
...Happy Reading...
...•...
...•...
...•...
...•...
...Ibu Guru...
Penantian Cia sejak kecil akhirnya terwujud, setelah melalui berbagai tes ia diterima mengajar disekolah xx yang merupakan tempat sekolah putranya nanti.
Benar-benar tidak menyangka kalau Cia juga akan mengajar di kelas satu bangku sekolah dasar. Sudah ku katakan! Cia bukan karena kekurangan uang untuk jadi guru, tapi inilah impiannya sejak dirinya menginjak bangku taman kanak-kanak.
Hari ini adalah hari minggu, taman umum di dekat rumah Cia cukup ramai karena lokasinya yang dekat dengan danau membuat suasana menjadi sejuk. Banyak keluarga-keluarga kecil yang mengunjungi taman ini hanya sekedar untuk menyenangkan anak mereka.
Tapi penglihatannya tertuju pada anak perempuan yang duduk ditepi danau sendirian dengan membaca buku. Cia mulai mendekati gadis kecil tersebut entahlah seperti ada magnet yang membuatnya tertarik.
Saat tepat Cia berdiri tak jauh dari gadis kecil tersebut, ia mengamati betul-betul dari samping wajahnya. Terlihat murung dan setetes air mata keluar.
"Hey, kenapa kenangis hm?" tanya Cia lembut, mensejajarkan dirinya dengan gadis kecil tersebut.
Disya. Yah dia memang Disya, putri Lee Ziand pengusaha sukses di kota tersebut.
Disya memandang sejenak wajah wanita didepannya lalu memfokuskan lagi pada buku yang ia bawa. Cia yang melihat reaksi gadis kecil ini mersa tertantang, Cia tidak pernah ditolak apalagi diacuhkan oleh anak kecil.
"Bisakah anda pergi?! jangan menggangguku." ketusnya tanpa melihat wajah Cia.
"Aku menganggu? ayolah kita bisa jadi teman bukan?" tawar Cia yang tetap tidak mendapatkan respon dari Disya.
"Aku tidak suka teman dan aku tidak mau punya teman." sahut Disya penuh penekanan dengan membuat wajah garangnya yang justru terlihat inut dimata Cia.
"Bagaimana jika sahabat? oh ayolah, kali ini aku memaksa." ledek Cia diiringi kekehan nya.
"Baiklah, aku Grace Disya Arabella." ucapnya memperkenalkan diri, ia sengaja tidak menggunakan marganya karena ingin tau sejauh mana wanita ini mau berteman dengannya.
"Nama depan mu hampir sama dengan ku, aku Gracia Azella. Kau bisa memanggilku kak Cia." balasnya tersenyum manis menbuat hati Disya merasa hangat.
"Kak Cia? it's okay. Maaf tidak bisa berlama-lama, aku harus pulang jika tidak aku akan dimarahi ayah." pamitnya, sebelum benar-benar meninggalkan Cia. Entah apa yang Disya pikiran tiba-tiba ia mengecup pelan pipi milik wanita ini membuat Cia begitu kaget.
"Aku tau kau begitu rapuh, pandai sekali anak seusia mu menyembunyikan kelemahannya." gumam Cia menatap punggung Disya yang menjauh.
***
__ADS_1
Sekolah Dasar xx
Pagi ini Cia disambut dengan baik dan hangat oleh lara siswa-siswi di sekolah tersebut, bahkan ia sangat diperlukan baik para orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka.
"Morgan, ingat kata bunda. Walaupun bunda mengajar dikelas mu tapi bunda akan memperlakukan mu seperti siswa yang lainnya."
"Iya bunda tenang saja." sahut putranya seolah-olah sangat paham apa yang disampaikan ibunya.
" Oke, mari kita masuk."
Morgan duduk dipojok depan bersebelahan dengan Disya. Wajah Morgan yang dingin dan cuek membuat Disya penasaran.
"Selamat pagi anak-anak." sapa bu Desi yang merupakan kepala sekolah.
"Pagi bu!!" sahut mereka serempak.
"Baiklah, ibu akan memperkenalkan guru kalian. Mari bu Cia silahkan memperkenalkan diri."
"Terimakasih bu."
"Selamat pagi anak-anak, perkenalan nama ibu Gracia Azella kalian bisa memanggil bu Cia." jelasnya tersenyum manis.
"Ibu guru cantik, yeaayy!! kita punya ibu guru cantik teman-teman." teriak bocah laki-laki yang disahuti teriakn yang lainnya.
