GADIS KECIL

GADIS KECIL
kalung itu


__ADS_3

...Happy Reading...


...•...


...Happy Weekend guys...


Flashback on


Ziand dan dokter muda tadi duduk berhadapan dengan wajah yang sangat serius.


"Bagaimana keadaan putra saya?" tanyanya langsung.


"Putra anda, mengalami trauma cukup parah. Kemungkinan dia akan merasa seolah-olah kejadian buruk yang dialaminya terulang kembali, menangis dan ketakutan secara tiba-tiba. Jika tidak segera ditangani akan berdampak mungkin juga akan tersiksa dengan emosi, ingatan, dan kecemasan yang mengingatkan kepada peristiwa tersebut, hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Bahkan, mungkin juga menjadi tidak bisa percaya lagi kepada orang lain."


"Trauma? Bagaimana cara menyembuhkannya?"


"Terapi, salah satu cara yang bisa di tempuh adalah dengan menjalani psikoterapi atau terapi psikologi. Cara ini dianggap salah satu yang paling efektif, khususnya jika sudah tidak bisa mengatasi kondisi ini secara mandiri atau dengan bantuan orang terdekat." dokter tersebut memberi jeda sejenak agar Ziand dapat memahami kata-katanya tadi.


"Bisa juga dengan penggunaan obat-obatan. Terkadang, penggunaan obat-obatan tertentu dapat membantu mengatasi trauma. Akan tetapi, penggunaan obat ini harus berdasarkan resep dokter, bukan atas keinginan sendiri.


Di samping itu, meski sudah mengonsumsi obat-obatan, dokter tetap harus melakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi kesehatannya. Karena ia baru sadar, ini beberapa resep obat untuk anda tebus tuan." imbuhnya memberikan secarik kertas.


Ziand mengangguk menandakan bahwa ia mengerti kedepannya.


Setelah dirasa tidak ada yang dibicarakan lagi, Ziand keluar dari ruangan itu.


Flashback off


Masalahnya sekarang, bagaimana ia mengatakan ini? Ziand Fine-fine saja jika mengeluarkan banyak uang untuk pengobatan Morgan. Toh, itu juga tidak akan membuatnya bangkrut.


•••


Saking bahagianya, Cia sampai lupa mengabari keluarganya jika Morgan sudah sadar. Wanita ini masih sibuk mengelus wajah putranya yang sudah tertidur kembali, karena tadi Morgan ngotot ingin tidur dengan Disya. Akhirnya Cia membolehkan Disya berada di sebelah Morgan dan kini keduanya sama-sama tidur pulas.


Untungnya tadi Vivi dan Cala datang, jadi Cia tidak perlu repot-repot menghubungi keluarganya.


"Saking bahagianya, sampai lupa ngabarin kita." cibir Hellena membuat mereka terkekeh, begitu juga dengan Cia.


"Maaf, tadi Cia nggak kepikiran. Cia cuma fokus sama Morgan." sahutnya membalikkan tubuhnya menghadap orang-orang yang tengah duduk di sofa ruangan itu.


"Sayangnya, pas kita dateng malah Morgan udah tidur lagi." keluhnya.


"Iya, jadi acara kangen-kangenan dan peluk-pelukan nya dipending dulu nih." timpal Vivi.


"Mending peluk Cia aja, kalian nggak kangen suara cempreng Cia apa?" godanya mengedipkan matanya genit.


Vivi berdecak melihat tingkah Cia, namun ia tidak menolak. Vivi tetap mendekati Cia dan memeluknya erat membuat Cia sesak.


Setelah pelukan singkat yang membuat Cia tidak dapat bernafas secara teratur, Cia menghirup udara ngos-ngosan seperti habis maraton.


"Hah, huuuhhh, Vivi ishh. Mau balas dendam ya, meluknya kenceng banget. Susah nafasnya." celatuknya, menatap tajam sahabatnya yang terkekeh.


"Abisnya kamu ngeselin." kata Vivi kembali ke tempat duduknya.


