
...Happy Reading...
...•...
Dilain tempat
Gedung tua tak terawat yang cukup jauh dari perkotaan, kumuh dan lembab menggambarkan tempat tersebut. Gelap tidak ada penerangan disekitarnya, mengingat gedung tua ini terletak dipinggiran hutan yang rimbun.
Laki-laki tinggi berpakaian hitam dengan tubuh kekar, berjajar mengelilingi gedung tersebut untuk berjaga-jaga. Sedangkan didalam gedung tua tersebut…
"Terima kasih atas bantuannya sayang." ucap Tara manja menciumi laki-laki tua yang tengah duduk santainya.
Dengan bantuan pria tua itulah, Tara dapat menculik anak dari adiknya. Siapa lagi kalau bukan Morgan. Dengan anak buah yang banyak memudahkan mereka melancarkan aksinya. Imbalan? Tentu saja ada, Tara bersedia menjadi pemu*s naf*u pria tersebut tanpa dibayar selama 2 bulan berturut-turut.
Sangat-sangat gila bukan? Hanya karena ia ingin membuat Cia menderita, sampai-sampai membawa bocah kecil yang tidak tau apa-apa.
"Untuk apa sebenarnya kau menculiknya?" tanya pria itu yang masih asik dengan kegiatan menyu*unya.
"Bukan apa-apa hanya sedikit balas dendam." sahutnya mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan kepada bocah kecil itu.
Tara yang dirang*ang sedemikian rupa, membuat wanita ini mengeluh. Bukan hanya itu, Tara juga berusaha untuk membangkitkan naf*u pria tersebut agar ia bisa cepat-cepat menuntaskan hasratnya dan pergi untuk memulai pertunjukan.
•••
Rumah megah tersebut kini kosong seperti tak berpenghuni, semuanya pergi untuk membantu mencari Morgan tentunya. Sedangkan Hellena sibuk meneliti kamera CCTV hari-hari lalu, entah kenapa perasaannya mengajaknya untuk mengecek cctv. Lain dengan Haston yang sedang menemani cucunya bersama Vivi.
Haston berlari keluar kamar untuk mencari istrinya, seluruh ruangan sudah ia jelajahi namun tak kunjung menemukan istrinya itu.
Bod*h! Mengapa tidak sejak dari tadi ia menelpon istrinya. Yang Haston lakukan karena panik yah, makanannya tidak ada pikiran sampai menelpon.
"Ma, dimana sih?" tanyanya cepat setelah panggilan tersebut terhubung.
{…}
"Aduh, mama ngapain juga disistu."
{…}
"Apa? Bentar, papa ke sana sekarang."
Haston kembali berlari menapaki tangga khusus yang akan membawanya menuju ruang cctv. Pintu tersebut dibuka dengan tidak sabaran membuat bunyi yang nyaring.
"Mana ma?" tagih Haston terburu-buru, nafasnya bahkan tampak tersengal-sengal.
"Bentar pa, coba lihat deh. Ternyata kemarin Harso, Sania, dan Tara ke sini." ucapnya menunjukkan layar komputer yang merekam cctv gerbang.
"Gimana pa? Apa ini ada sangkut pautnya sama penculikan Morgan?"
"Sepertinya begitu ma, biar papa tanyakan sama scurity dan supir itu."
"Baiklah, tapi ngomong-ngomong kenapa papa ngos-ngosan nyariin mama?"
"Astaga! Papa sampai lupa, Cia udah sadar ma. Cia teriak-teriak nyariin Morgan, Via udah coba tenangin tapi tidak mempan." paparnya.
"Ya tuhan, mama susul Cia. Papa tanyakan sedetail-detailnya tentang kedatangan orang tua gila itu."
Ceklek.
Hellena berlari memeluk cucunya yang terus-terusan berteriak dengan memanggil putranya, kaki kanan dan kaki kiri Cia sengaja di ikat agar wanita ini tidak melakukan hal-hal diluar nalar.
__ADS_1
Keadaannya sangat berantakan, pikiran wanita ini hanyalah dipenuhi putranya. Bagaimana keadaan Morga sekarang? Dimana putranya?
Hellena menangkup wajah cucunya dengan telapak tangan dinginnya. "Cia tenang, jangan panik. Kami semua sedang mencarinya. Kendalikan dirimu." ucapnya mencoba berbicara dari hati ke hati.
