
"King!! Bagaimana ini? Kita telah di ketahui oleh pemilik mafia ini!" panik Ergan ketika saat meretas data dari mafia yang melindungi Dira.
"Kau masukan sedikit virus ke bagian sistemnya agar bisa megelabuinya, Masalah datanya Biar aku yang meretasnya." El juga ikut panik.
"Baik king!!"
Tangan mereka berdua begitu lincah dengan lihainya saat mengetik keyboard komputernya.
"Ck.. Sial!! Dia telah berhasil mengambil data dari WHITE DRAGON." decak El kesal.
"King! Aku akan mengirimnya lebih banyak virus baru yang telah kubuat kemarin." saran Ergan.
"Virus apa itu?" tanya El.
"Virus ini bisa menghapus data kita yang telah di curi tapi--, Data dari mafia kita akan hilang sepenuhnya." bingung Ergan.
"Tidak papa! Masalah data itu biar ku urus nanti! Yang penting jangan sampai orang itu mengetahui identitas kita semua." panik El.
"Baik king!!"
Ergan mengutak - atik komputernya kembali hingga berhasil mengirim virus - virus itu ke saingannya.
"Berhasil king!!" seru Ergan.
"Bagus!! Sekarang kita lihat bagaimana reaksi orang itu? Pasti dia sangat frustasi." ucap El dengan senyum miringnya.
"El!!" seru Aldo memanggil.
"Bagaimana? Apa sudah kau cari gadis itu?" tanya El kepada sepupunya yang baru saja datang.
"Sudah, Tapi kata ibunya sudah dua hari ini dia kerja di Gold Cafe's dan tidak pulang sama sekali." lapor Aldo cemas.
"Hey!! Kenapa lo kelihatan cemas? Sudahlah, Mari kita cari cewek itu." ujar El sembari menepuk bahu sepupunya.
"Iya." singkatnya.
"Ergan! Kau bereskan sisanya itu, Aku akan keluar dulu." saran El.
"Baik king!!"
Lalu mereka berdua pergi menuju Gold Cafe's.
***
Di tempat lain.
Seorang pria paruh baya yang sedang bingung di dalam ruangan pribadinya.
"Aakhhh... Sungguh hebat dia!! Aku baru saja hampir mengambil data - datanya. Tapi dia mengirimi Virus yang tidak ku ketahui." umpat pria itu kesal sambil memijit pangkal hidungnya.
Tok..tok..tok
Pintu ruangan pria itu telah di ketuk oleh seseorang.
"Siapa!!?" teriaknya dari dalam.
"Ini aku Pa! Dira!" teriak putri sulungnya dari arah luar.
"Boleh Dira masuk ke dalam Pa?" teriaknya lagi.
Iya, Pria paruh baya itu adalah Hikman Papa Dira yang habis melakukan pekerjaannya yang hampir mengambil data seseorang.
Hikman cepat berlalu keluar, Agar putrinya tidak sampai masuk ke ruangan pribadinya itu.
"Iya sayang, Ada apa?." ucap Hikman setelah keluar dari ruangannya.
"Oh ini! Dira mau ngajak Papa makan makanan kesukaan Dira, Emang Papa lagi ngapain di dalam?" tanya Dira penasaran.
"Mmm Papa nggk ngapa - ngapain kok! Ayo kalau mau makan sama Papa." ajaknya untuk mengalihkan pertanyaannya sambil merangkul pundak putrinya.
"Mmm iya Pa." jawab Dira sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah sampai di meja makan. Semua orang telah berkumpul di ruang makan termasuk Kakek dan Neneknya juga.
__ADS_1
"Asik!! Ada sambal petenya!" seru Dara antusias ketika melihat makanan kesukaanya terhidang.
"Emang siapa yang masak?" tanya Dara.
"Nenek yang masak, Karna kakakmu ingin makan itu." jawab Shafira.
"Jadi, Kakak juga suka sama sambal pete?" tanya Dara kepada kakaknya.
