GADIS KECIL

GADIS KECIL
Donor darah


__ADS_3

...Happy Reading...


...•...


Berbeda dengan Ziand yang tengah gelisah, Leon dan beberapa anak buah yang lainnya lebih berinisiatif untuk mencari jejak pelaku penculikan tersebut. Ziand dan Leon sama-sama lupa, jika mereka meninggalkan dua gadis sendirian di gedung tua itu.


"Mampus, kita ditinggal Cal." gerutu Vivi menatap sekitarnya yang terlihat sepi tidak ada orang lain kecuali dirinya dan Cala.


Cala mengumpat merutuki kebodohannya. "****! Kenapa tadi nggak bawa mobil sendiri coba." sahutnya mengibaskan tangannya guna mencari sinyal.


"Nggak ada sinyal lagi, gimana mau minta jemput kaya gini." imbuh Cala.


"Jalan satu-satunya kalo nggak mau nginep disini ya kita harus jalan kaki, untung aja aku nemuin beberapa senter yang masih nyala terang." Vivi menunjukkan puluhan senter yang ia temukan.


"Bagus, kalo gini kita gak perlu pake senter handphone. Segini banyaknya cukuplah sampai jalan keluar."


Vivi mengangguk dan mulai menyalakan satu senter untuk menerangi jalanan hutan yang penuh semak belukar.


"Nanti aja deh ceritanya sama Vivi, yang penting keluar dulu dari hutan ini baru aku menyelidiki benda itu." batin Cala mulai mengikuti langkah Vivi dibelakangnya.


•••


Tara terus-menerus memutar ulang video yang ia rekam saat dirinya melukai Morgan. Melihat darah yang terus bercucuran membuatnya semakin bahagia.


"Sayang, untuk apa kau terus mengulang video itu?" tanya laki-laki yang baru saja datang dan mulai menciu*i tengkuk leher wanita itu.


"I'm vary vary happy honey." sahutnya dengan sedikit mende*ah karena rang*angan pria tersebut.


Laki-laki misterius itu menghentikan kegiatannya saat akan bertanya kembali.


"Do you hate him? He is very cute I think, but why did you hurt him?" tanyanya kembali. {apa kau membencinya? dia sangat imut ku rasa, tapi kenapa kau melukainya?}


Dari pada terus membalas ucapan pria itu Tara memilih untuk pergi dan memikirkan kembali apa yang harus ia lakukan setelah melukai Morgan.


•••


Tangisan Cia sudah tak terdengar kali ini, setelah beberapa menit lalu Cia semakin tak karuan berteriak dan memberontak membuat mereka terpaksa menyuntikkan cairan bius untuk wanita ini.


Hellena dan Haston dibuat lega dengan kabar Morgan yang sudah ditemukan, siapa lagi kalau bukan Cala dan Vivi yang mengabarinya.


Hellena mengerutkan keningnya heran, melihat Vivi dan Cala sudah kembali tanpa membawa cucunya. "Loh, Morgan nya mana?"

__ADS_1


"Mor…"


"Mah, kita harus ke rumah sakit xx sekarang." sela Haston cepat, saat setelah sambungan telepon dari Ziand mati.


"Ruman sakit xx? Ngapain pa?" tanya Hellena dan Vivi bersamaan.


"Iya, ngapain om? Bukannya rumah sakit itu jauh yah dari daerah sini. " Cala ikut menanyakannya.


"Nanti aja jelasinnya, sekarang kita ke sana dulu. Papa juga mau bawa Cia sekalian di rawat di sana." jawabnya berlari meninggalkan ketiga perempuan.


Membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di rumah sakit tersebut, walaupun Haston mengendarai mobilnya di atas rata-rata tapi tetap saja. Mengingat jarak rumah sakit ini memang jauh.


"Pa, papa ngapain sih bawa Cia ke sini. Lagian rumah sakit didekat rumah kita aja banyak kok." Hellena berkacak pinggang.


"Aduh ma, nurut aja sama papa. Ini demi kebaikan Morgan." mendengar nama Morgan, Hellena langsung mengikuti suaminya tanpa banyak bertanya lagi.


"Si Ziand kemana lagi bawa Morgan, aku nggak punya nomornya juga lagi. Kalau dia apa-apain Morgan gimana dong." batin Vivi gelisah.


