Gadis Cupu Keturunan Mafia

Gadis Cupu Keturunan Mafia
Bab 16


__ADS_3

Azar dan Rehan menyusul El dan juga Aldo ke toilet.


"Kenapa kalian kesini?" El bertanya kepada mereka yang baru saja menyusulnya.


"Nih! Gue cuma mau ngasih ponsel lo! Dari tadi ponsel lo bunyi terus! Palingan dari nyokap lo!!" kesal Azar yang langsung memberikan ponselnya.


"Kenapa gak lo angkat?" tanya El yang juga kesal.


"Maleslah gue, Kalok nyokap lo!" sahut Azar.


El mengerutkan keningnya saat melihat no baru di ponselnya."No tak di kenal?"


Lalu ia langsung mengangkat ponselnya yang terus berbunyi.


"Hallo?" setelah ia mengangkat ponselnya.


"Maaf El ini gue Aurel, Gue tadi gk sengaja ambil kartu nama lo di meja" jawab Aurel di seberang sana.


"Terus lo dimana?" tanya El.


"Gue sekarang di rumah sakit, Gue pulang buru - buru karna nyokap gue kecelakaan."


"Oh..Gimana keadaan nyokap lo sekarang?"


"Sekarang nyokap gue baik - baik saja, Cuma sedikit lecet."


"Terus Dira sama lo?"


"Justru itu, Gue nelfon lo dari tadi buat kasih tau kalau Dira masih di kamar mandi, Dia ingin mandi katanya badannya kepanasan. Gara - gara nyokap gue kecelakaan, Gue jadi lupa kalau Dira gue tinggal di toilet."


"Kepanasan?"


"Iya, Ya sudah? Tolong jaga sahabat gue baik - baik, Jangan sampai lecet!" tuturnya.


"Terus--" tut...tut...tut


"Sial!" umapat El, Karna Aurel langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, Hingga membuatnya tambah kesal.


Kemudian El melihat Aldo keluar dari dalam toilet, Dan langsung menanyakan ke beradaan Dira.


"Gimana, Apa dia di dalam?" tanya El langsung setelah Aldo keluar.


"Gue udah cari ke dalam ruangan toilet ini, Tapi gak ada siapa - siapa di dalam." jawab Aldo.


"Ck..kemana perginya gadis itu sih!?" decak El.


"El gue tadi mencium gelas bekas Dira disana, Seperti ada bau obat lain di dalam minuman itu." lapor Rehan.


"Gue juga menciumnya, Macam seperti...Obat perangsang!" timpal Azar.


"Obat perangsang!!" seru El mengulang perkataan Azar.


" Iya" singkatnya.


"Kita harus cari gadis itu secepatnya!! Sebelum orang lain menemukannya!" seru El.


Lalu El dan yang lainnya pergi mencari keberadaan Dira di seluruh hotel tersebut.


Setelah lelah mencari.


"El, Kenapa lo gak cek saja cctv disini, Itu lebih mudah dari pada mencari, Dari pada kita mencarinya begini. Ini hotel men! Berpuluh - puluh lantai dan terdapat ratusan kamar, Bukan kos - kosan." saran Aldo kesal.


"Bener tuh! Yang di katakan Aldo." timpal Azar.


"Oke. Azar! Cepat lo lihat semua cctv yang ada disini, Cepat!!" perintah El kepada Azar, Karna ia takut terjadi apa - apa terhadap gadis yang ia bawa kesini. Sebab ia yang akan menanggung resikonya.


"Nasib! Jadi kena lagi deh." gerutu Azar.


"Baik!" jawab Azar malas kemudian pergi ke tempat ruangan cctv.


Setelah 5 menit kemudian.


"Bagaimana? Dimana Dira sekarang?" tanya El cepat kepada temannya yang baru saja melihat cctv.

__ADS_1


"Gadis itu berada di kamar 205 di lantai 10, Tapi--." El menyela ucapan Azar yang belum selesai bicara.


"Baiklah!! Kau panggilah yang lain. Biar aku yang akan kesana!" perintahnya setelah menyela ucapan temannya.


Azar menghembuskan nafasnya kasar karna ucapannya terpotong, Padahal ia ingin memberitahukan hal yang penting. Kemudian ia berlalu menyusul temannya yang masih mencari Dira.


Setelah sampai di lantai 10 El mencari kamar yang nomor 205, Kemudian ia menemukannya dan langsung mendobrak pintu kamar tersebut berkali - kali sehingga pintu kamar tersebut terbuka lebar - lebar.


Braaakkkk...


"Kau! Mau kau apakan dia!!" seru El setelah pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan seorang pemuda yang seumuran dengannya, Sudah bertelanjang dada dan menindih tubuh seorang gadis yang masih memejamkan matanya.


