
kembali ke desa.
"Huaaaaa Viana dia adalah ... euumm, euumm ... memang dia siapa Vi." ucap Cia dengan tampang watadosnya yang membuat Vivi memukul keningnya pelan.
"Gracia Azella sebenarnya kau kenal tidak dengan cogan tadi." Cia hanya menggeleng dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal membuat Vivi ingin memakan sahabatnya hidup-hidup.
"Ya udah deh ah, gak usah dibahas lama-lama bikin pusing. Tapi ini nasi gorengnya udah dingin. Jadi mau dimakan tidak?"
"Huuuhh, ya sudahlah aku makan saja. Kalau Vivi gak mau biar nasi gorengnya buat aku aja Vi hehe."
"Enak aja, gini-gini kan Vivi juga laper ogeb."
"Santai mbak santai."
Diam-diam Cia memperhatikan sahabatnya yang tengah lahap memakan makanannya.
"Maaf Vi, aku belum bisa kasih tau siapa pria tadi. Lambat laun jika aku sudah siap akan ku beritahu kok." batinnya.
****
Didalam mobil Ziand masih termenung setelah kejadian tadi.
Apa itu wanita yang ia per**sa?
Kenapa aku mengkhawatirkannya?
Bagaimana jika ia hamil anakku? mengingat waktu itu aku tidak memakai pengamanan dan untuk pertama kalinya aku berhubungan
Berbagai pertanyaan-pertanyaan itu membuat pikiran Ziand kalut. Ziand berjalan gontai memasuki mansion nya. Ia membuka ruang kerjanya dan melemparkannya jas ke sembarang arah.
Penampilannya sangat kacau, tetapi tenang saja itu tidak mengurangi kadar ketampanannya atau bahkan kini bertambah.
Ziand duduk disalah satu kursi ruangan tersebut, perlahan tapi pasti Ziand mengeluarkan kalung yang ia simpan rapih didalam box kaca.
Cukup lama Ziand memandangi kalung tersebut hingga kantuk mulai menyerang, tidak ada niat sedikit pun untuk ia kembalikan kepada pemiliknya.
Setelah puas memandanginya Ziand melangkah ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannya. Walau sebenarnya Ziand risih saat memeluk istrinya tapi tetap saja ia berusaha untuk terbiasa. Pria ini sudah berjanji bukan untuk mencoba mencintai Anggel walaupun tidak tau kedepannya apakah istri akan mencintainy juga atau tidak.
***
Los Angeles Central Library.
Pagi-pagi Cia dan Vivi sudah berunding untuk resign dari tempat kerjanya berat memang. Cia memutuskan untuk tinggal bersama nenek dan kakeknya didesa setelah kejadian ia dicoret dari kartu keluarga.
Vivi? Ah tidak perlu ditanyakan, dia hanya beralasan tidak ingin jauh dari Cia. Sebenarnya alasan utama Vivi mengikuti Cia adalah untuk mengawasi dan menjaga calon ponakannya.
"Kalian berdua yakin mau resign?" tanya mbak Hana atasannya.
"Yakin mbak."
"Tapi kenapa tiba-tiba? apa kalian tidak nyaman atau punya masalah dengan salah satu pekerja disini?"
"Tidak-tidak, Cia akan kembali ke desa tempat nenek dan kakek tinggal."
"Kalo Vivi, euumm ... emmmm. Mbak kan tau sendiri Vivi nggak bisa jauh-jauh dari Cia. Mungkin kita akan mencoba membuka usaha kecil-kecilan disana." bohongnya, tidak mungkinkan jika ia memberitahukan niat utamanya.
"Huwaaaaaaa mbak Hana bakal kangen banget sama kalian berdua."
"Iya huhu nanti Cala juga kangen sama tingkah gesrek kalian." Cala, gadis yang sedari tadi diam kini membuka suara cempreng nya.
{Masih ingat Cala tidak? Jika anda membaca part² sebelumnya pasti akan tau siapa Cala.}
"Kabarin mbak kalo udah sampe ya, besok kalo mbak Hana sama Cala cuti boleh lah main-main ke desa nenek Cia."
"Sehat-sehat disana bestie." timpal Cala.
__ADS_1
"Boleh kok, kalau mbak Hana sama Cala may main kesana tinggal kabari aja."
"See you next time, Cia sama Vivi pamit dulu."
Setelah berpelukan dan pamitan Cia dan Vivi keluar dari perpustakaan tersebut, tepat di trotoar jalan kedua perempuan ini memutar tubuhnya.
"Sampai jumpa kota penug kenangan." gumam mereka bersamaan.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut mereka berdua menaiki angkutan yang membawanya keluar dari kota tersebut.
***
Sore harinya mereka sampai di desa tersebut.
"OMG, indah banget Cia. Andai aku tau tempat ini dari awal kita sering-sering liburan ke sini. Ongkos nya juga murah. Mana si rumah nenekmu?"