•••

__ADS_1


Ziand kembali ke mansionnya untuk membersihkan diri sekaligus memberikan kabar bahagia ini kepada kedua orang tuanya.


Sebelum itu, pria ini menaiki tangga menuju kamarnya. Ia perlu mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar sedikit rileks.


"Ziand? Kapan kamu kesini?" tanya Killa mendapati putranya yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Mommy, udah dari tadi kok mom." sahutnya.


"Bagaimana putra mu?"


"Daddy sama Leon mana mom?" tanyanya, tak menjawab pertanyaan Killa.


"Ada, mereka di bawah lagi liat tv."


"Ada yang perlu Ziand omongin mom, mending sekarang kita turun aja."


"Ya sudah, ayo."


Ziand duduk bersebelahan dengan Killa dan berhadapan langsung dengan Fernand dan Leon. Ketiganya memandang wajah Ziand yang tampak murung.


"Morgan sudah sadar." kata yang pertama Ziand ucapkan, namun dengan nada yang sedikit cemas.


Killa dan Fernand tersenyum lebar mendengar kabar bahagia ini. Sedangkan Leon masih saja mengamati wajah saudaranya.


Leon terus mengerutkan keningnya. "Bukankah ini kabar baik Zi? Dengan begini kau bisa melakukan pendekatan dengannya sekaligus Cia. Terus, kenapa wajah mu murung begitu?" tanyanya.


"Aku juga bahagia, tapi setelah mendengarkan ucapan dokter yang memeriksa Morgan tadi membuat ku was-was."


"Memangnya kenapa?"


"Morgan mengalami trauma cukup parah, jika tidak segera ditangani akan berdampak mungkin juga akan tersiksa dengan emosi, ingatan, dan kecemasan yang mengingatkan kepada peristiwa tersebut, hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. Bahkan, mungkin juga menjadi tidak bisa percaya lagi kepada orang lain." paparnya mengingat apa yang dokter tadi katakan.


Laki-laki itu kembali menarik rambutnya, berharap melampiaskan frustasinya. "Masalahnya, bagaimana cara Ziand terus terang sama Cia. Kalo Ziand blak-blakan langsung, mungkin aja Cia akan drop lagi. Ziand nggak masalah mau keluar uang seberapapun buat Morgan. Tapi paling nggak Ziand harus bicarakan ini pelan-pelan bareng Cia." tegasnya.


Killa mengelus punggung putranya yang naik turun, antara marah, frustasi, dan bahagia. Campur menjadi satu.


"Benar juga kata Ziand pa, paling tidak kasih jeda waktu buat Ziand bicara ini." timpal Killa melirik suaminya.


"Mama terserah kamu aja Zi, yang penting kamu nggak boleh lama-lama sembunyiin ini sama Cia. Nanti kalo Cia yang lebih dulu tau, bukan dari penjelasan kamu bisa makin rumit." lanjutnya lagi.


Semuanya mengangguk menyetujui ucapan Killa.


"Kita jenguk Morgan besok ya, sekarang biarin Ziand istirahat dulu."


•••


Negara C


Remang-remang lampu membuat suasana kamar menjadi amat menyeramkan, bau-bau alkohol bercampur asap rokok memenuhi penjuru ruangan ini.


Wanita seksi dengan pakaian terbuka, tangan kanannya digunakan untuk memegang botol wine yang masih terisi penuh dan disela-sela jemari tangan kirinya untuk memegang batang rokok menyala.


Hisapan kuat menandakan ia akan menyudahi rokok itu, usai menenggak minuman wine nya. Wanita ini meninggalkan balkon.


Suara sepatu hak tinggi yang nyaring terdengar seperti suara alunan musik menurut wanita ini. Dengan kasar, ia mengambil beberapa bingkai foto yang terdapat seorang laki-laki dengan anak perempuannya tersenyum manis.

__ADS_1


Seringai kecil muncul di bibirnya, tanpa ragu-ragu ia meninju bingkai kaca itu hingga pecah. Tangan yang berlumuran darah menarik secarik foto itu dan menusuk-nusuk nya dengan paku tajam dan mengkilap.


