
...Happy Reading...
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
...Bunda?...
Semakin hari kedekatan Disya dengan Cia dan Morgan semakin lengket, layaknya ibu dan anak-anaknya. Disya bahkan sudah mengenal Hellena, Haston, Vivi. Mereka sama sekali tidak keberatan, Disya juga sudah dianggap sebagai keluarga mereka setelah semua masalah yang membuat Disya selalu murung.
Bagaimana dengan keluarga MOORE? ah tenang saja! mereka tidak mengetahui semuanya. Disya terkadang beralasan untuk bermain ditanam dekat rumah Cia, demi dapat bertemu dengannya dan Morgan.
Flashback on
Setelah satu minggu kenal dengan Cia dan Morgan, Disya semakin membuka dirinya dan mencoba menerima orang baru. Apalagi kasih sayang yang Cia berikan padanya, membuat Disya seolah-olah memiliki ibu sungguhan.
Bahkan Disya terang-terangan memanggil Cia dengan sebutan Bunda, seperti yang Morgan lakukan.
"Bunda?" panggil Disya spontan dan langsung menundukkan kepalanya.
"Eh? siapa yang memanggil bunda hm?" tanya Cia pura-pura tidak tahu.
"Disya bunda." sahut Morgan tersenyum tipis.
"Eumm ... maaf kak, Disya hanya bercanda." lirihnya terisak kecil.
Cia benar-benar merasa iba dengan kondisi Disya, ia pernah bertanya-tanya kepada guru yang lainnya. Dan mereka kata, Disya ditinggal ibunya sejak bayi lalu tidak dapat kasih sayang dari orang tuanya termasuk ayahnya.
Semuanya Cia sudah mendengar walau bukan langsung dari mulut Disya, perlahan Cia mengusap kepala Disya dan membawanya ke pelukan hangat Cia.
"Tidak apa, kalau Disya mau. Disya boleh memanggil bunda seperti Morgan."
Disya mendongak menatap manik mata Cia dan Morgan bergantian. "Benarkah?" tanyanya berbinar.
"Tentu saja boleh, why not. Dan bagaimana jika aku memanggil mu kak Disya? secara kamu lebih tua dariku, ya walaupun jaraknya tidak terlalu jauh." tawar Morgan.
"Baiklah, Disya boleh memanggil bunda dan Morgan akan memanggil Disya kakak." putus Cia dibalas tepuk tangan dari pasangan pasutri dan Vivi tentunya.
"Wah wah, kita tambah keluarga ini." antusias Vivi.
"Disya juga boleh memanggil opa dan oma juga?" tanyanya lagi dengan sedikit gugup.
"Hahaha, tentu saja boleh nak. Disya sudah oma dan opa anggap sebagai cucu. Seperti Morgan."
Air mata Disya kembali keluar, tenang saja. Kali ini bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Kali ini Disya benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu dan keluarga yang lainnya.
Flashback off
Perubahan Disya benar-benar cepat, bahkan kedua orang tua Ziand juga sedikit merasa heran. Disya yang dahulu jarang tersenyum, sekarang ia selalu tersenyum. Sifat dinginnya juga perlahan hilang.
__ADS_1
Tapi, kedua orang tua Ziand tidak ambil pusing dengan itu mereka justru merasa sangat bersyukur.
Tok!
Tok!
Tok!
"Disya, ayo turun. Kita sarapan dulu." panggil Killa didepan pintu kamar cucunya.
"Iya oma." sahut Disya dari dalam.
Keduanya turun bersama-sama dengan wajah Disya yang terus tersenyum karena selalu mengingat wajah Cia.
"Sepertinya cucu oppa sedang berbahagia." ledek Fernand terkekeh kecil.
"Ya begitulah." sahut Disya tersenyum sumringah.
"Uhhh, aku tidak sabar memakan masakan bunda untuk saat jam makan siang." batin Disya membayang masakan-masakan Cia yang membuatnya selalu ketagihan.
