Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 38


__ADS_3

Di kediaman Keluarga Anggara.


"Rel! Katanya ibumu akan kesini?" tanya Shafira saat ketiga wanita itu berada di ruang keluarga yang sedang mengobrol ringan.


"Iya Tante, Ibu katanya mau kesini. Tapi kenapa belum datang juga ya Tan?" Aurel bertanya balik.


"Memang ibumu berangkat jam berapa?" tanya Shafira lagi.


"Kemarin pagi katanya Tan, Sekitaran jam 8 pagi." jawab Aurel.


"Apa kamu sudah telfon ibu kamu?" tanya Dira menyambung.


"Tadi malam sudah aku telefon Dir, Tapi no ibu slalu tidak aktif." ucap Aurel merasa cemas.


"Biasanya kalau dari negara B berangkat jam 8 pagi seharusnya ibumu sudah sampai jam 3 siang kemarin, Tapi kenapa sampai sekarang belum datang juga?" heran Shafira.


"Aurel juga bingung tante." melas Aurel.


"Coba kamu telfon lagi sekarang! Kalau masih tidak aktif nomornya, Kita harus mencari ibu kamu secepatnya. Karna ibu kamu belum tau jalan di negara ini, Takutnya ibu kamu nyasar." sahut Dira.


"Gak mungkin sayang, Papa sudah menyuruh pak Diman untuk menjemput ibu Aurel di bandara. Tapi pak Diman tidak melihat ibu Aurel sama sekali katanya." ucap Shafira.


"Tapi kenapa Bu Mira belum datang juga? Apa jangan - jangan---" Dira menjeda ucapannya.


"Jangan - jangan apa Dira? Kamu jangan bikin aku cemas ya?" ucap Aurel merasa takut dengan ucapan Dira.


"Nggak kok! Aku hanya bercanda. Palingan ibumu lagi kemana gitu kek." ucap Dira mencairkan suasana.


Drrttt drrttt....


Sebuah ponsel berdering di atas meja.


"Itu ponsel kamu getar Rel! Itu pasti ibu kamu yang telpon." ucap Dira.


Aurel mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Ibu dan Anak itu bersamaan.


"Alhamdulillah! Ini ibu Dir, Tan!" ucap Aurel senang dan langsung mengangkat panggilan teleponya.


"Hallo?" sapa Aurel saat mengangkat panggilan dari ibunya.


"...."


"Siapa kamu dan dimana Ibuku?"


"... "


"Baiklah aku akan kesana!"


"Siapa dia Rel?" tanya Dira merasa cemas ketika melihat wajah sahabatnya yang terlihat panik.


"Dir! Tolong kamu anterin aku ke sebuah tempat!" sela Aurel yang sudah beranjak tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya dulu.


"Memang mau kemana?" tanya Dira yang juga ikut beranjak dari duduknya.


"Nanti akan ku jelaskan! Sekarang cepat antarkan aku dulu. Ibuku dalam bahaya!" cemas Aurel dengan keadaan ibunya yang sekarang.


"Sebentar, Aku panggillin Aldo dan suamiku untuk mengantar kamu." ucap Dira yang langsung pergi memanggil suami dan saudara suaminya.


Di saat Dira masih memanggil para pria. Seseorang itu menelfon kembali di ponsel Aurel.


"Hallo!?" jawab Aurel.


"..."


"Baiklah aku akan kesana sendiri."


Kemudian panggilan itu mati secara sepihak.


"Kamu mau pergi sendiri ke tempat itu?" tanya Shafira.

__ADS_1


"Iya Tante, Tidak ada cara lain agar ibuku selamat. Kalau begitu Aurel pergi dulu Tante." pamit Aurel yang sudah terburu - buru.


"Rel! Tante akan antar kamu ke tempat itu." ucap Shafira menawarkan diri.


"Tapi Tan?" Aurel ingin menolaknya.


"Jangan menolak! Keselamatan kamu adalah tanggung jawab Tante juga." sela Shafira yang sudah ikut panik.


"Baiklah Tan, Kalau itu mau Tante." pasrah Aurel tidak menolak dengan keinginan nyokap Dira yang ingin ikut.


***


Saat ini di tempat rumah kecil dan kumuh itu.


"Kenapa kamu menelfon putriku!!" teriak wanita itu yang bernama Nia.


"Kenapa? Aku cuma menyuruhnya kesini, Dia kan juga putriku, Apa salahnya?" jawab pria itu dengan santai.


"Kembalikan ponselku!! Kenapa kau terus mancing emosiku? Aku kan sudah bilang, Jangan pernah temui putriku, Dia menganggapmu sudah tiada!!" ucap Nia dengan emosi yang memuncak.


"Nia, Saya cuma ingin putri kita menjadi saksi dalam pernikahan kita. Apakah kita akan membiarkan putri kita tidak tau siapa Ayahnya?"


