Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 34


__ADS_3

Di Kelas Xll jurusan AKA lV.


"Lo apa - apaan sih tadi?" tanya El pada Aldo setelah mereka di kelas.


"Maaf, Gue hanya ingin buat dia cemburu!" jawab Aldo.


"Cemburu? Iya memang dia udah cemburu setelah gue lihat dari raut wajahnya. Tapi Lo tau gak? Kalau dia akan stres saat merasakan sakit hati." ucap El memberitahu.


"Dari mana Lo tahu kalau dia akan stres" tanya Aldo balik.


"Dira menceritakan semua kelemahan dirinya dan juga Aurel sama gue. Makanya dia cepet - cepet ngejar Aurel karena takut terjadi apa - apa dengannya." jelas El.


"Kenapa Lo gak bilang dari tadi? Sekarang di mana mereka?" tanya Aldo panik.


"Mending jangan dulu, Biar istri gue yang bakal nenanginnya. Kalau dia ngelihat Lo, Dia akan ngamuk - ngamuk sama Lo." nasehat El.


"Gue gak peduli, Gue ingin ketemu cewek gue sekarang. Dimana mereka sekarang?" tanya Aldo lagi dengan keras kepalanya.


"Terserah lo deh! Mereka sekarang berada di halaman belakang sekolah."


Tanpa basa - basi lagi Aldo langsung pergi menemui Aurel di halaman belakang sekolah, Sebab ia takut terjadi apa - apa dengan Aurel. Dan ke empat temannya juga ikut menyusul.


Di halaman belakang sekolah.


Aurel tengah meluapkan seluruh emosinya dengan berteriak kencang. Ia sangat sakit hati melihat kelakuan cowoknya yang berusaha ingin membuatnya cemburu.


"Aaakkhhh.... Brengsek Lo Aldo! Dasar bajingan!" teriak Aurel seperti orang gila.


"Sudah Rel, Tenangin diri kamu agar penyakitmu tidak kumat." ucap Dira menenangkan sambil memeluk sahabatnya.


"Aku benci sama dia Dir, Aku benci." lirih Aurel yang sudah menangis dalam pelukan sahabatnya.


"Kenapa kamu slalu terbawa emosi? Aku tau kalau Aldo itu cuma mau buat kamu cemburu." kata Dira menjelaskan.


"Aku tau kalau Aldo ingin aku cemburu Dir, Tapi hati aku tidak bisa menahan sesaknya." balas Aurel.


"Sudah tenang kak, Kak Aldo nanti pasti menyesal telah membuat kakak jadi seperti ini." ucap Dara ikut menenangkan dengan mengelus pundaknya.


"Kamu tidak tahu apa kelemahan kami berdua Dar?" tanya Dira.


"Nggak kak!" jawab Dara sambil menggeleng pelan.


"Kelemahan kita ada dua Dar, Tapi yang satunya berbeda." kata Dira.


"Memang apa kelemahan kalian berdua?" tanya Dara penasaran.


"Tapi kamu janji ya, Jangan bilang siapa - siapa kecuali kita bertiga." ucap Dira sambil memberikan jari kelingkingnya ke arah adiknya.


"Dara janji kak." janji Dara serius sambil menautkan jarinya kelingkingnya dengan jari kelingking kakaknya.


Dira melepaskan pelukannya dahulu terhadap sahabatnya kemudian ia mulai menceritakan kelemahannya ke adik perempuannya.


"Begini, Kelemahan kakak yang pertama adalah ketika merasakan sakit hati atau emosi kakak dan Aurel akan menjadi stres dengan segala fikiran. Ya kalau tidak stres bisa jadi pingsan, Maka dari itu kakak dan Aurel tidak pernah berpacaran karena takut merasakan sakit hati. Dan untung saja kakak sudah menikah dengan kakak iparmu. Terus yang kedua---"


"Tapi kenapa kak Aurel mau berpacaran dengan kak Aldo?" tanya Dara memotong penjelasan kakaknya.


"Ya, Karna Aldo saudara kakak iparmu. Dan mereka akan menikah setelah lulus sekolah. Maka dari itu ia dengan mudah menerimanya." jelas Dira lagi.


"Ooohhh..." Dara hanya ber oh ria saja sambil mangut - mangut." Terus yang kedua tadi apa kak?" tanya Dara lagi masih penasaran.


"Makanya kalau orang lagi ngomong jangan asal potong." kesal Dira.


