GADIS KECIL

GADIS KECIL
I miss you papa


__ADS_3

Flashback on


"Cepat atau lambat sama saja, apapun yang terjadi nanti aku akan menerimanya." batin Ziand mengumpulkan nyali untuk berbicara kepada Hellena dan Haston.


Setelah pembicaraannya dengan Cia, tekad Ziand semakin kuat. Satu hari ia dirawat dan sekarang pria ini sudah sembuh total, begitu juga dengan Cia. Mendengar jika Morgan kritis membuat Cia terpuruk dengan selalu menyalahkan dirinya sendiri.


Dengan dorongan dari orang-orang disekitarnya membuat Cia bangkit kembali, setiap saat Cia akan selalu menjenguk dan menemani putranya. Bahkan Cia berharap, ialah orang pertama yang dilihat putranya ketika tersadar.


"Sudah siap Ziand?" tanya Leon membuat Ziand tersentak kaget.


"Santai bro, ngelamun terus. Udah siap kan? Itu pada nungguin lho." imbuhnya.


"Hm." singkat padat dan tidak jelas.


"Harus abadikan momen nih, kalau tau-tau nanti Ziand ditampar atau di gebukin kan bisa gw jadiin koleksi. Hahaha itung-itung mengenang nantinya." gumam Leon langsung menyiapkan kamera handphonenya.


Haston, Hellena, Vivi, dan Cala sudah berkumpul ditempat tersebut. Begitu juga dengan Fernand dan Killa yang tengah menunggu putranya.


"Jadi apa yang ingin dibicarakan?" tanya Fernand memulai dengan tatapan serius.


"Bagaimana jika ayah biologis Morgan kembali dan mencari Morgan?" tanya Ziand basa-basi.


"Jika ia kembali? Pertama akan ku hajar dia hingga tubuhnya remuk." sahutnya bersungguh-sungguh, membuat Ziand menelan saliva nya susah payah.


"Jangan berbasa-basi lagi Ziand, sudah cukup! Ini saatnya." bisik Leon yang berada disebelahnya.


"Baiklah, aku akan mengakui. Morgan adalah putra ku, aku ayah biologisnya. Pria tidak bertanggung jawab atas kehamilan Cia. Pria brengs*k yang memperk*sa gadis tidak bersalah seperti Cia." akunya dengan nada mantap, mbuat semua orang melongo tak percaya. Apalagi Vivi dan Cala yang terlihat sangat syok.


"Apa maksudmu tuan muda Lee!?" sentak Haston menatap Ziand tajam.


Ziand meletakkan semua map map yang ia bawa untuk meyakinkan Haston dan yang lainnya. Dengan sekali sentakan, map tersebut sudah berada ditangan Haston dengan rapi.


Satu kali tamparan dan satu kali bogeman mendarat tepat di pelipis pria itu, membuat laki-laki tersebut mengerang menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Pa stop!" cegah Hellena menghentikan tangan suaminya agar tidak melukai Ziand lagi.


Ziand sudah terduduk dilantai dengan keadaan acak-acakan. Haston tidak benar-benar menepati ucapannya tadi, ia hanya bermain-main. Tapi mendengar penuturan Ziand tadi membuat amarahnya memuncak. Namun, Haston juga sedikit bangga dengan keberanian Ziand.


Hellena menyamakan tubuhnya dengan Ziand, semua mata tertuju kepada keduanya. Entah apa yang akan Hellena lakukan pada pria didepannya. Wanita itu terus menyusuri manik mata Ziand hingga membuatnya percaya bahwa Morgan memang putranya.


Plak!


Hellena juga menampar pipi Ziand, tapi tidak sekeras Haston. Ia mengangkat dagu milik Ziand untuk mengisyaratkan agar dirinya berdiri.


"Dengar, aku tidak akan mempermudah jalan mu menemui cicitku. Dapatkan kepercayaan Cia, baru kau bisa bersama cicitku." bisik Hellena dengan menekan kata-katanya.


Flashback off


Mulai dari hari itu, Ziand semakin berseri-seri. Selalu bersemangat untuk mendapatkan Cia. Apalagi sekarang putri sudah kembali dari libur panjangnya bersama Max.


"Papa!" panggil Disya berlari kencang menubruk tubuh Ziand dan memeluknya erat.


"I miss you papa." lirihnya.


Seketika ingatan gadis kecil ini melayang beberapa hari lalu. "Papa, bagaimana dengan Morgan? Apa dia baik-baik saja?"


"Nanti kita jenguk Morgan sama-sama okey? Disya nggak kangen sama bunda hm?"


"Kangen, Disya kangen banget sama bunda. Disya juga bawa oleh-oleh buat Bunda, dan yang lainnya." pekik Disya kegirangan didalam gendongan ayahnya.


"Oh ya? Buat papa ada nggak?"


"Eum … ada nggak ya, kayanya nggak ada deh." ledek Disya membuat Ziand mendengus.


"Hahahaha, Disya bercanda papa. Ada banyak yang Disya beli sama om Max, khusus buat bunda sama papa." ucapnya misterius membuat Ziand penasaran.


•••

__ADS_1


Bau obat tercium di seluruh penjuru ruangan tersebut, wanita itu masih menemani putranya yang tak kunjung membuka matanya. Tiada hari tanpa tangisan bagi Cia, semua urusan kerjanya ia berikan kepada Vivi dan Cala.


"Sayang, ayo bangun." lirihnya mengelus pelan kepala putranya.


"Morgan nggak rindu sama bunda? Katanya Morgan mau ketemu papa. Ayo bangun sayang." isakan menyedihkan kembali terdengar memburu orang yang berada disekitarnya ikut merasakan iba.


Satu hari stelah transfusi darah, Morgan dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar dengan fasilitas lengkap. Tentu saja karena keluarga MOORE yang tak ingin jauh-jauh dari Morgan, Cia pribadi pun tidak masalah. Bahkan dengan itu ia tidak perlu memakan banyak waktu saat ingin menjenguk putranya.


"Papa, kok kita di rumah sakit. Emang siapa yang sakit." bisik Disya sembari mengamati orang-orang yang berlalu-lalang.


"Ada deh." kata Ziand membuat Disya sebal.


"Iisshh, papa nyebelin."


Tidak membutuhkan waktu lama, Ziand dan putrinya sampai di ruangan khusus VVIP yang sengaja ia pesankan untuk Morgan.


"Pa, kita n…"


"Ssyyuut, jangan kenceng - kenceng kalo ngomong sayang. Itu bunda ada didalam, katanya mau ketemu." ucapnya pelan.


"Bunda? Aaaa, turunin Disya. Disya mau ketemu bunda." rengeknya menggoyangkan kakinya pelan.


Brak!


Setelah turun dari gendongan Ziand, Disya membuka kasar pintu ruangan tersebut. Membuat Cia dan Ziand terlonjak kaget.


Cia mengusap air matanya kasar dengan sedikit menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat seperti habis menangis oleh gadis kecil tersebut.


"Di … Disya." panggilnya membuat Disya berlari dan memeluknya erat.


"Disya kangen banget sama bunda." ungkapnya mencium kedua pipi Cia bergantian, membuat senyum manis Cia kembali.


Dari pada memperhatikan adegan yang membuatnya sesak, Ziand memilih untuk pergi sejenak. Nantilah ia kembali menemui putranya.

__ADS_1


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


__ADS_2