
...Happy Reading...
Ziand memeluk erat putranya dan berbisik.
" I'm your father." Morgan menegang menatap tak percaya pria dewasa didepannya ini.
Dengan cepat Morgan melepaskan pelukan Ziand dengan cukup kasar, terkejut? Tentu saja! Bayangkan saja, pria yang selama ini ia panggil om tiba-tiba mengatakan jika ia adalah ayahnya.
Ziand termenung setelah pelukannya terlepas, sedangkan Cia hanya diam melihatnya.
"Bu … bunda." panggilannya meminta jawaban.
Cia mengangguk dan tersenyum manis, ia memilih untuk duduk karena kakinya mulai kesemutan.
"Papa?" ucap Morgan menatap Ziand yang sudah berkaca-kaca. Secepat kilat, Morgan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya dan berbalik memunggungi kedua orang tuanya.
Tangisan Morgan sangat memilukan bagi yang mendengarnya, termasuk Ziand dan Cia. Ziand memegang dadanya yang terasa sangat sesak, air matanya mengalir begitu saja tidak bisa ia bendung lagi.
Kali ini Cia memilih untuk bangkit dari duduknya dan mencoba menjelaskan kepada putranya itu. Cia memeluk tubuh Morgan yang masih bergetar karena menangis.
"Morgan, tatap Bunda." pinta Cia membalikkan tubuh mungil itu.
"Morgan why? Katanya mau ketemu sama Papa. Itu Papa Morgan udah disini kok Morgan malah diemin sih." Cia kembali bersuara.
Morgan mendongak menatap emm? Bundanya? Ah bukan, Morgan menatap Ziand dengan mata merahnya.
"Kenapa Om baru mengakuinya?"
Ziand terdiam, apa yang harus ia katakan?
"Kalau memang om papanya Morgan, kenapa om tidak ada ketika Morgan tumbuh? Ketika bunda sedang susah payah berusaha memenuhi kebutuhan Morgan? Kemana om selama itu? Ketika Morgan di bully karena tidak punya ayah dan disebut anak har*m! Kemana om saat itu! Tidak masalah bukan jika Morgan meragukannya." Morgan menjerit tertahan, tidak hanya Ziand yang merasa sakit tapi Morgan juga merasakannya.
Ya Tuhan!! Dada Ziand semakin sesak mendengar ucapan putra kandungnya.
Masa bodoh dengan anaknya yang terus menerus bertanya. Ziand memeluk Morgan dan membawanya agar bersandar di dada bidangnya. Satu tangan Morgan yang bergerak bebas kini sudah mendarat di dada bidang ayahnya dengan pukulan-pukulan kecil menyalurkan rasa kesal dan kecewanya.
"Maaf." hanya bisikan itu yang dapat Ziand katakan, suaranya hilang entah kemana. Berkali-kali Ziand mengatakan kata 'maaf' yang langsung dihadiahi pukulan kecil putranya.
Cukup lama keduanya berpelukan hingga Ziand sudah tidak merasakan pukulan itu lagi, perlahan ia mulai melepaskan pelukannya dan menatap sendu wajah Morgan yang memerah.
"Sudah tidur?" tanya Cia langsung dibalas anggukan kepala dari Ziand.
Ziand membaringkan tubuh itu dengan sangat lembut agar tidur putranya tak terganggu, isakan isakan kecil masih terus terdengar jelas di indra pendengaran keduanya.
"Sudahlah, sekarang kau makan. Bukannya kau dari kemarin malam juga belum makan?"
Ziand menatap tak minat melihat makanan itu, ia hanya menggeleng dan kembali memejamkan matanya.
Cia mengumpat pelan, sangat pelan. Tapi memang karena telinga Ziand yang sangat tajam, ia masih dapat mendengar jelas umpatan calon istrinya itu. Eum calon istri hahaha. Ziand terkekeh melihat wajah Cia yang sedang berkomat kamit seperti dukun santet ~pikirnya.
Drrrt!
Ziand mengalihkan pandangannya ke arah ponsel mahal yang bergetar diatas meja.
Max ~gumamnya.
__ADS_1
"Why?" Ziand to the point
[Maaf tuan, ada rapat penting 3 jam lagi.]
"Bukankah sudah ku katakan, kau yang menghandle semuanya selagi aku menyelesaikan masalah ini."
Max sedikit bergetar mendengar suara penuh penekanan milik Ziand, tidak tahukah Ziand jika Max juga sedang memiliki masalah dengan gadisnya.
[Ta … tapi Tuan, rapat kali ini dihadiri oleh *****]
Ziand tercengang dan bibirnya langsung membentuk seringai menyeramkan.
"Baiklah, untuk kali ini aku yang akan turun tangan menghadapi pria tua itu."
Tuutt!!
Tidak sopan bukan, ia mematikan telepon sepihak yang bahkan Max saja belum menjawab apapun. Tapi ya sudahlah, bukan Ziand namanya jika hal seperti ini ia tidak pernah melakukannya.
Ngomong-ngomong tentang gadis Max, siapakah dia? emm misteri ini cukup rumit hahah.
Back to Cia dan Ziand.
"Aku harus kembali ke kantor." ucapnya memasukkan handphone kedalam saku celananya.
"Pfft, hahaa." tawa Cia memenuhi ruangan itu.
