
...Happy Reading...
...•...
Ziand melirik tangannya yang masih digenggam erat oleh wanita itu, Cia terus saja menggerutu tidak jelas setelah keluar dari rumah orang tuanya.
Karena tidak sadar, perlahan Ziand membawa wanita itu kedalam mobilnya. Urusan mobil Cia nanti adalah bagian anak buahnya.
Entah kemana Ziand akan membawa wanita itu, hingga mobil Ziand melaju membelah keramaian, barulah Cia sadar.
"Hey, kau mau membawa ku kemana." protes Cia mengamati jalanan didepannya.
Ziand tetap diam, membuatnya kesal. "Turunkan aku tuan muda Lee." lanjutnya penuh penekanan.
"Sepertinya berc*nta didalam sini cukup menyenangkan nona. Bagaimana jika kita membuatkan Disya dan Morgan adik." ledek Ziand, menaik turunkan alisnya cepat sambil tersenyum.
Cia bergidik mendengar ucapan pria disebelahnya. "Tuan mu…"
"Sekali lagi kau memanggilku dengan embel-embel tuan, itu berarti kau setuju jika kita berci*ta didalam mobil ini Gracia." tegasnya dan menekan Kalimat terakhirnya.
Cia mendengus sebal, bibir tipisnya komat-kamit merapalkan mantra sihir yang ia tonton di film, ya siapa tau berhasil hahaha.
"Turun." ucap Ziand membukakan pintu untuk Cia yang masih terbengong.
"Ngapain ke sini?" tanyanya melihat sekitar taman yang sepi.
Ziand mengabaikan pertanyaan Cia, tanpa ragu ia meraih tangan wanita itu dan menggandengnya menuju kursi taman yang berada dibawah pohon rindang membuat suasana menjadi sejuk.
"Ngapain sih" tanyanya lagi.
"Ada hal penting yang harus aku omongin." sahutnya tanpa menatapnya.
"Ngomongin apa? Nggak usah pake basa-basi deh. Kasihan Morgan udah nungguin."
Ziand beralih menatap Cia yang tampak sangat penasaran. "Mungkin ini saatnya." batin Ziand.
"Ini tentang hasil pemeriksaan dokter yang memeriksa Morgan kemarin."
"Terus?"
"Morgan mengalami trauma cukup parah, jika tidak segera ditangani akan berdampak mungkin juga akan tersiksa dengan emosi, ingatan, dan kecemasan yang mengingatkan kepada peristiwa tersebut, hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Bahkan, mungkin juga menjadi tidak bisa percaya lagi kepada orang lain." paparnya mengingat apa yang dokter tadi katakan.
Jantung Cia berdegup kencang, tak kuasa menahan sesak di dadanya sampai wanita ini memukul kencang dadanya yang masih terasa sangat sesak. "Tr … trauma? Sekeji apa mereka melakukan putraku sampai dia trauma." lirihnya menatap sendu pria disebelahnya.
"Entahlah, biarkan beberapa anak buah ku yang mencari pelakunya. Sekarang kita harus fokus dengan keadaan Morgan. Aku meminta persetujuan mu untuk membawa Morgan agar ia mau menjalani psikoterapi." paparnya.
"Kita? Apa maksudmu?"
"Aku dan kamu."
"Oh terimakasih atas tawarannya, tapi aku masih sanggup membiayai pengobatan Morgan."
__ADS_1
Ziand yang tau arah pembicaraan Cia, mengembuskan napasnya gusar.
"Aku ayahnya, aku berhak atas Morgan, Cia."
"Tidak, kau tidak berhak! Dia putraku hanya putraku." pekiknya, pertahanan Cia runtuh. Buliran bening mulai membasahi pipinya.
"Jangan egois! Morgan butuh sosok ayah, jangan mementingkan diri mu sendiri."
"Mementingkan diriku sendiri!? Jika aku mementingkan diriku sendiri, maka Morgan tidak akan ada di dunia ini. Kau tidak tau bagaimana hancurnya aku saat mengetahui hamil diluar nikah tanpa ada yang bertanggung jawab. Hingga aku dicoret dari kartu keluarga, sealu mendapatkan cemoohan dari masyarakat. Dimana kau saat aku terpuruk hah!" teriak Cia menggebu-gebu.
Ziand bungkam, tenggorokannya seperti tercekat.
"Terima kasih atas bantuannya, tapi tidak perlu repot-repot. Saya masih sanggup mengurusi putra saya sendiri." lanjutnya meninggalkan pria yang masih tidak bergeming.
•••
Tangisan histeris kembali terdengar diruangan ini, Morgan yang tadinya anteng-anteng saja dengan mainan barunya. Kini kembali berteriak dan menangis memanggil bundanya.
Berbagai bujukan satu persatu dari mereka sama sekali tidak mempan, diwaktu yang bersamaan Vivi dan Cala kembali tanpa Cia.
Hellena yang sudah lelah dengan putra cucunya itu, akhirnya menyerah dan mengisyaratkan Vivi untuk menggantikannya.
