
2 Minggu lagi akan mengadakan acara hari ulang tahun Arigas school semua para siswa telah di umumkan untuk menyiapkan keperluan acara nanti dengan menjadikan anggota perkelompok yang di ketuai masing - masing para senior yang telah di pilih oleh sang ketua OSIS.
Acara hari jadi ini sudah di adakan dalam setahun sekali di Arigas school yang akan menayangkan sebuah hiburan dari para Siswa Siswi sekolah.
Dira dkk yang di tugaskan untuk menyusun acara panggung dari acara menari, bernyanyi, fashion show dan juga lomba lainnya bagi para siswa - siswi yang ikut serta.
Sedangkan para juri dari mereka, Yang terpilih El, Aldo, Hardan dan Xelan sang ketua OSIS. Mereka akan menjadi juri bagi yang ikut lomba tersebut.
"Rel, Kamu tempelkan kertas pengumuman lomba ini ke Mading sekolah." perintah Dira sambil menyodorkan kertas pengumuman tersebut.
"Okay!" sahut Aurel dengan semangat.
"Kenapa aku jadi pusing ya?" gumam Dira setelah menyelesaikan tugasnya.
"Paling aku terlalu kecapean, Mending aku istirahat di kelas sebentar." Dira langsung menuju kelasnya berada.
"Tumben anak baru itu tidak bertingkah lagi seperti kemaren - kemaren." gumam Dira yang melihat keanehan pada Reina yang slalu melamun.
"Apa gue samperin aja ya? Siapa tau dia butuh teman." Dira ingin menghampiri Reina yang masih melamun.
"Hey, Mau kemana kamu?" tanya Aurel yang baru masuk ke kelasnya setelah selesai dengan pekerjaanya.
"Mau nyamperin anak baru itu, Siapa tau dia butuh teman. Memangnya kenapa?" Dira bertanya balik.
"Oh gpp, Silahkan! Aku mau baca buku sebentar. Mumpung guru lagi rapat." sahut Aurel langsung menuju ke bangkunya.
"Kenapa dia? Sangat aneh! Biasanya ngelarang tapi kenapa sikap semua orang berubah ya? Jadi bingung sendiri aku." heran Dira sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hay!" sapa Dira pada Reina.
Reina hanya menoleh sekilas dan mengabaikannya.Tapi Dira tak putus asa ia berusaha mendekati Reina dan ingin mengajaknya berbicara.
"Mm...Gimana keadaanmu?" tanya Dira.
Reina mengangkat sebelah alisnya dan memicingkan matanya, Seolah ia bingung kenapa dia berubah ingin mendekatiku fikirnya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Reina dengan ketus.
"Pengen ngajak teman baru main." jawab Dira tanpa ada canggung sedikitpun.
"Nggk! gue lagi males!" tolak Reina langsung.
"Hey! Dari pada kamu sendirian di sekolah ini tanpa ada teman yang mau berteman denganmu apa kamu tidak bosan ngelamun terus?"
"Memang apa urusanmu dengan kebosananku?"
Dira menarik nafas panjangnya dan menghembuskannya dengan kasar, Ia bingung bagaimana lagi mau berdamai dengan teman barunya itu. Ia hanya ingin tidak ada lagi permusuhan atau pembuat onar di sekolah kakeknya ini karna ia tidak mau menjelekan nama baik sekolah ini jika nantinya akan ada keributan di hari jadinya sekolah.
__ADS_1
"Baiklah kalau kau tidak mau, Biar saja kau kesepian di sekolah ini slamanya." ujar Dira dengan berpura - pura mencuekinya dan berbalik badan.
"Ish emang apa urusan dia kepadaku?....Tapi, setelah kupikir - pikir ada baiknya juga kalau gue temenan dengannya." batin Reina.
"Baiklah gue mau temenan sama Lo!" ucap Reina dengan beranjak dari duduknya.
Dira membalikkan badannya kembali dengan senyum sumringahnya.
"Oke, Ayookk!!"
"Rel, Kamu ikut tidak?" tanya Dira.
"Kemana?"
"Ke halaman belakang sekolah." ucap Dira sambil tersenyum.
"Sama dia?"
Aurel menunjuk ke arah belakang Dira dengan tatapan tak suka.
Dira mengangguk antusias.
"Ada apa denganmu hari ini? Kenapa kau jadi aneh?" tanya Aurel dengan nada berbisik pada sahabatnya.
"Aneh? Nggk kok biasa aja. Emang salah ya ngajak dia untuk berteman dengan kita?" tanya Dira dengan alis berkerut.
"Tenang, kan ada super hiro grilku." ucap Dira dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah sahabatnya.
