Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 40


__ADS_3

"Papa kamu baru datang tadi pagi sayang, Kamu kenapa seperti takut begitu ngomong sama kita?" tanya Safhira heran dengan raut wajah anaknya yang seperti ketakutan.


"Tidak Ma, Dira hanya sedikit pusing saja." bohong Dira.


"Kalau kamu pusing mending tidak usah sekolah! Istirahat saja di kamar." nasehat Hikman lembut.


"Tidak Pa, Dira tetep mau sekolah. Supaya bisa cepet lulus!" tolak Dira dengan pelan.


"Ya sudah, Kalian semua berangkatnya satu mobil ya? Soalnya Mama takut terjadi apa - apa dengan kalian, Karna perasaan Mama tidak enak." saran Shafira dengan perasaan hati tak menentu.


"Gak! Garda akan naik motor sendiri!" tolak Garda.


"Garda! Ini demi keselamatan kamu dan semuanya! "bantah Shafira.


"Pokoknya Garda gak mau Ma! Apalagi dengan dia!" tunjuk Garda pada kakak kandungnya menolak ajakan Mamanya.


"Garda! Dia kakak kamu! Kenapa kamu tidak menerima kakakmu?" tanya Shafira tak habis fikir dengan anak kembar satunya.


"Kakak apa kalau menyuruh orang untuk memperdayaiku? Gara - gara dia Garda di manfaatin oleh seseorang Ma! Kalau bukan Karna Dara yang menyukainya aku tidak sudi menerima dia jadi kakakku!!" bantah Garda pada Mamanya.


"Garda!! Mama tidak pernah mengajarimu seperti itu!! Kenapa sifat kamu berubah hanya karna kakakmu berada di keluarga ini? Mama sama Papa mengajaknya kesini, Karna kakakmu tidak pernah merasakan kasih sayang dan hidup mewah sepertimu!! Apa kamu belum cukup dengan segala harta, kemewahan, fasilitas yang kami berikan ke kamu dan juga kasih sayang dari Mama dan Papa? Sedangkan kakakmu hidup dengan sederhana tanpa fasilitas apapun selama 15 tahun apa kamu sanggup jika itu berada di posisi kamu?" jelas Shafira panjang lebar.


Sedangkan El yang mendengar perkataan adik iparnya yang sedang mengatai istrinya, Mengepalkan tangannya dengan kuat sampai kuku - kukunya memutih. Ia ingin sekali menghajar adik iparnya itu dengan tangannya yang sudah gatal, Tapi tidak enak jika menghajarnya di depan semuanya apalagi di depan para mertuanya.


"Sudahlah Ma, Dira tidak papa. Mama jangan pernah memarahi Garda lagi, Dira tau kalau Garda masih butuh waktu untuk menerima Dira." ucap Dira sambil memeluk Mamanya dari samping.


"Cihh.. sok drama lagi." Garda berdecih sambil meninggalkan para keluarganya.


"Kamu yang sabar ya? Jangan di ambil hati perkataan adik kamu itu." ucap El menenangkan istrinya yang sudah berkaca - kaca atas perkataan adik kandungnya sendiri.


"Iya." jawab Dira tersenyum menatap suaminya sambil menghapus air matanya yang sudah jatuh.


"Garda!!" panggil Shafira dengan frustasi yang tak habis fikir dengan tingkah anaknya yang sekarang.


Dira menghampiri Mamanya."Sudah Ma, Biar Dira yang ngomong dengan Garda secara baik - baik." ucap Dira menenangkan Mamanya dengan mengelus lengan Mamanya.


"Iya, Kamu jelaskan ya?" jawab Shafira dengan lesu.


"Ya Ma, Ya sudah, Kalau begitu Dira berangkat ya Pa Ma!" pamit Dira pada keluarganya sambil menyalami tangan keduanya.


"El juga berangkat Ma." El juga menyalami para mertuanya yang diikuti para temannya.


"Kalian hati - hati di jalan ya?" nasehat Shafira.


"Baik Ma, Tante." jawab mereka bersamaan.


***

__ADS_1


Saat ini mereka telah sampai di sekolah, Dira dan Aurel langsung memasuki kelasnya, Sedangkan El dan para temannya masih diam diparkirran.


"Er, Ambilin ponsel gue dong di jok depan." suruh Rehan pada Ergan.


"Emang kaki sama tangan kakak kemana?" tanya Ergan dengan ketus.


"Ini masih ada" jawab Rehan menyahuti pertanyaan Ergan sambil menunjuk kaki dan tangannya.


"Terus gunanya tangan dan kaki apa?" bukannya mengambil Ergan malah terus memberi pertanyaan.


"Ya kalau kaki buat jalan lah,"


"Terus kalau tangan?" tanya Ergan lagi.


"Kalau tangan buat makan, megang dan mengambil?" jawab Rehan tanpa tahu maksud Ergan.


"Lah itu tahu, Kalau masih punya tangan dan kaki mending ambil sendiri. Terus buat apa gunanya punya tangan dan kaki kalau tidak di manfaatin?"


"Brengsek Lo! Cuma di suruh ambil handphone saja udah itung - itungan Lo!" kesal Rehan yang langsung mengambil handphonenya sendiri di dalam mobil.


