
Bertemu kembali
Ceklek!
"Yaampun Cia ka..."
Brugh!
Setelah Cia bangun dari pingsannya, Vivi mengomelinya panjang lebar kali tinggi sama dengan luas xixi
Vivi sangat panik saat melihat pipi dan leher Cia yang memar bahkan warnanya keunguan.
"Aarrrgghh pelan - pelan Vi, ini sakit." ringisnya pelan, bagaimana tidak sakit sahabatnya menekan cukup kuat pada lukanya.
"Huh, sudah kubilang kalau ada apa-apa kabari aku Cia." cerocos Vivi dengan memicingkan matanya.
"Hehehe iya Vi, maaf tadi lupa."
Selesai mengobati luka memar Cia, Vivi kembali membawa susu ibu hamil dan menyodorkannya pada Cia.
"Vi nyari makan diluar yuh." ajaknya dengan nada manja.
"Lah?"
"Ayolah Vi, aku ingin makan nasi goreng."
"Ya tuhan, ini sudah jam 9 malam Cia. Emang masih ada yang jualan."
"Dih, biasanya kalo tukang nasi goreng jam 12 aja masih ada yang jualan."
"Ya udah deh ayo nyari." ujarnya pasrah, sebenarnya Vivi sangat lelah karena bekerja seharian tapi tak apa demi membuat sahabatnya bahagia.
***
Cukup lama mereka berjalan di kegelapan malam.
"Aahhh itu ada Vi." ucap Cia antusias dengan mata berbinar.
"Syukurlah, kita udah jalan lumayan jauh akhirnya ketemu juga."
'''
"Bang nasi gorengnya dua dibungkus, satu pedes banget satunya lagi jangan kepedesan."
"Siap neng." timpal penjual.
Vivi yang mendengar pesanan sahabatnya melongo dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Hey Ci, yang pedes banget buat siapa? bukannya kita berdua sama-sama gak suka pedas."
__ADS_1
"Buat akulah." jawabnya songong.
20 menit kemudian
"Ini pesanannya neng." tukang nasgor menyodorkan kantong plastik berisi pesanan tersebut.
"Makasih bang, Vi ayo balik."
***
Dijalan pulang terlihat mobil BWM hitam melaju dengan kecepatan tinggi, Cia dan Vivi tidak menyadari mobil tersebut karena asik bercerita hingga...
AAAAAAA!!! teriak mereka bersamaan, dengan sigap Vivi menjatuhkan dirinya lebih dulu di tepian pembatas jalan dan menarik pelan tangan sahabatnya agar terjatuh tepat diatas tubuhnya.
Max rem bod*h!!! Huh, hampir saja kau menabrak orang, dua laki-laki keluar dari mobil tersebut untuk mengecek keadaan manusia yang hampir ditabrak oleh sekretarisnya.
Bola mata Max membulat sempurna melihat gadis yang selalu menghantui pikirannya akhir-akhir ini.
"Kalau bawa mobil yang bener dong mas, gua tau kalian pada orang kaya. Tapi jangan seenaknya juga dijalan. Emang ini jalan punya nenek moyang kalian apa." omel Vivi yang membuat Max terkekeh.
"Anda baik-baik saja?" tanya Max berusaha melembutkan nada suaranya, alhasil terdengar sangat menyeramkan ditelinga Vivi.
Max mengulurkan tangannya untuk membantu Vivi berdiri. Vivi yang merasa pernah mendengar suara tersebut mendongakkan kepalanya.
Deg!
"Aaahhh! sa ... sakit." Cia meringis pelan, memegangi perutnya yang terasa nyeri, walaupun benturannya tudak terlalu keras tetapi membuat perutnya kram bukan main.
"Ya tuhan, muka mu semakin pucat Ci. Bagaimana jika kita ke rumah sakit saja. Euumm ... tuan bisakah kau mengantarkan kami ke rumah sakit didekat sini."
Max melirik pada bosnya yang sedang berdiam sembari bersandar di cap mobil, merasa ditatap Ziand membuka matanya dan menganggukkan kepalanya singkat.
"Baiklah, mari saya bantu nona." baru saja Max hendak mengangkat Cia Ziand kembali bersuara.
"SEKALI KAU MENYENTUHNYA, AKAN KU PENGGAL KEPALAMU MAX." suara mematikan dari bosnya membuat nyalinya kicel dan sedikit menjauh dari Cia.
Entah apa yang Ziand pikiran tapi ada rasa marah jika ada yang menyentuh wanita itu selain dirinya.
Ziand mendekat dengan jemari tangan dimasukkan ke saku celananya dan kacamata hitam yang bertengger manis. Tepat disebelah wanita itu Ziand membuka kacamatanya dan membantu Cia berdiri. Membuat Max melongo ditempat.
"Buset, kerasukan apa si bos. Sama istrinya aja gak pernah kaya gini." batinnya.
Cia yang tau bau parfum lelaki disebelahnya, mendongakkan kepalanya.
Deg!
Tes
Tes
__ADS_1
Tes
Air matanya keluar dengan sendirinya, tatapan itu, mata itu. Tubuh Cia refleks mendorong kuat pria dihadapannya dan segera menggenggam tangan Vivi dengan kuat. Tubuhnya sedikit bergetar karena menahan tangisnya.
"Te ... terima kasih sudah menolong."
"Vi ayo pulang!"
"Tapi Ci, kita ke rumah sakit dulu ya, aku takut bay... emmh." mendengar Vivi akan menyebutkan "bayi" membuat Cia seketika membungkam mulut sahabatnya ini.
"Tidak Vi, aku baik-baik saja. Ayo pulang." tatapan Cia berubah sendu, membuat Vivi merasa semakin khawatir.
"Baiklah, tuan tampan kita permisi."
Saat Vivi melirik kembali sahabatnya sudah lari.
"Woe tungguin Ciaaaa!"
Hos
Hos
Hos
"Buset, lagi bunting aja larinya masih bisa cepat ni anak."
Ceklek!
Vivi penasaran dengan sahabatnya yang menangis keras didalam kamarnya.
"Cia."
"Hey, kenapa? apa perutmu masih sakit?"
Tangis Cia semakin kencang membuat Vivi panik bukan main.
"Cia kita ke rumah sakit sekarang ya."
Cia menggeleng kuat dan menyeka air matanya dengan kasar.
"Vi kau tau pria yang tadi menolong ku?"
"Euumm ... tidak tapi dia tampan."
"Huaaaaa Viana dia adalah..."
Who is he?
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
__ADS_1