
Semua para keluarga sedang menunggu keadaan Dira yang masih di periksa.
"Ma! Bagaimana keadaan kak Dira? Katanya dia pingsan?" tanya Dara yang baru datang bersama kedua saudara kembarnya dengan cemas.
"Mama juga belum tau dokter masih memeriksanya." jawab Shafira menatap sendu putrinya yang terbaring.
Hikman yang masih sangat cemas dengan keadaan putrinya, Menghampiri calon bisannya.
"Mario, Kamu temui para tamu undangan dulu. Agar mereka tidak pulang tanpa hadirnya kita, Beritahu mereka kalau pertunangan ini tidak batal, Melainkan hanya di tunda dulu sampai putriku siuman."
"Baiklah, Aku keluar dulu."
"Hmm."
Setelah bisannya keluar bersamaan dengan dokter yang selesai memeriksanya. Para keluarga segera menghampiri dokter faris dengan berbagai pertanyaan.
"Dok, Bagaimana anak saya?" tanya Shafira.
"Iya bagaimana keadaan cucu saya dok?" sambung Nek Risma.
"Om gimana keadaannya?" cemas El.
"Oke. Keadaannya baik - baik saja. Ia hanya kecape'an saja.?" jawab dokter tersenyum kecil dan netra matanya melirik anak sahabatnya.
"Syukurlah!!" semua para keluarga merasa lega.
Dokter faris menghampiri anak sahabatnya" El, Om mau bicara sama kamu sebentar." bisik dokter faris di telinga El sambil melangkahkan kakinya keluar.
El yang bingung dengan bisikan omnya, Tanpa bertanya ia langsung mengikutinya dari belakang.
Setelah diluar dokter faris tengah berbicara serius bersama El dengan empat mata.
"El, Apa setelah kejadian itu. Kamu pergi meninggalkannya?" tanya dokter serius.
"Bukan aku yang pergi, Malah di yang telah meninggalkanku tanpa jejak." jawab El datar.
"Setelah itu kau mencarinya?" tanya dokter lagi.
"Aku sudah mencarinya sampai ke ujung dunia pun selama di pergi, Sekarang dan di tempat ini aku bertemu kembali dengannya. Aku pun baru tahu kalau di adalah anak dari Hikman Anggara yang di jodohkan denganku." jawab El yang masih datar.
"Apa kamu tahu kemana di pergi?"
"Dia di sembunyikan oleh ayahnya sendiri yang notabenya adalah seorang mafia juga om. Aku dulunya sudah berusaha untuk mencarinya tapi slalu gagal. Malah aku yang saling bertempur dalam ngehack dengan calon mertuaku sendiri." jawab El malas ketika ia tahu siapa Dira dan calon mertuanya itu.
"Apa? Kamu bertempur dengan mertuamu sendiri? Lucu sekali... Hahaha..." dokter mengulang pertanyaan El dengan menertawainya.
"Ck, Emang apa sih tujuan om ngajak aku kesini?" kesal El saat dirinya di tertawakan.
Setelah puas tertawa dokter mengubah ekspresinya menjadi serius lagi." Begini El, Dira sekarang sedang hamil."
"Apa! Om bercanda kan?" tanya El tak percaya.
"El, Kamu lihat wajah om apakah om terlihat bercanda? Om baru tau tadi kalau calon tunanganmu adalah wanita yang telah kamu tiduri di hotel waktu itu." jelas dokter.
"Aku hanya ingin menolongnya waktu itu om." sahut El.
"Om tau menolong hal itu memang sangat enak, Apalagi yang di tolong masih virgin. Tapi di dalam rahimnya itu adalah benih kamu El, Dan kamu harus cepat menikahinya sebelum perutnya membesar."
__ADS_1
"Aku tahu itu om, Tapi bagaimana aku harus mengatakannya kepada mereka semua?" tanya El yang sekarang tidak bisa berfikir jernih.
"Itu adalah urusan dan tanggung jawabmu."
"Memang berapa usia kandungannya om?" tanya El lagi.
"Om belum tau karna om bukan dokter spesialis kandungan, Jika kamu ingin tahu berapa usia kandungannya datanglah ke rumah om, Agar istri om yang akan memeriksanya." saran dokter Faris.
"Memang tante Elis tidak ikut?"
"Tidak, Karna ia sedang ada tugas dan juga menjaga anak - anak di sana."
"Ck, Percuma aku harus tanya ke om, Kalau tante Elis masih di Negara J." kesal El dengan sahabat Papanya.
El kemudian pergi ke kamar Dira lagi berjalan dengan lemas dan tak semangat.
"Dari mana kamu?" tanya Mamanya Renita yang melihat putranya masuk.
"Dari luar." singkat El.
"Gimana? Apakah Dira sudah sadar Ma?" tanya El yang melihat calon tunangannya masih memejamkan matanya.
"Iya, Tadi dia sudah sadar dan sekarang ia sedang istirahat." sahut Mamanya.
El memandangi para orang tua satu persatu."Ma, Om, Tante. El mau bicara dengan kalian."
"Mau bicara apa?" jawab Hikman.
"Tapi jangan disini, Diluar saja." ujar El langsung melangkahkan kakinya keluar.
"Baiklah." jawab mereka serempak dan mengekori El dari belakang.
"Baik Ma," jawab mereka bersamaan.
