Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 41


__ADS_3

Kini mereka tengah sarapan dengan tenang di kantin sekolah.


"Lihat tuh, Itukan cewek yang waktu itu?" ucap Eka dan gengnya yang duduk bersebelahan dengan El dkk dan juga ada Dira, Dara dan Aurel.


"Iya, Kenapa dia duduk dengan cucu pemilik sekolah ini?" sambung Ria teman gengnya.


"Paling mereka cuma mau manfaatin Dara." balas Tesa yang melihat Dira dengan tatapan benci.


"Bagaimana kalau kita samperin?" ujar Eka yang langsung di setujui mereka berdua.


"Boleh, Tapi Lo yang di depan!" perintah Tesa.


"Oke. Siapa takut!" balas Eka langsung menyetujui perintahnya


"Kak El, Kami boleh gabung gak?" tanya Eka setelah mereka sudah ada di hadapan El dkk.


El dkk dan Dira dkk tidak memperdulikan Eka dan para gengnya yang sedang menghampirinya.


"Kak El, Kok gak di jawab sih?!" tanya Eka dengan nada kesal.


"Dari pada kalian mau bikin ribut lagi disini, Mending kalian cari meja lain. Sebelum ada singa betina yang menerkam kalian." ucap Azar yang menjawab pertanyaan Eka.


"Ish, Kami gak peduli! Maupun itu singa kek, buaya kek, beruang kek atau apalah kami gak takut!" tantang Eka dengan nada sombongnya.


"Kalian mau pergi dari sini, Atau aku seret kalian ke kolam belakang sekolah?" ancam Aldo yang sudah kehabisan kesabaran.


"Kak Aldo kenapa sih? Bukannya kemarin menyukai kami ya?" tanya Tesa yang tak habis fikir dengan sikap kakak kelasnya itu.


"Apa Lo bilang?" tanya Aurel yang sudah beranjak dari duduknya ingin menghajar mereka.


"Kak Aldo suka sama gua!!" ucap Tesa mengulang perkataannya.


"Heh jangan mimpi Lo ya!" balas Aurel sambil mendorong pundak Tesa ke belakang.


"Aauuchhhh....Sakit tauk!" pekik Tesa yang merasa kesakitan di bagian pundaknya karna di dorong terlalu kasar.


"Bodoh!! Bagaimana Aldo bisa suka sama Lo yang sikapnya aja kayak ja***g ha!! Apalagi wajah Lo tak secantik wajah gue dan juga hati Lo begitu busuk dan munafik!" Hina Aurel dengan pedas pada Tesa.


Tesa yang mendengar perkataan Aurel yang menghina dirinya begitu emosi sambil mengepalkan tangannya dengan erat sampai telapak tangan yang di cengakramnya mengeluarkan darah.


"Ya! Gue emang ja***g gue emang gak cantik dari Lo!! gue emang munafik dan hati gue juga busuk! Dan sekarang Lo mau apa ha!!" tantang Tesa dengan mengulang perkataan Aurel dengan menghina dirinya sendiri.


"Baguslah kalau Lo tahu diri." sambung Dara seraya bersedekap dada.


"Jangan ikut campur Lo Dar! Asal kalian tahu? Hidup kalian itu enak damai dan tentram Sedangkan gue? Walaupun gue--. Akkhhh... lebih baik kita pergi dari sini. " Tesa tak melanjutkan ucapannya dan langsung pergi meninggalkan mereka semua dengan matanya yang sudah berkaca - kaca ketika mengingat keluarganya yang sudah hancur.

__ADS_1


"Pasti Tesa mengingat keluarganya lagi." gumam Ria teman gengnya.


"Iya, Kita samperin saja, Takutnya kenapa - napa!!" ajak Eka dengan menyusul Tesa yang sudah jauh dari hadapannya.


"Ada apa dengannya?" heran Dira.


"Tau, Aku gak mau urus mereka yang udah berani kurang ajar sama gue!!" jawab Aurel dengan bodo amat dengan urusan mereka.


Seorang pria tampan tengah berlari ke arah El dkk dan Dira dkk.


"Hoss...hoss...hoss... Apa ka..Lian.. liat adikku?" tanya pria itu yaitu Xelan.


"Udah pergi!" jawab El dengan datar tanpa ekspresi.


"Oh, Jadi dia adik Lo? Hei, kalau punya adik itu di didik dengan baik dong! Mau jadi apa dia setelah lulus sekolah? Sifatnya yang sekarang aja udah kayak gitu. Apalagi kalau udah gede paling jadi kupu - kupu malam!" sindir Rehan dengan pedasnya.


Xelan yang sedang menetralkan jantungnya tak sengaja mendengar ucapan Rehan yang berusaha mengatai adiknya dengan ucapan kotor. Xelan yang tak terima adiknya di katai seperti itu, Menarik kerah baju Rehan.


"Lo kalau ngomong jangan asal ngomong ya? Adik gue itu sebenarnya baik! Jika Lo tidak tau apa - apa tentang adik gue jangan ikut campur urusan adik gue!! Dia jadi begini karna dia telah kehilangan orang yang dia sayang selama ini. Walaupun dia begitu sekarang gue tetep menyayanginya. Jika Lo ada di posisi gue, Dan adik Lo di katai seperti itu oleh orang lain apa hati Lo gak sakit? Lo pikirin itu dengan otak Lo!!" jelas Xelan langsung melepaskan kerah Rehan dengan kasar.


"Kenapa dia semarah itu?" tanya Rehan dengan bingung.


