GADIS KECIL

GADIS KECIL
Istriku


__ADS_3

...Happy Reading...


...•...


Terlalu fokus dengan komputernya, Ziand tidak menyadari jika Cia sudah tidak ada diruang itu. Ziand membalikkan tubuhnya menatap satu persatu dari mereka.


"Cia mana?" tanyanya spontan, membuat Vivi menepuk keningnya pelan.


"Nona Gracia tadi pergi berlari keluar tuan, nona bilang ia ada urusan dan kit…"


"Kenapa kalian tidak memberitahu ku, bod*h!" umpat Ziand membuat Max diam tak melanjutkan ucapannya.


Pria ini mengacak-acak barang-barang yang ia bawa tadi, astaga kunci mobilnya tidak bisa diajak kompromi.


"Arrrgggghhhh, kemana kunci mobilku." ucapnya kesal.


"Max, pinjam mobilmu." lanjutnya langsung merebut kunci mobil Max yang tergeletak.


Ziand berlari keluar menyusul Cia yang entah sampai mana. Untungnya, sebelum mereka datang ketempat itu. Ziand sempat memberi perintah kepada anak buahnya.


"Jika wanita ini keluar dari tempat ini tanpa ada diriku, Max, atau Leon. Segera ikuti kemanapun ia pergi, Paham!" itulah perintah Ziand tadi, dengan ini paling tidak Ziand dapat berjaga-jaga.


Ting!


Satu pesan yang dikirim salah satu anak buahnya, lokasi cukup jauh darinya sekarang. Sebisa mungkin Ziand melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata demi menyusul wanitanya.


Beralih ke Cia yang baru saja datang ke rumah orang tuanya. Rumah penuh luka yang masih membekas di dalah hatinya, Cia memejamkan matanya sebelum buliran buliran bening itu jatuh.


"Jangan lemah Cia, ingat tujuan kamu kesini." ucapnya menyemangati diri sendiri.


Wanita ini menghela nafas berat, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu rumah ini. Bersamaan dengan itu, Ziand baru saja sampai. Ia memundurkan sedikit mobilnya agar tidak terlalu terlihat, melihat Cia yang mengetuk-ngetuk pintu rumah itu membuat Ziand penasaran.


•••


Mendengar pintu rumahnya terus diketuk membuat Sania kesal, gagal sudah. Padahal ia sedang melihat perhiasan-perhiasan di toko online langganannya.


Dengan kasar Sania membuka pintu rumah itu. Manik mata Sania terkejut melihat wajah dingin Cia seolah-olah ingin memangsanya.


"Ngapain ke sini?" ketus Sania menutupi kegugupannya.


"Tidak sopan sekali anda, ada yang perlu saya bicarakan dengan anda, suami anda, dan anak kesayangan anda." cerocos Cia.

__ADS_1


"Ck, ganggu aja sih. Ya udah masuk." Sania hendak menarik tangan Cia, namun segera ia tepis hingga Sania kesakitan.


"Kurang ajar." umpatnya.


Dari pada terus berdiam diri didalam mobil, Ziand keluar dengan beberapa pengawal untuk ikut mengawasi gerak-gerik Cia didalam.


Sampai didepan rumah itu, ternyata pintu rumah tudak ditutup rapat. Hal ini memudahkan dirinya untuk melemparkan mikrofon kecil yang berfungsi mendengarkan obrolan orang didalamnya.


"Udah sini aja, nggak usah kedalem-dalem. Nanti kamu nyuri lagi, di rumah ini barang-barangnya mahal-mahal semua. Kamu nggak mungkin bisa beli." ejeknya kemudian pergi meninggalkan Cia yang mendengus sebal.


"Cih, sok-sokan. Barang-barang dirumah Cia lebih mahal kali. Eh, sombong dikit nggak paapa kali ya." gumamnya, Ziand yang sudah tersambung dengan mikrofon kecil itu terkekeh kecil.


Sania, Tara, dan Harso kembali dengan wajah angkuhnya membuat Cia muak.


"Ngapain?" ketus Tara memandang sengit wajah Cia.


Cia membuka sedikit tas branded nya membuat mereka melongo, tas itu adalah tas yang Tara incar sejak lama. Dan sekarang Cia sudah memilikinya. Wanita ini merogoh tasnya guna mengambil barang yang akan ia tunjukkan.