Morgan dan Disya memutar bole matanya jengah, mereka sama-sama tidak menyukai kebisingan.
Bel istirahat berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar menuju taman-taman dan kantin untuk menikmati bekal makanan yang mereka bawa.
Sama halnya dengan Morgan, pria kecil ini berlari menuju ibunya yang sedang mengobrol dengan guru lainnya.
"Bunda, Morgan lapar." ucap Motgan memegangi perut kecilnya, membuat guru-guru lain terkekeh geli.
"Baiklah ibu-ibu saya permisi dulu. Sepertinya putra saya sudah sangat-sangat lapar." ledeknya yang dibalas anggukan kepala.
***
Saat ibu dan anak ini sedang menikmati makan siangnya, Cia mendengar sayup-sayup suara tangisan dari balik pohon besar yang tidak jauh darinya.
"Morgan." panggil Cia.
"Why mom?" jawabnya.
"Morgan dengar tidak? seperti ada yang menangis."
"Dengar bunda, mungkin dari balik pohon itu." tunjuk nya ke salah satu pohon besar yang berjarak 8 meter darinya.
__ADS_1
"Kita susul ya, siapa tau kita bisa membantunya." ajak Cia yang diangguki putranya.
"Disya?"
Cia sangat-sangat terkejut melihat Disya yang menangis tersedu-sedu dengan memeluk lututnya. Sejak saat pelajaran dimulai tadi pagi, Cia juga teris memperhatikan Disya yang terlihat murung.
Direngkuhnya tubuh kecil milik Disya, Disya mendongakkan kepalanya melihat wajah cantik milik ibu gurunya. Hingga tangannya terulur untuk membalas pelukan Cia, bukannya berhenti justru Disya semakin menangis membuat Cia dan Morgan kawatir.
Setelah benar-benar tenang, Cia menangkup wajah Disya dan menghapus jejak air mata yang masih mengalir deras di pipinya.
"Disya, ada apa hm? kenapa menangis?" tanya Cia lembut, Morgan yang melihat gadis cuek dan dingin ini saat berada dikelas kini merasakan iba.
"Ti ... tidak apa bu guru, Disya hanya rindu momy." bohongnya.
"Memang mommy nya Disya dimana?" tanya Cia lagi yang membuat wajah Disya semakin murung.
Cia mengerutkan keningnya sekaligus merasa bersalah karena telah menanyakan hal itu. "Tidak apa jika Disya tidak mau bercerita, Disya boleh kapan saja bercerita dengan kakak jika ada masalah."
"Boleh?" tanya Disya.
"Tentu saja boleh, kamu boleh bercerita pada kami jika sedang ada masalah." bukan Cia yang menjawab, justru Morgan lah yang menyahutinya. Dengan mengusap pelan kepala Disya.
Disya baru menyadari jika ada laki-laki yang duduk disebelahnya. "Who are you?" tanya Disya cuek.
"Hahah, kenalkan ini Morgan Al Gara putra kakak." jawab Cia melihat perubahan wajah Disya saat mengetahui disebelahnya ada Morgan.
"Jangan terlalu cuek begitu heh, ganteng-ganteng gini dicuekin." ucao Morgan dengan pedenya membuat tawa Disya dan Cia meledak.
Morgan dan Cia yang melihat tawa gadis kecil ini sangat bersyukur, Disya yang sejak awal Cia temui adalah gadis kecil cuek dan acuh kini bisa tertawa.
"Jadi aku boleh bercerita dengan ibu guru dan Morgan begitu?" tanya Disya tak percaya.
"Tentu saja boleh, Dis ... eumm siapa nama mu tadi Dis?"
"Disya." ralat Cia.
"Oh iya bunda, Disya boleh bercerita kapanpun jika Disya mau." ujar Morgan dengan wajah yang dibuat cool.
Disya dan Morgan kini mulai berinteraksi dengan baik, Cia yang melihat putranya bisa bergaul dengan orang lain merasa sangat senang. Biasanya Morgan sangat tidak suka jika memiliki teman baru, tapi kali ini benar-benar Cia merasa bersyukur.
Awal pertemuan?
Bagaimana pertemuan selanjutnya Cia dengan Ziand?
Apakah Ziand akan mengingat kejadian dahulu?
__ADS_1
Typo bertebaran, saiya mencoba untuk merevisi ulang. So, do not worry><
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)