
Happy Reading
•
Hari berlalu bulan berganti. Seiring berjalannya waktu Cia dan Morgan sudah berdamai. Setelah dua hari ibu dan anak ini perang dingin. Sekarang mereka tampak seperti biasanya.
"Morgan!! come here." panggil Cia yang tengah menyiapkan makan siang di meja makan.
"Iya bunda." sahut Morgan dibelakang Cia.
"Mana Disya sayang?"
"Disya tidur bunda."
"Loh? sejak kapan Disya tidur."
"Tadi pas Morgan lagi belajar tau-tau Disya udah tidur bunda."
"Bunda kenapa masak sebanyak ini?" imbuhnya yang masih mengamati ibunya.
"Nanti ada tamu sayang."
"Tamu? Siapa?"
"Ada deh, mending Morgan bantuin bunda. Bangunin Disya ya."
"Oke bunda." setelah mengucapkan itu, Morgan berlari ke kamarnya.
***
"Mah, kita mau kemana sih?" tanya Fernand tiba-tiba.
"Mau jemput Disya lah pa. Udah deh ayo, mama mau kenalin papa sama wanita yang Disya sebut 'bunda' itu." paparnya.
"Ta...."
"Udah ayo pa, jangan lama-lama." sela Killa cepat menarik tangan Fernand agar cepat-cepat berjalan.
Sama halnya yang dilakukan oleh Killa dan Fernand, Hellena juga menarik-narik suaminya agar cepat-cepat pulang.
"Pa, ayo cepetan ih. Lama banget sih." cibir Hellena.
"Kenapa sih ma, papa cuma mau ngecek produksi parfum hari ini." sahutnya tak kalah kesal.
"Aduh pa, itu kan bisa nanti-nanti an. Sekarang kita pulang, tadi Cia minta kita buat makan siang bareng."
"Tumben."
Saat sudah berada di rumah, Hellena menghampiri Cia dan kedua cicitnya. Meja makan yang biasanya hanya terisi separuh, kini benar-benar memuat berbagai olahan makanan. Walaupun Haston mempekerjakan maid, mereka hanya bertugas untuk membantu bersih-bersih saja.
"Jadi oma sama opa nya Disya yang mau kesini toh." ujar Haston yang diangguki semuanya.
"Ini kamu semua yang masa Ci?" timpal Hellena takjub.
"Bukan kok, Tadi dibantu Vivi juga." elaknya.
"Nggak deng, Cia bohong. Vivi cuma bantuin motongin bahannya doang, selebihnya Cia yang ngerjain." sahut Vivi kekuar dari salah satu ruangan dirumah itu.
***
F'M Company
ziand mengetuk-ngetuk bolpoin nya, jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Mereka berdetak kencang seolah-olah sedang lari maraton.
Ziand masih ingat, ia mengambil beberapa helai rambut milik Morgan. Dan beberapa hari lalu, entah apa yang ia pikirkan hingga ia membawa helaian rambut itu untuk di tes DNA.
__ADS_1
Drrrt! Drrrt!
Ziand menghentikan ketukannya saat putrinya menelpon.
"Hallo sayang."
{...}
"Tidak, ayah masih di kantor."
{...}
"Mungkin oma dan opa masih dijalan."
{...}
"Sabar sayang, mereka pasti datang kok."
Panggilan terputus, akhir-akhir ini hubungan Disya dan Ziand semakin dekat karena adanya Morgan. Memang tidak selalu bertemu antara Morgan dan Ziand, namun dengan laptop yang dibelikan Ziand. Mereka seringkali video call tanpa sepengetahuan Cia.
"Max, bagaimana perkembangan tes DNA itu?" tanya Ziand setelah selesai membayangkan wajah Morgan.
"Belum ada pemberitahuan tuan."
"Jika dalam satu minggu ini masih tetap tidak ada, pastikan rumah sakit itu hancur." titah Ziand.
***
Cukup lama pasangan pasutri ini berputar-putar di daerah itu.
"Yang mana sih ma rumahnya?" tanya Fernand yang sudah lelah.
"Rumahnya yang ada tulisan The Natural Fragrance pah, kata Disya begitu."
"Nah itu, tulisannya ketutupan. Makanya dari tadi cuma muter-muter doang." decak Fernand.
Saat tengah mengamati pelataran rumah ini, Killa dan Fernand dikejutkan dengan kedatangan Disya yang berteriak kencang sambil berlari menghampiri mereka.
"Omaaa! iihh, oma kenapa lama sekali." ucapnya memanyunkan bibirnya.
"Maaf, cucu oma. Tadi opa mu harus mondar-mandir bingung mencari rumah yang mana." sahut Killa dengan cengengesan.
"Sudah ayo oma, bunda udah masak banyak." Disya menarik-narik tangan Killa Unu mengikutinya kedalam.
"Bunda." panggil Disya setelah sampai didepan pintu rumah tersebut.
"Mari tante, om. Maaf rumahnya sederhana." ucap Cia.
"Tidak apa Cia, justru kami kagum dengan rumah mu ini." balas Killa mulai mengikuti Cia untuk masuk lebih dalam.
"Disya, tolong panggilkan nenek sama kakek ya. Mereka lagi dibelakang tuh sama Morgan dan aunty Vivi." pinta Cia yang langsung diangguki Disya.
