GADIS KECIL

GADIS KECIL
Ayah biologis


__ADS_3

...Happy Reading...


...•...


"Tenang boy, papa akan berusaha sekuat mungkin untuk mu. Semoga saja golongan darah papa sama dengan mu, jika golongan mama mu tidak sama dengan mu. Maka pasti golongan papa yang sama dengan mu." batin Ziand tersenyum tipis


•••


Setelah pencocokan, akhirnya dokter mengatakan jika darah Ziand dan Morgan cocok. Sedangkan Cia semakin gelisah, jika memang benar Ziand ayah biologis dari putranya. Apakah ia akan merebut Morgan darinya? Pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan.


"Kok bisa? Darah putra Fernand sama dengan Morgan. Sedangkan, Cia yang jelas-jelas ibu kandungnya. Tidak cocok." batin Haston semakin menaruh kecurigaan.


Tahukah kamu, Ziand hanya menjelaskan pada Cia jika ia ayah biologis Morgan. Sedangkan yang lainnya, Ziand belum berani menjelaskan semuanya. Awalnya Killa dan Fernand memang tidak setuju dengan usulan Ziand, tapi saat ia menjelaskan penyebabnya Killa dan Fernand mulai mengerti.


Lemas, itulah yang pria ini rasakan. Darahnya mulai mengalir ke kantong yang disediakan. Usai melakukan transfusi darah, Ziand disarankan untuk dirawat intensif sampai keadaannya pulih.


"Vi, antarkan aku bertemu dengan Ziand. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya." bisik Cia pelan, sangat pelan hanya Vivi yang dapat mendengarnya.


"Oke-oke, kamu yang nyari alasan. Nanti ku ajak Cala sekalian." bisiknya balik, yang mendapatkan anggukan langsung dari Cia.


Vivi menyenggol tangan Cala sebagai kode, namun karena memang Cala nya yang tidak peka membuat Vivi kesal.


Aaaaaaakkkk!


Jerit Cala keras, membuat semuanya menoleh kearahnya. Cala melotot kearah Vivi dan Cia yang sedang cengengesan tidak jelas seolah-olah mengejeknya.


"Cala, kenapa berteriak?" tanya Hellena sedikit khawatir, pasalnya Cala berteriak seperti orang kesakitan.


Cala mengumpat didalam hatinya sekaligus menyumpah serapahi Vivi yang dengan sengaja mencubit pinggangnya dengan keras.


"Eng ... enggak kok nek, Cala gak paapa." sahutnya menekan kata terakhirnya membuat kedua gadis yang mengusili Cala semakin terkekeh.


Hellena menganggukkan kepalanya. "Nenek kira ada apa, tadi teriakkan kamu seperti kesakitan."


"Gimana gak sakit nek, pas nyubit kerasnya minta ampun." gumam Cala terdengar sampai telinga Vivi dan Cia.


"Kita mau nyari udara segar dulu buat Cia, kasihan wajahnya makin pucet kaya mayat hidup." ledeknya mendapatkan pelototan tajam dari Cia.


""Iya sudah, nanti kalau ada kabar dari dokter didalam nenek akan mengabari mu Via."

__ADS_1


" Siap ma, ayo Cal ikut." ajak Vivi mengkode Cala agar cepat mengikutinya. Cala menggeleng sebagai jawabannya namun tatapan tajam Vivi semakin mengerikan membuat nyalinya kicep untuk menolak.


•••


Plak!


Suara tamparan sangat nyaring terdengar di rumah kecil tersebut. Sangat keras, bahkan sampai membekas di pipi perempuan itu.


"Ingat pulang hah!" teriak pria paruh baya yang murka.


"Masih ingat rumah juga!" imbuhnya.


Altara, right! Wanita itu adalah kakak Cia. Tara memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Setelah melancarkan aksinya, selama 4 hari Tara tidak pulang dan tidak memberikan kedua orang tuanya uang.


Uang, uang, dan uang. Hanya itu yang ada dipikiran Harso dan Sania. Maka dari itu, jika putrinya telat memberikan mereka uang. Ya seperti inilah yang terjadi.


"Kurang ajar!" umpat Tara mengepalkan tangannya.


"Mana uangnya cepat, sudah mama katakan. Kalau mau pergi dari rumah, tinggalkan uang yang banyak untuk kami Tara!" tidak Harso tidak Sania, sama-sama mata duitan.


"Maaf ma, yah. Tara lupa kemarin."