"Iya." singkat Dira sambil tersenyum manis ke arah adiknya.
"Waahh kita satu darah juga satu hati dong!!" sahut Dara.
"Makanan apa ini? Bau sekali! Baunya." ucap Garda setelah duduk di kursinya.
"Ini pete!" sahut Dara.
"Siapa yang masak?" tanya Garda.
"Nenek!" jawab Dara singkat.
"Kenapa masih ada sih! Makanan kayak gini?" protes Garda.
"Ya adalah! Dimana - mana pun ada." ketus Dara.
"Sudah, sudah! Garda, Kalau kamu tidak mau jangan di makan. Tidak baik menghina makanan yang sudah ada di depan kita!" final Hikman melerai perdebatan putra - putrinya.
"Baik Pa."
Lalu mereka memakan makanannya dengan tenang tanpa berbicara sepatah kata pun lagi.
Di Gold Cafe's.
Dua pemuda tampan langsung memasuki sebuah Cafe mewah yang berdesain interior emas. Dimulai dari dinding, kursi, meja dan lain - lain. Saat sampai di pintu cafe.
Bruukk
"Mmm Maaf saya tidak sengaja." ucap seorang pria paruh baya yang sedang terburu - buru dan menabrak seorang pemuda yang baru memasuki cafe Yaitu El.
"Tidak papa pak, Maaf barang bapak jatuh biar saya ambilkan pak!" tawar Aldo sambil memandang wajah pria itu yang terdapat sedikit goresan di bagian wajahnya.
Pria itu telah menjatuhkan sesuatu saat bertabrakan dengan El tadi dengan cepat mengambil semua barang - barangnya yang berserakan di lantai.
"Maaf! Saya permisi." ucap pria itu langsung melenggang pergi dengan tergesa - gesa.
"Siapa dia? Buru - buru amat. Kenapa dia seperti bawa alat bedah ya El." tanya Aldo kepo.
"Sudah, Palingan dia seorang dokter." jawab El santai.
Mereka terus memandangi pria itu sampai ke parkiran dan menaiki mobilnya. Mereka begitu penasaran dengan pria itu, Kenapa ia membawa alat bedah? Tapi penampilannya saja seperti pencuri, Memakai jaket dengan penutup kepalanya, Apalagi mukanya yang bekas goresan benda tajam membuatnya sangat penasaran.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan cafe menghampiri mereka yang berdiri sambil mengedipkan matanya.
Aldo dan El tidak memperdulikan kedipannya."Maaf, Saya mau mencari pelayan disini. Apa ada yang bernama Aurel?" tanya Aldo langsung.
"Aurel? Tidak ada. Kenapa nggk cari saya saja?" ucap pelayan wanita itu kecentilan.
"Ck, Daripada lo tanya sama dia bikin lama. Mending lo tanya saja sama manajernya langsung." decak El memandang jijik ke arah pelayan itu.
"Iya, Ayo kita kesana." ucap Aldo mengabaikan pelayan itu.
"Ck, Dasar!! Kurang apa sih gue! Udah cantik begini, Badan juga udah seksi, Tapi mereka malah mengabaikan." gerutu pelayan itu dengan kesal sembari menghentak - hentakkan kakinya dan berlalu dari sana.
1
Tok..tok..tok
"Pak!?" panggil Aldo kepada manajer cafe itu saat berada di ruangannya.
"Siapa?" tanya manajer cafe itu sambil mendongakkan kepalanya.
Manajer cafe itu mengerutkan alisnya ketika ia di datangi dua pemuda yang tidak di kenalnya.
"Begini pak, Kami berdua sedang mencari teman kami yang sedang bekerja disini sudah dua hari, Namanya Aurel." jelas El yang mengerti arti kebingungan manajer itu.
__ADS_1
"Oh, Aurel ya? Dia pernah kesini ingin melamar kerja dan dia sudah di terima disini. Tapi keesokan harinya ia tidak datang kerja lagi." ujar Manajer itu dengan jelas.