"Lebih baik dia tidak mengetahui siapa Ayahnya, Dari pada harus jadi korban oleh pria bajingan seperti kamu!!"


"Diam kamu!! Kalau tidak ku bunuh kamu!!" ucapnya yang sudah emosi sambil menunjuk wanita itu dengan pistolnya.


"Bunuh saja aku, Lebih baik aku mati dari pada harus hidup bersama pria bajingan sepertimu!!"


Pria itu tersenyum miring dan berkata." Walaupun kamu hidup atau mati, Aku tetap akan menikahimu."


"Dasar pria ekor buntung!!"


"Kenapa tidak kau urus saja putrimu itu ha?" bantah Nia.


"Dia memang putriku, Tapi aku menyayanginya cuma demi harta, Kalau saja harta itu jatuh ke tanganku dari duku, Aku tidak akan susah - susah menjaganya selama dua tahun untuk hidup kembali, Dan bahkan aku akan membunuhnya bersama ibunya waktu itu." ucap Pria itu penuh emosi.


"Kamu memang pria tidak punya hati!! Dimana kasih sayangmu yang dulu? Mas Bima yang ku kenal dulu tidak sepertimu, Siapa kamu sebenarnya!!?" sahut wanita itu tidak percaya dengan mantan suami yang di depannya.


"Apa maksudmu? Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya? Bahkan ibumu telah mencarimu kemana - mana. Bahkan dia sekarang tinggal bersamaku di rumah."


"Ibuku tinggal bersamamu? Tidak, Ibuku telah tiada!! Waktu itu aku yang menguburnya sendiri."


"Astagfirullah!! Kenapa kau begitu kejam Bima!


? Apakah kamu sudah tidak waras Bim? Kamu bilang ibumu sudah tiada? Dimana hati nuranimu yang dulu?" tanya Nia tidak menyangka dengan ucapan mantan suaminya.


"Diam!! Jangan kau buka mulutmu sedikit pun lagi! Karna aku tidak akan segan - segan membunuhmu!!" ancam pria itu sambil menodongkan pistolnya ke arah kepala.


Wanita itu hanya memejamkan matanya, Ia sudah pasrah dengan takdirnya yang akan mati dia tangan mantan suaminya sendiri.


Pria itu ingin menarik pelatuknya, Tapi dengan cepat seseorang menendang pistol yang di pegangnya hingga jatuh ke tanah.


"Aurel?" kaget wanita yang bernama Nia ketika melihat anaknya datang ke tempat itu.


Iya, Yang telah menendang pistol pria itu adalah Aurel, Ia hanya datang bersama Shafira ke tempat itu. Bahkan ia tidak tahu kalau yang lainnya juga mengikuti dari arah belakang untuk membantunya.


"Oh oh oh... Ternyata anak kesayanganku datang juga. Apa kabar sayang?" tanya pria itu yang ingin menghampiri Aurel.


Aurel malah menghampiri ibunya, Dan tidak memperdulikan sapaan pria tersebut.


"Apa ibu tidak apa - apa?" tanya Aurel cemas melihat ibunya yang terikat kembali.


"Ibu tidak apa - apa nak!" jawab wanita itu setelah terlepas dari ikatannya yang di lepas oleh anaknya.


"Ibu, Kenapa ibu bisa ada disini?" tanya Aurel sambil menghambur memeluk ibunya.


"Ini semua karna pria itu nak! Yang telah menculik ibu di saat ibu turun dari bandara." balas Nia memeluk anaknya sambil menunjuk mantan suaminya yang berdiri di sampingnya.


"Kamu dengan siapa kesini?" tanya Nia dengan khawatir kepada anaknya.


"Aurel bersama Tante Shafira bu." jawab Aurel lembut.

__ADS_1


"Memangnya dia siapa Bu? Ada hubungan apa ibu dengannya? Dan dia juga yang pernah menculik Aurel saat di negara B Bu." tanya Aurel bertuntun.


"Dia bukan siapa - siapa nak!! Dia hanya orang biasa yang salah menculik orang hanya karna uang saja." jawab Nia menjawab pertanyaan anaknya tanpa memberitahu siapa pria itu sebenarnya.


"Tapi mengapa saat dia menculikku dia mengaku - ngaku sebagai Ayahku? Apa bener dia---".


"Tidak sayang!! Dia bukan siapa - siapa kamu!!" sela Nia memotong ucapan anaknya.


"Hey!! Kurang ajar kau bicara seperti itu di depanku! Kamu pikir telingaku tuli? Aku diam saja sedari tadi karna aku ingin kau menjelaskan kalau diriku adalah Ayahnya tapi kenapa malah sebaliknya." kesal pria itu.


"Sudahlah sayang, Jangan kau hiraukan omong kosongnya itu. Kamu percaya kan sama ibu?" tanya Nia sambil menangkup wajah anaknya.