Pemuda tersebut kaget saat mendengar dobrakan pintu dari arah luar, Terutama dengan orang yang mendobraknya. Tapi pemuda itu terlihat biasa saja saat melihat orang yang di kenalnya berdiri di ambang pintu sambil mengepalkan tangannya.


Lalu ia bangun dari tubuh gadis itu dan memandang remeh ke arah El yang sudah berjalan menghampirinya dengan pelan.


"El! Sobatku yang baik, Sudah lama kita tidak bertemu?" bukannya menjawab pria itu malah bersandiwara untuk melabuhinya.


"Jangan basa - basi! Sekali lagi gue tanya, Lo apakan dia!!?" sentak El yang sudah emosi sampai ke ubun - ubun.


"Gue belum apa - apain dia karna dia juga teman masa kecil gue" sanggahnya.


"Teman masa kecil? Ciihh..." El berdecih sambil memandang sinis pria tersebut."Gue gak nyangka, Ternyata ini kelakuan lo sekarang? Di balik sifat pendiammu itu hanyalah topeng ilusi untuk menutupi keangkuhanmu."


Pria itu juga tersenyum sinis."Memang kenapa? Kalau gue begini? Ini semua gara - gara lo!! Gue jadi begini! Karna lo dulu telah merebut Kairin dari gue! Sekarang giliran gue merebut cewek lo!."


"Silahkan saja! Kalau lo berani nyentuh dia!" ancamnya


"Emang gue takut sama lo? Hmmm." tantang pria itu.


"Elvaro!!." seru mereka berempat yang datang dari arah belakang.


Setelah sampai Aldo dan Devan terkejut saat melihat orang yang di kenalnya berada disini, Yaitu teman masa kecilnya dulu yang slalu pendiam. Sedangkan Rehan dan Azar terlihat bingung saat melihat ekspresi mereka yang terkejut.


"Desta!!" seru Aldo dan Devan.


Mereka berdua mau memeluk teman masa kecilnya itu. Tapi keburu di hadang oleh tangan El.


"Kenapa?" tanya mereka berdua.


"Karna dia ingin meniduri Dira, Dan mengaku - ngaku sebagai teman masa kecilnya dan dia juga berusaha ingin membalas dendam ke gue, Karna gue sudah merebut Kairin darinya."


"Gue gak nyangka Des! Ternyata lo selama ini yang pendiam menjadi pendendam begini?" ucap Devan tak percaya.


"Iya gue juga gak nyangka, Ternyata lo lebih memilih jalan hati lo dari pada persahabat kita dari kecil." timpal Aldo.


Tiba - tiba suara seorang gadis yang mendesah kepanasan.


"Aahhh...Panaass...Tolooong." lirih gadis itu.


Semua menoleh ke arah gadis itu.


"Gue tanya sekali lagi sama lo! Apa yang telah lo lakuin padanya!!" bentak El pada Desta yang masih berdiri di sisi ranjang.


"Gue sudah bilang, Gue belum lakuin apa - apa padanya." belanya.


Lalu El menghampiri Dira yang masih memejamkan matanya sambil merintih kepanasan.


El menatap sendu Dira "Dir, Lo tenang dulu ya? Gue akan nolong lo." ucap El sambil mengelus kepalanya.


Lalu El teringat sesuatu."Ini pasti dari minuman itu."


"Azar, Rehan!! Cepat lo cari siapa yang sudah menaruh obat itu dalam minuman gue!!" sentaknya.


"Baik!" jawab mereka serempak.


"Aldo! Cepat lo panggil Dokter Faris di rumah sakit!" perintah El panik.


"Oke." jawabnya dan berlalu.


"Devan apa yang harus gue lakukan?" tanyanya ke Devan yang masih menatap tajam ke arah teman masa kecilnya itu.


Lalu beralih ke orang yang memanggilnya, Kemudian menghampirinya.

__ADS_1


"Gue juga tidak tau, Sebab gue belum pernah berada di posisi seperti ini." jawab Devan.


"El too...loong." lirih Dira yang suaranya seperti tercekat.


"El! Mending lo urus gadis ini dulu. Biar gue urus dia." ucap Devan sambil menunjuk Desta.


El hanya berdehem dan masih menatap wajah Dira yang semakin berkeringat. Sedangkan Devan membawa Desta keluar.


Dira yang sudah sadar dari obat bius itu dan masih terpengaruh oleh obat perangsang langsung menarik tangan El yang berada di sampingnya dan hanya menempelkan bibirnya pada bibir El. Karna ia tak tahu caranya berciuman.


