Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 36


__ADS_3

Waktu istirahat.


"Hey!" panggil Xelan pelan pada Dira yang sedang duduk di depan kelas Xll dengan sendiri.


Dira hanya tersenyum menanggapinya.


"Nunggu siapa?" tanya Xelan.


"Mmm nunggu kak El." jawabnya.


"El? Dia lagi di lapangan basket sama teman - temannya." ucap Xelan memberitahu.


"Sejak kapan?"


"Tadi sebelum bel istirahat, Ia keluar dulu karna guru kami tadi sedang tidak mengajar."


"Makasih ya? Atas informasinya." sahut Dira sambil berlalu tanpa menunggu jawaban dari Xelan.


"Memang ada hubungan apa dia dengannya? Apakah mereka bener sudah bertunangan?" tanya Xelan pada diri sendiri.


"Ah, Lebih baik gue ke tempat Tesa. Palingan dia sudah bikin onar lagi." ucapnya sambil berlalu.


Di Lapangan Basket.


"El!" panggil Dira dengan keras memanggil suaminya yang sedang bermain basket.


El menoleh saat panggilan istrinya menggema di seluruh lapangan, Kemudian menghampirinya.


"Kenapa?" tanya El setelah berada di hadapannya.


"Kamu bilang kenapa?" tanya Dira dengan kesal.


"Terus apa?" ucap El yang tak tahu kesalahannya apa.


"Dimana ponsel kamu" tanya Dira ketus.


"Di kelas." jawab El santai.


"Iihhhh pantesan aku telfon gak di angkat - angkat!" kesal Dira.


"Cepat panggilin Aldo sekarang!" perintah Dira.


"Untuk apa?" El malah bertanya.


"Kekasihnya lagi gelud!"


"Sama?"


"Sama anak baru itu!"


"Kenapa gak kamu panggil sendiri?"


"El!! bisa panggilin gak! Ini darurat tauk!"


"Tadi kenapa manggil aku kalau pentingnya sama Aldo? Kan tadi manggilnya teriak sampai se lapangan suara kamu?" bantah El.


"Ya udah, Kalau kamu gak mau manggil! Biar aku samperin kesana sendiri." ketus Dira yang ingin melangkahkan kakinya ke lapangan.


El memegang tangan Dira saat ingin melewatinya."Jangan! Biar aku yang panggilin, Kamu samperin Aurel dulu sana! Takut terjadi apa - apa dengannya."


"Gitu kek dari tadi, Kan gak susah - susah gue buat cari alesan, Tapi jangan lama - lama ya?" ucap Dira sambil pergi ke kelasnya lagi.


"Iya."


Setelah Dira sampai di kelasnya kembali, Mereka sudah tidak bertengkar lagi karna seseorang telah melerainya. Dan mereka juga tenang seperti tidak terjadi apa - apa.

__ADS_1


"Kenapa mendadak sunyi gini sih?" heran Dira.


"Mereka sudah di pisahkan" jawab salah satu siswi sekelas Dira.


"Emang siapa yang bisa misahin mereka? Tadi aja gue misahinnya Sampek kualahan." keluh Dira.


"Tadi ada kakak kelas XII C yang lagi misahin mereka, Namanya---" ucap siswi itu sambil berfikir..


"Namanya siapa tadi ya Win?" tanya Siswi itu ke teman sebangkunya yang bernama Winda.


"Gue juga lupa." jawab Winda yang lupa dengan nama seseorang yang telah misahin mereka.


"Mending Lo tanya aja sana tuh, Sama temen Lo itu." tunjuk Winda ke Aurel yang sedang menelungkupkan kepalanya di bawah meja.


"Ish, Gak berguna banget tanya sama mereka." gerutu Dira.


Kemudian Dira menghampiri sahabatnya itu.


"Rel!" panggil Dira.


"Hmm." jawab Aurel dengan deheman.


"Kamu baik - baik saja?" tanya Dira pelan.