"Itu tuh yang itu loh, ayolah kamu pasti tambah kagum."
"Ah masa sih, tetangga disini gimana Ci? apakah ibu-ibu disini tukang gosip?" tanyanya pelan takut jika ada orang lain yang mendengarnya bisa-bisa mampus dirinya.
Cia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Suasananya emang keliatan sejuk dan pemandangannya memang indah tapi, ngga enaknya itu masyarakat sini. Suka menggosip apalagi ibu-ibunya tuh hiihhh."
"Serius, ah ngeri jadinya aku."
***
Tok
Tok
Tok
"Iya juga, tujuh menit kita nungguin kaya gini, ga ada yang keluar."
"Coba ketuk sekali lagi, tapi yang agak lebih keras." saran Vivi.
Dor
Dor
Dor
Bukannya mengetuk Cia justru menggedor pintu tersebut.
"Buset, ni anak disuruh ngetuk malah kaya rentenir nagih utang." batin Vivi.
"Woe Cia, niat mau bertamu apa ma..." kalimatnya terhenti saat pintu tiba-tiba terbuka.
Ceklek!
Keluar wanita tua yang masih terlihat ayu, walaupun kulitnya sudah berkeriput termakan usia.
"Nenek." antusias Cia tapi justru mendapatkan jeweran maut di telinganya.
"Arrgghh sakit nek."
"Hey ternyata cucu nakal ku ini. Tidak sopan sekali berkunjung ke rumah orang dengan menggedor pintunya hm."
"Maaf nek, lepaskan dulu ini sakit huhu."
"Hah akhirnya, bisa-bisa lepas telinga Cia jika terus-menerus ditarik dengan tarikan maut nenek." lanjutnya dengan mengusap telinganya yang terasa panas.
__ADS_1
Mendengar ucapan cucunya membuat wanita tua ini mendelikan matanya kesal.
"Hehe santai nek Cia hanya berjanda eh maksudnya bercanda."
"Ya sudahlah ayo masuk, kasihan teman mu dari tadi melongo terus. Takut nanti ada serangga masuk ke mulutnya." perkataan neneknya kali ini mengundang gelak tawa Cia bahkan sampai mengeluarkan air matanya karena heran dengan ekspresi Vivi.
"Haha, jangan melongo terus Vi. Ayo masuk."
"Aahh i ... iya ayo."
***
Cia mengajak sahabatnya untuk beberes. Karena rumah ini hanya memiliki 2 kamar jadilah Vivi harus 1 kamar dengan Cia.
Kamarnya tidak terlalu besar. Ya, cukuplah untuk mereka berdua berbagai. Walaupun rumah ini terbuat dari kayu terlihat sangat sederhana namun, jika dirasakan auranya sangatlah nyaman membuat Vivi betah.
Karena terlalu lelah beberes belum lagi menempuh perjalanan cukup jauh, keduanya tidur tanpa makan siang dan makan malam.
(Daripada saiya nulisnya wanita tua itu atau nenek tersebut maka aku ganti dengan nama mereka okey)
Nenek Cia bernama HELLEN dan kakeknya bernama HASTON.
***
Malam tiba.
"Ma tadi kata tetangga ada tamu, 2 perempuan kesini siapa?" tanya Haston yang sedang duduk di kursi makan dengan mengamati istrinya yang tengah menyiapkan makan malam.
"Oh itu, si Cia lo pa. Cucu nakal kita itu."
"Cia? Tumben sekali anak itu." terkekeh pelan.
"Lah satunya lagi siapa ma?"
"Entahlah, tadi Cia belum sempat memperkenalkan nya."
Meja makan tersebut kini sudah penuh dengan hidangan berbagai jenis.
"Biar mama panggil Cia dulu, tadi waktu kesini wajahnya terlihat pucat."
***
"Astaga anak ini, susah sekali dibangunkan seperti Harso saja. Berkali-kali dipanggil masih aja molor." gumamnya dengan menggelengkan kepala.
"Cia bangun, ayo makan. Nenek sudah menyiapkannya untuk kalian."
Masih tidak ada respon
"Cia!!! Bangun!"
"Eunggh ... Cia tidak lapar nek. Cia sangat ngantuk dan lelah." lirihnya dengan membalikkan tubuhnya memunggungi Hellen.
"Huuuh percuma saja, jika anak ini sudah bilang tidak lapar berarti mau sekuat apapun aku membangunkan nya tetap saja tidak bangun. Ya sudahlah."
****
"Loh, Cia nya mana ma?"
"Heran mama sama Cia. Susah sekali membangunkannya. Sama seperti Harso."
"Haha mereka kan sedarah, ayah dan anak ma. Sudah-sudah mending makan, keburu mati kelaparan papa."
Huuuhhhh
Oke segini dulu friends
__ADS_1
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
Follow juga boleh hihi:)