Aurel hanya mengangguk dan tersenyum simpul pada ibunya, Ia belum percaya dengan ucapan mereka berdua. Siapakah yang benar di antar mereka? fikir Aurel.


"Apakah aku harus percaya pada ibu? Sedangkan ibu terlihat jelas kalau ia sedang berbohong padaku. Tapi aku pun juga tidak percaya dengan ucapan pria jahat itu. yang mengaku - ngaku sebagai Ayahku." batin Aurel menatap intens mereka berdua bergantian.


"Tapi kalau benar aku anak dari pria itu. Kenapa ibu tidak mengakuinya? Masalah apa yang telah mereka alami di masa lalu?" batin Aurel melamun.


"Rel?" ucap Nia membuyarkan lamunan anaknya dengan melambai - lambaikan tangannya.


"Ah iya Bu?" Aurel tersentak ketika ibunya memanggil.


"Ayo, Kita harus pergi sekarang!" ajak Nia menggandeng tangan Aurel.


"Tidak boleh!! Kalian tidak boleh pergi sebelum aku menikahimu Nia!!" ucap Bima menghadang jalan keluar mereka.


Aurel bingung dengan ucapan pria itu. Ia kemudian menatap ibunya secara bergantian dengan pria di depannya itu.


"Apa maksud dia Bu?" Aurel bertanya pada ibunya yang berada di sampingnya.


"Tidak usah di dengarkan, Dia hanya bercanda." jawab Nia mengalihkan perhatian anaknya.


Tanpa kesabaran lagi, Pria itu langsung menarik tangan Aurel yang satunya sehingga Aurel tersentak kaget ketika pria itu menariknya dengan paksa.


"Jika kamu tidak mau kembali denganku lagi, Maka akan ku bunuh anakmu ini." ancam pria itu sambil menodongkan pistolnya ke arah kepala Aurel.


"Aurel!!" kaget Nia ketika anaknya di todong pistol oleh mantan suaminya.


"Tolong lepaskan Aurel! Dia adalah darah dagingmu juga, Apa kamu tega ingin membunuhnya?" ucap Nia yang sudah menangis takut kehilangan anaknya, Karna dialah satu - satunya harapan hidupnya.


"Bagus!! Kalau tidak aku ancam begini, Kau tidak akan memberitahunya. Sekarang aku akan kasih kamu pilihan, Kehilangan anak satu - satunya atau kau akan menikah lagi denganku?" balas pria itu memberikan pilihan.


"Baiklah, Aku akan menikah denganmu. Tapi tolong lepaskan Aurel." pasrah Nia, Ia tidak tega melihat ankanya menjadi sandera Ayah kandungnya sendiri.


Nia melihat Aurel menggelengkan kepalanya, Ia tahu kalau anaknya tidak menyetujuinya. Tapi demi keselamatannya Nia rela mempertaruhkan dirinya demi sang anak.


"Cepat lepaskan Aurel!!" pekik Nia dengan tegaan melihat anaknya yang sudah meneteskan air matanya. Tapi bukan menangis karna sanderaan dari sang Ayah, Melainkan ia tak rela ibunya menikah lagi dengan Ayah kandungnya yang notabenya adalah seorang pembunuh bayaran atau bisa di bilang seorang psikopat.


Pria itu mendorong anaknya sendiri dan jatuh ke pelukan ibunya. Kemudian pria itu menarik tangan Nia yang masih berpelukan dengan sang anak.


"Ibu!!" tangis Aurel pecah ketika ibunya di rebut dengan paksa.


"Kamu pergilah sayang! Jangan khawatirkan ibu, Ibu tidak apa - apa. Dia tidak akan menyakiti ibu." ucap Nia dengan teriak karna sudah di seret jauh oleh mantan suaminya.


"Ibu!!" Aurel menangis pilu dan terduduk lemas di tanah.


Kemudian."Aurel!!" para temannya bersamaan datang dengan Shafira.


Mereka datang di saat yang tidak tepat, Karna ibu Aurel sudah pergi di bawa oleh pria itu.


"Aurel maafin kami, Kami datang terlambat. Kalau saja mobil kita tidak di hadang oleh suruhan pria itu, Mungkin kami sudah sampai dari tadi." ucap Dira merasa bersalah.


Aurel menatap sahabatnya dengan mata sendu dan nafas berat."Dira, Ibu Dira. Ibu dibawa oleh pria itu, Dan---"


Belum sempat Aurel melanjutkan ucapannya, Ia sudah tak sadarkan diri. Ia sangat syok ibunya di culik di depan matanya sendiri, Karna belum pernah kejadian seperti ini menimpa dirinya.


"Aurel!" panik mereka bersamaan melihat Aurel yang sudah tak sadarkan diri.


"Aldo, Cepat kau bawa Aurel ke mansion." perintah Shafira yang sudah panik.


"Baik Tante." sahut Aldo cepat, Dan langsung menggendong Aurel menuju mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2