Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 39


__ADS_3

Semua para keluarga berkumpul di kamar Aurel, Termasuk keluarga El juga. Mereka telah di kabarkan kalau Aurel pingsan. Kecuali Hikman, Karna ia berada di luar negri untuk mengurus perusahan cabangnya yang sudah semakin meluas dimana - mana.


"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Shafira dengan cemas.


"Dia tidak apa - apa, Dia hanya sedikit syok. Apa dia punya penyakit lain?" tanya Dokter.


"Mmm tidak dok! Dia tidak punya penyakit apa - apa. Memangnya kenapa dok." tanya Dira balik.


"Begini jantungnya sangat lemah sekali. Dan denyut nadinya juga berkurang. Apa yang membuatnya syok?" tanya Dokter lagi.


Tidak ada yang menyahuti pertanyaan dokter. Semua orang hanya berdiam diri menyaksikan termasuk Dira juga, Karna ia bingung harus mengatakan apa? Ia tahu semuanya tapi ia tidak mau memberitahunya.


"Dira sayang, Kenapa kamu tidak menjawab dokter? Kan kamu lebih mengenal Aurel dari pada kami?" tanya Shafira pada putrinya yang tengah melamun.


"Ah iya Ma. Mmm tidak ada dok! Aurel pasti hanya kecapean. Ya walaupun aku mengenal Aurel dari dulu. Tapi aku juga tidak tahu apa - apa Ma." jawab Dira dengan berbohong.


Dira tidak mau jika memberitahu dokter tentang penyakit sahabatnya, Karna ia takut kelemahannya juga akan terbongkar. Apalagi di kamar Aurel banyak keluarga yang menjenguknya dan Dira tidak mau merepotkan para keluarga tentang penyakitnya. Karna ia akan merahasiakan itu semampunya.


"Ya sudah, Kalau tidak ada yang di butuhkan lagi. Saya pamit." pamit Dokter ingin keluar.


"Iya mari silahkan dok!" jawab Shafira mengantarkan dokter itu keluar.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan kakak! Dia seperti meyembunyikan sesuatu dari kami. Aku tahu dari raut wajahnya kalau kakak berbohong." batin Garen yang juga berada disana. Ia bisa membaca raut wajah seseorang yang sedang berbohong atau menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa kakak harus berbohong sih! Apa dia mau menyembunyikan hal ini selamanya?" batin Dara dengan raut wajah kesal.


Sedangkan Garda berada di kamarnya. Walaupun sekarang sedang ada riuh - piuh di rumah itu. Ia tidak pernah memperdulikannya, Karna ia sangat malas dengan semuanya. Semenjak ada kakak sulungnya di rumah itu sifatnya berubah, Juga jarang berkumpul dengan keluarga atau bermain dengan saudaranya saja, Dan ia sekarang lebih suka menyendiri di kamarnya. Entah apa yang sudah membuatnya jadi begitu.


Saat ini semua orang sudah keluar dari kamar Aurel, Dan hanya menyisakan Dira dan Dara saja di kamar itu.


Tapi Aurel masih saja belum sadar.


"Kak! Kenapa kakak harus berbohong? Kenapa kakak tidak memberitahu semuanya tentang kak Aurel? Apa kakak takut jika kelemahan kakak juga akan terbongkar?" tanya Dara bertuntun ketika mereka sudah berdua.


"Kamu diamlah Dara, Jangan bertanya hal itu lagi. Sudah berapa kali kakak bilang? Kakak tidak akan memberitahu semuanya. Kakak juga tidak mau merepotkan mereka semua termasuk kamu." jawab Dira.


"Memang siapa yang merasa di repotkan kak? Kakak sekarang adalah keluarga kami, Keluarga kandung bukan tiri. Tapi kenapa kakak tidak--- Akkhhh malas bicara dengan kakak lagi. Kakak memang keras kepala." marah Dara merasa frustasi dan keluar dari sana meninggalkan mereka berdua.


"Dara Dara!! Tunggu!! Kakak bisa jelasin semuanya!!" pekik Dira ketika adiknya sudah hilang di balik pintu.


"Apa aku salah menyembunyikan semua ini? Aku tahu kalau semuanya sayang sama aku. Tapi aku tidak bisa berkata jujur tentang penyakit ini, Mulutku seperti terkunci oleh sebuah gembok besar." lirih Dira meneteskan air matanya.


"Maafkan kakak Dara, Nanti kamu akan tahu sendiri kenapa kakak menyembunyikan semua ini dari mereka." batin Dira yang masih menangis.


Tiba - tiba jari jemari Aurel menghapus air mata Dira yang berada di sampingnya saat sedang menunduk.


