Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 18


__ADS_3

Mereka telah sampai di Negara J dan langsung menuju ke apartemen HS.


"Hakim!!" panggil Hikman.


"Iya mas? Ada apa?" sahut Hakim.


"Sementara ini, Kalian tinggal di apartemen ini dulu,Tidak papa kan?" tanya Hikman kepada mereka.


"Tidak papa mas, Ini sudah lebih dari cukup bagi kami, Kami sudah sangat senang kau ajak kesini. Apalagi berada di apartemen yang mewah seperti ini." jawab Mutia istri Hakim.


"Baiklah! Kalian hanya sementara tinggal disini. Setelah waktunya tiba, Kalian akan ikut aku ke mansion." ucap Hikman.


"Iya mas." jawab Hakim


"Ya sudah, Kalian masuk saja dulu. Aku mau kesana dulu menemui putriku." pamit Hikman.


"Baik mas!" ucap Hakim dan Mutia bersamaan.


Kemudian Hikman menghampiri putrinya yang sedang duduk di lobi apartemen sendiri. Sedangkan Diki dan Nabila sedang melihat - lihat pemandangan di luar apartemen HS.


"Kamu kenapa nak? Kamu tidak suka ya, Disini?" tanya Hikman kepada putrinya, Kemudian duduk di sampingnya.


"Tidak kok Pa, Dira suka kok! Suka banget malahan!" ucap Dira tersenyum sambil berpura - pura ceria agar Papanya tidak mengetahui kesedihannya.


Hikman menghela nafasnya. Ia tidak habis fikir ternyata putrinya ini sungguh pandai menutupi kesedihannya dengan berpura - pura ceria. Tapi Hikman tidak bisa di bohongi, Ia bisa melihat seorang yang berbohong dari raut wajahnya saja. Apalagi termasuk putrinya sendiri.


"Dira, Papa tau kamu lagi sedih. Jangan berpura - pura ceria. Ceritalah sama Papa kalau kamu dalam masalah."


Dira kepergok oleh Papanya, Ternyata Papanya tidak bisa ia bohongi.


"Maaf Pa, Dira tidak bisa cerita sama Papa."


"Ya sudah, Tidak papa! Papa tidak akan memaksa, Kalau kamu tidak mau cerita sama Papa. Sana kamu masuklah dulu ke kamarmu biar tidak masuk angin. Papa ingin pergi sebentar." ucap Hikman.


Dira hanya mengangguk menanggapi ucapan Papanya dan berlalu dari sana menuju ke kamarnya.


Hikman terus memandang ke arah putrinya yang hilang di balik lift. Kemudian ia mengambil ponselnya untuk menelfon seseorang.


***


Di Markas Mafia White Dragon.


Seorang pria yang berjalan dengan tergesa - gesa masuk ke dalam markas mafianya.


"Selamat datang king." sapa mafioso saat berpapasan dengan ketuanya, Yaitu El.


El tidak memperdulikan para mafioso yang sedang menyapanya sambil membungkukkan badannya, Karna ia tidak punya waktu untuk menyapa mereka sekarang.


"Azar, Aldo, Rehan!! Dimana kalian!!" teriak El memanggil para temannya dari ruang para anggota berkumpul.


Salah satu dari mereka tidak ada yang menyahuti panggilan El.


"Ck..Dimana kalian? Awas saja jika kalian sudah disini." decak El marah.


Lalu El meihat mafioso baru yang berjaga di depan pintu. Kemudian ia memanggilnya.


"Hey! Kamu!!"


"Sa..saya king?" tanya mafioso itu memastikan, Saat dirasa dirinya yang dipanggil.


"Iya, Siapa lagi!!" bentak El pada mafioso itu.


Kemudian mafioso itu menghampiri ketuanya itu yang duduk di kursi kebesarannya.


"A...ada apa king?" tanya mafioso terbata.


"Dimana mereka!"


"Siapa king?"


"Ck..Dasar!! Siapa yang telah mepekerjakanmu disini!!" bentak El lagi.


"Tu..tuan Aldo king."


"Kamu tidak bisa ya? Bicara dengan benar! Hah!!"

__ADS_1


"Ma...maaf king."


"Dengar!! aku tidak sudi punya bawahan yang lelet seperti dirimu!! Mulai sekarang kamu keluar dari sini!!"


"Maaf king, Maafkan saya. Saya janji akan bekerja dengan baik dan cepat."


"Tidak usah! Kalau sudah lelet, Tidak akan bisa cepat."