"Wahhh, Disya porsi makan mu kini semakin banyak hm." ujar Killa berbinar, bagaimana tidak? Disya yang dahulu jarang sekali sarapan. Kini berat badannya mulai naik.
"Ibu Guru bilang, Disya harus banyak makan agar cepat tumbuh besar." ucapnya menirukan ucapan Cia.
"Ya ya, semakin besar dan semakin boros untuk uang." cibir Ziand, membuat Disya menyeringai.
"Cih, aku tidak butuh uang mu." gumam Disya yang masih didengar Killa an Fernand.
Usai melakukan sarapan bersama, kini Ziand sudah rapih dengan stelan formalnya dan Disya sudah ingin beranjak pergi sekolah.
"Tidak, untuk apa? Ziand ada rapat pagi ini. Jika Ziand mengantarkan anak itu lebih dulu, Ziand akan terlambat." sarkas Ziand.
"Ziand! mau jadi orang tua seperti apa nantinya hah!" tegas Fernand, benar-benar tidak menyangka bahwa sifat Ziand akan berubah setelah memiliki anak.
"Dia itu putri mu bod*h. Disya darah daging mu. Mommy tidak mau tau, pokoknya kamu harus mengantarkan Disya ke sekolah. Mommy harus ikut daddy mu ke acara teman bisnis daddy dulu." bohong Killa, agar Ziand mau mengantarkan cucunya.
Disya yang mendengar perdebatan ketiganya membuat hati kecilnya terasa sangat sakit, apakah ayahnya tidak menganggapnya anak? Apakah ia tidak akan pernah mendapat kebahagiaan? itulah pertanyaan-pertanyaan yang mengisi otak Disya.
Disya menuruni tangga menuju ketiga orang dewasa yang masih berdebat. "Jika ayah tidak mau, ya sudah." ucap Disya.
"Oma, pesankan saja Disya taksi online." lanjutnya dengan menarik-narik ujung baju yang dikenakan Killa.
"Tidak perlu, ayo." ucap Ziand sembari mengangkat Disya kegendongan nya. Mendengar nada bicara putrinya tadi, membuat renung hati Ziand yang paling dalam terasa sedikit sakit. SEDIKIT!
"Ziand yang tengah menyetir mobilnya dengan Disya yang aski memandangi foto polaroid yang entah apa gambarnya. Melihat wajah Disya yang senyum-senyum sendiri, membuat Ziand curiga.
"Turun." ucap Ziand singkat saat sudah sampai gerbang sekolahnya, Disya hanya menyahuti ucapan ayahnya dengan berdehem.
Setelah turun dari mobil ayahnya, Disya melihat mobil milik Cia yang baru sampai. Saat Cia dan Morgan keluar, Disya berlari kencang dan memeluk ibu dan anak ini. Inilah kebiasaan baru Disya jika mereka bertemu, menbuat Cia dan Morgan gemas.
"Ayo masuk sayang." ajak Cia lembut dengan menggandeng tangan kedua anak tersebut.
Sepeninggalan Cia, Disya, dan Morgan. Tanpa mereka sadari, sepasang sorot mata tajam tengah mengintai gerak-gerik ketiganya sedari tadi. Yap, siapa lagi kalau bukan Ziand
Melihat keakraban Disya dengan ibu gurunya dan anak laki-laki yang sangat mirip dengannya, membuat rasa penasaran Ziand semakin menjadi-jadi.
Saat hendak melajukan mobilnya, Ziand menemukan secarik foto dikursi yang diduduki Disya tadi. Terlihat foto wanita yang tersenyum manis dengan tangan kanannya menggendong Disya dan tangan kirinya untuk menggandeng pria kecil.
__ADS_1
Senyum manis milik wanita tersebut terlihat sangat mempesona, jangan lupakan wajah Disya yang tersenyum sangat lebar. Tanpa basa-basi, Ziand memasukkan foto tersebut kedalam saku jasnya.