"Ya jelaslah dia marah, Lo aja nyindir adiknya parah banget!!" celetuk Azar.


"Kok jadi gue sih? Gue aja gak ngomong sama sekali dari tadi." bela Azar juga tak terima.


"Sudah, Sudah!! Kita semua harus minta maaf sama dia termasuk Aurel juga." usul Dira pada semuanya.


"Kok aku sih Dir? Kalau mereka gak nyamperin kita, Mungkin kita udah tenang dari tadi. Seharusnya mereka yang harus minta maaf duluan sama kita. Karna mereka yang sudah memancing emosi kita duluan." tolak Aurel yang tidak mau meminta maaf.


"Bener kata kak Aurel kak, Mereka yang harusnya minta maaf duluan sama kita." sambung Dara membela Aurel.


"Tapi Dar---"


"Sudah, sudah ngapain kalian harus ributin hal kecil seperti itu? Toh dia bukan siapa - siapa kita." celetuk Ergan.


"Bocil di larang mampir!!" kompak mereka semua mengatai Ergan kecuali El.


"Iya iya deh, Ergan emang bocil yang masih minum empot ibu." pasrah Ergan.


"Itu bukan empot caleus, Tapi---" ucapan Rehan terpotong ketika melihat tatapan tajam ketiga singa betina di depannya yang sudah siap menerkamnya.


"Tapi apa Hem?" tanya Dira dengan menyipitkan matanya ke arah Rehan.


"Maksud bang Rehan itu paling bakpau buatan Alam kali kak!" sela Ergan menjawab pertanyaan Dira.

__ADS_1


"bakpau?" ketiga cewek itu keliatan bingung dengan perkataan Ergan.


"Mau Er jelasin?"


"Jangan - jangan!! Kalau kalian ikut penjelasan bocah bau kencur ini, Jika otak kalian sudah lurus akan menjadi belok." ucap Azar menyela ucapan Ergan.


"Maksudnya gimana sih? Au ah, Aku gak ngerti sama kalian bertiga. Aku mau ke kelas aja." ucap Dira yang tidak paham dengan ucapan mereka bertiga kemudian berlalu meninggalkannya.


***


Di perusahaan PT. Gunadarma grup seorang pria paruhbaya tengah memukuli salah satu orang kepercayaannya yang sudah berkhianat.


"Hik! Sudahlah, Jika kau terus memukpulinya dia tidak akan jera. Mending kamu langsung tembak saja kepalanya." ucap Pria paruhbaya yang sedang duduk santai di sofa sambil melipat korannya yang telah dibacanya.


"Kau benar!" ucap Hikman yang sudah memukuli kedua bawahannya itu dan berdiri dari jongkoknya.


"Ampun Tuan! Maafkan kami, Kami janji tidak akan mengkhianati Tuan lagi." ucap salah satu karyawan itu sambil bersimpuh di kaki Hikman.


"Iya Tuan maafkan kami, Siapa yang akan menafkahi keluarga kami jika kami mati?" sambung karyawan satunya.


"Orang seperti kalian harus di beri hukuman mati, Dan kalian juga tidak pantas menjadi kepala keluarga, Jika kalian mati kami yang akan membiayai semua kebutuhan keluarga kalian." ucap pria paruh baya yang masih duduk di sofa itu.


"Tapi Tuan kami juga masih ingin hidup." ucap karyawan itu bersamaan seraya mengatupkan kedua tangannya.


Dor


Dor


Hikman yang sudah lelah mendengar keluhan mereka, Langsung menembaknya dengan pistol emas kesayangannya yang berharga mengenai jidatnya masing - masing.


"Aku sudah lelah dengan perbuatan mereka, Sudah berapa kali mereka melakukannya."


"Mario, Kau suruh anak buahmu membuangnya ke tangki khusus belakang markas. Agar identitas mereka tidak di temukan oleh polisi." perintah Hikman pada sahabat karibnya.


"Baiklah, Setelah itu rencana apa yang akan kita susun untuk menyerang keluarga Z itu? Agar mereka tidak semakin menjauh mengincar anak - anak kita termasuk Dira dan El." ucap Mario pria paruh baya yang sedari tadi duduk di sofa ruangan itu.


"Besok kita akan menyusun rencananya, Sekarang kita bahas bagaimana cara menyelamatkan Dira dan bayinya? Kata dokter setelah umur kandungannya 5 bulan Dira akan sering pingsan karna penyakit jantungnya itu. Aku juga tidak mau kehilangan keduanya." ucap Hikman merasa panik dengan keadaan putrinya yang sekarang, Apalagi putrinya sedang mengandung cucunya.


"Kalau soal itu gampang, Aku sudah menyiapkan dokter khusus untuknya yaitu istri teman masa kecilku dia adalah dokter spesialis Obgyn dan temanku juga dokter spesialis ahli bedah. Mereka sudah ku beritahu untuk menyelamatkan menantu dan cucuku saat lahiran nanti."jelas Mario dengan tenang.


"Kalau urusan Penyakitnya itu kamu bisa menyuruh anak ketigamu untuk membuat ramuan penguat jantung apakah bisa?" usul Mario.


"Oh iya, Kenapa aku tidak kepikiran kesitu? Aku akan menghubungi Garda langsung untuk membuat ramuan itu secepatnya." balas Hikman sambil merogoh ponsel di saku jasnya dan mencari nama anaknya di kontak poselnya.


"Itulah akibatmu slalu sibuk dengan pekerjaan." sindir Mario dengan menasehati.

__ADS_1


__ADS_2