"Halah alasan, cepetan mana uangnya. Kalo kamu gak mau kasih kita uang lebih. Jangan harap kamu minta bantuan sama kami buat ngusik hidupnya Cia." sarkas Harso yang masih menodongkan telapak tangannya, yang berarti meminta uang.


•••


Ketiga gadis cantik ini, mendengus sebal. Karena sedari tadi mereka tidak menemukan ruang rawat yang ditempati Ziand. Alasan Cia pergi adalah untuk berbicara dengan ayah biologis putranya.


"Mana sih Ci ruangannya, capek banget sumpah." keluh Vivi mendudukkan dirinya di kursi panjang rumah sakit itu.


"Eh itu bukannya laki-laki yang sama tuan Ziand yah? Kita ikutin aja yuk. Siapa tau dia juga mau ketemu tuan Ziand." usul Cala memperhatikan Leon dari jauh.


"Boleh deh."


Lorong-lorong rumah sakit telah dilewati sampai tepat di depan pintu bertuliskan 'Special Room' Leon masuk ke dalam membuat ketiganya mengintip lewat kaca pintu tersebut.


"Tuh kan bener, dia mau ketemu tuan Ziand. Akhirnya setelah muter-muter nyari ternyata ada disini." ucap Cala pelan.


"Jadi gimana Ci, kamu mau masuk juga?" timpal Vivi melihat sahabatnya yang kesusahan berdiri karena selang infus yang terpasang ditangannya.

__ADS_1


"Nggak usah ngeyel deh, kalo masih lemes jangan dipaksain buat berdiri Cia." tegur Vivi membantu Cia mendudukan dirinya di kursi roda kembali.


"Capek Vi, pengen jalan sendiri." rengek Cia seperti anak kecil.


"Loh, ngapain? Mirip penjaga pintu." ketus Leon yang baru saja keluar dari ruangan saudaranya, saat mendengar suara Cia membuatnya penasaran.


Sontak ketiganya menoleh kepada pemilik suara tersebut, membuat mereka gelagapan.


"Ma ... mau masuk, iya mau masuk." sahut Cia setelah lama terdiam.


"Oh mau masuk, masuk aja nona Gracia. Ngomong-ngomong dimana om Fernand?"


"Ada di, emm … gimana jelasinnya ya." kata Cia kikuk.


Wanita berkursi roda itu menyenggol lengan sahabatnya, Vivi yang tau arti kode dari Cia menganggukkan kepalanya.


"Biar saya dan Cala anter om." ujar Vivi membuat Leon terbelalak, apakah dirinya setua itu? Om? Ah ingin rasanya ku lempar gadis ini ke selokan.


Setelah semuanya pergi, Cia menarik napas dalam-dalam menetralkan degup jantungnya. Dengan langkah pelan, Cia berdiri dari kursi rodanya. Berjalan perlahan-lahan menuju pria yang terbaring lemas.


"Gra … Gracia?" panggil Ziand tak percaya.


"Panggil saja Cia." jedanya menatap manik mata sayu milik pria didepannya.


"Pertama, saya sangat berterima kasih telah mendonorkan darah anda kepada putra saya. Tapi bukan berarti dengan itu anda tidak bisa merebut Morgan dari saya." ketus Cia, ia masib berpikir jika Ziand akan memisahkan ia dan putranya.


Pria itu mengerutkan keningnya heran, apa yang dipikirkan wanita itu. "Jangan berbicara terlalu formal Cia, mendonorkan sedikit darah say … aku tidak ada apa-apanya dengan pengorbanan mu membesarkan Morgan. Putra kita, tidak hanya dirimu. Dan jangan berpikir jika aku akan merebut Morgan darimu. Justru aku akan merebut..." jeda Ziand ikut-ikutan. Membuat Cia gelisah.


"Justru aku akan merebut mu dan putra kita untuk tinggal bersama." imbuhnya.


Cia mengangkat satu alisnya. "Jad…"


"Nanti, sampai Morgan pulih. Jangan terus-terusan berpikiran negatif tentang diriku." selanya, Ziand tau apa tang akan wanita itu katakan.


"Buk…"


"Apa? Bukannya putri ku sudah menyukaimu sejak lama, bukankah ini pertanda baik hm?" godanya menaik turunkan alisnya, paling tidak kecanggungan diantara keduanya berkurang.


"Jangan menyela ucapan ku, tuan muda Lee. Ingat! Jangan pernah berpikir untuk merebut Morgan dari ku." ketusnya kemudian keluar dari ruangan tersebut membuat Ziand memejamkan matanya.

__ADS_1


"Sabar Ziand, sabar. Ini baru permulaan." batin Ziand menyemangati dirinya sendiri.


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


__ADS_2