
Semua para tamu telah bubar, Sekarang mereka berdua telah berada di kamar hotel no. 35. Para keluarga juga begitu mereka menginap dengan pasangannya masing - masing kecuali yang singgle.
"Dir?" panggil El.
"Hmm.." sahut Dira yang sibuk dengan ponselnya.
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu." ucap El mendekati istrinya yang sedang duduk berselonjor di atas ranjang.
"Mau bicara apa?" jawab Dira tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kamu lagi apa sih?" kesal El dengan istrinya yang sibuk menatap ponselnya.
"Hehe... Maaf ya? Aku lagi sibuk ngedit foto kita nih yang di ambil Aurel tadi." Dira mendongak ke arah suminya sambil cengeesan.
"Oh aku kira apa."
"Emang kamu mau bicara apa?" tanya Dira.
"Mending kita ubah dulu panggilan kita, Jangan panggil nama." saran El.
"Memang mau panggil apa?"
"Gimana kalau Ayah Bunda?" usul El.
"Kita kan belum punya anak, Kenapa harus manggil gitu? Bukannya sayang atau apalah." protes Dira.
"Kata siapa kita belum punya?" jawab El sambil tersenyum.
"Memang kita punya? Mana?" tanya Dira polos.
"Disini Bunda." jawab El sambil mengelus perut Dira dan menciuminya bertubi - tubi.
"Aaww... Udah! Geli tau." cemberut Dira.
"Kamu serius El?" tanya Dira dengan panggilan awalnya.
El mencubit hidung istrinya gemas." Emm apa yang aku bilang tadi hemm?"
"Hehehe... A- yah?" jawab Dira yang belum terbiasa.
"Istri pintar!" El mencubit hidung istrinya lagi.
"Udah udah sakit tau, Nanti hidung aku panjang kayak pinokio lagi." kesal Dira.
El hanya tersenyum melihat istrinya kesal, Karna itu hal yang menggemaskan baginya.
"Mulai sekarang kamu harus hati - hati jangan keluar tanpa ada aku di samping kamu, Karna disini ada malaikat kecil kita." tegas El sambil mengelus perut istrinya berkali - kali.
"Yah! Padahal kita melakukannya hanya satu kali loh, Kenapa bisa langsung jadi ya?" tanya Dira polos.
"Tanyakan saja sama malaikat kecil kita, Kenapa ia bisa secepat itu berada disini." jawab El dengan santai.
"Ishh.. Tanya serius juga." kesal Dira.
"Sudah kita tidur saja sudah malam! Apa kamu tidak capek? Kalau tidak kita bertempur dulu gimana?" ajak El mengedipkan sebelah matanya dan terseyum mesum.
"Hoaamm aku ngantuk yah, Aku tidur dulu ya... bye" Dira beralasan agar tidak diterkam, Sambil menarik bed covernya sampai menutupi semua tubuhnya.
"Hmm lagi ngehindar dia." gumam El geleng - geleng kepala melihat kelakuan istrinya yang ingin menghindar.
El kemudian langsung menyusul istrinya yang sudah terlelap dulu tanpa melakukan apapun. Karna ia mengerti kalau istrinya sedang capek apalagi sekarang sedang mengandung buah hatinya.
***
Keesokan paginya, Mereka masih di hotel dan sekarang berkumpul di ruang makan VIP pribadi yang terdiri dari 1 meja panjang dan 30 kursi makan.
Mereka semua sedang menyantap makanannya masing - masing sambil berbincang - bincang satu sama lain.
"Ma, Pa semuanya, El sama Dira siang nanti mau pergi jalan - jalan keliling kota ini." ucap El mengalihkan pandangan semua orang.
"Emang kamu tahu arah jalan kota ini?" tanya Mario.
"Kita akan bareng Dara kok! Ya kan Dar?" jawab Dira nyambung.
__ADS_1
"Uhukk... Kok aku?" bingung Dara.