"Ini punya mu nona Altara?" menunjukkan kalung yang ia genggam dan menekan Kalimat terakhirnya.


"Ini punya ku, lo maling ya! Pantesan gw cari gak ada." sarkas Tara hendak merebut kalung itu namun gagal karena Cia berhasil menghindar.


"Nyuri? Cih, saya bisa membeli ini dengan pabriknya." ucap Cia meremehkan.


"Tenang saja tuan, saya masih punya urusan dengan putri kesayangan anda."


"Jika ini punyamu, dimana terakhir kau memakainya."


"Kenapa memangnya!" ucap Tara menantang.


"Jawab saja." ucap Cia dingin.


"Tidak dapat menjawab huh, atau jangan-jangan…" Cia sengaja menggantung ucapannya, hal yang tidak disangka-sangka terjadi.


Tanpa aba-aba Harso mendekati putri bungsunya dan menampar keras pipi Cia, luka lama yang membekas dihatinya kini terbuka kembali.


Sedangkan Ziand membulatkan matanya, nafasnya naik turun mendengar suara tamparan yang amat keras.


Brak!


Masa bodo dengan pintu yang ia tendang, nafasnya memburu dengan wajah yang memerah padam.

__ADS_1


Ziand menarik tangan Cia dan merengkuh tubuh bergetar milik wanitanya.


"Tu … tuan muda Lee." gagap Harso. Sania dan Tara tak kalah terkejut dengan ayahnya.


"Berani sekali kalian menyakiti istriku hah." murkanya, rahangnya mengeras dengan tatapan membunuhnya.


"Istri." beo ketiganya semakin dibuat terkejut.


Cia yang masih berada di pelukan Ziand, mencoba mengikuti permainan pria ini. Urusan gengsinya nanti saja.


Ziand mengambil alih kalung yang Cia genggam dan ikut menjalankan drama yang entahlah Ziand tidak tau betul.


"Ini milikmu bukan?" tanyanya. Dengan segera, Tara mengangguk mengiyakan.


"Itu berarti kau ada di gedung tua itu pada saat putra ku diculik."


Tara dibuat gelagapan dengan ucapan Ziand, bagaimana ini. Apa yang harus ia katakan.


"Gedung tua? Apa maksudmu." elak Tara seolah-olah tidak tahu.


"Jangan pura-pura tidak tau, ini juga milikmu kan." desak Cia yang kembali menunjukkan gelang yang ia dapat dari Cala.


"Itu memang milik mu Tara, apa maksudnya gedung tua?" timpal Harso, karena saat rencana itu Tara tidak berbicara lebih dahulu kepada kedua orang tuanya.


"Sialan, ternyata kalung dan gelang ku tertinggal disana. Ini juga kenapa ayah ikut-ikutan arrrgh." batin Tara berteriak.


Ziand menyeringai, ia kembali mendesak Tara untuk menjawabnya.


"Bagaimana jika saya berfikir, kalau anda lah dalang penculikan putra saya."


"Tidak! Untuk apa aku menyulik putra mu tuan. Bukannya anda hanya memiliki seorang putri." sahutnya ingin mengalihkan pembicaraan.


"Tidak ada gunanya aku menculik putra mu itu, walau ku jual sekalipun pasti harganya murah." ejeknya.


Muak dengan Tara yang terus mengelak, Cia juga berpikir. Tidak mungkin ia akan menghukum orang tanpa ada bukti-bukti yang kuat, maka dari itu Cia akan meminta bantuan Vivi dan Cala untuk menyelidiki ini.


Syukur-syukur Ziand menawarkan dirinya agar membantunya, gengsi! Jika ia yang meminta bantuan pada pria ini.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan Altara! Cepat atau lambat saya akan mengetahui semuanya. Jika sampai benar, kau yang menyulik putra ku dan melukainya. Akan ku lenyapkan kau dari dunia ini." teriak Cia, menjambak rambut Tara cukup lama dan menarik tangan Ziand untuk pergi.


"Awas kau Cia, aku akan merebut Ziand darimu." batin Tara mengusap kulit kepalanya yang terasa panas.

__ADS_1


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


__ADS_2