"Bagaimana tidak nyaman, dari auranya saja. Wanita ini benar-benar terlihat sosok keibuannya, tidak heran lagi kenapa Disya memang nyaman padanya. Dari nada bicara dan tatapannya saja sudah menandakan ia memang menyayangi Disya." batin Fernand.
"Mari silahkan duduk dulu tante om, Cia ambilkan minuman dulu." pamitnya yang diangguki Killa.
"Pah! kenapa sih, dari tadi bengong mulu." tegur Killa menepuk pelan pergelangan tangan suaminya.
"Gak apa-apa ma, cuma lagi mikir aja. Gimana Disya gak nyaman sama wanita itu, dari tatapannya aja kelihatan kalo dia sayang sama cucu kita." bisik Fernand takut didengar orang lain.
"Nah makanya itu ka~~" ucapan Killa terhenti saat melihat pasangan pasutri yang mendekat kearahnya sambil menggandeng tangan Disya dan Morgan.
"Pah!! Itu bukannya Bu Hellena?" tanyanya tercengang.
"Selamat siang." sapa Hellena ramah, wanita ini belum menyadari jika tamunya kali ini adalah..
__ADS_1
"Zakilla? Fernandez?" ucap Hellena dan Haston bersamaan.
"Ya tuhan. Benarkah ini dirimu? MS. Hellena dan MR. Haston." pekik Killa kegirangan dengan air mata yang mulai berjatuhan.
Dengan segera Killa memeluk Hellena, kedua wanita ini juga sama-sama menangis. Setelah berpuluh tahun tidak bertemu sekarang mereka bertemu kembali.
Sedangkan Fernand dan Haston masih tidak menyangka jika mereka dipertemukan kembali.
"Aku merindukan mu MS." ucap Killa sesegukan.
"Aku juga merindukan mu Killa." balasnya.
"Loh, kenapa jadi nangis-nangis an gini. Mending makan, udah di tungguin tuh." pungkas Haston tidak sabar karena memang perutnya sangat lapar.
Setelah melakukan makan siang bersama, kini semua orang kumpul dihalaman belakang dengan Morgan dan Disya yang tidak bisa diam alias sangat-sangat aktif bermain.
"Bagaimana kabarmu Fer?" tanya Haston menepuk pundak Fernand cukup keras membuatnya kaget.
"Anda tidak berubah dari dulu MR. Saya baik, cukup lama kami mencari mu tapi yah. Memang tidak ada hasil." jawabnya.
Bagaimana mereka kenal? Dahulu Hellena dan Haston lah yang mempertemukan Killa dengan Fernand, hingga mereka menikah juga ditemani Hellena dan Haston.
Hingga Fernand dan Killa pergi berpindah negara membuat keempatnya lost contacts. Dan bersyukurlah sekarang karena mereka bisa bertemu lagi.
"Siapa anak laki-laki itu?" tanya Fernand menunjuk pada Morgan yang tengah bermain dengan Disya dan Vivi.
"Dia cucu ku, putra dari Cia."
"Dia hadir karena accident beberapa tahun lalu." imbuhnya.
"Siapa namanya?"
"Morgan! come here." panggil Haston.
"Iya kek?" tanyanya yang masih terfokus pada rubik ditangannya.
"Kamu belum berkenalan dengan opa Disya loh. Sekarang ayo kenalan." sahut Cia yang tiba-tiba datang.
"Hii opa nya kak Disya, say ... eum aku Morgan Al Gara, putra bunda Cia." paparnya menatap polos Fernand.
"Ternyata yang dikatakan istri ku memang benar, dia sangat mirip dengan Ziand. Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini tuhan. batin Fernand memejamkan matanya sejenak.
"Hai, Morgan. Uuhh wajahmu benar-benar tampan." pujinya.
"Terimakasih om."
"Hus, jangan panggil om. Panggil saja opa, seperti yang Disya lakukan. Sekarang, kemarilah." sahut Fernand menepuk-nepuk pahanya, Morgan yang tau apa maksudnya segera mendekat. Tapi sebelum itu dia meminta kode dari ibunya dulu.
Fernand mengamati betul-betul wajah Morgan, dari tatapannya hingga menelisik lebih jauh lagi. Fernand melakukan hal yang sama seperti yang Ziand lakukan, entahlah, otaknya memerintahkan jika ia harus melakukan itu.
Benar atau tidak nantinya itu urusan terakhir, ia mengambil beberapa helai rambut tanpa sepengetahuan semua orang kecuali Killa. Diam-diam Fernand juga menyimpannya didalam saku jasnya.
F'M Company
Sesibuk apapun Ziand, sebanyak apapun kertas-kertas didepannya itu justru tidak mempengaruhi otaknya, pikirannya melayang entah kemana.
Beberapa jam lalu ia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi putranya sekaligus Cia tentunya.
Tidak hanya itu, Ziand juga meminta Max dan Leon untuk menyelidiki hubungan Cia dan keluarga Tara. Walaupun satu minggu ini Morgan tidak menemuinya karena sibuk dengan Cia dan keluarga yang lain. Tapi tetap saja Ziand dapat terus mengobrol dengannya jika tidak ada Disya, Morgan akan sembunyi-sembunyi dari Cia. Jika ada Disya, Morgan bisa blak-blakan namun tidak memanggil papa.
Leon siapa?
Apa Fernand akan melakukan hal yang sama dengan putranya?
Bagaimana reaksi keluarga ini dengan tes DNA yang diberi tahu Ziand?
__ADS_1
Anggelina come back!
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)