"Kamu kemaren kan yang bilang katanya mau ajak kakak pergi jalan - jalan, Kan kamu yang tahu tempat ini?" ucap Dira sambil mengerlingkan matanya.
"Kapan? Kan ada kak Garen dan kak-- Loh kak Garda kemana kok gak ada disini?" heran Dara yang tidak melihat keberadaan kakaknya.
"Garda ijin sama Papa tadi malam, Katanya mau pulang mansion duluan." sambung Hikman.
"Oh, Baiklah! Nanti Dara yang anter kalian." pasrah Dara.
"Thanks you Dar." jawab Dira senang.
"Emang kalian mau pergi jalan - jalan kemana?" tanya Shafira.
"Kemana saja yang penting Dira gak sumpek di rumah terus, Masak dari Dira disini gak pernah keluar sama sekali." keluhnya.
"Gimana mau jalan - jalan? Kamunya aja tidur terus." jawab Shafira.
"Habisnya ngantuk terus sih, Mungkin bawaan de--" Dira menjeda ucapannya.
"De? De apa?" tanya Shafira penasaran.
Dira menoleh ingin meminta izin untuk memberitahu kehamilannya.
El menggeleng seakan tidak memberi izin.
"Mmm derita anak baik ma! Hehe..." elak Dira dengan menjawab asal.
"Hmm" Shafira menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri sulungya.
Setelah mereka makan, Mereka pulang ke mansion Anggara, kecuali keluarga Rafardhan yang tetap ingin menginap di hotel, Mereka telah di ajak untuk menginap di mansion Anggara tetapi mereka menolak ajakannya karna alasan tak mau merepotkannya.
Sekarang El, Dira dan Dara sedang berada di mobil, Untuk menuju ke suatu tempat.
"Rumah sakit terbesar disini dimana?" tanya El ke adik iparnya.
"Kenapa kakak malah ingin ke rumah sakit?" Dara balik bertanya dengan heran.
"Kamu nanti akan tahu sendiri, Sekarang tunjukan dimana tempatnya?" tanya El lagi.
"Oke." kemudian El melajukan mobilnya ke tempat yang di tujunya yaitu rumah sakit terbesar di negara J.
Dara yang masih penasaran hanya diam tak ingin bicara lagi, Karna kata kakak iparnya ia akan tahu sendiri kenapa mereka ingin kesana.
Setelah sampai di rumah sakit Cancer institute Hospital El memarkirkan mobilnya dulu di parkiran, Setelah itu ia turun untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Hati - hati." ucap El khawatir sambil memegang tangan istrinya ketika ingin turun.
"Ish, Kamu ini lebay banget sih, Cuma turun dari mobil juga." sewot Dira.
Dara yang melihat reaksi kakak iparnya yang berlebihan menjadi heran." Segitu waspadanya kakak ipar sama kak Dira?"
"Emang kakak sakit kah?" tanya Dara ketika kakaknya di awasi dengan posesif oleh kakak iparnya.
"Iya, Kakakmu sakitnya dua kali lipat." jawab El.
"Apanya sih? Yang dua kali lipat?" kesal Dira kepada suaminya sambil menepuk bahunya dengan keras.
"Ya kamulah Bun." jawab El dengan santai.
"Sudahlah! Kita masuk saja." ajak Dira pada keduanya.
"Emang ada apa sih dengan mereka?" gumam Dara sambil menatap kakaknya yang sudah menjauh dari hadapannya.
Dara yang masih bingung dan penasaran dengan ucapan kakaknya tersentak ketika kakaknya memanggilnya dan langsung berlari menuju kakak - kakaknya yang sudah jauh.
Setelah sampai di ruangan yang mereka tuju." Doter spesialis kandungan?" gumam Dara heran saat membaca nama ruangan tepat di atas pintu ruangan yang mereka tuju.
"Kenapa kakak kesini?" tanya Dara lagi yang tetap penasaran.
"Emang kamu tidak baca ini tempat apa?" Dira bertanya balik kepada adiknya.