"Kamu kemana aja dari tadi? Bukannya bantuin aku dari cewek itu?" ucap Aurel yang belum mendongakkan kepalanya.


"Maaf, Aku tadi udah bantuin kamu. Tapi aku kena senggol sikut kamu ke perut aku, Kan aku lagi hamil, Makanya aku mundur dan pergi untuk manggil Aldo buat misahin kamu sama cewek itu" jekas Dira merasa bersalah.


"Memang siapa yang udah misahin kalian?" tanya Dira.


"Aku gak tau dan gak mau tahu." ketus Aurel.


"Rel! Gimana keadaan kamu?" tanya Aldo yang baru datang bersama yang lainnya.


Aurel mendongak menatap mereka semua. Para temannya kaget melihat wajah Aurel yang sudah di penuhi memar biru.


"Ini gara - gara anak baru itu, Karna Aurel ingin membelanya, Eh malah dia yang kena amukan tuh anak baru." Dira yang menjawab.


"Dimana anak baru itu sekarang?" tanya Aldo yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Dia udah di bawa oleh seseorang, Gak tau mereka kemana?" jawab Dira.


"Cowok apa cewek?" tanya El.


"Cowok! Dan cowok itu yang pernah ngasih undangan sama kita waktu acara kalian itu." ucap Aurel.


"Kamu tahu namanya?" tanya El lagi.


"Tidak!"


"Ini gimana ceritanya sih? Kenapa Aurel bisa gelud ama tuh cewek? Terus kenapa Aurel harus kalah? Lo kan jago beladiri." tanya Rehan bertuntun.


"Itu dia, Tuh cewek juga sangat jago beladiri. Sedangkan beladiri gue gak seberapa dengan tuh cewek, Makanya gue kalah. Untung ada yang misahin kalau nggak bisa ancur muka gue ini." jawab Aurel secara detail.


"Jadi begini ceritanya." Aurel menceritakan awal kejadiannya.


Flasback.


Setelah pelajaran kedua, Para guru tidak mengajar karna sedang mengadakan rapat.


Di riuhnya suasana kelas IPA XI semua para siswa - siswi sedang membicarakan murid baru yang tidak sopan itu. Mereka membicarakannya sambil memandangnya sinis juga seperti tak suka dengan tingkah lakunya.


Tapi ia bodoh amat dengan semua itu. Ia menganggap mereka adalah angin lalu.


Tapi siswi yang bernama Winda sengaja melempar bolpoin ke arah anak baru itu hingga mengenai kepalanya.

__ADS_1


Anak baru itu tidak rela kalau di saat dirinya tidak mengganggu mereka malah dirinya yang di ganggu saat bersantai. Dan ia menjadi marah dan menggebrak meja hingga semua para siswa kaget mendengarnya.


Braakkk


"Siapa yang melakukan ini!?" pekik anak baru itu yang bernama Rena sambil mengangkat bolpoin yang sudah mengenai kepalanya.


Semua para murid berdiam diri ketika anak baru itu sudah bergerak, Apalagi sekarang ia sepertinya sangatlah marah akibat ulah teman sekelasnya itu.


"Jawab gue!!" bentaknya pada mereka semua sambil mengebrak meja lagi.


Semuanya terkejut mendengar bentakannya tidak ada yang berani bersuara bahkan menelan salivanya saja teramat susah ketika melihat tatapannya yang ingin memakan orang hidup - hidup.


"Kalau kalian tidak ada yang mengaku! Gue akan bunuh kalian semua!!" ucapnya yang sudah emosi sambil mengangkat sebuah pistol yang sudah di genggamnya sedari tadi.


Para murid yang melihat pistol itu menjadi takut dan sulit untuk menggerakkan badannya saja, Bahkan salah satu dari mereka sudah ada yang mengompol di celana karna saking takutnya.


Aurel dan Dira maju untuk menegur siswi baru itu.