Tatapan tenang Hellena mulai menular kepadanya, ia sudah tidak lagi berteriak ataupun memberontak. Hanya nafasnya saja yang memburu.
"Ma, Via pergi dulu sebentar." pamitnya berlari cepat mengendarai mobilnya menuju kediaman MOORE.
•••
Sama halnya di keluarga MOORE, seluruh anak buah diturunkan untuk mencari putra Ziand.
"Tidak ada jejak." ucap Fernand setelah melakukan panggilan telepon dengan beberapa anak buahnya.
"Tap…"
Killa terhenti saat mendengar sayup-sayup wanita berteriak diluar, membuat mereka penasaran.
"Munggir sial*n! Aku ingin masuk!" teriak Vivi tidak karuan, terlihat gadis ini begitu panik dan terus memberontak dari cekalan maid-maid diluar.
"Tante Killa, suruh mereka lepasin tangan Vivi. Vivi ingin pinjam salah satu alat canggih milik kalian untuk melacak keberadaan Morgan." mohon Cala.
Tidak hanya Vivi yang datang ke mansion tersebut, Cala juga ikut menyusul untuk membantu Vivi melacak keberadaan ponakannya.
"Lepaskan mereka." perintah Fernand.
Dengan nafas terengah-engah, Vivi dan Cala meminta mereka agar mengantarnya ke ruangan khusus. Yah, Cala dan Vivi tau tentunya keluarga MOORE bukanlah keluarga sembarangan. Mana mungkin mereka tidak memiliki ruangan khusus.
Vivi mengeluarkan laptopnya dan menyambungkan data-data yang ia bawa, tangan gadis ini sangat lihai dalam mengotak-atik laptop beserta komputer tersebut. Cala juga tidak kalah lihai dari Vivi, ia juga mencoba membuka data-data rahasia yang mereka buat.
"Gimana Cal?" tanya Vivi yang masih fokus dengan benda yang ada didepan.
"Baiklah, sekarang giliran aku."
Fernand, Killa, Ziand, dan Leon hanya fokus memperhatikan kedua gadis ini yang masih sibuk tanpa memperdulikan mereka.
Vivi mengerutkan keningnya heran, ia menemukan titik yang berbeda dengan milik Cala. Itu artinya salah satu ada yang terlepas, jika milik Cala ada di jalan xx maka milik Vivi berada di hutan yang jauh dari perkotaan.
"Cal, coba lihat sini." titah Vivi.
"Titik baru, tapi bukannya ini lebih ke hutan ya? Kita pernah ke sana dulu SMA saat berkemah." sahut Cala tak kalah terkejut.
Keempat manusia yang di abaikan tadi ikut kepo dengan apa tang dilihat di monitor itu.
"Apa maksudnya ini? Sebenarnya kalian menemukan titik apa. Dan apa hubungannya dengan Morgan?" tanya Leon bertubi-tubi.
"Kalian pernah melihat kalung peluru yang Morgan pakai bukan? kalung itu memang dari Cia, tapi aku sedikit merombak dalam kalung itu. Aku memasukkan alat pelacak di kalung itu yang menyambung dengan laptop ini. Begitu pula dengan Cala, Cala juga memasukkan alat pelacak pada jam tangan yang selalu Morgan pakai." jedanya menarik nafas dalam-dalam untuk melanjutkan ucapannya.
"Titik yang Cala temukan berada di jalan xx yang merupakan jalanan menuju arah keluar dari kota ini. Berbeda dengan titik yang aku temukan, lihatlah. Ini berada di sekitar hutan yang memiliki gedung tua. Kemungkinan jam tangan milik Morgan sengaja' dilepas, tapi kalung milik Morgan tidak akan bisa dilepaskan jika bukan Cia yang melepaskannya. Karena kalung tersebut hanya bisa dilepaskan menggunakan kunci yang hanya dimiliki Cia."
"GEDUNG TUA! astaga." pekik Cala tiba-tiba membuat semua orang yang tengah serius justru terkejut.
"Why?" tanya Ziand.
"Kalian masih memiliki banyak anak buah bukan?" tanya Cala seketika. Membuat semuanya mengangguk.
