GADIS KECIL

GADIS KECIL
Terbongkar


__ADS_3

Happy Reading



Leon menuntun saudaranya untuk duduk di kursi tersebut, tetesan dar*h keluar dari sudut bibirnya. Tidak hanya itu, pelipisnya juga mengeluarkan dar*h segarnya dengan pipi yang memerah.


"Om, kenapa mukulin Ziand kaya gitu." tanya Leon merasa kasihan dengan pria breng*ek itu.


"Ternyata putra ku benar-benar baj*ngan." sahut Fernand yang masih menahan amarahnya. Walaupun sudah menghajar Ziand tapi tetap saja ia belum puas.


"Maksudnya?" tanya Ziand lirih.


"APA MAKSUDNYA INI!!?" Killa melemparkan selembar kertas dari rumah sakit tepat di wajah putranya.


"Hasil Indentifikasi DNA ?" Ziand semakin dibuat was-was saat membuka amplop tersebut.


Syok? tentu saja, hasilnya sama seperti yang ia punya. Tapi dari mana ayah dan ibunya tau. Percuma saja jika Ziand mengelak, kedatangan ia ke mansion juga bertujuan untuk memberitahukan ini, bukan.


Ziand mengacak rambutnya frustasi, ini yang ia khawatirkan. "Huuffft, oke Mom Dad. Ziand akan menjelaskannya."


"Harus, cepat jelaskan semuanya." Fernand penuh penekanan.


"Tenang Zi, ini tidak sebanding dosa-dosa mu. Jelaskan semuanya dengan tenang." batin Ziand memejamkan matanya.


Ziand menunjukkan bukti rekaman cctv beberapa tahun yang lalu, untungnya Club tempat itu belum menghilang.


Flashback on


11.25 pm


"Sial, pasti baj****n itu mencampuri obat perangsang pada minmumanku. Arrrgggghhhh panas sekali rasanya, jika aku pulang dengan keadaan seperti ini bisa dibunuh ayah."


"Mencari pelampiasan, iya mencari pelampiasan huhh tahan." Ziand ya laki-laki tersebut memang dia. Setelah bertemu dan berbincang dengan rekan bisnis yang diundang dalam party. Musuhnya menjebaknya dengan kedok untuk taruhan. Minuman milik Ziand dicampuri obat.


Dengan kasar Ziand m**c**m gadis didepannya. Persetan dengan apa yang terjadi nantinya, yang terpenting ia dapat melampiaskan hasratnya.


"Lepas br*****k!!" pekiknya, berusaha menjauhkan kepala Ziand dari pa*****anya.


Dan yah, terjadilah penyatuan diantara mereka. Ziand tidak melakukannya 1 kali. Dirinya lupa, Ziand sangat k*t*g*h*n pada tubuh gadis ini dan memaksanya terus-menerus hingga tak berdaya.

__ADS_1


Flashback off


Ziand menceritakannya dengan nafas tenang walaupun tubuhnya bergetar mengingat kejadian tersebut.


"Zi ... Ziand tidak sadar Dad Mom, obat itu menguasai tubuh Ziand. Ziand laki-laki normal, istri Ziand saja tidak pernah memberikan hak suami. Sampai kapan Ziand akan menahannya." paparnya.


"Dan bodohnya kau tidak bertanggung jawab hah? Sampai wanita itu memiliki seorang putra dari mu? yang buat kami semua tidak habis pikir adalah, kau tau hal ini tapi tidak memberitahukan kami!"


"Maaf." singkat, Fernand yang sudah geram dengan kelakuan putranya menarik kembali kerah baju putranya. Tamparan keras bertubi-tubi Ziand dapatkan.


"CUKUP!" teriak Killa memisahkan suami dan putranya.


"ZIAND! Mommy benar-benar kecewa padamu, kau breng*ek. Apa kau pikir hati mommy saat mengetahui ini tidak sakit hah!? Lihat Morgan, LIHAT! dia kini tumbuh besar karena usaha dan kerja keras Cia. Kenapa kau tidak mencarinya hah!?" ucap Killa menggebu-gebu.


"Ziand tidak berfikir sampai situ mom."