"Apakah karna sebuah bolpoin kecil yang mengenai kepalamu dan sakitnya tak seberapa kau sudah begitu emosi?" tanya Aurel dengan nada tak suka.


"Diam kau! Ini bukan karna bolpoin ini, Tapi mulut mereka yang tidak bisa diam sedari tadi." balas Rena dengan marah.


"Kenapa? Mereka punya mulut kok kenapa harus diam? Karna kau harus intropeksi diri kenapa mereka terus membicarakan Lo!" ucap Aurel sembari menekan kata - katanya.


"Lo bisa diam tidak! Atau tidak ku tembak Lo!" ancamnya.


"Heh! Beraninya Lo mau nembak sahabat gue!" sambung Dira tak terima dengan ancamannya.


"Kenapa? Kalian takut yang hanya sebuah pistol ini?" ucapnya sambil menciumi suluruh badan pistol itu di tangannya.


"Takut? Lo belum tau siapa kami?" ucap Dira membanggakan martabatnya.


"Cih, Gue gak perlu tau siapa kalian! Yang penting bagi gue kalian adalah hanya seekor tikus kecil yang tak berguna." desisnya sambil mengatai mereka.


"Apa Lo bilang!?" balas Aurel yang sudah terpancing emosi dan ingin menampar gadis itu.


Tapi sebelum tangannya mengenai pipi gadis itu, Ia telah disikut terdahulu mengenai perutnya, Sehingga Aurel mengaduh kesakitan.


"Aurel!!" teriak para temannya dengan khawatir termasuk Dira juga.


"Anj***g Lo!" umpat Aurel dengan keras mengeluarkan kata - kata kasarnya saat sudah marah.


Gadis itu hanya tersenyum sinis mendengar umpatan Aurel.


Aurel berusaha bangun saat perutnya sudah mendingan dan ingin membalas perbuatannya.


Aurel memancing gadis itu untuk mengambil pistolnya terlebih dahulu, Ia memberi aba - aba pada temannya untuk mengelabuinya agar ia mudah mendapatkan pistolnya dan supaya ia bisa melawannya dengan tangan kosong.


Di saat para temannya mengelabuinya dengan mengejeknya yang tidak - tidak, Aurel berhasil mendapatkan pistol itu dengan cepat dari tangan Rena dari arah belakang.


Rena yang tidak begitu keras memegangnya, Sehingga pistol itu terlepas dari genggamannya.


"Lo gak akan bisa mengancam kita lagi!" ucap Aurel setelah pistol itu sudah ada pada genggamannya.


"Hahahaha..." Rena tertawa keras saat pistol itu di ambil oleh Aurel.


Semua para murid menjadi bingung termasuk Aurel dan Dira, Karna bukannya marah ia malah tertawa.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Aurel dengan sinis.


"Kalian semua begitu bodoh! Hanya untuk mengelabuhiku menggunakan trik bodoh seperti itu. Hahahah... Apa kalian fikir itu adalah pistol asli? Tidak! itu hanyalah pistol mainan untuk anak - anak Hahaha..." ucapnya sambil tertawa puas.


Aurel yang sudah geram di buatnya, Tanpa ba-bi-bu lagi langsung menyerangnya dengan gerakan beladirinya yang juga di terima oleh Rena menggunakan bela diri juga sehingga terjadilah perkelahian antara mereka berdua.


Belum sampai mereka ada yang kalah seseorang datang untuk melerai perkelahian mereka. Semua para temannya dari awal sudah melerai mereka berdua termasuk Dira tapi tidak ada yang berhasil membuatnya berpisah, Kecuali dengan cowok asing yang belum mereka kenal.

__ADS_1


Cowok asing itu membisikkan sesuatu di telinga Rena agar dia berusaha mengalah, Dan beruntung saja dia bersedia untuk mengalah di pukulan terakhir Aurel ia terkena pukulan yang mengenai lengannya dengan begitu keras hingga menimbulkan memar biru.


Dan cowok asing itu langsung membawanya pergi yang entah kemana.


__ADS_2