
Happy Reading
•
Putraku?
"Tadi itu mommy mengunjungi The Natural Fragrance bareng temen-temen mommy, eh pas mommy mau pulang...
Flashback on
Brugh!
Disya menabrak kaki milik wanita hingga membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh kelantai.
Killa berjongkok hendak membantu gadis cilik tersebut yang sedang mengusap lengannya, namun ia terhenti saat wanita cantik nan manis berlari mendekat dan mengangkat tubuh gadis itu.
"Sayang, kan bunda sudah bilang. Jangan lari-lari." cerocos Cia mengusap lengan Disya yang memerah.
"Maaf bu, putri saya tidak sengaja. Ayo sayang, minta maaf." lanjutnya.
Killa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, Disya mulai mengangkat kepalanya dan melihat wanita yang ia tabrak. Pandangan Disya dan Killa bertemu, membuat keduanya sama-sama kaget.
"O .. oma."
"Disya." ucap keduanya bersamaan.
"Disya kenal?" tanya Cia lembut.
"Kenal bu ... bunda." ucapnya melirihkan suaranya saat menyebut 'Bunda'
"Saya Omanya nona." sahut Killa.
"Oh astaga ya tuhan, mari nyonya kita mengobrol didalam ruangan saya saja." ajak Cia diangguki Killa.
Sampai di ruangan milik Cia, Morgan dan Vivi dikejutkan dengan kedatangan wanita bersama Cia dan Disya.
"Silahkan duduk nyonya." ujar Cia.
Tanpa banyak tanya, Vivi mendekati sahabatnya dan duduk di kursi pojok. Morgan masih heran dengan wajah Disya yang menunduk hingga ia melamun.
"Morgan, kemari boy." panggil Cia.
"Iya bunda."
Setelah semuanya duduk dengan tenang, Killa mulai pembicaraan itu.
"Saya Gracia, salah satu guru yang mengajar disekolah dasar xx. Ini putra saya, Morgan Al Gara." papar Cia tersenyum manis.
__ADS_1
"Morgan ayo salim." lanjut Cia, sebenarnya Morgan agak sedikit ragu namun saat Disya menganggukkan kepalanya membuat Morgan menyalami tangan Killa dan menciumnya.
Killa menelisik setiap inci wajah Morgan, betapa terkejutnya ia melihat tanda lahir yang sama dengan putranya. Bukan hanya tanda lahir itu tapi wajah Morgan bahkan menduplikat putranya saat kecil. Sorot matanya saja begitu mirip.
"Bolehkah saya berbicara dengan anda dan cucu saya?" tanya Killa.
"Boleh bu." jawab Cia, dan memberi kode kepada Vivi untuk membawa Morgan ke dalam.
"Disya, sekarang jelaskan pada oma. Kenapa Disya memanggil ibu guru dengan sebutan bunda hm?"
"Ma ... maaf oma." lirihnya berlari memeluk Cia dan menangis didalam dekapannya.
"Maaf nyonya, bukan saya yang menyuruh Disya untuk memanggil saya dengan sebutan bunda. Awalnya saya juga terkejut saat ia memanggil saya bunda. Tapi setelah saya mendengar ceritanya, saya membiarkan Disya memanggil bunda. Set..."
"Tau apa anda tentang kehidupan kami." sela Killa dingin, tiba-tiba ia teringat pada mantan menantunya.
Tangis Disya semakin kencang. "Huaaa! oma jangan marahin bunda, Disya iri pada teman-teman. Mereka memiliki mama, sedangkan Disya? mendapatkan kasih sayang ayah saja Disya tidak pernah apalagi kasih sayang mama. Disya selalu diejek tidak memiliki mama saat disekolah, untung saja ada bunda yang selalu membela Disya. Disya mohon, jangan pisahin Disya sama bunda. Disya udah sayang sama bunda oma hikks." akunya dengan sesegukan dan memeluk Cia lagi.
Killa menitihkan air matanya mendengar jawaban cucunya. "Tuhan, apa aku terlalu jahat karena memisahkan cucu ku dengan ibunya." batin Killa.
Killa mendekati cucunya yang masih menangis dalam dekapan wanita itu, perlahan ia menarik tangan Disya dan memeluknya erat yang dibalas tak kalah erat oleh Disya.
"Maafkan oma sayang, oma tidak akan memarahi mu kok. Oma hanya terkejut saja." ujar Killa menenangkan cucunya.
"Disya boleh tidak oma bicara berdua dengan bunda Cia hm?" tanya Killa sedikit memelas.
Disya mendongakkan kepalanya dan menatap dalam manik mata omanya. "Oma janji kan tidak akan memarahi bunda?" tanyanya balik.
