GADIS KECIL

GADIS KECIL
Menculik


__ADS_3

Happy Reading



"Dapat!" Ziand berkali-kali mengucapkan syukur kepada sang pencipta, bukti-bukti yang Ziand cari-cari dalam beberapa waktu akhirnya terkumpul.


Ziand melajukan mobil yang sedang dikendarainya, membelah jalanan sepi itu sendirian. Dikarenakan waktu sudah menunjukkan tepat tengah malam, hanya beberapa kendaraan yang berpapasan dengannya.


Sejauh mata memandang pepohonan besar dan menjulang tinggi terlihat mengelilingi jalanan ini. Beberapa menit ia membelah gelapnya malam, Ziand sampai di mansion tersebut.


Para bodyguard yang berjaga di gerbang mansion tersebut lantas membuka pagar, agar mobil yang dikendarai tuannya dapat masuk.


Perlahan Ziand menaiki tangga yang akan membawanya menuju kamar pribadinya. Tanpa pikir panjang Ziand langsung menjatuhkan tubuhnya keatas kasur empuk dengan pakaian lengkap tanpa melepaskan sepatunya.


"A little more boy, wait until dad explains this all." gumamnya mengecup pelan foto tersebut.


Pagi harinya Ziand terbangun dengan perasaan campur aduk, entahlah apa yang pria ini pikiran. Karena kesalahannya kemarin malam, kini seluruh penghuni mansion memberinya hukuman dengan mendiamkan Ziand.


Terpaksa, satu kata yang menggambarkan laki-laki ini, ia mendapati sepucuk surat dari putrinya.


Papa


*Disya berangkat dulu ya, papa jangan lupa habisin sarapan ini. Disya yang buat loh sepesial buat papa.


Tadinya Disya mau diantar papa, tapi kata oma papa sibuk jadi Disya berangkat bareng oma dan oppa.


Semangat kerjanya papa, Disya dan Morgan sayang papa*


"Gagal sudah." gumamnya, niat ingin mengantarkan Disya agar dapat bertemu dengan Morgan. Eehh, sudah keduluan dengan Killa. Ya Mau bagaimana lagi, dari pada mommy nya ngomel-ngomel mending biarlah.


•••


Sesampainya di rumah, Harso, Sania, maupun Tara. Terus-terusan mendumel tidak jelas. Tara yang sudah terlanjur emosi mulai memecahkan barang-barang disekitarnya.


"Bagaimana ini yah?" tanya Sania.


Harso memutar bola matanya. "Sudah ayah katakan, Cia itu sekarang lebih kaya dari kita." sahutnya.


Seringai muncul di bibir wanita ini. "Terserah, Tara akan terus mengusik kehidupannya sampai dia mat* sekalipun." serunya berlalu pergi.


Cukuo jauh Tara menghindar dari kedua orang tuanya, Tara mengambil handphonenya.


"Hallo."


{....}


"Mau uang?"


{.....}


"Bantu saya menculik anak kecil, akan saya kirim fotonya."


{....}


"Silahkan di cek, saya akan transfer setengah. Setelah kalian berhasil menculiknya, bawa dia ke gedung tua xx."


{...]


"Setelah dia pulang sekolah, tunggu saja di sekitar sekolah dasar xx."


{...}

__ADS_1


"Bagus."


Panggilan berakhir, wanita ini mulai membayangkan sik*aan sik*aan apa yang pas untuk bocah kecil itu.


***


Hari ini memang Ziand tidak berniat ke kantor. Ia lebih memilih untuk menyelesaikan masalahnya.


"Mom." panggilnya ditelepon.


{…}


"Tentu saja sekarang mom."


{…}


"Iya ya, baiklah. Kita bertemu di sana saja."


Setelahnya, Ziand mengambil seluruh dokumen-dokumen untuk bukti. Tidak apa jika Cia tidak menerimanya, Ziand akan berusaha lebih keras untuk itu.


The Natural Fragrance


Rumah putih, indah dan megah dengan tulisan The Natural Fragrance membuat Ziand terpana. Ini kali pertamanya Ziand mengunjungi rumah ini.


"Tuan Muda Lee?" panggil salah satu supir memastikan.


"Benar." sahutnya.


"Mari tuan, anda sudah ditunggu."


Diperjalanan, Ziand terus-menerus menghela nafas gusar. Pikirannya berkecamuk, membayangkan seberapa emosinya Cia nanti.


"Sudah datang Zi, sini duduk." Killa berbasa-basi.


"Benar, ini putra ku MS."


"Waaahh, tampan sekali." timpal Haston.


"Asal kalian tau, pria tampan ini adalah pria breng*ek yang membuat cucu kalian menderita selama ini." batin Ziand tersenyum canggung.