Berkali-kali Vivi membujuk bocah kecil ini, tetap saja tidak berubah. Hingga bujukan terakhir Morgan mau menurutinya. Walau sedikit terpaksa, paling tidak pria kecil ini sudah lebih tenang.
Setelah 2 jam berlalu, Cia baru sampai di rumah sakit ini. Butuh perjuangan ia mendapatkan transportasi mengingat jalan yang ia lalui tadi sangat sepi.
Bagaimana dengan Ziand? Ah pria ini sudah berulang kali memutar mobilnya untuk mencari Cia namun tidak tertemukan, hingga mommy nya mengirimkan pesan bahwa Cia sudah sampai di rumah sakit.
Dari tingkat ilmu dan pengalamannya, tentu saja anak buahnya yang berada di negara C lebih lihai dalam hal ini.mobilnyaaa
•••
"Pa … papa." racau Morgan yang masih berada di alam mimpinya.
Ruang rawat milik Morgan sudah sepi, hanya ada Cia dan putranya saja.
"Tenang Cia, Morgan hanya mengigau." batinnya kembali melangkahkan kakinya menuju toilet untuk membersihkan diri.
Sesaat kemudian Morgan kembali meracau, kini suara bocah kecil itu meninggi setiap menyebutkan kata 'Papa'
"Pa, Papa, Morgan rindu Papa." kata Morgan sembari menggelengkan kepalanya dengan buliran bening berjatuhan.
Ibu satu anak itu memejamkan matanya sejenak merasakan sensasi sesak yang amat sesak di dadanya.
"Panas, Morgan demam ya Tuhan." ucapnya setelah mengecek suhu badan putranya yang masih meracau.
Pada saat yang bersamaan, dokter dan beberapa perawat masuk ke ruang itu dengan tujuan mengecek kondisi pasiennya.
"Kebetulan, Dok! Putra saya demam dan terus-terusan meracau."
Dengan segera dokter tersebut menyelipkan termometer digital ke ketiak Morgan dan mengeluarkan stetoskopnya untuk memeriksa keadaannya.
__ADS_1
"Bagaimana dok? Apakah berbahaya?"
"Tidak berbahaya, bisa saja mengigau saat sedang demam. Pasalnya, saat sedang tidur dalam keadaan demam, tubuh dan otak sebenarnya sedang kelelahan. Saya sarankan untuk memanggil ayahnya saja, mungkin pasien sedang rindu dengan Papanya."
Setelah mengucapkan kalimat itu, dokter dan para perawatnya undur diri. Kembali dengan Cia dan Morgan.
"Maafin bunda sayang." ucapnya menelisik wajah putranya.
"Haruskah aku menelponnya? Apa yang harus aku lakukan? Apakah ini pilihan yang tepat? Aarrrgghh!" gumamnya.
"Tidak Cia, kamu nggak butuh laki-laki itu. Morgan butuh kamu bukan dia." tekadnya.
Beberapa menit kemudian Morgan terdiam membuat Cia lega, baru satu tarikan nafas panjang Morgan kembali meracau. Isakan tangisnya terdengar sangat menyedihkan.
"Baiklah, aku menyerah. Ini satu-satunya jalan." ujar Cia mengeluarkan handphonnya dan mencari nomor Ziand yang pernah Vivi berikan.
Cia menggigit kuku jarinya sembari menunggu Ziand mengangkat teleponnya.
"Hallo." ucap Ziand diseberang sana.
"Sial, kenapa aku menjadi gugup seperti ini." batinnya.
"Ke rumah sakit xx sekarang!" sahut Cia, entahlah setelah mendengar suara Ziand dari sana membuatnya sangat gugup. Hanya Kalimat itu yang bisa ia keluarkan.
Panggilan telepon tetputus, membuat Ziand mengerutkan keningnya. Ia tahu jika yang menelponnya adalah calon istrinya. Ups!
Tanpa pikir panjang, pria ini mengambil kunci mobilnya dan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Mendengar suaranya Cia yang tampak gugup disertai panik membuatnya curiga.
•••
"Apa … Kenapa, Kenapa kau terlihat panik." ucap Ziand dengan nafas tersengal-sengal karena berlari dari parkiran menuju ruang rawat milik Morgan.
Cia mengulum bibir bawahnya menahan tawa, wajah pria didepannya bercucuran keringat dengan rambut acak-acakan.
"Tertawa lah nona, jangan menahannya huh." cibir Ziand mendekati putranya.
"Astaga, panas sekali suhu tubuhnya."
"Papa, Morgan rindu." racunnya kembali.
"Open your eyes dear. Papa disini." bisik Ziand tepat ditelinga putranya.
"Ini papa sayang, ayo bangun."
Tetesan air keluar dari pelupuk mata Cia, tatapan tulus Ziand membuatnya tersihir. Bisikan-bisikan terus Ziand ucapkan agar putranya cepat tersadar.
Apakah Cia akan membuka hatinya untuk pria itu?
Bagaimana dengan kasus Tara?
__ADS_1
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian;)