saat ini adalah hari pertunangan El dan Dira. Mereka berdua belum bertemu sama sekali setelah terakhir Hikman ke rumah Mario. Mereka memang tidak di pertemukan dahulu karna usulan dari Aldo kepada omnya Mario agar tidak di pertemukan dahulu karna alasan El takut kabur dari rumah, Tapi bukan karna itu, Yang malah untuk memuluskan idenya karena ingin mengerjai sepupunya itu.
Dira juga menyetujuinya saat ia di rayu dengan rayuan andalan dari Papanya, Yaitu membelikan 5 ekor kucing intuk dirawatnya dan juga tidak ingin jauh - jauh dari keluarganya.
Saat ini di Hotel Hikman sedang memasang dekorasi interior yang sangat mewah yang bertema White Rose yaitu bunga kesukaan Dira yang melambangkan kesucian cinta.
Di kamar hotel no 35.
Dira sedang di rias oleh Mamanya sendiri yang seorang model yang sangat pintar merias orang, Dira di rias dengan riasan yang natural yang di olesi lipstick berwarna pink yang akan membuat aura kecantikannya bertambah dari kecantikan alaminya seperti Mamanya.
"Waahh!! Kak Dira cantik sekali!" kagum Dara senang sambil memuji kecantikan kakaknya yang belum pernah ia lihat.
"Kalau aku dandan seperti kakak pasti juga cantik deh!"
"Kamu begini saja sudah cantik kok." balas Dira juga memuji kecantikan adiknya sambil tersenyum.
"Kalau Dara sih, Memang sudah cantik dari orok kali kak."
"Sudah sudah! Ayo kita keluar. Katanya calon tunanganmu sudah datang." ucap Shafira saat melihat notifikasi di ponselnya.
"Ayo kak!" semangat Dara sambil menggandeng tangan kakaknya.
"Bentar Dar! Kakak lagi gugup nih! Jantung kakak deg deggan banget." ucap Dira yang berusaha menetralkan jantungnya yang sudah berdegup kencang saat ingin keluar.
"Yah kakak! Jangan nervous gitu dong! Di bawa santai saja ya?" ucap Dara menenangkan.
"Gimana Dar? Kakak takut nih!"
"Memang apa sih yang kakak takutin?"
"Kakak takut tunangan kakak tua dan jelek Dar, Kan kakak tidak tau rupa sama asal - usulnya." jawab Dira cemberut.
"Kakak tenang saja. Pilihan Papa itu adalah yang sangat terbaik! Dan kakak tau? Kalau tunangan kakak itu cakep, tampan, cool terus gayanya itu loh, Bikin aku jadi pangling dan ingin memiliki laki - laki sepertinya. Terus--"
"Emang kamu sudah tau sama orangnya?" tanya Dira yang memotong ucapan adiknya.
"Beeuuhh... Kalau Dara tidak tau, Gak mungkin Dara bisa sesemangat ini kak."
"Dasar kamu ini!"
"Dara! Dira! Mama sudah tungguin loh dari tadi di luar. Kalian masih saja enak ngobrol." tegur Shafira kepada dua putrinya.
"Iya Ma! Ini nih kak Dira katanya lagi nervous Ma!" adu Dara ke Mamanya.
"Nggk kok Ma, Dira cuma pusing kok." elaknya asal.
"Yee katanya gugup, Tapi kenapa malah ganti pusing?" protes Dara.
"Dira, Kamu beneran lagi pusing?" tanya Shafira cemas.
"Iya Ma, Tapi dikit kok." jawab Dira sambil tersenyum kecil.
"Ya sudah, Nanti habis acara kamu langsung istirahat ya?" nasehat Shafira.
"Iya Ma."
Tanpa gugup lagi, Kemudian mereka bertiga menuju ke tempat acara yang berada di lantai 5. Suasana di acara itu sangatlah ramai dua keluarga dari kedua insan ini yang mengundang teman bisnisnya masing - masing.
"Aahh kenapa kepalaku sangat pusing? Padahal aku tadi cuma asal bicara sama Mama. Kenapa sekarang jadi sunghuhan?" batin Dira yang slalu memegang kepalanya saat akan sampai di tempat acaranya.