Sudah satu jam Cia dipindahkan ke ruang rawat, hanya tersisa Hellena, Vivi, dan Cala. Haston? Ah pria itu meninggalkan ketiganya tanpa memberitahu akan pergi kemana.


"Om." panggil Ziand saat melihat Haston yang berada diujung lorong.


Dengan langkah gontai, Haston mendekatinya.


"Dokter masih belum keluar om, Morgan lagi ditangani didalam." sahutnya sambil menatap pintu ruang UGD didepannya.


"Ceritakan, bagaimana cara kamu menemukan Morgan?" pinta pria ini.


Baru saja ia akan berbicara, orang tua Ziand datang lebih dulu membuat Ziand menundanya.


"Mana? Morgan mana?" tanya Killa dengan kepanikannya.


"Morgan didalam mom."


"Ya tuhan, selamatkan cucuku." doa Fernand didalam hati.


"Jelaskan." desak Haston yang sudah tidak sabaran.


"Vivi berhasil melacak kalung yang dipakai Morgan, saat Ziand, Leon, Vivi dan satu temannya sampai di lokasi tersebut. Vivi dan temannya berpencar untuk mencari Morgan dilantai atas gedung tua itu sedangkan Ziand dan Leon mencarinya dilantai bawah. Cukup lama kita berpencar hingga Vivi berteriak keras memanggil nama Morgan. Karena penasaran kami menyusul Vivi yang sudah menggendong Morgan dengan keadaan buruk." jedanya menarik nafas kembali untuk meneruskan penjelasannya.


"Karena panik, Ziand merebut Morgan dari gendongan Vivi dan berlari meninggalkan semuanya. Dari pada Ziand harus membawa Morgan ke rumah sakit kota, akhirnya aku membawa Morgan ke rumah sakit ini." imbuh Ziand.

__ADS_1


"Bagaimana dengan pelakunya?" tanya Haston kembali,


Ziand menggeleng menandakan ia tidak menemukannya. "Aku hanya menemukan ini." sahutnya memberikan kalung yang ia temukan disekitar lantai bawah gedung itu.


"Kalung ini? Sepertinya aku pernah melihatnya." gumam Haston mengambil kalung tersebut dari genggaman tangan Ziand.


"Mana putraku?"


Suara itu membuat mereka semua berbalik menghadap Cia yang tengah duduk di kursi roda. Wajah pucat dengan tatapan mengintimidasi membuat mereka semua gelagapan.


Hellena menatap manik mata suaminya seperti sedang bertelepati.


"Cia dengar…"


"Mana putraku?" tanyanya kembali menatap tajam Ziand yang tengah menunduk.


"Morgan ada didalam, masih ditangani dokter." sahut Haston pasrah, daripada tidak ditanggapi maka Cia akan bertambah marah nantinya.


Buliran buliran bening membasahi pipinya, masih dengan wajah dingin. Cia tetap saja tidak dapat membendung air matanya.


Perlahan Vivi mendorong kursi roda mendekati pintu ruangan tersebut bersamaan dengan dibukanya pintu UGD.


"Bagaimana?" tanya mereka bersama-sama membuat dokter tersebut terkejut.


"Tenang bu pak. Sek…"


"Bagaimana bisa tenang!? putraku baik-baik saja kan?" jerit Cia tidak sabaran.


Dokter tersebut menghela nafas panjang, baru pertama kali ia menjumpai keluarga pasien yang paniknya bukan main seperti ini.


"Pasien kehilangan banyak darah, golongan darahnya sangat langka. Bahkan rumah sakit ini tidak menyediakan nya."


"Apa golongan darahnya?" tanya Cia dan Ziand bersama.


"Rhesus-nul, golongan darah ini sangat langka di dunia. Hanya beberapa orang saja yang memilikinya."


Mereka saling berpandangan seperti meminta pendapat.


"Golongan darah saya sepertinya cocok." kata Ziand membuat mereka semua memandang kearahnya.


"Apa maksudmu Zi?" tanya Killa keheranan. Ziand tak menanggapinya, ia lebih memilih mengikuti suster yang akan menuntunnya untuk mengecek golongan darah.

__ADS_1


"Tenang boy, papa akan berusaha sekuat mungkin untuk mu. Semoga saja golongan darah papa sama dengan mu, jika golongan mama mu tidak sama dengan mu. Maka pasti golongan papa yang sama dengan mu." batin Ziand tersenyum tipis


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


__ADS_2