Ketika El ditarik tangannya ia kaget, Tapi kalau ia di perlakukan seperti itu, Ia tak tinggal diam, Karna ia adalah laki - laki normal ketika di beri kesempatan yang menguntungkan itu. Kemudian El langsung menahan tengkuknya dan mulai me****t dan menyesap bibir Dira dengan begitu lembut.


Tiba - tiba dua orang pemuda dan seorang Dokter masuk ke dalam ruangan. Seketika El reflek melepas c*****nya dan Dira yang masih tak puas dengan c*****nya itu pun cepat menahan tengkuk El agar tak jauh darinya dan kembali berc***** lagi di depan tiga orang tersebut.


"Oh Astaga! Mata gue ternodai!" seru Devan yang melihat adegan mereka.


"Andai itu gue sama Aurel" gumam Aldo keceplosan.


"Apa, Kata lo?" ujar Devan yang tak sengaja mendengar gumaman Aldo.


"Mmmm tidak ada." elak Aldo cepat." Udah kita urus dulu tuh! Dua pasangan, Sebelum mereka kelepasan." ucapnya yang mengalihkan pembicaraan.


"Mmmm Oke. Gue pegang El, Lo pegang Dira."


"Nggk! Gue yang pegang El, Lo yang pegang Dira." tolaknya.


Sedangkan Dokter Faris sudah jengah mendengar perdebatan mereka. Kemudian ia langsung menghampiri dua sejoli yang tak mau melepaskan pungutannya itu.


"Sampai kapan kalian akan begini?" kesal Dokter Faris yang terpaksa harus melihat dua sejoli itu.


Kemudian kedua sejoli itu melepaskan pungutannya yang sudah kehabisan nafas. Tapi Dira belum juga merasa puas, Ia ingin me****m kembali bibir El tapi sudah di tahan lebih dulu bibirnya oleh El menggunakan tangannya.


"Bagaimana ini Om?" tanya El.


"Kenapa dia bisa begini?" tanya Dokter balik.


" Ceritanya panjang Om, Yang penting Bagaimana cara menyembuhkannya."


"Biar ku periksa dulu." Setelah memeriksanya." Ternyata efek dari obat ini sangat panjang sampai besok pagi dan dosisnya juga tinggi."


"Lalu bagaimana Om? Apakah ada obat yang bisa menyembuhkannya?"


"Walau hanya di berikan obat penawarnya tidak akan mempan El, Kecuali--" Dokter menjeda ucapannya dan menarik nafasnya dalam - dalam, Lalu kembali berucap."Kecuali ada seseorang yang membantu menyembuhkannya dengan cara bercinta. Kalau tidak ia akan terus tersiksa begini dan nyawanya tidak akan tertolong." jelas Dokter sambil menatap sendu Anak dari teman karibnya.


"Apa! Bercinta? Maksud Om tidur dengannya begitu?" tanya El memastikan.


"Iya El."


"Gila! Ini bener - bener gila!! Mana mungkin gue merusak kehormatan dia!." El merasa frustasi dengan situasi seperti ini.


Sedangkan Devan dan Aldo ketika mendengar teriakan El langsung berhenti berdebat dan menghampiri temannya itu.


"Kenapa lo?" tanya mereka.


El tidak menggubris pertanyaan mereka, Dan masih memikirkan bagaimana cara menyembuhkan Dira.


"El dengarkan Om, Lebih baik kamu harus menghilangkan kehormatannya dari pada menghilangkan nyawanya." nasihat Dokter.


"Baiklah Om aku akan melakukannya" pasrah El.


"Bagus! Tapi setelah ini kamu harus bertanggung jawab untuk menikahinya." peringat Dokter sambil menepuk bahu El dan berlalu dari ruangan itu.


El hanya mengangguk menanggapi peringatan dari sahabat karib papanya itu yang juga sudah seumuran papanya.


Saat Dokter faris melewati duo debat itu." Kalian berdua keluarlah dari ruangan ini, Biarkan mereka berduaan di dalam." bisiknya.


"Tapi Om--" ucapan mereka terhenti saat melihat tatapan tajam dari Dokter Faris." Baiklah!" terpaksa mereka juga ikut keluar dari kamar tersebut.


El tidak tega melihat Dira yang sudah memandikan keringat dan merintih kepanasan sedari tadi.


"Dir, Maafin gue ya? Setelah ini gue akan nikahin lo. Padahal kita baru saja kenal, Tapi kita akan melakukan ini demi keselamatan lo." ucap El sambil mencium kening Dira terlebih dahulu.


Kemudian mereka berdua melakukan malam yang indah di kamar hotel tersebut yang di pesan oleh Desta teman masa kecilnya yang telah berhianat.

__ADS_1


__ADS_2