"Biarin wlek! Suruh siapa nyuruh orang yang lebih muda." sewot Ergan.


"Emang kan yang harus di suruh kan lebih muda Er! Kalau nyuruh yang lebih tua ntar kualat Lo!!" nyambung Azar yang hanya jadi pendengar dari tadi.


"Sudah, Jangan ribut muluk ayo masuk!" ajak Aldo pada semua temanya.


Di saat mereka ingin masuk ke gerbang, Tiba motor sport hitam menghadang di depan mereka dengan cekatan, Juga ia memakai helm fullfacenya yang menutupi semua bagian kepalanya.


"Siapa dia?" Aldo bertanya pada El.


Yang di tanyai malah diam membisu terus menatap orang yang belum turun dari motor sport itu.


"Sepertinya dia cewek, Liat saja dia menggunakan rok!" kata Ergan dengan nada berbisik.


"Ya kalau menggunakan rok pastilah cewek ban***t, Kalau nggak memang ada cowok pakek rok?!!" balas Rehan dengan kesal.


"Siapa Lo?!" tanya El dengan nada dinginnya.


Cewek itu tak menjawab, Malah mengambil permen lollipop yang berada di saku depannya kemudian mengemutnya dengan tenang sambil duduk di atas motor sportnya yang sedang di standar.


"Jika gue menunjukkan wajah gue, Kalian akan terkejut termasuk Lo El!" jawab cewek itu sambil menunjuk El.


"Terkejut? Emang wajah Lo kayak hantu ya harus terkejut segala?" tanya Ergan menyambar.


"Kok Lo tau nama gue?" tanya El masih dengan nada dinginnya.


"Siapa yang gak tau Lo? Cowok yang pernah mengisi hati gue? dan juga Lo, Yang di hati Lo cuma ada gue dulu."

__ADS_1


"Siapa yang pernah mengisi hati El? Jangan ngarep deh Lo! Pasti Lo habis jatuh dari tuh motor terus lihat cowok tampan di depan Lo terus ngarep - ngarep ingin jadi pacarnya? Mimpi Lo!!" ejek Rehan dengan pedas pada cewek itu.


"Heh gue gak ngimpi! Kalian lihat nih, Gue akan buka helm gue. Gue berharap kalian masih ingat dengan wajah cantik gue ini." ucap cewek itu dengan PDnya karna tak terima dengan ejekan Rehan.


"Idih.... Wajah cantik, Yang ada pasti wajah gosong tuh!" ejek Ergan juga.


Cewek itu menggeram kesal mendengar ejekan mereka, Ia ingin segera mencopot helm itu tapi sangat kesusahan, Mereka berlima menunggu cewek itu yang ingin membuka helm fullfacenya tapi tak selang berapa lama bel sekolah tiba tandanya mereka masuk kelas.


"Sudahlah, Nunggu cewek ngaku - ngaku ini, Bisa karatan kita nunggu 1 abad." ucap Rehan mengajak mereka meninggalkan cewek itu.


Tanpa di suruh pun mereka langsung pergi, Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Hei!! Tunggu!! kalian belum liat wajah gue!!" pekik wanita itu sambil membuka helmnya yang sangat kesusahan.


"Ahh! Susah amat sih helm beginian. Kenapa tadi gak minta ajarin paman cara bukanya? Masak iya gue masuk kelas pakek helm begini? Bisa rusak harga diri gue di ketawain teman sekelas." gerutu cewek itu dengan kesal.


"Mau aku bantu?" tawar seorang pria tampan yang juga mahasiswa sekolah itu yang baru saja datang.


"Siapa kamu?" bukannya menjawab cewek itu malah balik bertanya.


"Mau aku bantu bukain apa nggak?" jawab pria tampan itu mengulang perkataannya.


"Iya nih tolong bantuin, Susah amat cara bukanya!"


"Pasti yang make'in bukan kamu sendiri kan?" tanya pria tampan itu.


"Kok kamu tau? Kamu punya ingatan spesial ya?" tanya Cewek itu dengan menebaknya.


"Nggk kok!" jawab pria itu singkat.


"Kenapa bisa tau?"


"Jika kamu yang makek sendiri helm ini, Gak mungkin kesusahan kalau bukanya." jawab pria itu dengan lembut sembari berusaha melepas helm cewek itu.


"Sudah!" ucap pria itu setelah selesai membukakan helmnya.


"Makasih ya?" cewek itu mengucapkan terimakasih pada pria itu.


"Oh ya, Siapa nama kamu?" tanya cewek itu pada pria yang telah membantunya sambil menyodorkan tangannya.


"Gue Rena." ucap cewek itu menjawab duluan.


"Gue Xelan." balas Xelan sambil menerima uluran tangannya.


Ya, Mereka adalah Rena dan Xelan.


Kemudian mereka memasuki gerbang sekolah dan berpisah di gerbang untuk menuju ke kelas mereka masing - masing.

__ADS_1


"Makasih Xelan! Sampai bertemu kembali!!" ucap Rena dengan sedikit berteriak ketika mereka sudah berada di jarak yang jauh.


Xelan yang di panggilnya berhenti melangkah dan menoleh sekilas untuk menampilkan senyum termanisnya, Kemudian kembali melangkahkan kakinya ke kelas.


__ADS_2