"Dokter spesialis kandungan." jawab Dara cepat dan tanpa sadar.
__ADS_1
Setelah sadar, Ia membuka mulutnya lebar - lebar." Jangan bilang kakak--- Lagi hamil?" tebak Dara kaget setengah mati.
Sedangkan kedua pasangan itu hanya tersenyum ketika mebdengar tebakan adiknya benar.
"Oh may gat! Berarti aku akan punya ponakan dong!!" seru Dara dengan sedikit teriak.
"Jangan keras - keras! Malu di lihat yang laen tuh." nasehat Dira dengan berbisik.
"Ups...Hehe maaf." Malu Dara ketika orang lain di depannya memandangnya dengan aneh.
Seorang Suster menghampiri mereka.
"Kalian mau periksa, Chek up atau apa?" tanya Suster sambil membawa alat tulisnya.
"Istri saya mau periksa sus." jawab El.
"Sudah mendaftar?" tanya Suster lagi.
"Belum Sus."
"Silahkan daftarkan istrinya di ruang administrasi dan beritahu apa keluhannya." sahut Suster.
"Baik Sus, Ruang administrasinya di mana Sus?" tanya El yang tidak tau tempatnya.
"Disana, Mari saya antar."
"Ayah! Mau daftar dulu ya Bun." pamit El pada istrinya.
"Iya yah." jawab Dira dengan tersenyum.
"Cieee.... Sekarang lagi manggil Ayah Bundaan ya, So sweet banget sih kakak. Jadi pingin deh!" Baper Dara.
"Heh! Gak boleh masih bocah! Masih sekolah juga" tegur Dira.
"Kakak bawa kaca gak?" tanya Dara.
"Buat apa?" Bingung Dira.
"Pantes kalau ngomong gak ngaca dulu. Lah! Sendirinya juga kan masih sekolah." gerutu Dara.
"Kakak mah beda, Kakak kan udah ada suami. Lah kamu? pacar aja gak punya, Malah sok - so'an pengen." ketus Dara.
"Kalau pacar sih gampang! Tinggal nunjuk aja udah punya." jawab Dara santai.
"Emang kamu kira makanan main tunjuk aja terus kamu embat?" protes Dira.
"Kenapa? Emang siapa sih yang tidak mau sama aku yang cantik, Dan badan kayak gitar spanyol ini?" sombong Dara.
"Sombong nih! Kakak sumpahin kamu dapet cowok yang galak nantinya."
"Jangan gitu dong kak! Emang kakak gak kacian apa lihat adiknya tersiksa?" melas Dara.
"Makanya jangan sombong!" saran Dira.
"Ya deh, Nggk lagi." cemberut Dara.
"Kak doain yang baik ya? Biar dapet jodoh yang kayak kakak ipar udah tampan, Baik dan perhatian lagi." puji Dara.
"Mmm Iya, Awalnya sih gak baik, Tapi setelah kejadian itu-- Ah sudahlah." Dira tak melanjutkan ucapannya.
"Kejadian apa kak? Dan kenapa kakak bisa cepat hamil? Kan cuma kemaren malam kakak menikah? Secepat itukah jadinya?" tanya Dara dengan polos.
"Nanti kakak cerita setelah sampai rumah, Dan kamu ingat jangan beritahu para keluarga dulu termasuk Papa sama Mama." sara Dira.
"Memang kenapa para keluarga gak boleh tahu?" heran Dara.
"Kakak akan buat kejutan ke mereka nanti." jawab Dira sambil tersenyum.
"Waahh... Seru dong kak." Antusias Dara.
Dira hanya mengangguk dengan ke Antusiasan adiknya.
"Bun, Ayo kita masuk! Ayah sudah daftar." ucap El yang baru saja selesai mendaftar.
__ADS_1
"Ayo, Dara juga ikut! Dara pengeng liat ponakan Dara." jawab Dara semangat.
Kedua kakaknya tersenyum sambil saling pandang melihat adiknya yang begitu semangat ingin meliahat keponakannya.