"Hehe.. Maap kak, Dara kepo soalnya." jawab Dara sambil cengeesan.


Dira memutar bolanya malas dan menceritakan kelanjutannya." Yang kedua, Kakak mempunyai kelemahan jantung." ucap Dira pelan.


"Apa? Yang bener kak?" kaget Dara memastikan.


Dira hanya mengangguk menanggapinya.


"Apa Mama, Papa dan kakak ipar sudah tau?" tanya Dara lagi.


"Mama sama Papa belum tau. Tapi kakak iparmu sudah tahu sendiri tanpa ku beri tahu." lirih Dira.


"Kenapa kakak bisa sembunyiin hal besar seperti ini sih!? Apalagi sekarang kakak lagi hamil. Gimana kalau kakak melahirkan nanti bakal terjadi apa - apa dengan kakak dan bayi kakak?" cerocos Dara memarahi kakaknya..

__ADS_1


"Hey tenanglah! Kakakmu ini kuat kok, Pasti kakak bisa menjalaninya nanti." ucap Dira menyemangati diri sendiri seraya menenangkan adiknya.


"Jadi ini alasan kakak tidak mau memberi tahu para keluarga tentang kehamilan kakak?" tebak Dara.


"Tidak, Bukan itu. Tapi ada masalah lain yang akan kita hadapi nanti." ucap Dira yang sudah serius sambil menatap lurus ke depan.


"Masalah lain apa kak?" tanya Dara.


"Nanti kamu bakal tahu sendiri." jawab Dira yang masih menatap lurus.


Aurel yang sudah tenang, Hanya menyimak pembicaraan kakak beradik itu. Tanpa ikut campur urusan mereka.


Sementara di balik pohon besar yang berada di halaman belakang sekolah, Seseorang tengah menguping pembicaraan para ketiga gadis itu kemudian berlalu Dari tempatnya.


"El lihat gak siapa yang berada di balik pohon itu?" tunjuk Aldo yang melihat seseorang di balik pohon tengah memperhatikan para gadisnya.


"Paling dia maha siswa sekolah ini." jawab El tanpa memperdulikannya.


"Sudahlah, Jangan pedulikan dia. Mending urus dulu tuh, Cewek Lo!" peringat El.


"Oke." singkat Aldo lalu menghampiri ketiga gadis yang sedang duduk berdampingan di kursi panjang.


"Aurel!" panggil Aldo setelah sampai di tempat para gadis.


Aurel menoleh tanpa menjawab, Dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


Aldo menghampiri gadisnya sambil memegang tangannya, Tapi langsung di tepis oleh sang empu.


"Mau apa Lo kesini?" ketus Aurel tanpa menatapnya.


"Rel, Gue ingin maaf atas kejadian tadi. Tolong maafin gue." maaf Aldo sambil bertekuk lutut di bawah Aurel.


"Gue belum tau kalau Lo punya kelemahan." ucap Aldo menatap sendu Aurel.


"Kalau sekarang Lo udah tau?" tanya Aurel sambil tersenyum sinis.


"Iya, Gue sekarang menyesalinya." sesal Aldo.


"Lo mau maafin gue kan?" pinta Aldo.


"Syarat? Palingan syaratnya harus menghargai seorang cewek seperti Dira dulu. Tidak papa deh, Yang penting itu gampang dan gak berat - berat." batin Aldo bermonolog.


"Oke. Tapi apa syaratnya?" tanya Aldo cepat.


"Syaratnya gampang--" Aurel menjeda ucapannya.


Aldo yang mendengar kata gampang ia tersenyum puas, Karna ia tahu syaratnya pasti tidak akan aneh - aneh.


"Yaitu Lo harus naik pohon mangga itu dan ambilin mangga buat kita bertiga terutama Dira yang lagi hamil." ucap Aurel.


Aldo yang awalnya sudah tersetrum puas dengan syarat yang ia bayangkan, Malah sebaliknya. Dan memudarkan seyumannya menjadi melengkung ke bawah.


"Yang bener saja Lo? Masak gue harus naik pohon mangga itu? Gue kan belum pengalaman!" tolak Aldo beralasan.


"Ya sudah kalau tak mau, Jangan harap bisa dapat maaf dari gue." ancam Aurel.


"Hayoloh! Gak usah maafin Rel kalau dianya gak mau" sahut Dira mengompori.


"Hey! Jangan kompor Lo!" balas Aldo sambil menuding Dira.