...Z'M COMPANY...
Nama perusahaan milik Ziand, setelah ia bercerai. Fernand benar-benar memberikan perusahaannya beserta seluruh anak cabang kepada sang putra.
(Z'M Company? Bukannya dulu F'M Company ya? Ya memang benar, coba baca part 2 nya pas perkenalan Lee Ziand.)
Perusahaan besar nan megah yang bergerak di bidang properti, fashion, teknologi dan pendidikan. Memiliki banyak anak buah yang siap bekerja sama untuk mengembangkan perusahaan ini.
Masih ingat ALTARA/Tara? kakak Cia. Ah, dengar-dengar kabarnya kini ia bekerja di perusahaan besar.
Tepat!
Ia bekerja di perusahaan milik Ziand, sebagai sekretaris keduanya setelah Max. Wanita ukar satu ini sekarang sedang tergila-gila dengan ketampanan atasannya, terkadang Tara selalu mencari perhatian putri Ziand maupun kedua orang tuanya. Ya, walau tidak direspon sama sekali. Hahaha.
Ziand memasuki perusahaannya melalui pintu rahasia yang ia bangun agar cepat sampai ke ruang kerjanya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" teriak Ziand dari dalam.
"Bos, rapat akan segera dimulai." ucap Max yang tengah berjalan mendekatinya.
"Hufft, hmm. Ayo."
Berjam-jam Ziand duduk di kursi petinggi, benar-benar membosankan. Ziand bahkan tidak dapat memfokuskan pikirannya pada rapat kali ini, menbuat Nax heran dan dengan terpaksa ia menggantikan atasannya untuk memimpin rapat ini.
Usai rapat tersebut selesai, Ziand tetap saja memandangi wajah wanita yang ada didalam foto itu. Seolah-olah tidak dapat berpaling.
"Max, keruangan ku sekarang!" titah Ziand dari balik telepon.
Hosh! Hosh! Hos!
"A ... ada ap ... apa tuan." ucap Max dengan nafas tersengal-sengal.
"Selidiki wanita yang ada didalam foto itu, cari informasinya sedetail mungkin." perintah Ziand yang diangguki sekretarisnya.
Sebenarnya Max ingin bertanya, siapa wanita yang ada didalamnya. Namun ia urungkan setelah melihat wajah Ziand sedari tadi melamun hanya melihat senyum manis wanita tersebut.
Setelah Max keluar, tiba-tiba masuklah wanita cantik nan seksi dengan pakaian kuranf bahannya yang memperlihatkan belahan pay*d**anya.
"Tuan, ini saya buatkan kopi." ucapnya manja dengan membusungkan dadanya hingga membuat pay*d**anya seperti ingin menyembul keluar.
Ya! wanita itu adalah Tara. Bukannya Ziand merasa tergoda, justru ia semakin jijik dengan wanita ini. Jika bukan karena bakat yang Tara kuasai. Ziand sudah memecatnya jauh-jauh hari.
Ziand mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang dolar, kemudian melemparkannya tepat di wajah wanita itu.
"Ambil uang itu dan bawa minumannya kelyar! Saya tidak ingin melihat anda menggunakan pakaian kurang bahan ini di kantor saya, ganti atau saya pecat!" ancam Ziand dengan penuh penekanan. Membuat Tara gelagapan dan cepat-cepat keluar
Sepintas ingata Ziand tentang insiden beberapa tahun yang lalu, masuk dalam pikirannya. Ziand sudah melupakan wajah gadis yang ia per*o*a. Bahkan dahulu ia berharap ada benih yang tumbuh didalam rahimnya lalu meminta tanggung jawab.
Tapi apa?! Hingga saat ini, Ziand tidak melihat wanita itu lagi, eumm ya lebih tepatnya lupa.
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
Satu dukungan sangat berharga bagi saya, dengan itu saya lebih semangat dalam menulis.
__ADS_1