"Oh ya, kemana Ci..."


"I'm here!" pekik Cia menyela ucapan Killa.


"Cia." peringat Haston menatap tajam cucunya.


Cia hanya meresponnya dengan cengengesan.


"Kita langsung ke intinya saja, Ziand cepat katakan." Fernand sedikit memerintah.


Killa yang tau putranya gelisah, mengelus pelan punggung Ziand membuat pria ini sedikit tenang. Karena bingung mau berbicara dari mana dulu, Ziand meletakkan salah satu map untuk mereka baca.


Cia yang penasaran langsung merebut map tersebut dengan cepat. Di bagian pertama Cia masih tentang karena baru sampai sampulnya saja , xixixi.


"Baj*ngan." umpat Cia membaca dengan seksama test hasil DNA.


"Apa maksud anda memeriksa DNA putra saya, tanpa sepengetahuan saya." hardik Cia mengambil ancang-ancang untuk memukuli pria itu.


Ziand tak bergeming, lalu menyerahkan mao selanjutnya. Lagi-lagi Cia mengambilnya dengan kasar.


Plak!

__ADS_1


Tamparan keras Cia membuat semuanya melongo, terlebih lagi Hellena dan Haston. Begitu juga dengan Leon yang baru sampai di rumah tersebut, pipinya ikut memanas melihat Cia yang menamparnya begitu keras.


Dengan nafas memburu Cia menarik kerah kemeja Ziand, membawakannya menjauh dari orang-orang tersebut.


Balkon.


Yap, Cia lebih memilih untuk berbicara berdua dengan laki-laki baj*ngan ini. Membawa seluruh map tanpa ada yang tertinggal.


"Jelaskan." perintah Cia, menyandarkan tubuhnya di pembatas balkon.


"Dia putraku, darah daging ku nona Gracia." ucapnya tenang.


"Lebih detail."


"Sadarlah Gracia, aku pria br*ngsek yang memper*osamu di Club xx 6 tahun lalu. Aku pria itu." lirih Ziand seolah-olah dialah yang tersakiti.


Satu bogeman mendarat tepat di perut sixpack miliknya, bahkan pukulan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan yang Cia alami.


Tubuh Cia luruh kelantai, bayang-bayang masa kelamnya dahulu terus berputar. Ziand yang sudah tidak kuat ikut mensejajarkan tubuhnya dan ikut menundukkan kepalanya.


Aarrrgghh!


Cia berteriak kencang meluapkan amarahnya. Umpatan-umpatan keluar begitu saja dari wanita ini.


"Masih tidak percaya? I ... ini milikmu bukan? Aku menemukannya saat setelah kejadian itu." lirih Ziand menunjukkan kalung 'GRACEE' yang selama ini dia simpan.


Cia merebut kalung itu dan meremasnya. Benar-benar lemas, Cia hanya dapat meluapkan emosinya dengan meremas dan menarik jas yang dipakai laki-laki tersebut.


•••


"Bagaimana ini?" panik semua orang yang berada di ruang keluarga.


"Dad, telpon bodyguard untuk melacaknya cepat." Killa yang juga ikut panik.


"Leon, kumpulkan seluruh anak buah Ziand untuk mencarinya." perintah Fernand yang langsung diangguki Leon.


"Disya, coba ceritakan kejadiannya."


"Tad..."


"Ada apa?" tanya Cia cepat, melihat semua orang panik.


Kedatangan Cia dan Ziand membuat semuanya semakin gelisah, bagaimana caranya menjelaskan ini pada Cia.


"Loh Disya, Morgan mana?" tanya Ziand yang memang tidak tau apa-apa.


"Morgan di culik pa." sahutnya spontan membuat Cia mengerutkan keningnya.


"Morgan diculik? Coba jelasin sama bunda, ini gak lucu sayang. Jangan bercanda oke." ujar Cia mensejajarkan tubuhnya dengan gadis cilik itu.


"Disya tidak bercanda bunda, tadi waktu om Leon datang mau jemput kita. Morgan udah gak ada, Disya sama om Leon udah muter-muter nyari Morgan tapi gak ketemu, pas om Leon tanya sama ibu kepala sekolah, katanya Morgan udah pulang sama 2 laki-laki badannya gede. Gitu deh." papar Disya polos, membuat Cia terkejut setengah mati.


"I ... ini gak bener kan, Morgan pasti pulang kan nek, kek. Morgan…" karena terlalu lelah bercampur panik, tubuh Cia pingsan seketika. Membuat semuanya bertambah panik dan gelisah 2 kali lipat.


How?


Tara udah mulai nih


Gimana setelahnya?


Morgan selamat?

__ADS_1


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


__ADS_2