"Heh! Ini istri gue! Jangan coba - coba." ancam El sambil menepis tangan saudaranya.


"Udahlah kak naik aja, Wong pohon mangganya kecil kok! Nanti Er semangatin deh saat naik." timpal Ergan.


"Dasar bocah! Emang Lo kira ini lomba?" sahut Aldo kesal.


"Iya, Anggap saja lomba panjat pohon." imbuh Azar.


"Brengsek kalian semua! Bukannya membela malah mendukung. Sahabat macam apa kalian?" ucap Aldo mendrama.


"Lo mau di beri maaf cewek Lo gak? Kalau gak mau ya udah! Biar Aurel sama gue." ucap Rehan memanas - manasi.


Aldo yang mendengar ucapan Rehan membola."Sembarangan kalau ngomong tuh cucut." ucap Aldo tak terima.


"Makanya dong! Berjuang demi sebuah cinta." ucap Rehan lagi.

__ADS_1


"Oke. Gue bakal panjat pohon mangga itu. Tapi setelah itu beri gue sebuah kiss." pinta Aldo.


"Oke." jawab Aurel cepat seraya mengacungkan jempolnya.


Aldo langsung berbinar ketika Aurel menjawabnya dengan cepat. Dan langsung memanjat pohon mangga yang berada di halaman belakang sekolah tanpa di suruh lagi.


"Rel, Emang kamu mau nyium dia?" tanya Dira.


"Enak aja. Ya nggak lah! Aku gak bakal cium dia yang bukan muhrim." jawab Aurel.


"Terus mau kamu apain? Kenapa langsung jawab oke?"


"Tenang aja, Aku punya ide kok." ucap Aurel sambil tersenyum jahil.


"Emang apa yang mau kamu lakuin?" tanya Dira kepo.


"Mau tau?"


Jawab Dira mengangguk.


"Sini, Aku bisikin." ucap Aurel mendekatkan bibirnya ke telinga Dira dan membisikan sesuatu ke telinganya.


"Gimana ide aku?" tanya Aurel setelah berbisik.


"Bagus! Baru kali ini kamu pinter." puji Dira.


"Hey, Emang aku udah pinter dari dulu." sahut Aurel.


"Iya iya aku maklumi." ucap Dira malas.


"Kalian lagi ngomongin apa? Kok bisik - bisik?" sela Dara mengalihkan ponselnya menatap mereka berdua.


"Ada deh, Bocah gak perlu tau." ucap Aurel.


"Gue bukan bocah! Gue udah dewasa." sanggah Dara.


"Nih mangganya." ucap Aldo memberikan 3 buah mangga kepada mereka bertiga setelah selesai memanjat.


"Itu cukup kan satu - satu." sambungnya.


"Cukup kok! Makasih ya." kata Dira.


"Gimana maaf sama kiss gue?" pinta Aldo.


"Kalau maaf sih, Udah gue maafin. Tapi kalau kissnya harus merem dulu." ucap Aurel memberi saran.


"Harus merem segala?"


"Iya, Kalau Lo gak mau ya sudah!" ketus Aurel.


"Iya iya gue merem." ucap Aldo yang mulai menutup matanya sambil membayangkan bibir lembut Aurel menyentuh bibirnya.


"Oke, Di mulai ya?"


Aurel mengkode ke arah Rehan untuk membuka kaos kakinya. Rehan yang belum ngerti langsung menyetujuinya.


"Cup, Emuachh..."


"Udah kok!" jawab Aurel.


"Kok kasar? Terus bau lagi." ucap Aldo yang masih memejamkan matanya.


"Iya, Itu Aurel belum sikat gigi." jawab Dira.


"Sialan kamu!" umpat Aurel.


Pada saat itu para teman semuanya menahan tawanya, Di saat Aurel mengerjai Aldo. Yaitu menciumkan kaos kaki milik Rehan dengan di gulung bulat dan di tempelkan di bibir Aldo dengan sekilas.


Setelah Aldo membuka matanya, Aurel langsung membunyikan kaos kaki Rehan dan di buangnya ke sembarang arah.


"Gimana?" tanya Rehan sambil menahan tawanya.


"Bau dan rasanya asem." tutur Aldo.


"Hahahaha........" semua orang terbahak - bahak sambil menahan perutnya mendengar penuturan Aldo.

__ADS_1


Aldo yang di buatnya merasa bingung dengan tingkah para temannya itu.


__ADS_2