"Tapi king--"


"Kamu mau pergi!! atau ku penggal kepalamu!!"


"Elvaro!!" pekik mereka yang tak lain adalah Azar, Aldo dan Rehan yang datang dari arah ruang bawah tanah.


El menoleh." Siapa yang mempekerjakan dia disini?" tanya El ke mereka bertiga.


"Gue kenapa?" jawab Aldo.


"Ck...Keluarkan dia, Gue gak mau punya mafioso yang lelet seperti dia." decak El sambil menunjuk mafioso baru itu.


"Gue mempekerjakan dia, Karna di suruh bokap lo! Dia adalah anak dari sahabat Papa lo yang sudah meninggal." jelas Aldo.


"Kenapa lo harus memasukannya kesini? Bukannya di kantor atau di club kek." sewot El.


"Mana mungkin, Gue masukan ke club atau ke kantor! Karna dia pintar dalam ilmu bela diri dan ngehack. Kau tau? ITnya 250." bisik Aldo pada saudaranya itu.


"Kenapa lo suruh jaga di depan pintu?" tanya El kepo.


"Ya...Dia baru saja datang kesini sama kami bertiga. Karna lo belum dateng, Gue suruh saja dia berdiri di depan pintu untuk nunggu lo." jawab Aldo santai.


"Dasar lo!! Bukannya di suruh duduk malah di suruh berdiri di depan pintu." kesal El.


Kemudian El beralih pada mafioso baru itu."Siapa nama kamu?" tanya El datar.


"Nama saya Ergan king." jawab Ergan sambil membungkukkan badannya.


"Ergan, Nama yang bagus! Terus lo bisa apa disini?" tanya El lagi.


"Saya bisa meretas berbagai macam system dan bisa bela diri juga king." jawab Ergan dengan penuh kewibawaan.


"Ternyata lo punya saingan disini." bisik Rehan ke Azar.


"Diem lo, Atau nggk ku cekik leher lo!." ancam Azar sembari berbisik juga.


"Baik! Lo bisa bekerja disini untuk membantu Azar."


"Baik king. Terimakasih!" senang Ergan kemudian membungkukkan badannya berkali - kali.


Kemudian El mengingat sesuatu dan beralih kepada mereka bertiga.


"Trus, Kalian dari mana? Apa kalian sudah menemukan pelaku tadi malam itu." tanya El lagi sambil menatap tajam mereka bertiga.


Mereka bertiga menelan salivanya dengan kasar saat melihat tatapan El yang tak biasa mereka lihat sebelumnya.


"Mmm....Kami dari ruang bawah tanah. Iya, Kami sudah menemukan dan menangkap pelaku yang telah memberi minuman yang terdapat obat itu." jawab Azar melaporkan perintahnya.


"Bagus! Siapa dia?"


"Dia adalah Reina yang slalu buat ulah sama Dira di sekolah dan dia juga menyukai lo. Maka dari itu, Ia ingin menjebak lo agar lo jadi miliknya." Rehan yang menjawab pertanyaan El.


"Baiklah! Mari kita kesana, Karna gue ingin bersenang - senang dulu." ucap El sambil tersenyum miring.


"Tapi gimana dengan mafioso baru ini?" tanya Rehan.


"Biarkan dia ikut, Biar dia tau kekejaman dari kingnya Haha...." jawab Azar sambil tertawa seram.


Kemudian mereka menuju ke ruang bawah tanah, Dimana mereka menyekap dan menyiksa para musuh - musuhnya dan juga para anggotanya yang sudah berkhianat.


Di dalam ruangan yang begitu gelap serta bau anyir yang menyengat di indra penciuman. Seorang wanita yang duduk diatas kursi serta tangan dan kakinya yang terikat, Kemudian kepalanya di tutupi dengan karung kecil hitam, Selalu saja merota minta di lepaskan.


"Lepaskan aku!! Tolong lepaskan aku!!" pekik wanita itu sambil meronta.


"Diam!!" bentak El.


"El, Apa itu kamu? Tolong lepaskan aku El. Aku cinta sama kamu." lirih wanita itu yang sudah berhenti meronta.

__ADS_1


"Apa lo bilang, Lepaskan? Cih...Jika lo ingin di lepaskan, Lo harus melayani teman - teman gue gimana? Kan ini yang lo mau, Sebagai wanita murahan." El berdecih memandang jijik ke arah wanita itu yang tak lain adalah Reina.


"Baik, Tapi buka dulu karung ini." ucap Reina.