Sedangkan Garda ia keluar lagi setelah kakaknya sadar dan sekarang tak tau kemana ia pergi. Ia belum sepenuhnya menerima keberadaan kakaknya, Makanya ia sering menjauh darinya.
Setelah mereka sampai di luar ruangan.
"Apa yang mau kamu bicarakan Varo?." tanya Mamanya setelah mereka di luar.
"Begini Ma, Om, Tante. Bagaimana El dengan Dira langsung menikah saja tidak usah tunangan." jawab El langsung ke intinya.
"Kenapa kamu tiba - tiba buru - buru sekali? Waktu kita jodohkan saja kamu sempat menolaknya." bingung Renita dengan anak sulungnya.
"Ck, Kemaren saja bilang kita suruh cepat - cepat menikah, Tapi sekarang El yang minta kenapa Mama jadi sewot?"
"Bukan begitu Varo, Mama bingung saja sama kamu, Tiba - tiba saja kamu berubah fikiran." sanggahnya.
"Sudah sudah! Lebik baik kita nikahkan saja mereka langsung, Sebelum acaranya di mulai. Aku akan suruh asistenku untuk memanggil penghulu." sahut Hikman melerai perdebatan ibu dan anak itu.
"Makasih om." jawab El sambil menyunggingkan senyumnya ke atas.
***
Para keluarga dan juga tamu undangan berkumpul di tempat akad yang sudah mereka renovasi lagi. Sekarang mereka mengubahnya menjadi acara pernikahan.
El duduk di depan calon Papa mertuanya dan penghulu, di sampingnya adalah Dira calon istrinya.
__ADS_1
Sedangkan para keluarga duduk di belakangnya sambil menyaksikan. Saat ini ia menjabat tangan calon mertuanya yang akan menjadi mertuanya setelah ini.
El sangat gugup ketika menjabat tangan calon mertuanya karna ini pertama kalinya ia akan menikah. Ia berusaha untuk mengatur nafasnya yang berdetak tak karuan akibat dari ke gugupannya, Dira pun juga begitu.
Dengan satu tarikan nafas saja El telah berhasil
menjawab semua yang di katakan oleh Papa mertuanya dengan lancar.
Sehinga kata SAH keluar dari mulut para tamu undangan yang menggema di dalam ruangan.
Akhirnya mereka telah sah menjadi suami istri yang sakinah, Mawadah, Warohmah.
Kemudian Dira mencium telapak tangan El yang kini telah menjadi suaminya. El pun juga balik menciumi kening Dira dengan lembut.
Setelah acara akad selesai, Saatnya mereka menuju ke altar pernikahan untuk menyalami para tamu undangan satu persatu.
Saat giliran teman - temannya.
"Selamat bro, Sekarang lo sudah menjadi suami." ucap Aldo sambil menepuk bahu sepupunya.
"Makasih, Emang lo sama dia kapan nyusulnya?" tanya El menunjuk Aurel dengan dagunya yang sedang berbincang dengan Nabila.
"Nembak aja belom, Kenapa udah kesitu? Mending lo doain aja deh semoga cepet - cepet." jawab Aldo yang berlalu ke arah Dira.
"Dir, Selamat ya?"
"Iya makasih."
"Lo hati - hati nanti malam ya? Dia itu seperti singa ganas." bisiknya ke Dira dan berlalu sambil tersenyum jahil.
"Apa? Singa ganas?" gumam Dira dengan bingung yang masih di dengar El.
Tapi El mengabaikannnya dulu karna masih sibuk menyalami para tamu.
"Bro selamat ya, Maaf gue terlambat datang karna di perjalanan tadi mobil kita bannya bocor." ucap Azar sambil menyalaminya.
"Santai saja, Yang penting lo kesini." sahut El.
Azar beralih ke Dira." Dir, Selamat ya? Kamu telah berhasil menaklukkan hati es." bisik Azar kemudian pergi.
"Weehh... Sudah jadi suami orang nih. Selamat ya, Moga kalian terus bersatu sampai dunia akherat." celetuk Rehan saat gilirannya.
"Amiiinn...Makasih!" jawab mereka bersamaan.
"Dir, Lo hati - hati ya? Sama keris saktinya? Karna kerisnya begitu besar dan tajam." bisik Rehan juga dengan yang aneh - aneh.
Setelah selesai saling salam - menyalami mereka tetap duduk di altar pernikahannya sampai acara lempar bunga, Setelah itu selesai.
"Apa yang mereka bisikin ke lo tadi?" tanya El setelah selesai bersalaman.
"Aldo Katanya gue suruh hati - hati karna lo seperti singa ganas, Azar bilang aku telah berhasil menaklukkan hati es, Tapi yang Rehan aku tidak paham deh!." jawab Dira dengan polosnya.
"Memang apa yang Rehan katakan?" tanya El lagi yang penasaran.
"Dia bilang aku harus hati - hati sama keris saktimu, Karna keris saktimu begitu besar dan tajam katanya. Emang kamu mau bunuh aku ya?" tanya Dira lagi dengan polos.
"Ck, Udah jangan di dengerin omongan mereka, Memang mereka semua itu seperti orang stres."
__ADS_1
"Iya."
"Kam***t mereka emang telah mengompori istriku yang aneh - aneh." batin El kesal.