"Baiklah." sahut Disya pasrah, sebelum benar-benar pergi. Disya mencium pipi Killa dan pipi milik Disya membuat Killa benar-benar yakin jika Disya memang menyayanginya.
Setelah Disya pergi, Killa dan Cia menghapus air matanya kasar dan mencoba untuk menenangkan diri.
"Maaf Gracia, bukan maksud saya ini memarahi mu tadi." ungkap Killa.
"Tidak apa nyonya, saya mengerti. Panggil saja Cia nyonya." sahutnya.
"Baiklah Cia, jadi sekarang saya ingin mendengarkan cerita mu tentang cucuku."
Cia menganggukkan kepalanya dan mencoba menetralkan degup jantungnya. "Awalny ~ ~ ~
Cia menjelaskan semuanya dengan jujur, tanpa ada yang di kurang-kurangi dan dilebih-lebihkan. Mulai dari awal pertemuannya hingga Disya yang selalu murung, Disya yang tidak bersemangat, Disya yang tiba-tiba menangis, Disya yang diejek oleh teman-temannya, ,Disya yang menangis saat menjelaskan kondisi keluarganya, dan masih banyak lagi.
Semuanya Cia ceritakan, nembung air mata Killa tak dapat dibendung lagi. Tetes demi tetes meluncur dengan cepat. Sebegitu tersiksanya sang cucu? sungguh ia tak menyangka keadaan cucunya kini.
Hening
Setelah Cia menceritakan semuanya, suasana kembali diam hanya terdengar suara Killa yang masih sesegukan. Cia yang melihat itu merasa iba pada wanita itu dan langsung memeluknya layaknya ibu dan anak.
__ADS_1
"Maaf jika Disya merepotkan mu Cia." ucapnya kembali setelah dirasa ia tenang.
"Tidak apa nyonya, saya justru merasa bahagia." jawab Cia.
"Bagaimana dengan suami mu?" tanya Killa sepontan.
Cia menundukkan kepalanya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Killa. "Sa ... saya tidak memiliki suami nyonya."
"Lalu Morgan?" jeda Killa berfikir sejenak.
Hingga wanita satu ini membelalakkan matanya. "Kamu korban ********** Cia?"
"I.. iya waktu itu...."
"Ya tuhan, sungguh malang sekali nasib mu nak. Bagaimana kamu kuat menjalani ini." sahut Killa, gila sekali bukan? bagaimana Cia menjalani ujian ini.
"Sudahlah nyonya, itu sudah berlalu. Saya sudah melupakannya lagi pula sekarang saya sangat bersyukur memiliki Morgan dan dia lah alasan saya untuk bertahan sampai saat ini." ujar Cia tersenyum tulus.
Flashback off
"Hebat sekali bukan? mommy benar-benar tidak menyangka jika ia bisa menerima takdirnya." terang Killa kepada suaminya dan sang putra.
"Dimana ia dip***osa mom?" tanya Fernand penasaran.
"Cia bilang, ia dip***osa saat ia ingin menjemput sahabatnya di Club. Benar-benar gila laki-laki yang telah memp***osanya tanpa mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jika mommy menemukan orang itu, mommy hajar habis-habisan." tukas Killa geram dengan memeragakan gerakan saat mengulek.
"Syukurlah karena ia, sekarang Disya dapat tersenyum dan ceria." bals Fernand.
"Dip***osa? Club? tidak mempertanggung jawabkan? apa dia wanita beberapa tahun lalu." batin Ziand.
"Apa ini putranya mom?" tanya Ziand cepat dengan memberikan ponselnya yang terdapat foto Morgan.
"Iya benar, dia putranya. Sangat tampan, tapi mengapa ia sangat mirip dengan mu Zi?"
"Mirip? benarkah."
"Really, bukan hanya tatapannya bahkan wajahnya saja menduplikat dirimu."
Ziand kembali termenung, jantungnya berdetak kencang. "Aku harus selidiki ini. Apa dia benar-benar putraku atau bukan, jika ia kejam sekali diriku dulu. Tapi kenapa dia tidak mencari ku dan meminta tanggung jawab." batin Ziand.
"Ziand, kenapa melamun. Darimana kau mendapatkan foto itu? kamu kenal Cia?" berondong Killa membuat Ziand refleks mengatakan.
"Putraku." ucapnya sepontan.
"Apa yang kau katakan son?"
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
__ADS_1
Satu dukungan sangat berharga bagi saya, dengan itu saya lebih semangat dalam menulis.
Typo bertebaran, saiya mencoba untuk merevisi ulang. So, do not worry><