__ADS_1
Dira berusaha tetap tegar walau penglihatannya terus berputar di depan matanya. Ia tidak ingin mempermalukan keluarganya kalau acaranya sampai batal.
Sampailah mereka ke tempat Hikman yang sedang berbincang - bincang dengan calon bisannya.
"Pa, Apa acaranya akan di mulai. Ini putri kita sudah sangat cantik Pa." tanya Shafira pada suaminya.
"Sebentar lagi Ma, Itu calon prianya masih ke toilet." jawab Hikman.
"Aduh, Calon mantu kamu cantik sekali sayang." puji Renita Mama El sambil membelai pipinya.
Dira hanya tersenyum menanggapinya.
"Ma! Dara ke tempat teman - teman dulu ya?" pamit Dara.
"Iya, Habis itu kesini lagi ya? Ajak kedua kakakmu juga." sahut Shafira.
"Baik Ma."
Kelima orang tengah berjalan ke arah Dira dari belakang dengan pelan - pelan tanpa mengeluarkan suara.
"Dira!" panggil Hikman.
"Iya Pa?"
"Papa ada kejutan buat kamu."
"Kejutan apa Pa?"
"Berputarlah kamu ke belakang."
Dira kemudian berputar ke belakang ia terperanjat ketika melihat sosok orang yang sudah lama ia rindukan.
Aurel hanya tersenyum dan merentangkan tangannya untuk sahabatnya. Lalu Dira menghamburkan diri kepelukan sahabatnya.
"Dir, Maafin aku ya? Aku tidak bisa ikut kamu kesini saat itu. Karna Ibu aku lagi kecelakaan, Dan maafin juga soal aku yang ninggalin kamu waktu di hotel." ucap Aurel merasa bersalah dan meneteskan air matanya.
"Tidak papa, Aku ngerti keadaanmu saat itu. Ini sepenuhnya bukan salah kamu kok, Aku yang terlalu ceroboh saat itu." jawab Dira yang juga ikut meneteskan air matanya.
"Kamu sudah tau belum siapa tunanganmu sekarang?" tanya Aurel setelah melepaskan pelukannya sambil mengusap air matanya menggunakan tissue.
"Aku belum tau, Soalnya dia lagi ke toilet kata om Mario." jawab Dira yang juga mengusap air matanya.
Aurel tersenyum jahil saat sahabatnya belum tau dengan tunangannya sendiri, Sedangkan ia sudah tahu dari Aldo tentang sahabatnya yang ingin di jodohkan oleh orang yang telah merenggut kesuciannya itu.
Aurel dan Aldo kini semakin dekat, Tapi mereka belum menyatakan cintanya masing - masing. Karna Aldo akan mengutarakan cintanya ke Aurel saat sepupunya sudah bertunangan, Baru ia akan maju untuk menembaknya.
"Hey, Kenapa kamu tersenyum begitu? Apa ada yang lucu denganku?" decak Dira saat melihat senyuman sahabatnya yang tak asing karna jika begitu ia akan mengerjai dirinya.
"Tidak ada kok!" elak Aurel berusaha untuk menahan senyumnya.
Semua para keluarga yang menyaksikan dua sahabat ini tersenyum simpul karna melihat ke harmonisan mereka berdua yang begitu akur.
Tiba - tiba dua orang pemuda datang dari arah belakang Dira.
"Pa! Dimana tunangan aku?" tanya El yang baru datang bersama Aldo sambil memingkis kemeja di lengannya.
"Ini di depanmu." jawab Mario.
"Ini dia yang gue tunggu - tunggu." gumam Aldo yang berada di samping El sambil tersenyum.
__ADS_1
Seketika itu Dira menoleh ke belakang saat dirasa suara dari pria itu sangat tak asing baginya. Dan ia kaget bukan main ketika tak ia sangka orang yang akan menjadi tunangannya adalah orang yang telah merenggut kesuciannya selama ini.
"El!?" pekik Dira sangat terkejut.