Dira tersentak ketika tangan sahabatnya menyentuh pipi mulusnya.


"Aurel kamu sudah sadar?" tanya Dira senang dengan cepat menghapus air matanya.


"Aku sudah sadar dari tadi, Saat kamu berdebat dengan Dara." lirih Aurel.


"Jadi kamu mendengar semuanya yang kita bicarakan?" tanya Dira memastikan.


Aurel tersenyum kecut dan menjawab." Iya,"


"Rel maafin aku ya? Aku tidak bermaksud menyembunyikan penyakit kamu dari mereka. Tapi, Aku tidak mau mereka juga tahu tentang aku." sedih Dira merasa bersalah dengan sahabatnya.


"Kenapa kamu harus menyembunyikan semua ini Dir? Apa kamu tidak berpikir kedepannya bagaimana kamu akan menghadapi semua ini? Apalagi kamu sekarang sedang hamil. Tolong pikirkan lagi pilihanmu itu Dir sebelum semuanya terlambat. Agar kamu tidak akan menyesal di kemudian hari." balas Aurel memperingati sahabatnya yang sangat keras kepala.


"Tidak Rel, Aku tidak akan pernah membuka mulut pada siapapun tentang ini. Biarkan saja aku menjalaninya sendiri kalau kamu tidak mau ikut campur. Aku melakukan semua ini karna ada alasan tertentu Rel, Kamu tidak pernah tau apa yang aku rasakan sekarang." gumam Dira yang meneteskan air matanya kembali.

__ADS_1


"Apa kamu mau mati dengan anakmu? Apa kamu tidak kasihan pada suamimu atau keluargamu yang sudah merawatmu sejak kecil? Apa kamu akan membiarkan aku seorang diri tanpa adanya teman curhat lagi? Jika kamu mati aku juga akan mati Dir. Tolong pikirkan lagi egomu, Jangan terlalu egois Dir." marah Aurel karna ia tak habis pikir dengan sahabatnya yang sangat keras kepala.


"Apa kamu mendoakan anakku mati Rel? Jika kamu mendoakan aku mati, Aku ikhlas tapi jangan pernah kamu bilang anakku akan mati juga, Dia akan selamat nanti walau tanpa ibunya. Dia juga akan jadi Anak yang penurut pada Aunty, Ayah dan juga Opa dan Omanya. Dan El, Dia pasti langsung move on dari aku juga dengan cepat mencari penggantiku nanti" ucap Dira tersenyum kaku sambil memeluk perutnya erat.


"Segitu gampangnya kamu bicara seperti itu Dir? Dimana otakmu sekarang? Apa otakmu sudah miring setelah kamu hamil?"


Aurel tersenyum miris. "Dasar keras kepala!" umpat Aurel dengan marah."Mending kamu keluar dari sini Dir, Aku ingin istirahat."usirnya.


Lalu Aurel mengambil selimutnya dan menutupi semua tubuhnya sambil membelakangi Dira.


"Kamu ngusir aku?" ucap Dira merasa berasalah atas tindakannya.


Aurel tak menjawab, Ia belum tidur tapi mengabaikan ucapan Dira.


"Rel, Maafin aku. Aku tahu aku salah. Tapi kamu akan tahu maksud aku nanti Rel." lirih Dira kemudian ia berlalu dari kamar sahabatnya.


"Dir, Dimana sifat kamu yang dulu? Yang begitu sayang pada keluarga. Aku tidak tahu maksud dan tujuan kamu apa? Tapi aku juga tidak mau kehilangan kamu sedikit pun Dira." batin Aurel menangis di balik selimutnya.


Tanpa di sadari Aurel terlelap dengan sendirinya, Karna sangat lelah menghadapi dua masalah tentang ibu dan sahabatnya.


***


Tiba hari sudah sangat pagi.


Saat ini para keluarga tengah sarapan di ruang makan.


Dira baru turun dari tangganya dengan hati - hati.


"Pagi All!!" sapa Dira pada semuanya.


Tapi tidak ada yang menyahutinya sama sekali.


Semua masih tidak menjawab dan mengabaikannya termasuk suaminya sendiri.


"Eh, Papa. Papa kapan datang?" tanya Dira pada Papanya yang sedang makan.


Tiiinngg


Hikman membanting sendoknya dengan kasar, Ketika putrinya bertanya. Dan beranjak menghampiri putrinya sambil menatapnya dengan tajam.


Dira kaget sekaligus takut ketika Papanya membanting sendoknya, Apalagi tatapan matanya yang tajam membuatnya semakin takut. Karna tidak biasanya Papanya seperti ini, Dira tidak habis fikir Kenapa keluarganya jadi berubah.


Plaaakkk


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Dira.