"Hii....Aku jadi geli deket kamu lama - lama. Udah ayo kita pergi aja sekarang." ucap Aurel yang merasa ngeri melihat tingkah sahabatnya yang aneh dan berlalu dahulu meninggalkan keduanya.
"Ayo Rein."
"Hm.."
Setelah mereka sampai di taman belakang.
"Hey, Kalian ngapain disini?"
"Seharusnya kami yang tanya sama kalian, Ngapain kalian kesini?" tanya Rehan balik.
Ya, Mereka adalah anggota El dkk. Tapi El tidak ikut serta dengan mereka karna ada urusan untuk perayaan sekolah.
"Ya...memang kenapa kalau kami kesini? Emang ada larangan gitu?"
"Mm apa kalian mau macam - macam disini?" tuduh Aurel.
"Memang mau macam - macam seperti apa?" tanya Aldo.
__ADS_1
"Ya..apalah gitu, Ngerokok, mabuk atau minum pil yang aneh atau bermain cinta!" tuduh Aurel ngegas dengan gerakan jarinya seperti menghitung.
"Wah...Gila tuh cewek Lo Al, Nuduh kita yang nggk - nggk!" sewot Azar.
"Hey para gadis, Emang kita senakal itukah di mata kalian? Kalian sungguh kejam dengan kami." sambung Rehan dengan mendramastis.
"DIAM!!" gertak Aldo dengan mengangkat sebelah tangannya ke atas.
Aldo mencengkram tangan Aurel dengan kuat dan membawanya pergi ke suatu tempat.
Aldo melepaskan tangan Aurel dengan kasar hingga terlihatlah bekas cengkraman yang begitu kuat di tangannya. Membuat sang empu meringis kesakitan.
"Aww...Apa yang kau lakukan Aldo!" pekik Aurel dengan marah.
"Seharusnya aku yang tanya, Apa yang kau lakukan selama 4 tahun yang lalu saat kau berumur 14 tahun!" balas Aldo dengan suara yang lebih keras.
"Memang apa yang ku lakukan? Aku tidak pernah melakukan apa - apa!" sarkas Aurel.
"Oh, Kamu tidak mau mengakuinya?"
Aldo melempar ponselnya ke hadapan Aurel dengan kasar.
"Terus apa yang ada di video itu? Bisakah kamu jelaskan secara detail?" tanya Aldo dengan menekan perkataanya.
Aurel mengambil ponsel tersebut dan menekan tombol play pada video dengan tangan yang bergetar.
Aurel membekap mulutnya dengan tak percaya atas apa yang telah ia lihat di dalam video tersebut.
"Dari mana kau dapatkan video itu?" tanya Aurel dengan bibir yang bergetar hebat.
"Temanku mengirimi video itu padaku, Supaya aku bisa membantu gadis malang yang telah dia cari selama ini. Karna dia merasa kasihan dan merasa bersalah atas perbuatannya dulu karna tidak bisa menolong gadis malang tersebut. Tapi setelah kulihat secara jelas wajah gadis malang itu, Aku sangat yakin kalau gadis malang itu adalah kamu."
"Kenapa kau ungkit kejadian ini lagi padaku?" Aurel menatap kosong ke arah video itu dengan air mata yang terus menetes.
"Kenapa? Aku melakukan ini supaya kau tidak diam dan berpura - pura tegar dan bahagia. Padahal selama ini batin dan fisikmu tidak seperti raut wajahmu yang sekarang."
"Bila saja kau memberitahukan orang tuamu dan orang terdekatmu, Kamu tidak akan tersiksa batin untuk slamanya Aurel!"
"Kenapa tidak kau biarkan saja aku seperti ini!? Apa urusanmu dengan semua itu?!!" bentak Aurel dengan nafas yang menggebu.
"Bagaimana aku bisa membiarkan wanita yang kucintai dan kusayangi terluka? Apalagi sampai tersiksa batin seperti itu?!!" Aldo balas membentak Aurel yang keras kepala.
"Maafkan aku Rel, Aku tidak bermaksud membentakmu." Aldo menarik Aurel ke dalam pelukannya.
"Hiks...hiks...Memang apa yang harus aku lakukan sekarang? Kejadian itu sudah 4 tahun yang lalu. Semua orang tidak akan percaya dengan video tidak jelas seperti itu. Mereka akan mengira kalau video itu adalah rekayasa. Biarlah aku yang menanggung semua beban itu. Dan aku tidak akan melibatkan siapapun termasuk kamu, Biarlah mereka menanggung karmanya sendiri." ucap Aurel dengan melepaskan pelukannya dari Aldo.
Aurel meninggalkan Aldo sendiri di rooftop, Tapi ia berjalan beberapa langkah saja tidak bisa menopang tubuhnya sendiri yang sudah terasa berat kemudian ia tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Aurell!!"