"Emang kalian siapanya?" tanya Manajer itu kepada mereka.
"Saya El pak! Dan ini sepupu saya Aldo, Kami berdua adalah teman sekolahnya." El menjawab pertanyaan manajer itu.
"Apa sebelum dia pulang, Dia ingin izin kemana gitu pak?" tanya Aldo.
"Tidak, Dia langsung pulang menggunakan ojek yang berada di pangkalan sana." jawab manajer.
"Apa di sekitaran cafe ini ada cctvnya pak?" tanya Aldo lagi.
"Semuanya rusak belum di perbaiki, Tapi di sisi cafe ini masih ada yang masih hidup dan hanya satu." jawab Manajer itu.
"Hah!? Tidak papa pak! Yang penting kita bisa menemukan dia dimana!" ucap Aldo panik.
"Ada apa sebenarnya lo? Kenapa malah panik?" heran El dengan sepupunya itu.
"Gue takut Aurel di culik El, Nyokapnya bilang ponselnya slalu tidak aktif saat di telfon."
"Ya sudah pak! Tolong perlihatkan cctvnya." ucap El kepada manajer itu.
Manajer itu hanya menganggukkan kepalanya, Kemudian ia mengutak - atik komputernya untuk melihat cctv.
"Cctv itu berada di arah kanan ojek pangkolan itu ya pak?" tanya Aldo.
"Iya."
"Jam berapa dia pulang kemarin?" tanya El.
"Dia kemarin pulang sampai jam 8 malam, Apalagi tempat ini sangat sepi dan juga rawan sekali pencopetan." jawab Manajer.
"Coba bapak memperlambat gerakan cctvnya." saran Aldo.
Manajer itu memperlambat gerakannya." Stop disitu pak!" seru Aldo.
"Ada apa?" tanya El.
"El bukankah itu mobil yang berada di luar tadi? Yang di kendarai bapak yang menabrak lo tadi!" seru Aldo.
"Iya! Kau benar!"
"Dia siapa pak? Kenapa akrab sekali dengannya? Apa Aurel punya paman atau saudara?" tanya Aldo bertuntun.
"Kalau Ayahnya sudah meninggal katanya, Tapi kalau saudara atau paman saya tidak tau."
"Sepertinya orang ini saya kenal." sambungnya lagi.
"Memang siapa dia pak?" tanya mereka.
"Sebentar biar ku ingat2 dulu." ucap Manajer itu sambil mengingat - ingat siapa orang yang berada di cctv." Hah! Gawat!! Dia adalah orang yang sangat berbahaya, Sekaligus dia pandai mengsugesti seseorang untuk mellabuinya." seru manajer itu.
"Bapak kenal dengannya?" tanya mereka penasaran.
"Kenal, Dia dulu adalah seorang pembunuh bayaran yang gila uang, Sehingga hanya gara - gara uang ia hampir membunuh putrinya sendiri untuk di jual organ dalamnya." jelas manajer itu.
"Apa anaknya selamat pak?" tanya Aldo.
"Saya dengar anaknya selamat. Tapi, Anaknya hilang entah kemana." jawabnya.
"Ya sudah pak, Kalau begitu kami pergi dulu. Sebelum nyawa teman kami terancam." cemas mereka.
Mereka berdua kemudian melangkahkan kakinya keluar, Dan Aldo teringat sesuatu.
"Aakkhh.. Sial! Bagaimana kita mencarinya? Sedangkan kita tidak tau dia dimana?" pekik Aldo frustasi.
"Tenang, Kita akan lacak keberadaanya dengan plat mobilnya." santai El menenangkannya.
"Emang lo tau platnya?" tanya Aldo.
"Hmm." El hanya berdehem menanggapi pertanyaan Aldo dengan senyuman khasnya.
**Maaf ya...
__ADS_1
Kalau Author baru up sekarang...
Soalnya lagi sibuk dengan urusan pekerjaan**...