
Happy Reading
•
•
Kejadian 6 tahun yang lalu teringat jelas di ingatan Cia, yang ia tidak ingat adalah wajah pria yang memper*osanya. Cia masih memikirkan ucapan putranya kemarin. Siapa wanita yang berani-beraninya mengucapkan kata-kata itu pada Morgan.
Flashback on
"Bunda." panggil Morgan yang sudah lebih tenang sekarang.
"Why boy?"
"Ap ... apa Morgan anak har*am? Morgan tidak memiliki ayah ya?" lirih Morgan.
Cia merasakan sesak di dadanya, bagai ratusan belati yang menancap pada hatinya. Benar-benar sakit, suara lirih dengan nada kekecewaan Morgan yang sangat Cia benci. Bukan karena apa, Cia merasa menjadi sosok ibu yang gagal untuk putranya.
"Morgan, siapa yang mengajarkan mu berbicara seperti itu hm?" tanya Cia berusaha melembutkan suaranya, walaupun begitu Morgan tau ibunya sedang menahan amarahnya.
"Hikkss, bundaa!! Jadi benar Morgan anak har*m." isaknya.
"Tidak! Morgan putra bunda. Bukan anak har*m!" tegas Cia memaksa putranya agar menatapnya.
"Siapa yang mengatakan itu padamu." ulangnya.
"Bukan siapa-siapa bunda." elaknya.
"Morgan, tidak perlu bohong." sarkas Cia.
"Bu ... bunda jangan marah-marah ya, Morgan takut." cicit putranya.
Cia menghela nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. "Ceritakan boy." ucap Cia tetapi menggunakan nada memerintah.
"Morgan tidak tau siapa dia bunda, pas Morgan lagi main laptop sama kak Disya. Wanita badut itu tiba-tiba masuk dan bilang kalo Morgan anak har*m, tante badut mau mukul Morgan tapi ditahan sama papahnya kak Disya." jelas Morgan jujur, dari pada terus-terusan disembunyikan dari ibunya itu akan berakibat lebih parah.
"Fu*k! siapa wanita itu. Aku akan datang ke perusahaan F'M untuk menghajarnya." batin Cia dengan penuh dendam.
"Bunda jawab, jadi benar ya Morgan anak har..."
"Stop it! Dengerin bunda, Morgan gak boleh bilang gitu lagi. Bunda gak mau denger Morgan ngucapin itu lagi. Morgan putra bunda, Morgan anak bunda. Jangan dengerin ucapan tante badut itu." sergah Cia dengan nafas memburu.
"Lalu ayah?"
"Morgan punya ayah, Morgan pasti akan ketemu ayah nanti. Bukan sekarang sayang, Mirgan ngerti kan ucapan bunda?"
"Ngerti bunda." jawabnya memeluk kembali ibunya, rasa sakit di hati Morgan perlahan menghilang saat mendapatkan kehangatan dari ibunya.
Flashback off
"Apa yang harus aku lakukan setelah ini." ucap Cia frustasi.
Aarrrgghh!!
__ADS_1
Cia menjerit tepat didepan cermin riasnya, dengan penuh emosi ia meninjunya hingga kaca itu pecah. Saking frustasinya, Cia sampai tidak mendengar gedoran pintu kamarnya.
"Pa, gimana ini. Cia kenapa didalam." panik Hellena, beberapa kali Hellena dan Haston menggedor pintunya tapi tak kunjung terbuka.
"Loh ma, pa. Ngapain didepan pintu kamar Cia?" tanya Vivi penasaran melihat wajah panik Hellena dan Haston.
Prang!
Suara itu terdengar kembali membuat Vivi tau keadaannya, akhirnya gadis satu ini juga ikut panik.
"Kunci! Via kunci kamar Cia dimana?"
"Anu ma, bentar Via cariin." ujar Vivi tergesa-gesa mengobrak-abrik seluruh isi nakas.
"Ini pa, ayo cepetan. Via takut Cia kenapa-kenapa." lanjutnya setelah menemukan kunci itu.
Brak!
Ketiganya masuk berbarengan, Hellena, Haston maupun Vivi tercengang melihat kamar Cia. Semua barang-barang yang terbuat dari kaca/keramik ludes dibanting wanita itu.
Ketiganya mengalihkan pandangannya pada Cia yang tengah terduduk dilantai dengan menundukkan kepalanya, tangannya penuh darah, rambut acak-acakan. Air mata yang terus menetes, sangat menyedihkan.
Haston menggendong tubuh Cia dan meletakkannya didalam kamar tamu yang tak jauh dari kamar Cia. Haston memerintahkan para maid-maid dirumahnya untuk membereskan kamar Cia sampai benar-benar tidak ada serpihan kaca.
Tidak ada reaksi yang Cia keluarkan seolah-olah rasa sakit hatinya lebih besar dari rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya. Saat Hellena dan Vivi mencabut beberapa serpihan kaca di tangan Cia pun tidak meringis atau berteriak kesakitan.
"Tidak berguna."
"Ibu tidak becus."
"Tidak pantas."