"Benar-benar gila! Mommy tidak mau tau. Kau harus menjelaskannya dengan keluarga Cia, sekarang! Mommy ingin secepatnya kau membawa Morgan dan Cia ke mansion ini." cecar Killa yang masih murka.


"Ziand sudah mengumpulkan semua data-datanya mom hanya kurang satu data lagi. Mal ... aahm, maksudnya besok Ziand akan mengakui ini."


"Bagus, ingat resikonya Ziand. Cia tidak mungkin langsung memaafkan mu." seloroh Fernand.


"Ziand akan berusaha untuk itu, percayalah Dad Mom. Ziand akan membawa Cia dan putra Ziand kedalam pelukan keluarga MOORE." sahut Ziand penuh tekad walaupun ia membayangkan bagaimana Cia akan menolaknya, MUNGKIN!


Siang ini Tara, Sania, dan Harso memulai rencananya.


"Yang mana sih rumahnya pa?" tanya Sania mengedarkan pandangannya,


"Itu didepan mah." sahutnya.


"Cia tinggal di daerah seperti ini pa? Ah gak mungkin." ketus Tara, melihat kanan kirinya adalah rumah-rumah tingkat yang pastinya orang-orang berduit yang menghuninya.


"Itu dia rumahnya." ucap Harso membuat Sania dan Tara tercengang.


"Pa i ... ini serius rumahnya." ucap Sania terbata-bata.


"Iya ini, udah ayo masuk."


Cukup lama ketiganya beradu argumen dengan para sopir-sopirnya Cia, dikarenakan rumah saat ini tidak ada orang maka beberapa supir dan scurity mencoba menjelaskannya secara baik-baik.

__ADS_1


"Tidak, cepat buka gerbangnya." titah Harso dengan nada memerintah.


"Anda pikir, anda siapa tuan? Majikan kami sedang tidak ada dirumah." ucap scurity tidak mau kalah karena terlanjur kesal.


"Heh, saya orang tua kandung Cia. Asal kalian tau."


"Orang tua? Pufft, hahahaha. Orang tua macam apa anda, memperlakukan nona kami dengan tidak baik. Cih." ledeknya.


"Cepat buka atau...."


Tin!


Tin!


Klakson mobil milik Cia menghentikan perdebatan mereka. Cia keluar dari mobilnya dan disusul Vivi.


"Cia?" panggil ketiganya bersama-sama. Seberapa kayanya Cia sekarang? Lihatlah pakaiannya bermerek dengan perhiasan cantik yang melekat di tangan maupun lehernya.


Cia menurunkan kacamatanya sembari mengerutkan keningnya heran.


"Untuk apa kalian kesini? Tidak punya uang?" tanya Cia spontan, perkataan-perkataan menyakitkan yang keluar dari mulut ketiganya dahulu membuat Cia mengingat kembali masa lalunya.


"Tidak sopan! Jaga nada bicara mu jal*ng." Tara menunjuk Cia tepat di depan wajahnya.


"Cih, pergilah. Aku tidak ada waktu melayani kalian semua." sahutnya berlenggang pergi. Tapi sebelum itu, Cia terlebih dahulu mengatakan sesuatu kepada para supir-supirnya dan scurity.


"Jangan izinkan mereka masuk pak, biarkan saja. Kalau perlu, suruh mereka pergi." lanjutnya berlalu memasuki rumah besar tersebut.


Cia menitihkan air matanya, sungguh ia tidak ingin berbicara seperti itu kepada kedua orang tuanya. Walaupun mereka membencinya tapi Cia tetap saja menyayangi mereka.


"Maaf, apakah Cia sekarang menjadi anak durhaka? sebenarnya Cia juga ingin memeluk kalian. Cia merindukan kalian, tapi kalian juga yang membuat Cia seperti ini. Maafkan Cia." gumamnya memegang dadanya erat merasakan sesak.


Tanpa Cia ketahui, kamera cctv yang disembunyikan seseorang terus mengintainya tanpa ada yang tahu.


Awal terbongkar?


Sampai kapan?


Apakah Cia akan memaafkannya?

__ADS_1


Kurang greget ya?


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


__ADS_2