Dira menatap semua orang yang berada di meja makan, Dan tatapan matanya berhenti pada El suaminya.


Tapi El yang sedang di tatapnya malah menyantap makanannya dengan santai, Seperti tidak terjadi apa - apa.


"Kenapa Papa lakukan semua ini ke Dira? Dira anak Papa. Anak kandung Papa!!" pekik Dira sambil menangis.


"Kamu bukan anak kami lagi!! Dasar!! Anak tidak tahu di untung!! Kenapa kamu merahasiakan semua ini dari kami ha!!" Shafira yang menjawab sambil memaki putrinya sendiri.


"Ma? Mama kenapa?" tanya Dira tak habis fikir dengan sifat Mamanya yang sekarang. Yang sifatnya sangat lembut berubah menjadi garang.


"Apa maksud kalian semua?" tanya Dira bingung.


Plaaakkk


Satu tamparan lagi mendarat di pipi mulus Dira.

__ADS_1


Tapi bukan Mama atau Papanya yang menampar, Melainkan suaminya sendiri yang tanpa basa - basi langsung menamparnya.


"Ayah?" Dira mengeluarkan satu kata lagi dan sebuah tangan akan mendarat di pipinya lagi.


"Tidaaakkkk!!" teriak Dira dengan keras.


"Kenapa Bunda?" tanya El yang berada di sampingnya.


Dira langsung terbangun dari tidurnya dan langsung memeluk suaminya dengan erat.


"Ayah, Maafin Bunda. Ayah jangan marah lagi sama Bunda. Bunda janji akan lakuin apa yang Ayah mau." ucap Dira yang masih memeluk suaminya dengan kencang.


El mengernyitkan alisnya, Ia heran dengan kata - kata istrinya.


"Uhukk ...uhukkk.... Jangan kenceng - kenceng dong! Ayah gak bisa nafas nih!!" ucap El yang suaranya seperti tercekat yang di buat - buat.


Dira melonggarkan pelukannya dan menatap suaminya." Apa Ayah gak mau maafin Bunda? Apa Ayah masih marah sama Bunda?" tanya Dira yang matanya sudah berkaca - kaca.


"Apa sih maksud Bunda? Ayah gak ngerti. Memang Bunda minta maaf tentang apa? Apa Bunda punya salah sama Ayah?" tanya El yang masih heran.


"Tadi Ayah nampar Bunda hampir dua kali." jawab Dira yang air matanya sudah jatuh.


"Kapan hemm? Pasti kamu sedang mimpi buruk ya kan?" tanya El memastikan.


Dira hanya mengangguk pelan.


El menangkup wajah istrinya dan menghapus air matanya lalu memeluknya kembali." Makanya kalau mau tidur harus cuci muka dulu. Habis itu baca Doa sebelum tidur." nasehat El.


"Maaf Bunda lupa Yah!" jawab Dira pelan.


"Ya sudah, Sekarang kita tidur lagi. Masih jam 3 loh! Kurang 2 jam lagi kita bangun." ucap El sambil mengecup kening istrinya.


El kemudian membaringkan istrinya di tangan kanannya yang menjadi bantalannya sambil mengelus - elus kepalanya dan mengecupnya berkali - kali.


Tangan satunya sedang mengelus perut istrinya yang sudah sedikit membuncit. Ia juga ikut terlelap dengan pulas menyusul istrinya ke alam mimpi.


***


Keesokan paginya, Saat ini mereka sudah bersiap - siap untuk berangkat ke Sekolahnya.


Dira sangat letih sekali, Seperti tidak mempunyai semangat hidup, Karna dari mimpinya yang semalam seperti begitu buruk di sepanjang hidupnya.


Dira tidak menyapa para keluarganya yang sudah menikmati sarapannya di meja makan. Dia takut kejadian di mimpinya takut menjadi nyata.


"Dira sayang! Kamu kenapa?" tanya Shafira dengan lembut.


"Dira tidak papa Ma." jawab Dira tersenyum kikuk.


Dira memandang orang - orang yang sedang makan satu persatu dengan perasaan was - was.


Dan matanya kini tertuju pada papanya yang sedang makan berada di ujung meja.


"Ma?" jawab Dira takut - takut.


Shafira menatap putrinya dengan senyumnya yang manis." Iya, Ada apa sayang?"


"Dira mau tanya boleh?" pinta Dira sambil menunduk.


"Kenapa tidak boleh sayang? Mau bertanya saja masak kamu harus minta ijin?" tanya Shafira balik.


"Mmm Papa kapan datang Ma?" tanya Dira ragu sambil menunduk dan memejamkan matanya. Takut Papanya akan membanting sendoknya lagi. fikirnya.

__ADS_1


__ADS_2