"Wait for me to return, will I reclaim all the treasures you have!" ucapnya diakhiri tawa keras dan menggelegar.


*tunggu aku kembali, akan ku rebut seluruh harta yang kalian miliki*


•••


Ruang rawat milik Morgan terdengar sangat ramai, perdebatan antara Cia dan Vivi selalu mengundang gelak tawa. Bahkan, Morgan yang lebih sering murung kini ikutan tertawa keras.


Kreet


"Oma!"


Suara pintu terbuka dan pekikan Disya membuat semuanya diam dan mengikuti arah pandang Disya.


Killa, Fernand, Leon, dan Ziand masuk secara beriringan. Senyum manis tercetak jelas di wajah Killa.


"Bunda turunin." rengek Disya merentangkan tangannya.


Baru saja melangkahkan kakinya menuju sisi lain brankar Morgan, Ziand lebih dulu mendekati Disya dan menurunkannya. Ia bermaksud untuk mengkode Cia untuk keluar berbicara dengannya.


Leon juga tidak kalah dengan Ziand, ia melirik Vivi dan Cala. Mengkode nya agar ikut keluar bersama.


"Kalian mau kem…" Hellena tidak melanjutkan kalimatnya setelah Cia mengirimkan beberapa pesan melalui ponselnya.


"Bu … bunda, kenapa pergi." lirih Morgan menundukkan kepalanya, mengertilah. Sekarang Morgan tidak dapat jauh dari ibunya. Seperti tadi, beberapa jam lalu Cia mencari sarapan dan meninggalkan Morgan dan Disya yang masih terlelap. Saat kembali, ia menemukan putranya yang tengah menangis dan berteriak memanggil 'Bunda' beberapa suster mencoba menenangkannya namun tangisan Morgan semakin kencang.


Hellena memeluk Morgan dengan erat, perlahan wanita ini memberi pengertian dibantu dengan Disya yang ikut menenangkan Morgan.


•••


Max, Ziand, Leon, Vivi, Cia, dan Cala memasuki ruangan khusus yang Ziand siapkan. Ruangan yang berisi alat-alat canggih untuk menyelidiki pelaku penculikan Morgan.


Wajah datar ketiga pria ini tidak membuat Cia, Vivi, dan Cala takut. Justru, mereka juga akan membalas tak kalah datar.


Tidak hanya Ziand dan Cala yang menemukan beberapa benda sebagai bukti. Leon juga menemukan darah yang belum lama kering. Yang jaraknya cukup jauh dari ditemukannya Morgan. Beberapa aksesoris, syal dan parfum mahal yang masih penuh juga Leon temukan.


"Eumm … tuan muda Lee, bisakah saya meminjam kalung yang anda pegang." ucap Cia hati-hati.


"Sudah berapa kali ku tegaskan, jangan berbicara terlalu formal Gracia. Panggil aku Ziand." tegasnya sembari memberikan kalung itu.


Cia mengacuhkan ucapan Ziand, perhatiannya hanya tertuju pada kalung ini. Ia pernah melihatnya tapi kapan.


"Vi, kemarilah. Liat nih." kata Cia menunjukkan kalung yang ia pegang.


Vivi merampas kalung itu dan membolak-balikkan nya. "Kaya pernah liat deh, tapi dimana coba." monolognya.


Cia menarik bandul kalung dan mengamati setiap incinya, sampai ia menemukan satu kalimat yang membuatnya tercengang.


Cia buru-buru mengambil tasnya dan merebut kalung itu kembali.


"Heh, Cia mau kemana!?" tanya Vivi berteriak, bagaimana tidak heran. Cia tiba-tiba keluar berlari tanpa pamit.


"Kalian tenang aja, lanjutin penyelidikannya. Aku ada urusan!" sahut Cia dari luar, tak kalah berteriak keras.

__ADS_1


"Jika benar dia pelakunya, aku tidak akan tinggal diam. sekalipun ia saudara ku sendiri." gumam Cia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi


Tinggalkan jejak sebagai apresiasi kalian:)


__ADS_2