El yang masih fokus memingkis lengan kemejanya. Ia kemudian menoleh kedepan dan ia juga terkejut saat orang yang ia cari selama ini sudah ada di hadapannya lebih kejutnya lagi bahkan ia akan menjadi tunangannya, Sungguh di luar dugaan, Fikirnya.
"Dira!?" panggil El tak percaya.
"Heh, Emang kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Mario.
"Iya Om, Pa." jawab mereka berdua barengan.
"Kalau begitu, Kalian gak bakalan nolak lagi kan? Kalau sudah saling kenal?" ujar Renita.
"Iya, Dan Papa juga tidak usah susah payah merayu kamu, Kalau kalian sudah saling kenal." sambung Hikman juga.
"Kalau begitu mari kita mulai saja acaranya. Emang apalagi yang harus kita tunggu." sahut Shafira tak sabaran.
"Ayo!" jawab para orang tua serentak sambil menunju altar.
Sedangkan El, Dira, Aurel dan Aldo masih mematung saat melihat para orang tua yang begitu semangat. Mereka berfikir memang siapa yang bertunangan disini? Kenapa malah mereka yang begitu semangat sampai 45.
"Dir, Gue mau ngomong sama lo." ucap El memecahkan ke canggungan di antara mereka.
"Mau ngomong apa?" ketus Dira sambil memalingkan wajahnya.
"Rel, Kita kesana dulu yuk! Ke tempat para keluarga. Kalau disini tidak enak mengganggu mereka yang sedang di mabuk cinta." bisik Aldo ke Aurel yang peka dengan situasinya langsung mengajak Aurel pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dir maafin gue saat di hotel itu. Gue gak bermaksud ingin menjebak lo. Tapi ada seseorang yang ingin menjebak gue dengan menaruh obat perangsang di minuman gue, Ternyata minuman itu malah lo yang minum. Dan gue juga sudah janji sama lo saat itu akan bertanggung jawab dengan menikahi lo secepatnya." jelas El merasa bersalah.
"Tapi kita kan masih sekolah. Terus bagaimana perasaan kamu sama cinta pertamamu itu? Masih adakah?" tanya Dira ketus.
"Sudah tidak ada! Semenjak lo pergi ninggalin gue, Hati gue sudah sepenuhnya untuk lo. Pada saat itu gue susah tidur dan jarang makan, Karna slalu mikirin lo. Dan gue slalu bayangin lo ada disisi gue. Untuk sekarang dan sampai akhir hayat nanti gue nggk mau lo ninggalin gue lagi." jawab El panjang lebar sambil meraih kedua telapak tangan Dira.
"Oke. Aku pegang janji kamu itu dan untuk saat ini aku akan tunangan sama kamu." balas Dira sambil tersenyum kecut. Karna saat ini ia begitu pusing dan ruangan ini seraya ikut berputar mengelilinginya.
El juga membalas senyumannya." Kalau begitu ayo kita kesana." ajak El sambil merangkul pundaknya.
Baru dua langkah saja, Dira kemudian ambruk dan tak sadarkan diri di pangkuan El. Kalau El tidak segera menangkapnya maka ia akan jatuh ke lantai.
"Dira!!" pekik El terkejut ketika melihat calon tunangannya pingsan.
Orang - orang yang berada disana menghamburi El semua ketika mendengar pekikkannya.
Semua para keluarga menghampiri dan membelah kerumunan yang terdapat mempelai wanitanya yang sedang pingsan.
"Dira!!" pekik mereka semua.
"El! cepat kau bawa putriku ke kamarnya. Mario cepat kau telfon dokter!" panik Hikman.
"Baik om!" jawab El yang juga ikut panik.
"Maaf, Biar aku yang saja periksa, Aku juga seorang dokter." jawab Dokter Faris sahabat dari Mario yang ikut hadir dalam acara tersebut.
"Baiklah, Mari kita langsung bawa ke kamarnya." ucap Hikman yang sudah sangat panik.
Mereka semua menuju ke kamar Dira yang berada di no 35 di lantai yang sama.
Karna Hikman sudah mempacking lantai 5 untuk acaranya yang terdapat 20 kamar. Lantai 5 adalah lantai terbesar dan terluas dari lantai yang lainnya.
__ADS_1