"Kirim beberapa anak buah untuk menyelidiki gedung tua itu." cetus Vivi seolah-olah tau apa yang Cala rencanakan.
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Vivi akan jelaskan nanti, yang terpenting kirim beberapa anak buah untuk menyelidikinya." jawabnya yang diangguki Fernand.
Daripada terus-terusan menunggu kabar dari anak buah yang menyelidiki gedung tersebut, Vivi mulai mengotak-atik kembali benda elektronik itu setelah menjelaskan sesuatu kepada mereka berempat.
Semuanya menatap Fernand penuh tanda tanya, karena beberapa menit lalu Fernand menerima panggilan telepon dari anak buahnya.
"Susuri gedung itu, cucuku ada disana." ujarnya.
"Kita masih ingat jalan terobosan untuk menuju hutan tersebut, jarang ada orang yang mengetahui jalanan ini." sahut Vivi cepat.
Ziand dan Leon mengambil kunci mobilnya masing-masing dengan membawa beberapa senjata api.
Vivi dan Cala hanya mengekori kedua pria ini untuk ikut menyelamatkan Morga.
" Mau apa kalian?" tanya Ziand spontan melihat Vivi yang masuk kedalam mobilnya dan Cala yang akan masuk kedalam mobil Leon.
"Tidak perlu banyak tanya, ayo cepat. Aku ingin segera menghajar mereka." kata Vivi ketus dengan memperlihatkan tangannya yang mengepal kuat.
Ziand mengembuskan napasnya pelan, mau tidak mau ia harus menuruti keinginan gadis itu.
•••
Malam harinya Tara terbangun selepas dari kegiatan bergai*ah. Dengan santainya wanita ini melangkah keluar dari ruangan itu dengan lingerie transparan tanpa rasa malu. Perlahan ia melangkah menuju ruangan gelap yang berada dilantai atas gedung itu.
Tara memandang sengit wajah Morgan yang masih tertidur akibat oba bius, beberapa jam lalu Morgan sudah terbangun. Namun karena selalu berteriak dan memberontak, Tara menyuntikkan kembali obat tidur itu kepadanya.
Tara menyeringai kecil sembari mencengkram kuat wajah Morgan.
"Cih, wajah mu mengingatkan ku pada bos tampan itu." gumamnya, dengan kekuatan penuh ia menapar keras pipi Morgan hingga kulitnya terlihat memerah padam.
Tara mengambil pis*u yang ia simpan didalam tempat tersebut dan mulai menggoreskan nya pada lengan Morgan.
Dar*h bercucuran dimana-mana membuat Tara puas. Saat hendak melukai bocah kecil tersebut, salah satu anak buah yang berjaga membisikkan sesuatu kepadanya.
Tara pergi meninggalkan Morgan dengan tatapan tidak rela, ya tentu saja tidak rela. Ia belum puas menyik*anya.
Semua anak buah beserta Tara dan satu pria yang membantu Tara. Pergi meninggalkan gedung tua tersebut, dirasa tidak ada jejak mereka segera keluar dari area hutan.
Tidak ada jejak? Mereka salah.
Setelah kepergian Tara dan yang lainnya, mobil yang dikendarai Ziand dan Leon sampai di tempat itu. Dengan langkah terburu-buru Vivi dan Cala masuk kedalam, kedua gadis ini berpencar untuk mencari keponakannya.
Hingga…
Aaaaaa!!!
Vivi berteriak keras, sangat keras bahkan sampai Ziand dan Leon yang masih berada dilantai bawah terdengar sangat jelas teriakan gadis itu.
"Vivi ada ap … MORGAN!!!" jerit Cala tak kalah keras.
Ziand mengambil alih Morgan dari gendongan Vivi, tanpa banyak bicara Ziand berlari menuju mobilnya untuk membawa sang putra ke rumah sakit terdekat.
Ziand memang terkejut dengan keadaan putranya, tapi ia segera menepisnya. Lebih baik sekarang ia mementingkan keadaan putranya.
Rumah Sakit xx
Ziand berkeliling mencari rumah sakit terdekat dan hanya rumaj sakit ini yang paling dekat dengannya. Walaupun tidak terlalu besar, setidaknya luka-luka yang ada ditubuh Morgan segera ditangani.
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
__ADS_1
Typo bertebaran, penulis mencoba untuk merevisi ulang. So, do not worry><