"Kau akan kembali ke kantor mu dengan tampang seperti itu? aku tidak percaya jika kau memang benar CEO yang ditakuti para klien. Jika kau kembali dengan tampilan seperti ini yang ada para karyawan mu akan menertawakan mu Ziand." ucap Cia yang masih di barengi dengan gelak tawa.
Ziand menatap datar wajah Cia, tanpa basa-basi ia berdiri didepan wanita itu dan mengecup keningnya cukup lama membuat Cia berhenti tertawa. Setelah puas, tak lupa Ziand juga menciumi wajah putranya dengan gemas. Tanpa pamit Ziand melangkah keluar sedangkan Cia masih melamun entahlah apa yang dipikirkan Mamah muda satu ini.
"Apa itu astaga! Aarrrgghh Ziand beraninya kau!!"
"Mereka tertidur." ucap wanita paruh baya yang tengah mengamati Cia dan Morgan.
"Ya sudahlah kita bicarakan saja di rumah, sekarang kita pulang dulu." sahut suaminya yang langsung mendapat anggukan dari ketiga manusia yang berbeda gender itu.
••••
Z'M Company
Sudah lama cukup Ziand tak mengecek perusahaannya ini, ia hanya memantau dari layar komputer itupun jika ia mau jika tidak ya biarlah Max yang mengurusnya.
Ziand duduk di meja pimpinan yang berada di bagian depan sembari mengawasi dan menatap lekat klien didepannya.
Tujuan awal Ziand menyempatkan diri untuk rapat kali ini bukanlah tentang kerjasamanya, yang ia inginkan hanya melihat wajah pria tua itu. Menatapnya dengan seringai menyeramkan seolah-olah ingin memengg*l kepalanya saat ini juga.
Ddrrtt!
Ponsel Ziand bergetar saat setelah pertemuan itu selesai. Mommy.
[Ziand!]
Baru saja ia mengangkat teleponnya, suara melengking dari mommy nya membuat telinganya berdenyut.
"Ya Mom, tidak perlu berteriak."
__ADS_1
[Ck! bagaimana keadaan cucu mommy?]
"Morgan? ya dia sehat."
[Dasar tidak peka, tidakkah kau menceritakan perkembangan putramu itu.]
"Mom, kali ini aku benar-benar sibuk. Jika Mom ingin mengetahui lebih lanjut tentang Morgan, jenguk saja dia di rumah sakit. Dan Morgan juga sudah sadar."
Setelah mengucapkan kalimat yang cukup panjang dengan kecepatan maksimum Ziand langsung mematikan teleponnya.
•••
Mansion keluarga MOORE
Seluruh penghuni mansion dibuat geger karena teriakan Mommy Killa dari lantai atas hingga menuruni tangga saja ia masih berteriak.
Fernand menutup telinganya kuat, bukannya tidak terbiasa dengan teriakan istrinya itu. Kali ini teriakan istrinya lebih keras dari biasanya dan juga lebih lama.
"Stop! cukup jangan berteriak." suara tegas milik Fernand membuat istrinya bungkam.
"Ayo ke rumah sakit, Dad." ajaknya menarik tangan suaminya terburu-buru.
Perlahan Fernand melepaskan tangan istrinya, ingat ya perlahan! jika tiba-tiba ia melepaskan tangan istrinya begitu saja, maka tamatlah riwayatnya. Bisa-bisa ia tidak mendapatkan jatahnya.
"Tenang oke, jangan terburu-buru. Untuk apa kita ke rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Fernand seolah-olah lupa dengan cucunya.
Mommy Killa mendengus dan menepuk keningnya pelan, apakah suaminya ini sekarang menjadi pelupa?
"Morgan Dad, Morgan sudah sadar. Ayo cepat ke sana."
"Ah! cucuku satu itu. Baiklah ayo cepat kita ke sana."
Disya yang baru saja menapaki lantai bawah mengerutkan keningnya heran, kenapa oma dan opa nya terlihat terburu-buru sekali dan apa kata mereka? Morgan?
"Oma sama Opa mau menjenguk Morgan ya? Disya ikut!!" pekiknya berlari menuju kedua pasutri itu.
"Ya sudah, ayo Disya ikut."
•••
Dengan langkah tergesa-gesa, Ziand berlari kecil menuju ruang inap putranya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya tiba-tiba Cia menelponnya. Alih-alih mendengar suara Cia, yang terdengar justru nada perintah Morgan agar Ziand cepat ke ruangannya.
Brak!
Pintu terbuka secara kasar, membuat semua orang yang berada dalam ruangan itu berjingkrak kaget. Ziand melangkahkan kakinya menuju putranya yang sedang menunduk, apa yang terjadi sebenarnya ~batin Ziand.
"Papa." lirih Morgan dengan suara lemahnya yang membuat Ziand tersentuh.
Ziand mencoba memberanikan diri untuk mengelus rambut Morgan. "Kenapa hm?"
Morgan menggeleng cepat dan menarik Ziand agar ia bisa memeluk ayah kandungnya itu. Baiklah, ia sudah tidak tahan untuk memeluk tubuh ayahnya dan menangis meluapkan rasa sakit yang selama ini ia rasakan.
Semua mata menatap keduanya dengan air mata yang sudah berlinang, begitulah juga dengan Cia yang sedari tadi ia tahan agar air matanya tak keluar akhirnya keluar juga.
***Siapa kira-kira pria tua itu?
__ADS_1
Bagaimana reaksi Disya saat ia tau jika Morgan adalah saudaranya atau lebih tepatnya adiknya?
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian***:)