Cia semakin meracau tidak jelas, setelah selesai mengobati luka tersebut. Cia kembali histeris, karena tidak ada pilihan lain. Vivi menyuntikkan cairan tidur ditubuhnya.
***
Pagi ini Morgan sekolah dengan ketidak semangatnya, Morgan kembali menjadi dirinya yang dulu. Wajah datar dengan tatapan dinginnya.
Baru saja beberapa hari ibunya sembuh kini ia harus sakit lagi. Terlebih Morgan merasa Cia sakit karenanya.
"Hii Al." sapa Disya yang baru sampai di kelas.
Morgan hanya menatap Disya sekilas dan menganggukkan kepalanya lalu kembali fokus dengan buku yang ia pegang.
"Kamu kenapa?" tanya Disya mencoba mencairkan suasana. Morgan tetap tidak mau bicara, hanya gelengan kepala yang ia berikan. Saat ingin bertanya kembali, pelajaran hari ini sudah dimulai.
Setelah pelajaran hari ini sudah selesai, Disya menarik Morgan ke taman sekolahnya sekaligus untuk menunggu jemputan ayahnya.
"Kenapa?" tanya Disya langsung.
"Tidak ada." sahutnya singkat.
"Morgan cepetan cerita." desak Disya kesal.
__ADS_1
"Nanti saja." setelah mengucapkan itu mobil milik Ziand datang. Dan membawa kedua bocah ini ke kantornya.
CEO ROOM
Ziand dan Max memperhatikan raut wajah Morgan yang murung, sedangkan Disya hanya mengedikan bahunya.
Max yang baru bertemu dengan Morgan pertama kalinya membuat pria ini tercengang dengan mulut menganga, kenapa ia sangat miri dengan atasannya.
Cukup lama Morgan terdiam, ia menghapus buliran buliran itu dan menatap balik Max dan Ziand.
"Om, apa itu jal*ng?" tanya Morgan serius.
Ziand dan Max gelagapan, bagaimana mereka menjelaskannya.
"Mengapa kau menanyakan itu hm?" tanya Ziand mencoba mengalihkan pembicaraan sedikit demi sedikit.
"Tidak apa, jawab saja apa itu jal*ng." ucapnya lagi.
"Kau akan mengetahuinya boy, jika nanti kau sudah cukup umur." timpal Max membantu Ziand.
Ziand mendekati Morgan dan membawanya ke pangkuan seperti hari itu.
"Papa, Morgan sedari tadi disekolah terus kaya gitu. Disya jadi bingung, katanya Morgan mau cerita." adunya.
Sorot mata tajam Ziand bertemu dengan sorot mata tajam milik Morgan. Ziand dapat melihat kerapuhan didalamnya membuat rasa yang tak pernah datang itu kembali lagi.
"Sekarang Morgan cerita." ucap Ziand yang masih menelisik dalam.
"Morgan masih inget kata tante kemarin om, Morgan anak har*m ya? Morgan gak punya ayah. Kenapa Tante itu bilang bunda adalah jal*ng? Morgan udah tanya kaya gitu sama bunda akhirnya bunda sakit. SEKARANG BUNDA SAKIT OM!! Pasti gara-gara Morgan. Bunda bilang Morgan pasti akan ketemu ayah nanti, ayah Morga emangnya pergi kemana. Ayah udah gak sayang sama Morgan yah, jadi dia pergi ninggalin Morgan sama bunda sendiri. Morgan pengin kaya temen-temen om, Morgan capek." papar Morgan membuat Ziand, Max, dan Disya menitihkan air matanya.
Max, laki-laki yang terkenal dingin ini juga ikut menangis. Membayangkan jika ia yang menjadi Morgan, itu pasti sangat-sangat sakit. Sedangkan Ziand menggigit bibirnya untuk menahan buliran hampir jatuh.
Disya memeluk Morgan dan bersamaan dengan Ziand yang juga memeluknya, Morgan menumpahkan seluruhnya dengan meremas jas Ziand sembari terisak.
Disya membisikkan sesuatu ke telinganya ayahnya yang kemudian diangguki Ziand.
"Morgan, hey. Lihat om." Morgan mendongak menatap Ziand seperti perintahnya.
"Kamu boleh panggil om papa seperti Disya, Disya saja memanggil bunda mu dengan sebutan bunda, bagaimana jika Morgan memanggil om dengan sebutan papa?" usul Ziand membuat Max melotot, inikah CEO yang di takuti dalan dunia bisnis?
"Ta ... tapi kalau bunda marah bagaimana?"
"Jangan samapi bunda kamu tau, kamu harus janji sama om. Jangan kasih tau bunda." sahut Ziand meyakinkan.
Morgan tampak menimang-nimang. Bagaimana jika bunda tau? Hingga ia benar-benar menemukan jawabannya.
"Baiklah, Morgan akan panggil om, papa! Iya papa!" pekiknya kegirangan.
Tanpa mereka ketahui Ziand mengambil beberapa helai rambut milik Morgan dan menyimpannya secara cepat pada saku celananya.
Mau ngapain kira-kira Ziand yah?
Udah sampai panggil papa nih? Gimana kalo Cia tau?
__ADS_1
Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)
Double up guys><