"Rehan cepat kau buka penutup kepalanya." perintah El.


"Oke." sahut Rehan sambil menghampiri Reina dan membuka penutup kepalanya.


"Baiklah, Mereka juga lumayan."


"(Walaupun gue gak mendapatkan El, Tapi gue mendapatkan keuntungan dan keenakan dari mereka berempat, Walau bagaimana pun mereka juga sangat tampan)" Batin Reina.


"Heh! Memang siapa yang mau bekas kayak lo." sinis Aldo.


"Iya, Walupun gue playboy. Gue juga milih - milih cewek yang masih tersegel, Bukan wanita sampah kayak lo." sambung Rehan dengan pedas.


"Emang masih ada cowok yang mau sama lo? Tidak bodoh!! Kecuali om - om yang bermata keranjang." imbuh Azar.


"Gimana dengan lo Ergan?" tanya El.


"Tidak! Aku juga tidak mau king." tolak Ergan.


El menghampiri Reina dan mencengkram pipinya dengat kuat."Lihatlah! Mereka saja tidak mau sama lo! Apalagi gue yang sangat jijik melihat wajah lo!!" Kemudian El menghempaskan wajahnya dengan kasar.


"Aahhkk." rintih Reina setelah El menghempaskan wajahnya.


"Baiklah! Kalau kalian tidak ada yang mau, Kita apakan wanita ini." tanya El pada temannya.


"Lo bunuh saja ja***g ini agar tidak jadi perusuh kita terus." sahut Rehan.


"Jangan!! Gue mohon, Jangan bunuh gue!! Gue janji gak akan ganggu kalian lagi." teriak Reina histeris.


"Baiklah! Gue juga tidak mau lama - lama dengan wanita ja***g ini."


Mereka tak menghiraukan teriakan Reina yang bagi mereka hanyalah sebuah radio yang rusak.


Kemudian El mengambil pistolnya dan tanpa basa - basi lagi langsung menembakkan pistolnya ke arah kening Reina.


"Aakkhh...Tung..gu pem...ba..la..san..ku." Reina menghembuskan nafas terakhirnya.


"Rehan, Azar! Kalian berikan mayatnya pada Momo. Aldo dan Ergan ikut gue ke ruangan. Setelah itu kalian berdua menyusul." perintah El ke mereka berepat sambil melangkahkan kakinya meninggalkan ruang penyiksaan itu.


"Baik king!" jawab mereka serempak.


Momo adalah singa jantan kesayangan El yang ia rawat sejak kecil saat masih berumur dua bulan. Yaitu hadiah dari Papanya di hari ulang tahunnya dulu. Sehingga singa itu menjadi jinak dan menuruti semua perintahnya.


***


Di ruangan pribadi El, Mereka semua telah berkumpul termasuk Dariel tangan kanannya.


"Mau ngapain lo suruh kita kumpul disini?" tanya Dariel langsung saat memasuki ruangan.


"Duduk dulu napa." ketus El.


Kemudian Dariel duduk di hadapan El sambil menatapnya tajam.


El tak menghiraukan tatapan tajam dari tangan kanannya itu dan mulai membicarakan keinginannya dengan menatap mereka dengan serius."Kalian semua harus cari Dira sampai ketemu." ucap El to the poin.


"Untuk apa kita mencari Dira?" tanya Aldo.


"Iya, Apa lo sudah mulai suka dengannya?" sambung Azar.


"Bukan urusan kalian! Yang terpenting cari Dira sampai ketemu dan bawa kepadaku dengan selamat dan jangan sampai lecet sedikit pun. Kalau tidak kalian akan tanggung akibatnya." ucap El sambil mengeluarkan ancaman andalannya.


"Siapa Dira?" tanya Ergan kepada Rehan yang duduk di sampingnya dengan berbisik.


"Dira adalah gadis cupu yang slalu bikin kita kesel, Tapi di cantik." jawab Rehan sambil berbisik juga.


"Oh..Emang dia kemana? Kenapa kita di suruh mencarinya?" tanya Ergan lagi.


"Gue juga gak tau, Tadi malam dia sama kita. Setelah itu gue gak tau lagi, Karna gue tadi malam di suruh mencari informasi bersama Azar." jawab Rehan.


Ergan hanya mengangguk - anggukan kepalanya mendengarkan jawaban Rehan.


Mereka segera membubarkan diri dan mulai mencari informasi tentang keberadaan Dira serta memberikan tugas kepada mereka masing - masing.

__ADS_1


__ADS_2